Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 169 Kotak Pandora


__ADS_3

Arya sedang berada di meja kasir melakukan pembayaran. Tadinya, rekan satu timnya dan Pak Albert menemani, namun karena antrian pembayaran masih ada beberapa orang lagi, Arya mempersilahkan yang lain untuk pulang terlebih dahulu.


Tim 8 harus istirahat lebih awal karena besok siang mereka akan berangkat menuju Kalimantan untuk urusan bisnis. Sementara Pak Albert memang sudah ijin lebih dulu karena dia parkir lumayan jauh.


Giliran Arya melakukan pembayaran tiba. Seperti biasa, pihak kasir memastikan pesanan Arya dan mode pembayaran. Arya menyerahkan kartu kreditnya. Saat bosan menunggu petugas kasir yang masih mencoba menghubungkan mesin EDC, pandangan Arya beralih sebentar ke Dinda.


Dilihatnya Erick dan Dika masih asyik mengobrol. Arya memberikan kode pada Dinda untuk segera menyusulnya ke luar restoran agar bisa pulang bersama setelah dia keluar nanti. Dinda mengerti kode Arya dan memberikan kode balasan yang berarti dia OK.


Kemudian saat pandangan Arya ingin beralih ke petugas kasir yang sepertinya sudah berhasil menyambungkan mesin ATM, pintu restoran terbuka. Seorang pria bersama seorang wanita masuk. Tepat sekali pandangan Arya saat itu juga mengarah kesana.


Arya memang tak memiliki perasaan apapun lagi terhadap Sarah. Namun, melihat Sarah ada di restoran ini membuat Arya tak bisa bohong bahwa dia cukup terkejut. Secara kebetulan pandangan mata mereka juga bertemu.


Sarah juga terkejut melihat sosok yang dia rindukan ada di hadapannya. Sementara Dimas, begitu membuka pintu masuk, pandangannya langsung refleks mencari tempat duduk yang kosong. Mereka tidak melakukan reservasi sebelumnya dan tempat ini terkenal sangat ramai.


Saat itulah pandangannya bertemu dengan Dinda. Dimas juga terkejut melihat gadis itu duduk sendirian di salah satu meja. Saat itu, Dimas belum menyadari kalau ada Arya juga disana. Dan Sarah sudah melihat Arya.


“Sarah, kita ganti tempat saja. Disini ramai.”, ujar Dimas sambil menarik lengan Sarah pelan bermaksud untuk mengajaknya keluar restoran.


Dia ingin menghindari pertemuan yang tidak diinginkan antara Sarah dan Dinda. Sepengetahuan Dimas, Sarah belum tahu bagaimana Dinda. Meski begitu, dia tak ingin keduanya bertemu.


Sarah tak bergeming, dia menahan tarikan tangan Dimas. Meski begitu, pandangannya masih mengarah pada Arya.


“Kamu kenapa?”, tanya Dimas sambil berhenti dan menolehkan wajahnya pada Sarah.


Merasa penasaran, Dimas mengikuti arah pandang Sarah dan baru menyadari bahwa wanita itu sedang melihat Arya. Berbeda dengan Sarah yang belum melepaskan pandangannya, Arya sudah dari tadi fokus pada pembayarannya.


“Sudah mba? Totalnya berapa sih? Kalau tidak bisa pakai kartu kredit, saya bisa pakai QR.”, ujar Arya yang tidak sabar karena kasir beberapa kali mencoba mesin EDC dan belum berhasil.


“Oh sudah bisa, Pak. Boleh pin, nya?”, ujar kasir itu memberikan mesin EDC pada Arya agar pria itu bisa memasukkan pin-nya.


“Ini bukti pembayarannya, dan ini struknya ya, Pak. Ada yang bisa kami bantu lagi?”, ujar kasir tersebut.


“Tidak, terima kasih.”, jawab Arya singkat.


Kemudian Arya berjalan lurus ke arah Sarah dan Dimas berdiri. Melihat itu, hati Sarah mulai hangat karena dia berpikir Arya sudah mau melunak dengannya dan mungkin dia bisa mengobrol dengan pria itu malam ini.


Sebaliknya, Dimas terkejut dengan tindakan Arya yang berjalan ke arah mereka. Dia merasa tidak nyaman karena khawatir pada Dinda.


Namun, keduanya salah. Arya berjalan ke arah mereka bukan karena dia ingin menemui atau berbicara dengan Sarah. Tetapi karena itu jalan satu - satunya agar dia bisa menuju ke tempat dimana istrinya sedang duduk.


“Arya.”, panggil Sarah lirih saat dirinya dan Arya berpapasan.


Ekspresi keduanya langsung berubah saat melihat Arya berjalan menuju meja seseorang. Dimas sudah tahu itu Dinda, namun tidak dengan Sarah yang masih mencoba mengenali siapa perempuan yang duduk di sebelah sana.


