Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 116 Darimana Rumor Berawal


__ADS_3

Hari Senin di Bangkok menjadi tantangan tersendiri untuk Arya. Di awal karirnya sebagai Kepala Divisi Business and Partners, dia sudah beberapa kali menghadiri meeting di Bangkok. Sedikit banyak dia sudah mengenal wilayah perkantoran di kota ini.


Namun, ada hal yang berbeda dengan projectnya kali. Jika sebelumnya Arya banyak melakukan meeting di kantor, kini dia lebih banyak melakukan check-up di lapangan untuk menganalisa project yang sedang mereka lakukan dan nantinya akan dibangun di Indonesia oleh cabang perusahaan mereka yang baru saja didirikan.


“Bagaimana keadaannya, Pak?”, tanya seseorang menggunakan bahasa Inggris.


“Tidak apa - apa. Hanya beberapa luka gores dan baret dibagian lengan kanan. Pendarahan di bagian telapak tangan juga sudah berhenti kata dokternya.”, kata Arya menjelaskan ketika ditemui pagi ini oleh perwakilan dari perusahaan klien yang akan melakukan survey proyek.


Kejadian kurang menyenangkan dialami oleh Arya dan beberapa rekannya pagi ini ketika melakukan survey di lapangan. Salah satu proyek yang sedang dilakukan oleh kliennya ternyata bermasalah. Untungnya, itu bukan proyek yang sedang menjadi tanggung jawab kontrak perusahaan Arya bersama klien.


Namun, begitu Arya dan rekannya tiba dengan menggunakan pakaian yang rapi, beberapa demonstran disana mengira Arya adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas permasalahan mereka. Berawal dari provokasi, tim Arya mendapatkan sedikit masalah dan terlibat perkelahian yang tidak diinginkan.


Sebenarnya bukan perkelahian yang serius, namun ketidaksengajaan seseorang saat kondisi tidak kondusif membuat Arya terjatuh dan terkena sabetan kaca yang pecah dibagian tangannya. Tak hanya itu saja, akibat ada gesekan antara lengannya dan bagian dinding bangunan yang kasar menumbulkan baretan - baretan kecil di lengannya.


“Apa bapak yakin mau melanjutkan meetingnya?”, ujar salah seorang tim Arya bertanya.


Mereka sudah sampai di kantor setelah mendapatkan perawatan dari pihak rumah sakit setempat. Begitu tiba, Arya melihat CEO dari perusahaan kliennya sedang meeting dadakan di ruangannya.


Sepertinya masalah ini menjadi bottleneck dan hampir setengah tim kliennya yang terlibat terkena semprotan oleh bos mereka. Tentu saja, tanpa memeriksa kondisi lapangan terlebih dahulu, mereka menimbulkan situasi yang berbahaya untuk partner mereka.


Jika Arya mau, dia bisa melaporkan kejadian ini dan membuat klien mereka membayar pinalti karena adanya kecelakaan kerja di luar pengawasan. Namun, Arya bernegosiasi yang mengarah pada win - win solution. Dengan syarat, jika hal seperti ini terjadi lagi, tentunya mereka harus membayar denda.


“Ponsel saya sepertinya hilang di tempat tadi. Apakah bisa minta orang untuk mencarikannya? Saya tidak tahu apakah masih mungkin untuk ditemukan.”, kata Arya pada salah seorang staf kliennya.


“Saya takut tidak bisa, Pak karena situasi disana masih kurang kondusif. Saya akan membicarakannya ke atasan saya. Mungkin dari manajemen akan mengaturnya untuk Bapak.”, jelas staf tersebut.


Arya sudah bisa menebak jika penjelasan itu mengarah pada penggantian ponsel Arya dengan yang baru. Saat kejadian, Arya kehilangan satu buah ponsel untuk kebutuhan kantor sedangkan ponsel yang satunya untuk urusan personal terkena himpitan saat terjatuh dan dalam kondisi retak. Sepertinya tidak hanya LCD nya, tetapi bagian lain juga bermasalah.


