
“Hi Jim, Pak Teddy apa kabar? Kalian ada rencana menjenguk?”, tanya Siska pada Jimmy, salah satu bahwan Teddy yang beberapa waktu lalu diserang oleh orang tidak dikenal di parkiran.
“Good Good. Yup, kita sih ada rencana untuk jenguk weekend ini.”, jawab Jimmy.
“Kenapa weekend? Kenapa tidak di hari kerja saja biar mobilisasinya lebih mudah.”
“Wuuh.. too many projects recently, Sis. Bahkan yang kemarin di handle oleh Pak Arya di Kalimantan saja, kita masih harus rutin meeting. Plus, project nya juga bareng dengan divisi Digital and Development. Susah mengatur waktu kalau di hari kerja. Pak Arya tidak ada rencana untuk jenguk?”, tanya Jimmy.
“Itu dia kenapa aku diminta untuk menanyakan. Tim yang lain akan jenguk Pak Teddy bergantian. Kalau terlalu ramai kan tidak boleh. Sedangkan Pak Arya lebih prefer untuk jenguk bareng timnya Pak Teddy langsung.”, ujar Siska.
“Hem.. ya sudah.. Kalau begitu info ke Pak Arya, kita mau jenguk weekend ini, hari Minggu jam 9 pagi. Soalnya Weekend kan hanya boleh sampai jam 12 siang.”, jelas Jimmy.
“Hum.. coba aku tanyakan ke Pak Arya, ya. Semoga saja dia bisa. Istrinya juga sedang sakit lagi.”, kata Siska keceplosan.
“Oh? Istri? Pak Arya sudah menikah lagi?”, tanya Jimmy polos.
Tentu saja. Siapapun yang mendengar perkataan Siska barusan pasti akan memiliki pertanyaan yang sama.
“Tadi aku bicara apa ya? Ah.. maksud aku istri tetangga. Iya.. Ha - ha - ha. Kenapa jadi Pak Arya, ya. Ya sudah kalau begitu nanti akan aku kabari kalau Pak Arya jadi ikut menjenguk di rumah sakit, ya.”
“Okee. Kalau butuh informasi lebih detail, telepon saja.”
“Oiya, Pak Teddy sudah bisa diajak bicara belum, ya? Pelakunya sudah ketahuan?”, Siska merasa penasaran, karena tidak ada kabar lagi setelah itu.
“Hm.. kalau dengar - dengar dari kabar angin teman - teman. Awalnya tidak parah dan Pak Teddy sempat siuman. Tapi, kemudian dia tiba - tiba tidak sadarkan diri lagi. Semoga saja besok kita kesana beliau sudah baik - baik saja. Pelakunya belum bisa diketahui. Kabarnya pihak gedung juga melaporkan kejadian ini ke polisi, tapi entahlah, aku hanya mendengar kabar - kabar saja.”, jawab Jimmy.
“Hm.. Hm.. oke.. Thanks Jim.”, ujar Siska sambil mengangguk - angguk.
__ADS_1
“Sis, aku nanya dong.”, panggil Susan dari tempat duduknya.
“Ohiya, Bu Susan. Kenapa? Jadi meeting minggu depan? Perlu saya cek jadwal Pak Arya?”, tanya Siska segera teringat pesan Arya kalau dia harus mencarikan waktu diskusi bersama Susan dan tim-nya minggu depan.
“Jadi, hari Senin sore Pak Arya bisa ga?”, tanya Susan yang berdiri menghampiri Siska. Sedangkan Jimmy langsung menghilang di balik tikungan. Mungkin dia ingin ke mesin kopi.
Sejak para tim Business and Partners di omelin Pak Arya, rata - rata manager akan membuat kopi menggunakan mesin yang tersedia. Mereka tidak punya nyali untuk menyuruh intern lagi.
“Senin sore pak Arya padat Bu Susan. Dari jam 3-6 sore dia sudah di booking untuk 3 meeting yang berkelanjutan.”, balas Siska saat memeriksa ponsel dan buku catatannya.
“Yang kosong jam berapa kalau begitu?”, tanya Susan lagi.
“Pagi? Jam 9 Pak Arya belum ada jadwal. Sedangkan jam 10 beliau ada agenda menemui HRD.”, jelas Siska.
