
“Trus, masa saya gak mandi?”, protes Arya.
Pria yang satu ini memang kadang bisa membuat istrinya bingung bukan kepalang. Baru saja kemarin dia merasa Arya terdengar sangat seksi saat meeting, sekarang tiba - tiba dia seperti bocah SD.
“Gapapa, Din. Asal setelah itu dikeringkan, dan diganti lagi perbannya. Kalau seperti tempo hari, saya oke. Karena hanya di beberapa bagian saja. Kalau ini kan lumayan banyak. Saya mau ketemu klien sore ini, masa tidak mandi. Yang ada pada kabur nanti mereka.”, ujar Arya yang masih memaksa untuk mandi full air dan full sabun.
“Mas, tapi kalau begitu nanti lukanya tidak sembuh - sembuh karena basah terus.”, kata Dinda berusaha memberikan pendapatnya pelan - pelan.
“Hm.. tapi Din. Kan nanti dikeringkan lagi. Lihat nih, saya aja baca di internet bisa kok. Ga masalah.”, Arya masih tidak mau mengalah karena meeting sore ini memang sangat penting.
“Ya sudah.”, ujar Dinda yang akhirnya memilih untuk mengalah.
Matanya sedikit mengantuk karena semalaman dia menjaga Arya yang memiliki gejala demam. Setelah makan malam, panas badannya naik dan Dinda sangat khawatir. Beruntung di apartemen, Arya menyimpan kompres.
Dinda tidak bisa tidur nyenyak karena dia harus mengganti es di dalam kompres Arya. Kemudian dia juga rutin memeriksa apakah suhu tubuh Arya sudah turun. Berkat usaha tersebut, Arya tidur dengan nyenyak dan sudah fit kembali pagi ini.
“Sayang, kamu capek ya semalaman.”, akhirnya Arya sadar kalau mood Dinda berubah.
Awalnya, dia sudah masuk ke dalam kamar mandi, namun perasaannya tidak enak dan kembali memeriksa Dinda di luar.
“Iya, jaga bayi besar.”, balas Dinda.
“Makasih, ya.”, kata Arya mencium pipi Dinda.
“Hum.. masih bau, mandi dulu. Nanti aku cium lagi.”, kata Arya bercanda.
“Iiih mas Arya.”, balas Dinda kesal tetapi mood nya sudah kembali mencair. Terbukti dari seulas senyuman yang sudah merekah di bibirnya.
Kring kring kring kring.
“Mas Arya, mama telpon.”, kata Dinda yang mencari asal suara dan ternyata ponsel Arya.
“Kamu angkat aja, tapi jangan bilang tentang ….”, kata Arya sambil menunjuk luka di tubuhnya.
“Assalamu’alaikum. Halo, ma.”, jawab Dinda. Sementara Arya sudah menutup pintu kamar mandi.
“Iya ma. Sampai weekend nanti kita stay di apartemen. Gapapa, yah ma. Kemarin waktu berangkat sudah izin papa karena mama lagi arisan.”, jawab Dinda.
“Alhamdulillah sehat, ma. Cuma kemarin belum bisa lihat jenis kelamin, ma karena tertutup sama kakinya. Posisinya kurang proporsional untuk lihat jenis kelaminnya. Mungkin bulan depan, ma.”, lanjut Dinda lagi.
“Iya boleh, ma. Nanti aku sampaikan ke mas Arya, ya ma. Lagi mandi soalnya. Iya, nanti kita ke kantor bareng, ma. Oke, mama juga ya.”, Dinda menutup teleponnya.
Huft. Dinda sudah deg - deg-an kalau ada sesuatu yang harus dia tutup - tutupi. Dia menjadi agak kaku saat menjawab. Sebenarnya, Dinda ingin memberitahu mama, tetapi kalau mas Arya bilang jangan, Dinda hanya bisa mengikuti perkataannya.
********
“Sssshhhh.. Pelan - pelan, Din.”, kata Arya yang sedari tadi tidak berhenti meringis karena beberapa luka ada juga yang dalam.
“Sabar ya mas Arya. Aku lap dulu sebentar. Plesternya?”, tanya Dinda.
“Ada di kantung obat yang kemarin.”
“Ohiya, ada di dalam sini. Dokternya cuma kasih segini?”, tanya Dinda yang melihat sisa plester hanya untuk pemakaian hari ini saja.
“Nanti aku beli di apotik pulang kerja.”, jawab Arya.
“Gapapa, nanti aku aja yang beli pas makan siang di mall depan. Soalnya mas Arya kan meeting sore, siang juga kadang makan bareng klien. Kalau malam biasanya mall penuh.”, kata Dinda.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu.”
