
“Semua sudah masuk?”, ujar Arya di bangku kemudi mobil.
Malam ini, Dinda dan Arya akan berangkat keluar kota untuk menghadiri prosesi lamaran Reza, salah satu sepupu Arya dari papanya, Kuswan. Arya sudah membersihkan jadwal meetingnya dari sore sehingga sekitar pukul 4 sore, dia sudah berhasil pulang.
Berbeda dengan Arya, Dinda memilih untuk cuti setengah hari. Karena dia masih intern, akan aneh jika dia pulang lebih awal seperti Arya. Arya sudah memiliki posisi yang tinggi sehingga dia lebih leluasa.
Inggit menyebutkan satu persatu kado dan beberapa oleh - oleh masakan yang harus mereka bawa. Dia ingin memastikan semuanya masuk ke dalam mobil dan tidak ada satupun yang ketinggalan.
Pak Cecep membantu mengangkat satu buah koper berisi pakaian Arya dan Dinda. Mereka akan menginap 2 hari disana dan kembali Minggu sore. Lamaran akan dilaksanakan di salah satu villa milik keluarga Reza. Semua yang hadir hanya keluarga besar saja.
“Arya, kamu yakin gamau bawa Pak Cecep aja ato Ibas buat gantian jadi supir?”, Inggit kembali menanyakan pertanyaan yang sudah berkali - kali ia tanyakan sejak kemarin.
“Engga, ma. Pak Cecep biar stand by disini aja. Lagian besok kan mama mau bawa papa check-up. Deket kok.”, jawab Arya dari dalam mobil.
Dinda masih sibuk di dalam mempersiapkan beberapa snack bersama Bi Rumi. Perjalanan yang akan mereka tempuh membutuhkan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan.
“Ibas, kamu ga mau ikut kakak kamu. Gantian jadi supir. Lagian mba Andin ga pergi, trus kamu juga. Masa cuma Arya sama Dinda aja.”, Inggit memukul bagian belakang Ibas pelan.
“Mama mau aku jadi obat nyamuk? Ntar kalo mata aku ternodai dengan pemandangan 18+ dari mereka berdua gimana?”, jawab Ibas sekenanya.
“Heh.. jangan berlagak di laptop kamu ga ada video dewasa ya, Ibas.”, sahut Arya dari dalam.
“Enak aja. Emangnya aku mas Arya.”
“Eh.. malah balik nuduh.”, Arya menyahut lagi.
“Okay sudah siap.”, ujar Dinda memecah perseteruan Arya dan Ibas dari pintu utama.
Ia membawa dua buah bekal cemilan dan beberapa bungkus buah untuk di jalan. Bi Rumi membantunya memasukkan ke mobil.
“Ma, pa, Dinda berangkat dulu, ya.”, ujar Dinda sambil bersalaman dengan Kuswan dan Inggit.
“Tuh mas.. Menantu yang baik kalau mau keluar rumah salaman.”, sahut Ibas menyindir Arya.
“Kaya sendirinya iya aja.”, Arya tak pernah mau mengalah dengan Ibas.
“Jaga rumah ya kamu..”, lanjut Arya pada Ibas setelah Dinda sudah masuk ke dalam mobil.
“Daaa mama papa.”, kata Dinda sambil melambai.
“Selalu saja, aku di skip.”, protes Ibas karena Dinda melupakan namanya.
Arya segera melajukan mobilnya, begitu pak Cecep membuka habis pintu pagar. Mereka berangkat sekitar pukul 7.30 malam. Arya sudah tidur selama kurang lebih dua jam sejak pulang dari kantor tadi.
“Kalau mau tidur, tidur aja.”, ujar Arya saat mereka akan memasuki tol.
“Enggak ah. Tadi udah. Saya mau menikmati pemandangan saja.”, ujar Dinda sambil melihat ke arah Arya.
“Malam - malam begini mau lihat apa kamu?”
“Hm.. keliatan kok lampu kelap - kelipnya. Mas Arya belajar menyetir mobil umur berapa?”, tanya Dinda berusaha membuka pembicaraan.
“Random.”
“Dari umur berapa?”, tanya Dinda lagi.
“SMA.”
“Hm..dari SMA, pacarnya sudah berapa?”, tanya Dinda lagi.
Arya menoleh ke Dinda sebentar karena pertanyaannya semakin random.
“Gak terhitung.”
“Eh? Beneran?”, Dinda berlagak tidak percaya.
“Gak percaya?”, tanya Arya.
Dinda menggeleng.
“Kamu bisa tanya Ibas.”
“Pertanyaan selanjutnya. Olahraga yang mas Arya bisa selain renang dan tenis, apa aja?”
“Kamu sedang wawancara saya?”
