
“Yang benar kamu ci?”, kata Andra tidak percaya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, namun kedua orang ini masih setia nongki - nongki cantik di Cafe baru yang lagi hits di kantor mereka. Apalagi kalau bukan Cafe Momi milik Dimas. Meski pemiliknya masih belum terlihat tetapi pengunjungnya sudah banyak.
“Masa aku bohong. Kapan kamu pernah lihat aku bohong? Semua informasi yang aku kasih selalu benar, kan.”, balas Suci.
Keduanya berbincang dengan wajah yang sangat serius.
“Hai guys, lagi bicarain apa sampai serius begitu.”, Bryan rupanya ikut menghampiri. Dia sudah dari jam 8 tadi tiba di kantor. Tetapi, melihat divisi mereka sepi, dia berinisiatif untuk mencari di Cafe Momi.
“Suci melihat Dinda di hotel semalam.”, kata Andra.
“Memang kenapa di hotel? Aneh?”, kata Bryan bingung.
“Dia lihat Dinda di hotel sama cowo.”, kata Andra.
“Ah yang benar? Salah lihat kali.”, Bryan tak mudah percaya.
“Sudah berapa lama sih aku kenal Dinda. Sudah hampir 8 bulan. Aku tahu jelas dong, perawakan dia seperti apa.”, balas Suci yang merasa tidak terima informasinya dianggap salah.
“Kamu kenal siapa cowonya?”, tanya Bryan lagi.
“Cowoknya ketutup sama petugas hotel. Pas aku mau lihat, liftnya sudah keburu ketutup.”
“Interruption.”, kata Bryan.
“Kamu ngapain di hotel. Ngamar kamu ya?”, lanjut Bryan lagi.
“Ya.. memang kenapa?”, kata Suci dengan penuh percaya diri.
“Hm.. ini yang bahaya. Dianya ngamar biasa, tapi sekalinya lihat Dinda di hotel, heboh.”, sindir Bryan.
“Ya… Dinda kan berhijab. Lagian waktu itu dia bilang ke kita ga punya pacar. Gayanya kaya cewe polos. Tapi, ngamar juga sama cowo. Mana kayanya cowonya lebih tua lagi, soalnya pake jas gitu. Om om jangan - jangan.”, kata Suci yang semakin tidak bisa mengendalikan mulutnya.
“Hush.. kamu itu kalau di depan Dinda mulutnya manis, di belakang malah julid.”, Bryan tak henti - hentinya memberikan sindiran.
“Kamu suka sama Dinda? Sebegitunya membela. Ini nih, cowok di samping aku yang sudah mengincar Dinda sejak lama.”, kata Suci sambil menunjuk ke arah Andra.
Bryan memelototi Andra sebagai respon dari pertanyaan Suci.
“Kenapa? Memang tidak boleh? Lagian nih ya, dia tu cantik, cerdas, polos - polos lucu lagi.”, kata Andra.
“Ih, ini pertama kalinya aku mendengar kamu berbicara seperti itu.”, kata Bryan merasa geli.
“Tapi, kepolosannya mungkin pencitraan saja. Masih suka?”, tanya Suci.
“Hm..”, kata Andra.
__ADS_1
“Kalau Dinda ga berhijab, pasti makin cantik. Rambutnya panjang atau pendek ya? Wah.. bikin penasaran.”, kata Andra.
“Hush… kemasukan setan apa sih kamu.”, Bryan semakin tidak nyaman mendengar cara Andra membicarakan Dinda. Padahal selama ini dia selalu tenang dan akrab di samping Dinda. Bisa dikatakan, Bryan sedikit syok mendengar semua yang dikatakan Suci dan Andra.
Sejak kapan mereka sangat tertarik membicarakan Dinda? Apalagi Suci. Padahal dia terdengar baik kalau di hadapan Dinda, tapi ternyata di belakang, dia juga menggosipkan gadis itu.
“By the way, udah jam 10 nih. Kok, aku belum lihat Dinda, ya. Tadi juga sebelum kita ke bawah, dia juga belum ada. Dia ada bilang cuti ke Erick?”, tanya Andra.
“Mana aku tahu. Lagian Erick juga pergi meeting sama manajemen. Makanya kita bisa leha - leha disini. Kayanya dia baru balik setelah jam makan siang, deh.
“Berarti aku gak salah lihat. Soalnya hotelnya itu dua jam-an dari sini.”, kata Suci meneruskan.
“Oiya, pak Arya juga tumben gak keliatan. Kemarin banyak sekali yang menanyakan dia.”
“Iya, kemana pria idaman kamu, Ci?”, sindir Bryan. Hari ini Bryan beberapa kali melontarkan kalimat sarkas ke Suci.
“Nah itu dia. Tadi aku tanya ke mba Siska, sekretarisnya. Tapi, dia juga tidak tahu. Aneh. Ga biasanya pak Arya seperti ini.”, jawab Suci.
“Hm. Mungkin dia sudah punya pacar baru.”, ujar Andra.
“Bahkan saat dia masih beristri pun, dia tidak pernah meninggalkan urusan pekerjaan. Termasuk saat dia bercerai. Kamu tahu, seisi kantor itu telat mengetahui kalau pak Arya sudah bercerai.”, Suci menggebu - gebu kalau sudah membicarakan perihal Arya.
“Ah iya. Aku ingat.”, kata Andra.
“Ya sudah, kita sudah harus ke atas. Jam berapa ini? Nanti pak Erick sudah terlanjur kembali.”, usul Bryan dan yang lain mengangguk. Mereka meninggalkan Cafe.