“Sekarang, tangannya.”, Dinda membersihkan satu persatu bagian yang terdapat luka. Kemudian mengoleskan obat dan memasang plester.
Arya hanya bisa memperhatikan Dinda saat melakukannya dengan sabar dan telaten. Perlakuan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
“Kenapa aku tidak ketemu kamu lebih awal, Din?”, tiba - tiba Arya mengeluarkan pertanyaan random tiba - tiba.
“Hm?”, Dinda hanya bisa mengeluarkan ekspresi bingung.
“Gimana kalau aku ketemu kamu lebih dulu? Aku penasaran.”
“Hm… aneh. Karena kalau mas Arya ketemu aku sebelum aku masuk perusahaan, mungkin aku masih kuliah, atau aku masih SMA. Aneh kan kalau mas Arya pacaran sama anak SMA. ha- ha- ha.”, Dinda tertawa puas kali ini meledek umur Arya.
Tapi, setelah dipikir - pikir ada benarnya juga. Kalau Arya bertemu Dinda lebih awal, mungkin sebelum dia memutuskan untuk kuliah di Amerika dan itu sudah hampir 10 tahun yang lalu. Artinya, Dinda masih SMA.
“Gimana bos kamu yang baru itu?”, Sebelumnya, Arya tidak pernah mengeluarkan pertanyaan ini, tetapi beberapa hari belakangan sejak pertemuan tidak terduga di restoran waktu itu, ada perasaan yang mengganggu dalam dirinya meski dia tidak memperlihatkannya pada siapapun.
“Pak Dika, maksud mas Arya?”, tanya Dinda.
“Iya, siapa lagi. Kalau Erick kan, aku sudah kenal.”
“Tapi, aku penasaran, bagaimana bisa mas Arya berteman dengan Pak Erick?”, bukannya menjawab pertanyaan, Dinda malah melemparkan pertanyaan lagi.
“Kamu, kebiasaannya. Jawab pertanyaan dengan pertanyaan.”
“Ohiya maaf. Hem.. Pak Dika…. Hem… biasa saja sih. Tidak ada yang spesial. Biasa saja.”, jawab Dinda.
Kali ini Arya tersenyum puas mendengarnya. Bayangkan, Dinda mengucapkan kata biasa saja, tidak ada yang spesial yang intinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pria itu.
“Hm… enggak.”, Dinda sempat berfikir terlebih dahulu sebelum menjawabnya.
“Eh, ada.”
“Tadinya, Arya sudah merasa puas dengan jawaban dari pertanyaanya tetapi kata Dinda barusan membuat tensionnya naik lagi.
“Ada?”, tanya Arya memastikan.
“Jangan gerak - gerak mas, susah mengoleskan obatnya.”, protes Dinda karena Arya melakukan pergerakan refleks.
“Jawab dulu. Dia mendekati kamu?”, tanya Arya.
“Dia menawarkan aku untuk join di project besarnya dia. Sama Mba Suci, Pak Erick, dan Mba Rini juga, dengan beberapa anggota tim yang lain. Walaupun pekerjaannya tidak signifikan, tapi kata beliau aku bisa belajar banyak.”, jelas Dinda.
“Kan aku sudah cerita, makan malam di restoran kemarin itu sekaligus kick off meetingnya. Tapi…”, Dinda baru saja ingin menyinggung pertemuan dengan Sarah dan Dimas.
“Bukan karena maksud lain, kan?”
“Kenapa? Mas Arya tidak usah berlebihan. Kalau mas Wawan sama mas Egi aku bisa paham, mereka memang memberikan perhatian karena mereka memang seperti itu. Tapi Pak Dika sama sekali hanya melihat aku sebagai intern kok. Mas Arya tuh yang banyak penggemarnya.”
“Baiklah kalau begitu.”, kata Arya sambil memasang kemejanya.
*******
“Dika, kamu masih tidak mau mengatakan kenapa tiba - tiba kamu bisa bergabung dengan perusahaan yang sama dengan Arya?”, tanya Sarah yang dengan berani mendatangi rumah Dika.
“Sarah, are you crazy? Kamu siapa sampai datang kesini. Kamu mau Rianti lihat?”, kata Dika emosi karena Sarah tiba - tiba mendatangi kediamannya.
__ADS_1
“Kamu tidak usah mengalihkan pembicaraan. Kamu punya maksud terselubungkan?”, tanya Sarah tidak memperhatikan perkataan Dika sama sekali.
“Kamu benar - benar sudah gila. Okee. awalnya iya. Aku penasaran seperti apa pria yang sering kamu ceritakan itu? Tapi sekarang tidak. Aku sama sekali tidak tertarik dengan Arya, kamu, atau siapapun. Aku hanya ingin bekerja normal seperti biasanya.”, balas Dika.