“Jawab ajaa.”, tanya Dinda.
“Saya lagi menyetir. Butuh konsentrasi. Udah sana tidur. Kalo ga, saya cium kamu.”
Dinda memanyunkan bibirnya ke depan dan menoleh pada Arya.
__ADS_1
“Waktu Senin kemarin mas Arya panggil saya ke ruangan mas. Saya gak sengaja dengar pembicaraan mas Arya dan mba Suci.”
Ekspresi Arya datar. Dia masih mendengarkan Dinda.
“Mba Suci beneran suka sama mas Arya?”
“Tadi kamu gak percaya kalau saya banyak yang suka. Sekarang tanya begini.”, jawab Arya datar.
“Mba Suci punya keberanian yang tinggi ya. Jujur kalau di kantor, saya gak berani berhadapan langsung dengan mas Arya.”
“Kenapa? Di rumah kayaknya kamu komen terus.”
“Kalo di kantor yang saya lihat itu bukan mas Arya, tapi pak Arya. Menyeramkan.”
“Oh ya, baguslah. Berarti saya profesional.”
“Tipe wanita kesukaan mas Arya seperti apa?”
“Yakin mau dengar?”
“Eh enggak - enggak. Ganti pertanyaan.”
“Sejak kapan kamu pakai hijab?”, sekarang giliran Arya yang tertarik bertanya.
“Eh?”
“Dari tadi kamu terus yang nanya. Sekarang boleh dong kalo saya yang tanya.”
“Hm.. sejak kuliah.”
Arya membalas dengan anggukan.
“Kenapa?”, kemudian dia kembali bertanya.
“Hm.. selain itu memang kewajiban. Saya merasa dengan begitu saya bisa melindungi diri saya.”
“Kamu benar belum pernah pacaran?”
Dinda tersenyum simpul dan Arya menyadarinya.
“Kenapa tersenyum?”
“Seinget saya dulu Fam bilang belum pernah kan?”, ujar Arya mengingat - ingat saat mereka melangsungkan akad nikah dulu.
“Ohiya.. Fam juga ada nanti di pernikahan mas Reza?”, tanya Dinda tiba - tiba.
“Kemungkinan. Nanti juga ada beberapa keluarga lain yang mungkin kamu ga kenal. Soalnya waktu itu ga sempat hadir.”
“Hm.. jadi deg - degan.”
“Kenapa?”
“Nanti pasti ditanyai banyak hal. Bagaimana bulan madunya, kapan hamil, gimana pernikahannya.”
“Jadi, gimana bulan madunya?”, tanya Arya.
“Eh?”, balas Dinda bingung.
“Gak mau latihan jawab dulu?”
“Hehe.. hm..gimana yaa..”, Dinda bingung mau jawab apa.
“Tipikal seperti kamu ini yang akan jadi incaran pertanyaan.”
“Bagusnya jawab apa dong?”, tanya Dinda.
“Ih.. kenapa tanya saya.”
Pertanyaan - pertanyaan silih berganti dari Dinda maupun Arya. Interaksi dan komunikasi mereka sudah mulai mengalir. Tanpa terasa, mereka sudah melewatkan satu jam setengah perjalanan.
Sekarang, Dinda sudah tertidur sambil memegang buah jeruk di tangannya. Arya memutuskan untuk berhenti di rest area sebentar. Dia bermaksud ingin ke kamar kecil.
“Din….”, Arya menggoyang - goyangkan badan Dinda sedikit untuk membangunkan gadis itu.
“Hm? Iya?”
“Kamu mau ke kamar kecil, ga?”, tanya Arya pelan dengan suara baritonnya yang gentle. Malam sudah semakin larut, suara mereka juga mulai serak terkena angin malam.
“Iya.”, jawab Dinda sambil mengangguk. Dinda mengambil tissuenya. Tangannya mengepal karena kedinginan.
“Jaket kamu mana?”
__ADS_1
“Jaket? Gak bawa.”
“Ya udah ini pake jaket saya. Untung aja saya bawa dua.”, ujar Arya memberikan satu buah jaket kulitnya berwarna hitam.
“Humm..”, kata Dinda saat memakai jaket itu.
“Kenapa?”
“Wangi.”, jawab Dinda polos sambil tersenyum.
Dia tidak sadar bahwa komentarnya itu sontak membuat ada yang berdegup di dada Arya dan darahnya sedikit berdesir.
‘Aku jadi bingung. Dia ini sedang menggoda atau memang polos sih?’, tanya Arya dalam hati.
Mereka berdua keluar dari dalam mobil menuju toilet. Tidak ada banyak orang di rest area. Malam sudah semakin larut. Begitu sampai di depan toilet, Dinda berhenti sebentar dan menarik jaket Arya.
