Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 47 Berhubungan dengan Mantan


__ADS_3

***Notes dari Author: ***


Disarankan membaca chapter ini sambil menyetel lagu ****Duncan Laurence - Arcade**


“Arya, aku tahu kamu masih marah banget sama aku. Tapi plis, ijinkan aku untuk ketemu kamu. Aku akui hubungan kita sudah berakhir tetapi bukan berarti kita tidak bisa berteman.”


“Sar, tiga tahun menurut aku adalah waktu yang cukup untuk kita bisa melupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Tiga tahun, kamu gak pernah kontak aku. Dan sekarang kamu begini buat apa?”


“Arya, aku gak kontak kamu karena mama kamu yang larang untuk aku berhubungan lagi dengan kamu. Bukankah dia yang paksa kita untuk bercerai.”


“Jangan memutarbalikkan fakta Sar. Kamu yang meminta cerai dari aku. Kamu yang malam itu meminta aku menandatangani surat perceraian dan pergi ke luar negeri. Berapa kalipun aku coba telpon kamu, tapi kamu gak pernah angkat. Sekarang kembali menghubungi aku buat apa?”


“Sekali aja. Aku mau ketemu dan bicara sama kamu, Arya. Aku kangen sama kamu.”


“Terserah kamu, Sar. Kamu harus janji. Ini terakhir kalinya kita ketemu. Aku sudah menutup dan memutus semua hubungan diantara kita sejak kamu menggugat cerai.”


“Hn. Iya Ar, aku ngerti.”


Arya sedang menyeruput tetes - tetes terakhir dari Ice Americano yang dia pesan. Dia sudah menyelesaikan meetingnya setengah jam yang lalu di hotel A. Namun, dia merasa tidak ingin langsung kembali ke kantor dan justru mengerjakan pekerjaannya dari hotel A.


Dia belum sempat menanyakan dimana Dinda akan Glamping hari ini. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Mungkin dia sedang bersenang - senang, pikir Arya.


Arya melihat jam di tangannya, tak disangka dia sudah berjam - jam duduk di cafe hotel ini. Jam juga sudah menunjukkan pukul 9 malam. Haruskah dia menginap di hotel ini? Toh, di rumah juga sedang tidak ada Dinda. Apalagi, besok dia harus bertemu Sarah di sekitar sini juga.


Sebenarnya Arya sudah tidak ingin menemui wanita itu. Dia takut bagian dalam hatinya masih menginginkan wanita itu.


‘Hanya sekali ini saja. Setelah itu aku akan kembali pada Dinda, wanita yang sekarang menjadi istriku.’, ucap Arya dalam hati.


Baru saja akan meninggalkan Cafe, Arya melihat sosok yang dia kenal. Sosok yang baru saja dia pikirkan.


‘Dengan siapa dia kesini? Ah.. mungkin aku salah lihat.’, Arya lanjut meninggalkan cafe hotel itu menuju ke mobilnya yang sudah terparkir di depan hotel.


Di dalam mobil, Arya masih belum men-starter mobilnya karena masih memikirkan sosok yang ia lihat tadi.


‘Gak mungkin. Siapa pria itu? Ahh ****.’, Arya mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


“Halo. Kamu dimana?”


“Kenapa? Bukannya kita ketemu besok?”


“Aku mau kita ketemu sekarang, besok aku ada janji.”


“Tapi..”


“Kamu katakan saja, kamu dimana. Aku yang akan menyusul kamu.”


“Arya, tapi aku sedang di luar kota.”


“Dimana? Aku akan menyusulmu kesana?”


“Kamu? Kamu sekarang dimana?”, jawab suara di seberang.


“Aku sedang di rumah.”


“Lalu, kamu ingin menyusul aku kesini? Istri kamu?”


“Dia sedang tidak di rumah. Katakan saja kamu dimana.”


“Hm.. Aku di kota A, butuh waktu tiga jam untuk kamu kesini.”


“Tenang saja.”

__ADS_1


“Baiklah. Kamu bisa menemui aku di hotel A, kamar nomor 505. Aku tunggu kedatangan kamu.”


Arya langsung turun lagi dari mobil dan menuju ke kamar yang dikatakan oleh Sarah. Ya, wanita yang Arya telepon adalah Sarah. Wanita yang tak sengaja dia lihat bersama seorang pria barusan. Semakin Arya berfikir semakin dia yakin bahwa wanita itu adalah Sarah.