Arya mengambil tas Dinda yang dia taruh di atas meja dan menarik lengannya. Secepat mungkin dia ingin membawa Dinda pergi dari sini.


“Dinda? Wanita itu?”, ucap Sarah pelan tapi penuh dengan penekanan.

__ADS_1


Ekspresi cemburu dan marah terlihat jelas dari raut wajahnya.


Arya menarik lengan Dinda dan berjalan pelan menuju pintu keluar. Erick dan Dika yang menyaksikan itu langsung bingung bercampur heran.


Erick heran kenapa Arya dengan santainya memegang lengan Dinda padahal ada Dika disana. Dika bingung kenapa Arya tak merasa terganggu dengan keberadaannya yang mungkin saja bisa membocorkan hubungan mereka.


'Apa dia tidak menganggapku ada?', pikir Dika dalam hati.


Saat Erick dan Dika yang keheranan mengarahkan pandangannya mengikuti arah jalan Arya dan Dinda, saat itulah mereka berdua sadar kalau ada Sarah disana. Dika, pria itu tentu saja sangat mengenal Sarah, wajahnya, dan postur tubuhnya.


Erick, sebagai sahabat Arya, dia beberapa kali pernah bertemu Sarah. Hanya saja mereka tidak begitu mengenal Dimas yang ada di samping Sarah, kecuali sebagai pemilik Cafe di lantai bawah kantor mereka.


Pemandangannya yang menarik sekaligus membingungkan.


Saat Arya menarik lengan Dinda untuk segera keluar dari restoran, Dinda baru menyadari keberadaan Dimas dan Sarah. Sedari tadi kepalanya menunduk karena sibuk memainkan ponselnya. Dia bahkan kaget saat seseorang memegang tasnya.


Kalau Dinda tidak melihat ke atas dan menyadari itu Arya, mungkin dia sudah mengira orang itu adalah copet.


‘Dimas? Mba Sarah?’, Dinda hanya bisa menggumamkan nama mereka dalam hati meski sangat kaget.


Dirinya tak menyangka bisa bertemu keduanya sekaligus saat dirinya sedang bersama Arya. Saat Dinda berpapasan dengannya, Dimas juga melayangkan tatapan lirih sama seperti Sarah. Bedanya ada rasa lain yang melekat pada Sarah saat ini. Bingung, marah, dan merasa tidak terima.


Seseorang yang dulu selalu memegang tangannya, kini memegang tangan wanita lain.


Sedangkan Dimas, dirinya entah kenapa merasa sedikit lega karena Arya memilih menarik lengan Dinda, bukan Sarah.


Sarah berharap Dika menghampirinya, tapi ternyata tidak. Kenyataan ini membuat dirinya merasa marah.


“Sar, Sarah. Kamu mau kemana?”, tanya Dimas segera setelah Sarah melepas tangannya dan berjalan keluar restoran.


“Aah.. **.”, ujar Dimas mengikuti arah perginya Sarah.


Ternyata wanita itu berlari keluar restoran mengejar Arya. Begitu sampai di luar, dia mengedarkan pandangannya untuk menemukan keduanya. Saat sudah mendapati mereka, Sarah berlari dan menghadang langkah Arya.


Sontak Dinda langsung terkejut. Sementara Arya, dia masih memasang wajah stay cool-nya. Dinda masih belum selesai dari rasa terkejutnya saat Arya menarik lengannya. Kemudian, dia juga merasa kebingungan saat tanpa sengaja berpapasan dengan Dimas. Meski tak terlalu fokus, tapi dia bisa mengetahui bahwa wanita di samping Dimas adalah Sarah.


“Aku mau bicara sama kamu.”, ujar Sarah ketika berhasil menghadang langkah Arya.


“Tak ada yang perlu kita bicarakan. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa - apa.”, ujar Arya bersikap tegas.


“Tidak. Masih banyak yang perlu kita bicarakan, Arya. Kamu sekarang sedang melalui jalan yang salah. Kamu baru kenal dia mungkin beberapa bulan ini. Tapi, kita sudah kenal lebih dari 10 tahun, Arya.”, ujar Sarah berusaha menarik lengan Arya namun pria itu menepisnya.


“Should I make you look like this in front of Dinda?”, ujar Arya yang jelas tak punya perasaan apa - apa lagi dengan Sarah. Namun, dia merasa kasihan jika wanita itu terus bersikap seperti ini.


Selama ini, Arya selalu menolaknya saat mereka berdua. Dia merasa tak tega jika hal itu disaksikan oleh Dinda.


“Heh, dia siapa? Dia hanya orang baru yang muncul di hidup kamu karena mama kamu. Kamu bisa membuangnya kapan saja, Arya. Kamu gak perlu merasa ragu. Aku tahu kamu masih mencintaiku. Wanita ini bukan siapa - siapa and she’s out of your league, Arya.”, kata Sarah dengan nada persuasif. Tatapan matanya fokus mengarah pada Arya meski lengannya tak bisa memegang lengan pria itu.