“Kenapa?”, tanya Arya.
“Di dalam kayanya gak ada orang.”, kata Dinda pelan.
“Ya bagus. Kamu gak perlu mengantri.”, ujar Arya. Dirinya sendiri sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi tetapi Dinda malah menahannya.
“Mas Arya duluan deh. Nanti kalau sudah selesai, baru aku masuk.”, usul Dinda.
“Eh?”
“Iya.. aku tunggu disini dulu. Nanti kalau mas Arya sudah selesai, mas Arya temani ya ke toilet wanita.”
“Ya ampun Dinda, nanti saya dikira pervert masuk toilet cewek.”, protes Arya.
“Ya sudah, saya ke toilet dulu ya. Udah ga tahan.”, ujar Arya berlalu ke toilet pria.
Dinda yang ditinggal sendirian hanya bisa celingak - celinguk ke kiri dan ke kanan. Malam itu, rest area benar - benar sepi. Hanya ada beberapa mobil yang parkir dan semuanya berada di beberapa restoran. Toilet juga berada agak ke dalam setelah melewati beberapa toko.
Setelah kurang lebih 10 menit, Arya akhirnya keluar dari toilet pria.
“Huft.. mas Arya lama banget.”, protes Dinda begitu Arya terlihat dari pintu toilet.
Arya tidak berkomentar.
“Saya masuk. Mas Arya tunggu depan pintunya, ya.”, kata Dinda dengan nada polos.
“Ya kali Din. Saya dikira tukang intip loh nanti. Udah kamu masuk aja, ga ada apa - apa kok di dalam.”
“Tapi mas..”, wajah Dinda sudah agak cemas. Dia kebelet tapi dia juga enggan masuk sendirian.
Arya masih memperlihatkan wajah sok cool-nya. Tetapi, dalam hati sebenarnya dia ingin tertawa lebar.
“Ya udah, saya di depan pintu masuk ya, bukan pintu toilet. Kamu pilih toiletnya yang paling pinggir aja.”, usul Arya.
“Tapi mas Arya kalo dipanggil nyahut, ya.”, Dinda meminta dengan nada memelas.
Terima kasih untuk Ibas yang sudah mengajaknya menonton film horor. Kini, salah satu adegan yang ada di film itu terngiang - ngiang di kepala Dinda karena setting tempatnya yang mirip.
“Mas Arya..”, baru saja beberapa langkah masuk ke toilet, Dinda kembali memanggil Arya. Padahal jam baru menunjukkan pukul 10 malam.
“Iya.. ada..”, sahut Arya. Arya hanya bisa geleng - geleng kepala karena harus meladeni remaja tanggung seperti Dinda.
“Mas…”, sahut Dinda lagi.
“Iya.. masih..udah cepetan.”, sahut Arya lagi.
Dinda memanggil lebih dari 5 kali untuk memastikan Arya masih berada di depan toilet. Begitu Dinda selesai, ia langsung mencuci tangan dan berlari keluar toilet.
“Ya ampun.. Gak perlu lari - lari, Dinda.”, kata Arya dengan penuh penekanan. Dia greget melihat Dinda yang parno.
“Maaf - maaf mas.”, ujar Dinda. Begitu sampai di luar dia langsung memegang jaket Arya.
“Huft dingin banget.”, ujar Dinda.
“Lain kali, saya gak akan biarkan kamu pergi nonton sama Ibas. Begini kan jadinya. Parno berlebihan.”, ujar Arya.
Dinda hanya terdiam menunduk dan takut mendengar omelan Arya. Tapi, tindakan Arya selanjutnya membuat dirinya tenang. Arya mengambil tangan Dinda, memegangnya erat, dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
“Yuk, buruan. Supaya kita bisa cepat sampai di villa dan istirahat. Besok pagi kita coba lihat sunrise.”, ujar Arya sambil berjalan menuju mobilnya.
“Oh? Sunrise? Beneran mas Arya? Gak bohong?”, Dinda langsung antusias mendengar Arya akan membawanya melihat sunrise.
“Saya sudah pernah ke Villa tante Indah. Tempatnya benar - benar di puncak dan dekat dengan gunung. Jadi, kamu bisa melihat sunrise pagi hari. Semoga aja gak mendung.”, ujar Arya.
“Yeayy….”, rasa kantuk Dinda langsung hilang begitu mendengarkan kata sunrise.
__ADS_1
Dinda memang jarang sekali menghabiskan waktu di tempat - tempat liburan kalau bukan ajakan dari teman - temannya. Dan tidak setiap saat Dinda mengiyakan ajakan mereka. Dinda juga sering menolak dengan alasan dia ingin membantu ibunya. Hanya ada mereka bertiga di rumah.