Meskipun Arya sudah mencharge ponsel itu, tetapi tetap tak kunjung menyala.


“Saya harap bisa diatur secepatnya karena saya harus menghubungi istri saya.”, ujar Arya.


Pria itu harus keluar pagi sekali hari ini karena salah satu site check-up berada di area yang lumayan jauh dari hotelnya. Alhasil, Arya tak sempat menghubungi Dinda. Sekarang dia sangat menyesal tidak mengambil barang 5 - 10 menit saja untuk menghubungi istrinya.


Tiga tim yang bersama Arya ke Bangkok bukan berasal dari Indonesia melainkan satu perusahaan dengan Arya namun mereka berasal dari regional di Thailand. Sehingga, Arya dengan santai mengatakan sesuatu tentang istrinya.


“Saya tidak tahu kalau Pak Arya sudah menikah. Bukankah tadi malam?”, seseorang menanyakan terkait informasi tentang Sarah yang dibahas tadi malam.


“Sebenarnya saya tidak menyukai pertanyaan yang bersifat personal saat sedang dalam project seperti ini. But, yes saya sudah menikah.”, jawab Arya.


Orang tersebut masih kurang puas dengan jawaban Arya yang dinilai menggantung. Fakta bahwa Sarah merupakan mantan istri Arya di bahas tadi malam saat jamuan makan malam dan jawaban Arya barusan jelas memberikan informasi yang ambigu.


“Bukan dengan Sarah, wanita yang ditunjuk oleh CEO kemarin tapi dengan wanita yang lain.”, Arya tampak sangat tidak menyukai pertanyaan ini karena dia jadi harus menjelaskan panjang lebar.


Bukan karena dia tidak suka mengatakan dia sudah menikah atau dia sudah memiliki istri. Tapi, untuk kasus Arya saat ini, dia harus membahas tentang Sarah untuk menjelaskan itu dan dia tidak menyukai itu.


Jika saja Sarah tidak disebutkan sebagai mantan istrinya tadi malam, Arya akan dengan mudah menjelaskan dia sudah menikah.


“Aah.. menikah kembali ya Pak. I see.. Okay.”, pria itu cukup cerdas untuk menangkap makna dibalik ekspresi Arya.


“Okay, should we wait here or?”, Arya ingin segera menyelesaikan meeting hari ini sesuai jadwal karena dia ingin kembali tepat waktu.


CEO tersebut keluar dari ruangannya. Dari parasnya sepertinya dia sudah mengeluarkan banyak sekali kalimat kemarahan pada kelalaian bawahannya. Dia mengucapkan maaf terlebih dahulu pada Arya karena insiden yang cukup memalukan ini sebelum melanjutkan meeting sesuai jadwal.


Hari ini Arya harus meluangkan lebih banyak waktu karena hampir 3-4 jam waktu habis karena persoalan tadi.


******


“Masih melamun melihat ponsel kamu ya Din? Nunggu telepon dari siapa sih?”, tanya Fas pada Dinda yang tidak terlihat bergairah untuk mengobrol.


Hari ini adalah hari Senin, sehingga kebanyakan dari mereka biasanya menghabiskan waktu makan siang di kantor. Fas, karyawan Finance yang sering bergaul dengan Dinda, Suci, Delina, dan yang lain rela turun untuk makan bersama dengan mereka.


Mereka sudah selesai makan siang dari 5 menit yang lalu dan sedang melanjutkan rehat dengan mengobrol santai. Suci baru saja beranjak ke pantry untuk membuat kopinya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari paling sibuk untuknya sehingga tak ada waktu untuk mengopi di cafe bawah.


Trrttttrtttrrtttt


Ponsel Dinda bergetar. Lagi - lagi pesan WhatsAppa dari Dimas.