*****
“Mohon maaf saya terlambat. Kemarin saya ada urusan pribadi yang mendadak dan tidak sempat memberitahukan. Saya minta maaf.”, kata Arya sesaat setelah tiba di ruang meeting lantai 15.
Disana, sudah ada beberapa kepala divisi, manajemen, dan stakeholder yang duduk menunggu presentasi laporan perjalanan Arya menangani permasalahan di Singapura.
Arya sudah mengeluarkan ipadnya dan bersiap untuk memberikan presentasi. Kurang lebih 1 jam 30 menit, dia menjelaskan laporan dan beberapa kali menjawab pertanyaan dari manajemen dan stakeholder. Sementara para kepala divisi lain hanya bisa mengangguk saja.
“Kemana aja lo, Arya.”, tanya Erick yang langsung menyikut Arya setelah meeting.
“...”, Arya tidak menjawab, dia masih sibuk membereskan ipad dan beberapa catatan hasil presentasinya. Beberapa kepala staf memberikan selamat kepadanya karena berhasil menyelesaikan permasalahan yang membuat seisi kantor heboh beberapa minggu lalu. Bahkan, Arya juga berhasil memenangkan satu project lainnya.
“Dinda masuk?”, tanya Arya to the point.
“Kenapa menanyakan anak buah gue?”, tanya Erick heran.
“Apalagi kalau bukan ingin menanyakan perihal pelatihan smart report.”, jawab Arya berbohong. Dia benar - benar ingin tahu apakah Dinda masuk ke kantor hari ini atau tidak. Tapi, dia tidak mungkin langsung menanyakannya. Satu - satunya alasan yang bisa digunakan adalah pelatihan smart report yang sebelumnya ditangani Dinda untuk divisi Business and Partners.
“Pas gue datang pagi tadi, sepertinya belum melihat Dinda sama sekali. Tapi, akan gue cek. Kalau ada, gue akan minta dia menemui lo di ruangan.”
“Oke.”, Arya segera berlalu menuju ke ruangannya.
__ADS_1
‘Aneh sekali dia. Auranya gelap hari ini. Apa dia punya masalah?’, bathin Erick yang merasa sikap Arya terlalu dingin hari ini.
Beberapa menit kemudian, Arya sudah berada di ruangannya. Dia masih terus mencoba menghubungi Dinda, namun ponselnya dimatikan. Dia ingin segera bisa menemukan gadis itu.
‘Apa dia di rumah?’, kata Arya. Akhirnya, karena sangat khawatir, Arya menelepon ponsel Bi Rumi.
“Halo, Bi Rumi.”, sapa Arya.
“Iya, iya Den.”, jawab Bi Rumi.
“Dinda ada di rumah?”, tanya Arya langsung.
“Bukannya non Dinda menyusul den Arya. Kata non Dinda, den Arya mabuk. Walah Den, Bibi sama neng Dinda panik banget tadi malam. Bibi takut Bapak tahu.”
“Ah.. Iya Dinda menyusul saya kok, Bi.”,
“Tapi, kok den Arya malah tanya lagi dimana neng Dinda?”
“Pagi ini Dinda berangkat duluan, tapi masih belum di kantor. Jadi, saya mau mastiin apa Dinda pulang ke rumah.”
“Wah, engga Den. Neng Dinda tidak pulang ke rumah. Memangnya kenapa Den? Ada masalah? Kenapa tidak pulang bareng?”, kata Bi Rumi.
“Gak kenapa - kenapa. Sudah dulu kalau begitu Bi”, Arya menutup ponselnya.
‘Sh*t, kemana sih kamu, Din.’
Ponsel Arya kembali berbunyi, namun Arya tidak mengenal nomor ponsel itu. Karena penasaran dan berharap itu Dinda, Arya mengangkatnya.
“Halo, Arya?”, jawab suara bariton pria di seberang telepon. Suara yang dikenal Arya. Suara dari orang yang menjadi biang dari permasalahan ini.
“Mau apalagi? Belum cukup pukulan kemarin? Perlu aku memukulmu lebih banyak?”, kata Arya dengan tatapan tajam dan marah.
“Mari kita bicara. Aku bisa menjelaskan semua.”
“There’s nothing to talk about between us. Persahabatan kita berakhir sudah lama sekali.”, terang Arya.
“Tapi, Sarah..”
“Aku dan Sarah sudah bercerai. Aku sudah tidak berhubungan apa - apa lagi dengannya. Kau ambil saja.”, kata Arya masih dengan suara yang tegas dan tajam.
“Kamu tidak serius mengatakannya? Aku akui kami memang berselingkuh, tapi itu karena kamu tidak pernah punya waktu untuknya.”
“Aku berpikir ada alasan yang lebih logis dari itu. Seperti alasan yang Sarah sampaikan padaku. Ternyata apa yang aku lihat sudah bisa menjelaskan semuanya.”, Arya menutup ponselnya.
Di Cafe…
“Arya… Arya..”, Dimas berteriak memanggil nama pria itu tetapi sambungannya sudah terputus.
__ADS_1
‘Bodoh.. Kenapa aku harus membicarakan hal itu di sana. Langit sedang berpihak pada Arya. Bisa - bisanya dia ada disana saat aku sedang menelpon Sarah. Sarah pasti juga akan membunuhku kalau dia tahu, Arya sudah tahu semuanya.’, pikir Dimas dalam hati.