Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 69 Pillow Talk bagian 2


__ADS_3

Semilir angin malam memasuki kamar Arya dan Dinda karena pintu balkon tidak ia kunci. Dinda sedang memainkan ponselnya menikmati berbagai teaser drama yang ingin ia tonton. Sudah lama dia tidak menonton drama.


Dinda mulai menyimpan daftar judul drama yang ingin dia tonton. Bahkan, dia juga menuliskan jumlah episodenya agar lebih mudah memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan drama.


Gadis itu sudah menikah, dia tidak bisa memiliki waktu yang sama saat dia masih sendiri. Biasanya Dinda akan memanfaatkan waktu - waktu Arya ke luar negeri atau akhir pekan dimana Arya biasanya lebih sering keluar rumah.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dinda sudah menyelesaikan makan malamnya lebih dulu tanpa menunggu Arya. Dia juga sudah membersihkan badannya dan mengenakan gaun tidurnya.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu kamar. Saat Dinda menoleh ke belakang, Arya sudah tampak dari balik pintu. Dia masuk sambil membawa tas kerjanya. Arya tampak sangat lelah.


“Kamu belum tidur?”, tanya Arya pada Dinda.


“Belum mengantuk.”, jawab Dinda.


“Hn.. saya mandi dulu.", ucap Arya.


Dinda menghampiri Arya, mengambil tasnya dan menaruhnya di ruang kerja suaminya.


Sedangkan Arya sudah langsung memasuki kamar mandi untuk bebersih. Bunyi shower terdengar jelas meski pintu kamar itu tertutup.


Dinda sudah menutup ponselnya dan menaruhnya untuk di charge di atas nakas. Dia pergi ke meja rias dan bersiap untuk melakukan rutinitas skin carenya. Dinda memang sangat memperhatikan ritual skin carenya sejak masa kuliah.


Beberapa produk yang sama masih dia gunakan. Dua minggu sekali, biasanya dia juga menggunakan masker, tapi biasanya dia akan memilih waktu saat Arya tidak di rumah.


“Sudah mau tidur?”, Arya mengejutkan Dinda yang saat ini matanya tertutup karena sedang mengoleskan sesuatu.


“I-I-ya, mas.”, jawab Dinda terbata - bata. Arya tidak hanya mengagetkannya tetapi juga membuatnya salah tingkah. Saat memanggilnya tadi, Arya juga sempat mengecup bahunya sebentar sebelum bergerak ke balkon.


“Oke, yuk tidur, nanti jangan lupa lampu utama dimatikan ya. Balkonnya biar saya yang tutup.”, ujar Arya.


Arya membaringkan tubuhnya di kasur sambil sedikit mengerang karena punggungnya sakit semua setelah seharian meeting tanpa henti. Salah dia sendiri karena kemarin menghilang begitu saja. Semua orang menuntutnya untuk menyelesaikan meeting tersebut tanpa ditunda.


Arya mengecilkan lampu nakas dan menurunkan volume AC saat ia lihat Dinda sudah mulai naik ke kasur. Kasur mereka lumayan luas karena berukuran King Size. Disana ada 4 buah bantal tidur. Dua buah untuk penyangga di belakang dan satunya lagi untuk menyandarkan kepala. Selain bantal biasa, ada juga satu bantal guling.


Begitu Dinda naik ke atas kasur dan masuk ke dalam selimut, Arya mengambil bantal guling dan melemparkannya ke bawah.


“Eh? Kenapa dilemparkan mas?”, Dinda dengan polos bertanya.


Arya lantas tidak menjawabnya dengan kata - kata tetapi melalui tindakannya. Dia bergeser sedikit ke tengah dan menarik tubuh Dinda. Dinda kaget bukan main. Meski kemarin Arya juga melakukan hal yang serupa, tapi kemarin karena dia ingin menyelesaikan permasalahan di antara mereka.

__ADS_1


‘Apa yang dia lakukan?’, tanya Dinda dalam hati. Dia masih membelakangi Arya.


Arya mengecup bahu dan tengkuk Dinda perlahan, lalu memeluknya hangat.


“Ada yang bilang Pillow Talk itu bagus untuk mencairkan suasana dalam pernikahan. Jadi, saya harap kamu terbiasa dengan rutinitas ini supaya kita bisa tetap jaga komunikasi.”, ujar Arya.


Dia sudah mengarahkan tangannya ke perut Dinda untuk semakin erat memeluk gadis itu.


“A-a-pa yang harus kita bicarakan?”, tanya Dinda gugup. Hembusan nafas Arya di telinganya membuat Dinda tidak tenang.


“Apapun. Kamu bisa cerita atau bertanya. Saat begini, bisakah kita ganti kata saya dengan aku supaya lebih intimate?”, usul Arya.


Dinda menjawab dengan anggukan.


“Kalau begitu aku yang mulai. Bagaimana kamu bisa mengenal Dimas?”, tanya Arya.


Pertanyaan yang begitu sulit untuk menjadi yang pertama. Arya mendekatkan kepalanya ke bahu Dinda untuk mengalirkan ketenangan dan membuat gadis itu rileks. Setidaknya begitu pikir Arya. Dia tidak tahu jika wajahnya yang menelisik begitu dekat dan hembusan nafasnya yang begitu jelas membuyarkan konsentrasi Dinda.