“Itu ponselnya bergetar? Kenapa tidak dibaca? Bukan dari orang yang kamu tunggu ya?”, tanya Delina sampil menyimpulkan sendiri.


Dinda hanya tersenyum ringan.


“Hello guys,, sudah selesai makan?”, Andra dan Bryan tiba - tiba muncul dan ikut nimbrung.


Mereka sudah keluar sekitar 30 menit lebih dulu dari jadwal makan siang.


“Sudah puas sebatnya? Bry, kamu jadi terpengaruh Andra deh, sebat terus sekarang.”, kata Suci yang baru kembali dengan secangkir kopinya.


“Kenapa ga bikinin kita sekalian sih?”, kata Andra mencium aroma kopi yang di bawah Dinda.


Dinda langsung memegang lehernya karena begitu Suci datang membawa secangkir kopi, seluruh isi perut Dinda seakan bergerilya untuk keluar dari mulutnya. Sebelum suara mualnya keluar, Dinda buru - buru berlari ke toilet.


“Eh Din? Mau kemana kamu?”


“Yah.. kok kita datang Dinda kabur sih?”, tanya Andra.


“Kamu tu, ngebet tapi ga lihat sikon.”, ucap Delina langsung menghakimi Andra.


“Udah enggak lagi tahu. Sudah menyerah.”, kata Andra.


“Loh, tumben?”, kata Suci.


“Hm… rahasia..”, kata Andra dengan gimick melambai ala - ala dirinya.


“Mau aku kasih gosip yang lain ga?”, kata Andra bersemangat dan langsung mengambil kursi.


“Jangan bilang kamu mau gosipin Pak Arya.”, kata Fas malas karena dia sudah lebih dulu mendengar gosip itu. Lebih tepatnya, orang yang menyebarkan gosip itu berada satu lantai dengan dirinya. Meski dia tidak tahu siapa itu, tapi banyak yang mengatakan kalau gosip tersebut berawal dari lantai 5.


“Bingo!. Kok kamu bisa tahu Del? Lantai 5, rame ya?”, tanya Andra.


“Menurut lo?”, kata Fas malas dan memilih untuk menuju toilet.


“Yah… dia pergi juga.”, kata Andra. Tapi kepergian Fas tidak membuat semangat bergosipnya luntur.


“Pak Arya reunian dengan mantan istrinya di Bangkok.”, kata Andra dengan penuh penekanan.


“Ah yang benar kamu?”, tanya Suci dan Delina bersamaan. Diantara mereka semua, hanya Delina dan Suci yang belum mengetahui kabar burung ini sama sekali.


Bryan yang tempat duduknya lebih condong dekat dengan salah satu tim Divisi Business dan Partners sudah mengendus gosip itu dari tadi pagi.

__ADS_1


“Yup.. sumbernya masih misterius. Entah kenapa pak Arya yang notabene gak bawa personil dari Indonesia bisa ketahuan reuni sama mantannya di Bangkok. Wah kalo mereka balikan, bisa tamat riwayat dunia persilatan kamu, Ci.”, kata Andra mengompori.


“Dapat berita darimana sih kamu?”, tanya Suci kesal.


“Sudah dari tadi heboh dari lantai 5 sampai di internal divisi Business and Partners sendiri.”


“Gak mungkinlah kayanya. Masa sih?”


“Yee… ya sudah kalau kamu tidak percaya. Kamu bisa tanyakan ke Pak Arya langsung kalau kamu punya nyali.”


“Kamu kira aku gak berani tanya ke Pak Arya.”


Kamu beneran mau tanya? Gila sih kalau kamu beneran mau tanya ke Pak Arya.”


******


“Uaaaakkk… Uaaakkkk… Uaaakkkk”, Dinda tak bisa menahannya lagi.


Untungnya, dia bisa sampai di toilet tempat waktu dan kondisi disana sedang kosong. Setelah selesai, dia segera membersihkan mulutnya.


