Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 97 Menginap di Rumah Dinda Bagian 4


__ADS_3

Pagi yang cerah mengawali hari di rumah Dinda. Dinda sudah bangun sejak pagi dan sedang sibuk di belakang membantu bundanya untuk mempacking barang ke dalam tempat yang lebih besar agar mudah di bawa.


Arya yang biasanya mudah bangun pagi kini merasa kesulitan untuk membuka matanya. Badannya remuk karena sudah melewati berbagai meeting padat, menyetir sampai ke rumah Dinda, ditambah dengan 2 jam kesulitan tidur sampai Dinda akhirnya ada disampingnya.


‘Gawat, sepertinya aku sudah ketergantungan pada Dinda. Jika dia tidak ada, mata ini sulit sekali untuk tidur.’, kata Arya dalam hati sambil mengucek - ngucek matanya. Dia segera bangun, bergerak ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Bunda sedang menyiapkan sarapan sementara Arga masih sibuk dengan game onlinenya di kamar. Dia sudah selesai ujian dan tinggal menunggu pengumuman saja. Arga yang sudah belajar mati - matian selama tiga bulan terakhir membalaskan dendamnya dengan bermain game setiap pagi menjelang siang jika tidak ada keperluan mengantar pesanan. Sekarang, dia hanya perlu menunggu Arya selesai beberes.


“Kamu gak ikut, Dinda?”, tanya Bundanya pada Dinda.


Kebetulan, Arya sudah selesai dan siap untuk berangkat. Sebelumnya, dia sempat menyantap sarapan bersama dengan Bunda, Arga, dan juga Dinda.


“Engga Bun, mas Arya bilang biar dia saja dengan Arga. Aku di rumah saja menemani bunda. Besok ada pesanan lagi?”


“Besok kosong. Bunda sengaja mengosongkan karena kamu dan Arya kan menginap disini. Masa bunda sibuk membuat pesanan.”


“Mas Arya, hayuk. Sudah bisa berangkat?”, tanya Arga hati - hati.


Meski terkadang Arga sudah lebih nyaman berada di dekat Arya, tetapi tetap saja pria ini membuat keberadaannya sedikit terintimidasi.


“Oke, sebentar mas ambil ponsel dulu.”, Arya mengambil sebuah ponsel yang terletak di atas lemari tanpa terlalu memperhatikannya.


Arya membantu Arga membawa pesanan dengan alat derek dorong ke area parkiran Masjid karena mobilnya diparkir disana. Dengan derek dorong ini, mereka hanya perlu berbalik sekali saja untuk membawa semua pesanan ke dalam mobil. Arya mengangkat kursi belakang agar mobil bisa memuat semua pesanan.


“Okay.”, kata Arya menandakan mereka siap berangkat.


Di perjalanan, Arya tidak banyak bicara. Dia fokus pada jalanan yang sempit dan memastikan tidak ada yang dia tabrak. Dia juga sedikit deg - degan jika ada mobil yang berlawanan arah dengan mereka karena hal itu hanya akan membuat Arya kesulitan.


“Jadi, kamu rencana mau lanjut kuliah?”, Arya segera memecah keheningan begitu mobilnya sudah memasuki jalan besar.


“Iya mas.”, jawab Arga sedikit sungkan. Dia juga terkejut ditanya hal yang serius.


“Hm.. sudah tahu mau ambil jurusan apa dan di kampus mana?”, tanya Arya lagi.


“Sebenarnya saya masih ragu mas, antara desain interior atau manajemen.”


“Hm, kamu suka keduanya?”


“Iya. Saya tertarik keduanya. Saya senang dengan hal - hal berbau desain interior. Tapi di sisi lain, saya juga ingin mengembangkan bisnis.”, terang Arga.


“Hm.. beda sekali dengan kakaknya.”, Gumam Arya. Sebenarnya bukan gumaman karena suaranya terdengar dengan jelas oleh Arga.


“Eh? Kenapa mas?”


“Ah.. tidak. Biasanya kamu mengantar pesanan dengan apa?”


“Biasanya dengan motor yang parkir di depan rumah itu mas. Pakai keranjang di sisi kiri dan kanannya.”


“Hm.. menarik. Kamu tidak malu dengan teman - teman?”, tanya Arya penasaran.


“Haha.. kenapa harus malu. Justru Arga bangga bisa membantu bunda dan belajar berbisnis sejak dini.


“Hm.. mas suka pemikiran kamu. Semoga kamu bisa segera memutuskan jurusan mana yang kamu inginkan dan sukses.”


“Sejujurnya ada yang mau Arga tanyakan ke mas Arya. Tapi nanti saja, sebentar lagi kita sampai ke rumah pemesan.”


“Oh oke. Belok kanan, lurus, didepan putar balik kan?”, tanya Arya memastikan.


“Iya betul mas. Mas Arya sudah hafal jalanan di sekitar sini?”, Arga merasa takjub karena hanya berbekal alamat saja, Arya bisa tahu kemana harus pergi.


“Sepertinya mas pernah kesini sebelumnya. Hm.. tapi rumah siapa ya, kira - kira. Tidak ingat sama sekali.”, Gumam Arya.


“Ohiya, di depan ada pohon rambutan, nanti pagar hitam kita masuk ya mas. Rumahnya disana.”


“Okay.”, Arya segera mengikuti petunjuk Arga dan memarkirkan mobilnya.


Dari teras rumah di hadapan mereka, Arya bisa melihat dua orang yang tengah menantikan pesanan makanan. Bagian depan teras, terdapat beberapa kursi - kursi berjejer yang menandakan rumah ini sedang ada hajatan.