Dia melihat ke catatannya karena agenda jam 10 untuk bertemu HRD belum masuk ke catatan online Siska.
“Haha bisa saja Bu Susan. Pak Arya mau pagi mau malam sama - sama segar kok, Bu. Sama - sama masih wangi.”, ujar Siska bercanda.
Susan menimpali dengan tawa renyahnya. Dia menyetujuinya. Mau pagi, siang, atau sore, Arya memang tetap berpenampilan fresh.
“Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu.”, ujar Siska.
“Eh.. tunggu dulu. Saya kan tadi mau bertanya. Kamu langsung potong dengan jadwal meeting.”
“Ohoho Iya betul, maaf belakangan ini banyak sekali yang harus diurus untuk Pak Arya, saya jadi pusing sendiri, gagal fokus.”, ujar Siska tertawa.
“Hm.. kamu tahu yang mengurus smart report, kan? Bisa tolong panggilkan. Ada yang mau saya tanyakan tapi anak buah saya sedang keluar semua. Saya gak kenal orangnya.”, tanya Susan.
__ADS_1
“Oh… Dinda ya Bu? Intern divisi sebelah.”, jawab Siska.
“Oh, namanya Dinda, ya? Hm.. kaya gak asing.”, Susan bergumam sendiri.
“Hm? Kenapa Bu? Mau dipanggilkan orangnya?”, tanya Siska.
“Ohiya boleh.”
“Ah.. maaf - maaf saya sampai lupa. Orangnya lagi cuti. Sedang sakit soalnya. Aduh, tuhkan gak fokus lagi saya Bu.”, kata Siska menepuk - nepuk jidatnya pelan karena pelupa.
“Oh gitu, waduh sayang sekali. Saya ada yang mau ditanyakan dan butuh cepat. Kamu kok hapal sekali? Temenan, ya?”, tanya Susan.
“Eee… gak juga sih Bu. Tapi satu divisi sama Suci, jadi agak - agak kenal. Ha-ha.”, jawab Siska dengan tawa canggung.
“Hm.. baiklah kalau begitu.”, Susan kembali ke bangkunya.
“Iya Bun. Arya di kantor. Arya titip Dinda sama Mama di rumah, jadi Bunda tenang aja. Rencananya Arya mau jemput Bunda biar bisa menginap mungkin di rumah menemani Dinda semalam dua malam. Sejak menikah, ini pertama kalinya dia sakit, jadi Arya pikir Dinda mungkin kangen bunda.”
“Engga Bun. Tadi dokter yang biasa cek kandungan Dinda sudah menginformasikan, menurutnya tidak apa - apa. Yang penting panasnya tidak lebih dari 38.9- selama lebih dari 24 jam dan terus dipantau rutin.”
“Iyaa.. terakhir cek ke dokter, kandungan Dinda gapapa, sehat semuanya tidak ada keluhan serius. Iya, Arya sendiri yang menemani, Arya lihat USG nya juga, sehat. Maaf Arya belum kabari Bunda.”, Arya seperti sedang diinterogasi karena Bunda Ratna terlihat sangat khawatir.
‘Dinda? Orang yang sedang dibicarakan Arya tadi di telepon juga namanya Dinda kalau aku tidak salah dengar. Berarti istrinya, namanya Dinda? Dan secara kebetulan, intern di divisi Digital and Development namanya juga Dinda dan dia juga sedang sakit? Bisa ada kebetulan seperti ini, ya?’, Susan berjalan ke bangkunya perlahan kala teringat pada nama ‘Dinda’ yang juga diucapkan oleh Arya di telepon.
Dia berpikir itu hanya sebuah kebetulan.
‘Tidak mungkinlah, istrinya Arya adalah seorang intern. Masih anak - anak banget. Ha-ha, sepertinya aku kurang udara segar, kenapa aku memikirkan hal seperti itu’, ujar Susan dalam hati.
__ADS_1
Dia mengambil blazer yang digantung dan memakainya kemudian mengambil dompet yang terletak di meja sebelah kiri. Segera setelah dia berpikir bahwa dia membutuhkan udara segar, Susan langsung bergerak keluar. Mungkin secangkir kopi hangat dan hembusan angin bisa membantunya untuk berpikir jernih.