‘Untuk apa dia masih menghubunginya jika sekarang dia ke hotel bersama seorang pria. Arya emosi karena dia merasa dipermainkan oleh Sarah. Seharusnya sudah sejak dulu dia memblokir nomor-nya.


Tapi mengingat Sarah adalah mantan istrinya, orang yang pernah mengisi hati Arya, dia tak pernah bisa melakukan itu.’


Begitu masuk, Arya bergegas mencari lift dan menekan lantai 5.


15 tahun yang lalu


“Kamu orang Indonesia? Asli mana?”, seorang wanita berambut panjang dengan jaket winter menghampiri Arya di perpustakaan kampus.


“....”, Arya tidak menjawab.


“Kamu terlalu bersemangat jadi mahasiswa Stanford?”


“Maksud kamu?”


“Kuliah masih dimulai dua minggu lagi, dan kamu sudah di perpustakaan Stanford. Apa lagi kalau bukan bersemangat.”, kata wanita itu. Dia adalah Sarah. 15 tahun yang lalu adalah pertemuan pertama mereka di sebuah perpustakaan di Universitas Stanford.


“Di perpustakaan tidak boleh ribut. Lebih baik kamu diam.”, Arya beranjak dari kursinya dan menuju ke lobi peminjaman. Setelah selesai memproses peminjaman, dia mengambil jaketnya dan berjalan keluar dari perpustakaan sambil membawa tiga buah buku yang dia pinjam.


“Hei, mau kemana? Sombong sekali. Kenalkan, aku Sarah Adelina, mahasiswa baru di Stanford. Kamu ambil jurusan apa?”


“Apa kamu terbiasa sok kenal dengan seseorang.”


“Hei, di negeri orang, kita harus saling bergantung satu sama lain. Selain karena kamu tampan, aku juga ingin punya teman setanah air saat berjuang di negeri orang.”


Arya menghentikan langkahnya dan berbalik. Alhasil, Sarah yang terus berjalan cepat bahkan setengah berlari malah menabrak Arya. Keduanya terjatuh, termasuk ketiga buku yang sedang dipegang Arya.


“Oh.. tangan kamu berdarah. Aku bawa band-aid, sini aku obati dulu.”


“Tidak perlu.”


“TIdak boleh begitu. Nanti bisa infeksi. Ayooo sini.”, Sarah menarik Arya ke sebuah kursi panjang yang ada di depan perpustakaan. Hari itu becek, tak heran jika banyak genangan air di trotoar jalan.


“Sini, tangan kamu. Aku ambil band-aid nya dulu.”, Sarah mencari - cari band aid yang ada di dalam tasnya.


“Ah, ketemu.”, Sarah mengambil betadine dan menuangkannya ke atas kapas. Ia mengusapkannya pada lengan Arya yang sudah memerah. Pria itu meringis sedikit. Sarah mengambil band-aid dan memasangkannya.


“Jari kamu juga terluka.”, kata Arya sambil memegang tangan wanita itu.


Kini giliran Arya yang mengambil alih betadine dan kapas kemudian melakukan hal yang sama pada Sarah.


Sarah tersenyum.


“Hai… kita sudah berbagi betadine dan saling mengobati. Kamu masih tidak mau memberitahukan namamu?”, kata Sarah sambil tersenyum ke arah Arya.


“Arya Pradana.”


“Wahh akhirnya aku tahu nama pria tampan di depanku ini. Salam kenal, aku Sarah Adelina.”


“Kamu sudah bilang tadi.”


“Ternyata kamu mengingatku, ya. Jurusan?”, tanya Sarah lagi.


“Econometrics and Quantitative Economics.”


“Oooh… cerdas sekali.”

__ADS_1


“Kamu?”


“International Relations and Affairs.”, Arya mengangguk mendengar jawaban Sarah.


Mereka melanjutkan perjalanan pulang dan menemukan bahwa mereka tinggal di gedung apartemen yang sama. Sebelum kembali ke kamar masing - masing, Arya dan Sarah memutuskan untuk menyeruput secangkir kopi di sebuah kafe dekat dengan apartemen mereka.


Dua bulan kemudian.