“Din, kamu kebelet pipis ya? Langsung lari - lari begitu ke toilet.”, tanya Fas yang datang tepat saat Dinda sudah selesai.


Dinda hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan Fas.


“Aku juga mau ke toilet. Si Andra dan Suci mulai bergosip lagi.”, kata Fas yang sudah masuk ke dalam salah satu bilik toilet.


“Uaaa…Uakkk.”, Dinda menekan - nekan dadanya.


Perutnya masih sangat mual namun untungnya dia bisa mengendalikannya agar tidak terdengar oleh Fas. Dinda menarik nafasnya dan memijat - mijat kepalanya. Dia tidak bisa kembali ke kursinya jika Suci masih memegang kopinya. Entah kenapa Dinda tidak bisa mencium aroma kopi itu.


‘Bagaimana ini? Aku tidak bisa mencium aromanya. Apa aku keluar dulu saja?’, Dinda menggigit sedikit bibirnya, tangannya menutup mulutnya untuk menahan rasa mual yang mungkin akan keluar lagi karena Fas sudah menyelesaikan bisnisnya di bilik toilet.


“Kamu mau lanjut kerja lagi?”, tanya Fas.


“Engga.. Mungkin aku mau ke bawah saja cari jajanan.”, kata Dinda berusaha tenang.


“Hm.. ya sudah.. Aku mau kembali ke habitatku, ya. SPV ku memintaku untuk kembali sebelum jam 1. Kalau begitu.. Kita ke lift bareng aja.”, ajak Fas.


Dinda mengangguk.


*****


‘Kenapa mas Arya ga telepon. Apa aku telepon dulu ya? Apa mungkin? Aah jangan - jangan. Aku gak boleh percaya begitu saja. Bukan cuma 1, 2 gossip yang beredar. Ga semuanya benar, kan.’, kata Dinda mencoba untuk menjernihkan pikirannya di taman.


“Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Mohon coba beberapa saat lagi.”, Dinda mencoba menghubungi dua kali tetapi kali ini nomor ponsel Arya tidak aktif.


“Mas Arya kemana sih? Kenapa disaat gosip beredar seperti ini dia justru tidak bisa dihubungi?”


“Apa jangan - jangan gosip itu justru benar? Tidak, aku gak boleh termakan… tapi kenapa dia ga angkat teleponnya?”


Ting tong


Suara notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunan Dinda.


Dari: Nomor yang tidak dikenal 


Dinda menatap pesan WhatsApp yang masuk ke ponselnya. Kabar dari Arya yang dia nanti dari tadi pagi akhirnya masuk ke ponselnya.


“Kenapa dia tidak mengirimkan pesan yang lebih panjang? Apa ini? Cuma satu kalimat.”, protes Dinda.


******


“Thanks, ya. Semoga mereka bisa mengganti ponselku segera. Kalau begitu kita lanjut meetingnya.”, ujar Arya pada salah seorang staf internalnya.


Dan benar dugaan Arya, meeting berlangsung lebih lama dari yang dia kira. Pukul 10 malam, dia berangkat dari kantor klien menuju hotelnya. Perjalanan membutuhkan waktu 1 jam karena macetnya jalanan.


Untungnya mereka bisa mengabulkan permintaan Arya untuk menyediakan makan malam langsung di ruang meeting agar tidak memakan waktu lagi karena besok pagi dia harus kembali ke site untuk check-up.


“Arya… Arya… tunggu.”, Sarah menghentikan langkah Arya yang sudah ingin kembali ke kamarnya.


“Kamu gapapa? AKu dengar ada trouble di site klien? Ini apa? Kamu terluka? Kamu gapapa kan?”


“Aku masih bisa jalan dan seperti yang kamu lihat. I’m completely fine.”, jawab Arya tegas dan singkat.


Ia tak ingin memperpanjang obrolannya dengan Sarah dan bergerak untuk berlalu dari hadapan wanita itu.