__ADS_1


“I’ve made it very clear. She’s my wife, now and ever. You’re now……Ah, Tidak. You've been free since three years ago when we divorced. You’ve made the decision and I respect it. So please respect my wife.”, balas Arya dengan nada yang gentle namun dengan penegasan.


“Ayo, sayang.”, kata Arya kemudian menarik Dinda melewati Sarah menuju mobilnya.


Dinda hanya bisa mengikuti arah langkah Arya. Begitu sampai di depan mobil mereka, Arya membukakan pintu dan memintanya masuk. Tak lama, mobilnya melaju melewati Sarah yang masih berdiri marah di tempat yang sama.


Tidak ada air mata yang keluar, hanya perasaan kesal, benci, marah, dan rasa tidak nyaman karena merasa kalah. Padahal sejak awal, tak pernah ada pertandingan di antara mereka.


Di tempat yang masih dekat dengan posisi mereka berbicara tadi, Dika mendengarkan semuanya. Dia menyusulnya begitu Sarah keluar dari restoran. Sementara Dimas, tadinya dia ingin mengikuti Sarah, namun saat melihat Dika ikut keluar, Dimas memilih untuk tak menyusulnya.


*******


“Mas Arya, gapapa?”, tany Dinda ragu - ragu saat melihat Arya yang duduk sambil membaca buku namun pandangannya seperti blank.


Tidak ada balasan dari Arya membuat Dinda mencoba memanggilnya kembali.


“Mas Arya..”, panggil Dinda lagi. Kali ini dia sedikit menaikkan volume suaranya dan melambaikan tangan di depan wajah suaminya.


“Hm?”, tanya Arya terkejut.


“Aku tadi tanya. Mas Arya gapapa?”, Dinda kembali mengulangi pertanyaannya.


“Hm.. aku baik - baik saja, memangnya kenapa? Apa ada alasan untukku tidak baik - baik saja?”, tanyanya.


Dinda menggeleng.


‘Apa mas Arya masih memikirkan mba Sarah.’, pikir Dinda dalam hati.


Meski beberapa kali sudah dia mendengar komitmen Arya terhadap pernikahan mereka. Tetapi, setiap kali ada topik tentang Sarah, Dinda masih goyah. Ada perasaan takut dalam dirinya. Tidak percaya. Dan kehilangan jati diri ketika pemikiran tentang hubungan masa lalu Arya dan Sarah muncul.


Dinda baru akan berjalan ke ranjang sebelah Arya sebelum tangan pria itu menariknya. Dinda terduduk di pangkuan Arya.


Tanpa menunggu jeda, Arya mencium lembut bibir gadis itu. Menyesapnya dalam. Telapak tangannya ia tempelkan di tengkuk Dinda, perlahan naik ke bagian kepala belakangnya untuk semakin menekan ciuman mereka.


“Istri aku itu kamu. Wanita yang aku cintai itu kamu. Jadi, jangan pernah punya pikiran aneh terutama karena kejadian hari ini.”, ucap Arya sambil menempelkan dahinya di dahi Dinda.


Dinda mengangguk. Meski kali ini Dinda tidak mengatakan apa - apa, tapi Arya tahu benar apa yang dia pikirkan.


“Sekarang kamu tidur, ya. Besok masih hari kerja.”, perintah Arya sambil menepuk - nepuk bantal di sampingnya.


Dinda mematuhinya. Dia berjalan ke sisi sebelahnya dan membaringkan tubuhnya. Arya juga ikut membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Sebelumnya, tak lupa ia membuka atasannya terlebih dahulu. Kebiasaan Arya kalau mau tidur.


Pria itu menarik Dinda agar bisa lebih dekat dalam pelukannya. Dia mencium keningnya pelan sebelum memeluk penuh istrinya.


‘Aku hanya khawatir kalau suatu waktu Sarah berbuat aneh ke kamu, Din. Semoga itu hanya pikiran negatifku saja.Semoga Sarah segera sadar pada apa dan siapa yang sebenarnya dia butuhkan.’, ujar Arya dalam hati.


Ya, itulah yang Arya pikirkan saat tadi dia termenung. Sesuai dengan perkataan Sarah, mereka sudah saling kenal lebih dari 10 tahun. Sedikit banyak, Arya tahu semuanya tentang Sarah. Menurutnya, wanita itu bukan tipe wanita yang akan melakukan hal buruk pada orang lain.

__ADS_1


Namun, sikapnya akhir - akhir ini setiap kali bertemu membuat Arya kembali berpikir. ‘Apakah wanita itu adalah ‘Sarah’ yang dia kenal? Atau selama ini sebenarnya dia salah menilai?’, pikir Arya.


__ADS_2