“Sekarang kamu pulang, sebelum Rianti atau orang lain melihat kamu disini. Aku tidak mau ada masalah.”, baru saja Sarah ingin berbicara, Dika sudah keburu memaksa Sarah untuk pergi dari sana.
“Bekerja normal seperti biasanya? Jangan berharap. Kamu belum benar - benar mengenal aku, Dika.”, ancam Sarah sebelum akhirnya dia benar - benar pergi karena Dika terus mendesaknya.
“Paa…”, tak lama setelah itu Putera, anak Dika berlari keluar memanggil papanya.
Dia sudah menunggu dari tadi untuk sarapan bersama tetapi papanya tidak kunjung kembali.
“Iya, sayang.”, jawab Dika sambil berjongkok untuk menyamai tinggi anaknya.
“Papa habis berbicara dengan siapa?”, tanya Putera. Sepertinya dia sempat mendengar papanya berbicara.
“Tidak ada. Hayuk kita masuk ke dalam. Bibi pasti sudah menyiapkan sarapan yang enak untuk jagoan papa.”, ajak Dika agar perhatian anaknya segera teralihkan.
“Pa, aku bangunkan mama juga ya, Pa. Biar kita bisa sarapan bareng.”, kata Putera menawarkan.
Jarang sekali dia bisa bersama dengan papa dan mamanya. Meskipun masih kecil, dia sudah mengerti bahwa hubungan keduanya tidak benar - benar baik.
“Ga usah sayang. Kita berdua saja.”, kata Dika menarik lengan puteranya yang sudah ingin berlari ke kamar Rianti, mamanya.
“Kenapa? Papa gak mau makan sama mama?”, tanya Putera tampak sedih.
“Enggak, bukan begitu sayang. Mama pasti capek karena pulang larut malam. Nanti mama juga harus berangkat bekerja. Kamu sarapan sama papa saja, ya.”, Dika masih berusaha untuk membujuk Putera agar menurutinya.
“Tidak, putera tidak mau. Putera mau kita sarapan bertiga. Kita kan jarang bisa sarapan bertiga, pa. Hayuk, pa.”, kata Putera mulai bertingkah.
“Ya sudah, ya sudah. Kamu bangunkan mama. Tapi kalau mama marah, papa tidak mau tanggung jawab.”, kata Dika melepaskan tangan anaknya.
Dirinya sudah harus berangkat ke kantor setengah jam lagi. Dia tidak punya waktu untuk meladeni Putera jika dia mendadak membuat drama pagi ini. Drama itu tentu saja tidak akan berakhir hanya dengan drama Putera saja, tetapi mamanya juga bisa membuat drama semakin panas dan membuat hari itu menjadi buruk.
Dika mengambil beberapa roti dan mengoleskan selai di atasnya. Dia juga menyeruput kopi yang sudah disiapkan. Tak berapa lama, Rianti keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Hal ini tentu saja mengagetkan Dika. Biasanya jam segini, wanita itu masih tidur.
Berhubung dia mengelola perusahaan milik ayahnya, dia tidak perlu datang tepat waktu seperti yang lain. Jadi, Dika sudah terbiasa sarapan sendiri. Sebenarnya, menurut dirinya, akan lebih baik jika mereka jarang bertemu.
“Kenapa? Kamu seperti melihat hantu saja.”, kata Rianti membuka kalimat pertamanya dengan sindiran.
“Tidak. Aku hanya terkejut kamu sudah siap sepagi ini.”, jawab Dikai.
“Kenapa? Kamu tidak mau sarapan satu meja denganku?”, lagi - lagi sindiran keluar dari mulut Rianti.
“Rianti! Jaga sikap dan bicaramu. Ada Putera. Setidaknya bersikaplah sewajarnya.”, Dika melihat wajah Putera mulai kehilangan semangatnya karena perkataan - perkataan dan ekspresi yang dikeluarkan Rianti kepadanya.
“Duduk sayang.”, ujar Rianti yang juga ikut duduk.
Wanita itu mengambilkan satu sendok nasi goreng dan menaruhnya di atas piring kecil milik Putera.
“Ma, Putera mau telur juga. Papa tidak makan nasi goreng?”, tanya Putera sambil melirik pada papanya.
“Tidak sayang. Papa makan yang ringan saja. Kamu habiskan nasi gorengnya, ya.”, kata Dika sambil tersenyum.
Dua puluh menit mereka lewatkan dalam keheningan. Hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu menimbulkan bunyi dengan dentangan piring. Putera ingin sekali keduanya mengobrol, tapi menurutnya duduk bertiga seperti ini saja sudah menjadi hal yang istimewa untuknya.
*********
__ADS_1