“Hei, belakangan sulit sekali melihatmu. Aku tidak pernah berpapasan meski kita ada di gedung apartemen yang sama.”, Sarah memukul bahu Arya yang baru saja sampai di cafe.


“Aah.. betul. Aku juga sudah tidak pernah melihatmu sejak pertemuan kita waktu itu. Aku lupa menanyakan nomor kamarmu.”, mereka berpisah di lift pada pertemuan pertama mereka. Keduanya memang tinggal di gedung apartemen yang sama, tetapi lantai yang berbeda.


“Apa kabar?”, Sarah bertanya. Arya yang baru saja memesan kopi langsung duduk di samping Sarah. Wanita itu sudah dari tadi ada disana. Terbukti dari cangkir kopinya yang sudah sisa setengah.


“Baik. Aku dapat teman orang Indonesia yang baru. Mungkin akan aku kenalkan jika kamu tidak keberatan. Dia tidak tinggal di sekitar sini. Mungkin kita bisa bertemu lain kali.”


“Ooh.. aku juga memiliki teman sesama Indonesia di jurusanku. Dia akan datang sebentar lagi. Jika kamu tidak keberatan, aku akan kenalkan padamu dan mungkin kita dan teman kamu juga bisa berkenalan.”, usul Arya.


“Bagus sekali. Ide yang bagus. Sulit mencari orang Indonesia lainnya di jurusanku. Lebih banyak teman lebih bagus.”


Tleng Tleng Tleng


Bunyi lonceng pintu menyadarkan mereka. Seorang pria dengan perawakan yang mirip dengan mereka muncul dari balik pintu masuk.


“Hai Dimas, disini.”, Arya melambaikan tangannya sambil tersenyum girang. Dia tak sabar memperkenalkan Dimas, teman Indonesia satu jurusan dengannya pada Sarah, gadis yang tempo hari ia temui di perpustakaan.


Arya bertemu Dimas setelah perkuliahan berlangsung selama seminggu. Ternyata pria itu membolos dan baru berangkat dari Indonesia. Dimas bukan dari kalangan berada. Ada masalah dengan beasiswa yang didapatkan sehingga keberangkatannya ke Amerika sempat tertunda.


Tidak seperti Arya yang sangat girang, Dimas merasa sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat dihadapannya. Seolah saling mengenal, Sarah juga memperlihatkan ekspresi yang sama. Namun, sesaat kemudian mereka sama - sama memperbaiki ekspresinya tanpa Arya sadari.


“Sarah, kenalkan. Ini Dimas. Teman yang tadi aku sebutkan.”, Arya langsung menarik Dimas dan mengajaknya berkenalan dengan Sarah.


Sarah masih terdiam, sampai kemudian Dimas mengulurkan tangannya.


“Hai, aku Dimas Prasetya.”, kata Dimas sambil tersenyum.


Sarah menyodorkan tangannya ragu. “Aku Sarah. Sarah Adelina.”


“Kenapa? Kamu jadi malu bertemu pria tampan seperti Dimas.”, Arya bermaksud menggoda Sarah.


“Tampan. Tapi masih tidak setampan kamu, Arya.”, kata Sarah blak - blakkan.


Dimas tersenyum.


“Kamu masih sama saja Sarah. Sama dengan pertemuan pertama kita di perpustakaan.”, ucap Arya.


“Aku pesan minuman dulu.”, sela Dimas.


“Dia akan tinggal di flat ku mulai hari ini.”, lanjut Arya lagi.


“Oh.. apa flatmu cukup?”, jawab Sarah.


“Ya. Aku di lantai 2 dan kamarnya lebih luas dari yang kubayangkan. Jadi, aku tawarkan saja pada Dimas.”


“Arya berbaik hati memberikan harga sewa yang sangat murah padaku, agar aku tidak kesulitan mengatur uang. Dana beasiswa yang aku dapatkan tidak banyak.”, Dimas yang telah selesai memesan minumannya kembali bergabung dan menyela.


Sarah mengangguk.


“Kamu tidak perlu berkata begitu. Aku senang ada teman.”, kata Arya.


“Memang begitu kan?”, Dimas tersenyum. Malam itu mereka habiskan dengan bernostalgia dengan kehidupan sekolah di Indonesia.

__ADS_1


__ADS_2