“Tunggu. Kamu pasti perlu mengganti perban di tangan kamu. I’ll do it.”, Sarah memegang bahu Arya untuk menghentikan langkah pria itu.


“It’s fine. I can do it myself. Sudah kamu kembali saja ke kamarmu dan tidak perlu merisaukan aku. Dan please, kalau kamu mau mabuk, jangan singgah di depan kamarku. Aku harus bersusah payah meminta orang untuk membawamu kembali ke kamarmu kemarin.”, kata Arya dengan nada marah pada Sarah.


Kemarin malam. 


“Arya… kamu tega banget sih? Kenapa kamu tidak memberikanku kesempatan untuk kembali? Jujurlah, kamu tidak menyukai istrimu, kan? Hahahaa. .. aku sudah melihatnya dan oke lahh dia cantik, tapi dia pasti jauh dari seleramu… Arya… bukaaa pintunya… ayo kita bicara dulu…”


Setidaknya butuh beberapa saat untuk Arya bisa menyadari ada orang yang meracau tidak jelas di depan pintu kamarnya. 


*Sarah, wanita itu benar - benar ingin menguji kesabarannya. Sebelum membuka pintu, Arya memanggil petugas hotel untuk membantunya.



“Ahh.. aku tidak tahu nomor orang yang bersamanya. Kenapa dia harus mabuk disini.”, ucap Arya.


*


*Meski Arya tak ingin terlibat apapun lagi dengan Sarah, tapi melihatnya mabuk seperti ini tetap saja membuatnya khawatir. Arya meminta petugas hotel yang perempuan untuk menggotong Sarah kembali ke kamarnya. Untungnya wanita itu masih membawa kartu kamar di kantongnya.



“Ah kebetulan sekali. Kamu yang satu tim dengan dia, kan?”, tanya Arya memastikan saat tanpa sengaja bertemu dengan rekan satu tim Sarah di lift saat akan membawanya kembali ke kamarnya.*


“Oh? Ah… iya Pak.”, jawabnya.



“Sepertinya Sarah sedang mabuk. Apa kalian tidak kembali bersama?”, tanya Arya.



“Aah.. seperrtinya Bu Sarah pergi minum di bar bawah, pak. Bukan di jamuan makan malam tadi.”

__ADS_1



*Tak berapa lama mereka tiba di kamar Sarah. Satu orang laki - laki petugas hotel memastikan keperluan sudah terpenuhi sedangkan satu petugas perempuan membawa Sarah masuk kembali ke kamarnya dan membaringkannya di atas kasur.



‘Ah iya.. Aku belum menghubungi Dinda. Aku kirim pesan saja dulu.’, sembari petugas hotel menangani Sarah, Arya mengambil kesempatan untuk mengirimkan pesan.



Tak disangka, Dinda justru langsung menghubunginya. Di saat kondisi yang kurang kondusif, dia harus mengangkat telepon dari Dinda.


*


“Mas Arya sedang dimana? Kok baru diangkat?”, tanya Dinda.



“Maaf, baru sampai di kamar hotel setelah tadi dinner. Kamu belum tidur?”, tanya Arya.



“Belum.. Mas Arya.. aku mau ngomong sesuatu yang penting.”, ucap Dinda dengan nada yang serius.



*“Hm? Mau ngomong apa?”, tanya Arya sambil merespon seorang petugas yang ingin menginformasikan sesuatu padanya



“Hmpppphhh…”, Sarah kembali meracau. Dia bangun dan mencoba menarik tangan Arya yang berdiri di depannya.


*


*Arya sebenarnya tidak ingin masuk ke kamar ini meski ada petugas perempuan, rekan perempuan sekantor dengan Sarah dan petugas laki - laki yang standby di luar. Namun, Arya merasa perlu memastikan Sarah kembali ke kamarnya dengan aman dan meminta rekan Sarah untuk menginap di kamar ini saja.