“Dua minggu yang lalu? Atau sekitar waktu itu, saya…”


“Ssst.. aku?”, Arya mengingatkan.


“Aku jalan bareng sahabat kampus.”


“Hn.”, jawab Dinda sambil mengangguk. Pelukan tangan Arya membuatnya mampu menggapai tangan dan jemari Dinda, ia mengeratkan pegangannya dan mengelusnya.


“Namanya B-Bianca. A-aku gak sengaja menumpahkan kopi ke kemeja Dimas. Aku tidak kenal dia sebelumnya. Aku merasa tidak enak karena sepertinya dia akan meeting penting….”, Dinda menjelaskan setiap alurnya dengan lengkap dan jujur. Dinda masih menjawab terbata - bata karena dia tidak terbiasa.


Kemarin, Dinda tidak merasakan sentuhan dan perlakuan intimate ini karena dia sibuk dengan perasaannya yang kalut. Saat ini, sepertinya jantung Dinda yang kalut. Dinda tidak pernah merasakan obrolan seperti ini sebelumnya. Arya selalu irit kata dan kesannya memerintah.


Tapi dengan ide Pillow Talknya, Arya sukses membuat Dinda sedikit nyaman meskipun disaat yang bersamaan membuat deru jantung gadis itu tidak aman.


“Jadi, tagihan kemeja pria yang ada di kartu kredit itu adalah kemeja untuk Dimas?”, tanya Arya dengan nada halus.


Masih di posisi yang sama, Dinda mengangguk dan anggukan itu jelas dirasakan oleh Arya yang begitu dekat dengannya saat ini.


“Kalian terlihat akrab.”, ujar Arya jujur.


“Ah..aku rasa tidak. Sepertinya mas Arya mengenalnya karena jika tidak, mas Arya tidak akan memukulnya waktu itu.”


“Dia sahabatku saat kuliah di Amerika. Satu flat yang sama.”, jawab Arya.

__ADS_1


“Boleh aku tanya kenapa mas Arya memukulnya?”, Arya tahu, cepat atau lambat, Dinda akan menanyakan hal ini padanya.


Arya menghela nafasnya sebentar sebelum berbalik dan menelentang. Namun, ia tetap menghadapkan pandangannya pada Dinda yang masih membelakanginya.


“Sini.”, kata Arya pada Dinda sambil menunjuk Dadanya. Arya meminta Dinda untuk mendekat.


Dinda berbalik. Awalnya ia tampak ragu, namun Arya membantu dengan menarik tangannya mendekat. Kini, posisi Dinda memeluk dada bidang Arya yang luas. Arya memegang tangan kanan Dinda yang melingkar di dadanya dengan tangan kirinya agar Dinda tak menjauh.


“Dimas berselingkuh dengan Sarah. Saat kami menikah, dan bahkan pernah saat kami masih berpacaran.”, ungkap Arya.


Dinda menoleh ke atas menatap Arya. posisinya sekarang berada di bawah lengan pria itu sehingga untuk melihat Arya, dia harus sedikit mendongak.


“Gak usah diceritakan lagi.”, kata Dinda meminta Arya berhenti. Dinda memang tidak nyaman jika nama Sarah terus disebut. Tapi kali ini, dia meminta Arya berhenti karena dia merasa empati pada Arya. Pasti sakit rasanya mengetahui seseorang yang kita cintai berselingkuh dengan sahabat kita sendiri. Dinda tak ingin mendengarkannya lagi. Tidak untuk saat ini. Dia belum siap.


Sekarang berbalik Arya yang mendongak ke bawah menatap Dinda. Ia ingin memastikan kata - kata gadis itu.


“Apa makanan kesukaan mas Arya?”, tanya Dinda random.


“Hm?”, Arya memberikan reaksi bingung.


“Aku mau mengenal mas Arya. Aku tidak tahu apa - apa tentang mas Arya.”


“Haha.. lumayan random. Baiklah. Aku suka seafood pedas. Seperti yang kita makan sewaktu saya pulang dari urusan kantor setelah kita menikah. Saya suka salad dan makanan italia.”, Arya menatap Dinda sebentar sebelum terkekeh dan fokus menjawab pertanyaan. .


“Kamu?”, gantian Arya bertanya.


“Hm..aku juga suka seafood dan makanan korea.”, jawab Dinda.


“Hm? Kamu suka menonton korea seperti yang dikatakan Ibas?”


Dinda mengangguk sambil tersenyum.


“Film seperti apa yang kamu tonton?”, tanya Arya.


“Ehm.. malu jawabnya.”


“Eh? Genre romantis? Atau action? Kamu suka film hollywood juga?”


“Tidak semuanya.”, jawab Dinda.


“Lain kali kita nonton bareng. Film yang kamu suka, lalu film yang aku suka.

__ADS_1


Malam itu mereka habiskan untuk mengenal masing - masing. Sesuatu yang seharusnya mereka mulai sejak awal menikah. Entah siapa yang tertidur lebih dulu. Keduanya tertidur pulas sambil berpelukan.


__ADS_2