Dia merasa sedikit khawatir membiarkan Sarah yang sedang mabuk di kamar hotel sendirian. Meski mereka sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi dan Arya sudah menghapus semua rasa yang pernah ada di antara mereka, dia merasa perlu untuk melakukan ini. Setidaknya sebagai seseorang yang pernah saling mengenal. Toh, dia tidak sedang berdua saja dengan Sarah, ada dua orang petugas dan rekan wanita Sarah. *


“Itu..”, Dinda merasa antara yakin dan tidak yakin pada suara yang dia dengar.


*“Din, sorry nanti aku telepon lagi ya. Bye.”, Arya menutup teleponnya karena petugas tersebut ingin berbicara dengannya. Mungkin memastikan jika mereka sudah bisa kembali atau tidak.



“Sorry, namanya siapa?”, tanya Arya kepada rekan wanita Sarah.


*


*“Dina, Pak.”, sepertinya dia masih bawahan Sarah karena dia merasa sangat sungkan saat berbicara dengan Arya.



“Ah oke. Menurut saya, sepertinya kamu menginap disini saja. Dia sedang mabuk berat sepertinya. Jika kamu membutuhkan sesuatu, panggil saja petugas hotel. Ada lagi yang kamu perlukan?”


*


“Oh baik.. Kamar saya juga masih di seberang, Pak. Saya ambil beberapa keperluan dulu, baru kembali kesini.”, ujar wanita itu.



“Oke.. Baik. Ini kartu kamar Sarah. Kalau begitu saya kembali ke kamar saya.”



“Iya.. baik, Pak.”



Arya berlalu dari kamar itu meninggalkan Dina, rekan kerja Sarah dan wanita itu yang sudah tumbang di kasur. Arya mengucapkan terima kasih pada bantuan petugas hotel dan memberikan mereka tips.



Satu petugas hotel segera kembali karena mendapatkan panggilan lain sementara satunya dipanggil oleh salah satu penghuni hotel di sekitar kamar Sarah karena dia memerlukan bantuan.



Tinggalah Arya yang masih ingin mengirim pesan WhatsApp pada Dinda di lorong hotel dan berjalan pelan menuju lift. Saat pintu lift terbuka, dua orang pria yang sepertinya merupakan internal tim Sarah keluar dari lift (Arya mengingat wajah mereka saat jamuan makan malam.



Sepertinya mereka juga menginap di lantai yang sama dengan Sarah dan Dina, hanya berbeda lorong saja karena mereka berdua berbelok ke lorong yang berlawanan arah. Sebelumnya mereka menyapa Arya dengan kikuk dan agak sedikit bingung kenapa Arya keluar dari lorong kamar Sarah.



*Arya yang sedang serius menulis pesan WhatsApp tidak begitu memperhatikan. Begitu pintu lift terbuka, dia segera masuk. Belum lagi Arya mengirim pesan, tiba - tiba ponselnya mati.



“Oh ****. Aku lupa mencharge ponsel ini. Ah… padahal aku sudah menulis pesan WhatsApp yang panjang. Kenapa tidak ada yang berjalan sesuai keinginanku hari ini.”, kata Arya sambil berjalan menuju kamarnya.


*


Sementara itu dua pria bawahn Sarah yang tadi bertemu dengan Arya.



“Itu bukannya Pak Arya yang dari Company *$&&*\, ya? Kenapa dia keluar dari lorong kamar Bu Sarah?”\, tanya salah seorang diantara mereka. 


“...”, temannya tidak menjawab. 


*


“Eh.. bukannya kamu dulu pernah bekerja disana ya? Benar itu mantan suaminya Bu Sarah? Wah… Kenapa Bu Sarah bercerai ya?”, tanyanya lagi.



Namun rekan nya hanya diam dan tampak sedang memikirkan sesuatu sebelum mereka masuk ke kamar hotelnya. *

__ADS_1


__ADS_2