__ADS_1


Arya mematikan mesin mobil dan turun untuk segera mengambil pesanan makanan di bagian belakang. Arya mengangkat 2 kardus sekaligus yang langsung membuat Arga terkesima.


“Wuhhh mas Arya kuat banget.”, pujinya tanpa sadar.


“Haha.. biasa, ini belum setengah barbel yang biasa mas angkat di gym.”, ucapnya sambil sedikit menyisipkan hiperbola disana.


Sebenarnya dua kardus sudah membuatnya kesulitan. Urat - urat lengannya yang kekar juga terlihat karena keberatan. Dua wanita yang menunggu di teras pun ternyata ikut terkesima melihat Arya.


“Pesanan makanannya mau ditaruh dimana?”, tanya Arya begitu sudah dekat dengan dua wanita tadi.


“Oh.. disana saja. Nanti ada yang akan mengangkat ke dalam.”, jawabnya sambil menunjuk sebuah meja panjang yang sudah terletak di depan teras.


Arya menaruhnya dengan rapi untuk memastikan meja itu muat untuk kardus - kardus selanjutnya. Arga pun tiba membawa satu kardus lagi, dan Arya kembali membawa beberapa yang masih tersisa. Total ada 10 kardus.


“Arga, itu siapa? Karyawan baru? Ah.. tapi dari penampilannya sepertinya bukan karyawan.”, tanya wanita itu pada Arga.


Mereka sudah saling kenal, karena rumah ini sudah langganan dengan Ratna, bunda Arga. Mulai dari khitanan, ulang tahun, tumpengan, dan berbagai acara - acara kecil lainnya, selalu pesan pada Ratna.


Hingga saat ini, Ratna belum bisa memenuhi pesanan dalam jumlah banyak seperti pesta pernikahan. Paling banyak, Ratna hanya bisa menyediakan sekitar 200 porsi. Meski sebelumnya pernah yang memaksa pesan 400 porsi, tapi kebanyakan Ratna menolaknya.


Bukan Ratna tidak mau, tetapi menurutnya bisnis catering ke kantor - kantor, rumah - rumah sudah cukup baginya. Untuk pesanan hingga 200 porsi, biasanya Ratna akan meminta bantuan tetangganya dan dibayar harian, seperti pesanan hari ini.


“Oh… hmm itu..”, Arga agak bingung menjawabnya karena yang mengetahui pernikahan Dinda dan Arya dibatasi hanya di sekitaran tetangga dan keluarga dekat saja.


“Kamu ada kenalan yang super tampan begitu kok gak bilang - bilang sih?”, ujar wanita di sebelahnya.


“Ah haha.”, Arga hanya tertawa canggung.


“Kenalin dong sekali - sekali.”, kata mereka sambil setengah bercanda.


“Tanya aja langsung sama orangnya.”, ujar Arga menggaruk - garuk kepala belakangnya dan kembali ke mobil untuk mengambil pesanan lagi.


“Kenapa?”, tanya Arya yang sudah menaruh dua kardus dan bingung karena mereka sepertinya terlihat obrolan.


“Emm… haha aku ambil pesanan lagi ya.”, ujar Arga berlalu.


Kedua wanita itu langsung terdiam begitu mendengar Arya berbicara dengan suara baritone nya. Tidak hanya pesonanya, tetapi auranya juga membuat kedua wanita itu sungkan untuk bertanya.


“Oh.. saya Arya, menantu Bu Ratna. Kebetulan hari ini sedang menginap di rumah, jadi sekalian bantu antar”, jawab Arya dengan santai. Jawaban dari Arya langsung menjadi skakmat bagi kedua wanita itu.


“Ohhh? Jangan - jangan suaminya, anak perempuan Bu Ratna, ya? Aduh, siapa ya namanya, Ah Dinda??”, ujar kedua wanita itu saling bergantian.


Di satu sisi mereka kecewa karena pria di depan mereka sudah ada yang punya, tapi di sisi lain mereka juga senang karena mereka tahu Dinda adalah wanita yang cantik dan baik. Karena sudah langganan, jadi beberapa kali mereka juga pernah bertemu. Dinda sangat ramah dan tidak pernah sungkan membantu jika ternyata di acara hajatan ada yang perlu dia bantu.


“Haha iya.. Kenapa? Saya terlalu tua ya.. Buat Dinda.”


“Ahhh enggak - enggak.. Haha tua dari mana. Tampan dan masih muda begini. Wahh.. beruntung banget Dinda.”, salah seorang wanita itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bahkan dia mengeluarkan respons yang membuatnya malu.


Arya tersenyum mendengarnya kemudian langsung permisi untuk mengangkat sisa dua kardus lagi.


******


“Aku gak nyangka mas Arya akan meladeni obrolan dua wanita tadi.”, kata Arga di dalam mobil.


Mereka sedang dalam perjalanan pulang, namun Arya berencana tidak langsung ke rumah dan mengajak Arga melipir sebentar ke cafe favoritnya.


“Haha.. kalau mas gak ladeni, takutnya mereka gak mau pesan lagi sama Bunda. Kamu mau pesan apa?”, tanya Arya pada Arga.


“Hm.. aku belum pernah minum di cafe begini mas. Bingung juga mau pesan apa.”, ucap Arga.


“Hah? Belum pernah? Padahal udah SMA loh? Memangnya kamu tidak di kasih jajan?”, Arya heran dengan jawaban Arga dan dia langsung menembak pertanyaan dengan to the point.


“Hahaha..gak. Dikasih kok mas. Apalagi kalau habis mengantar pesanan, bunda pasti selalu kasih lebih. Tapi, memang gak pernah kesini.”


“Terus? Kamu kalau jalan dengan teman - teman SMA kamu kemana dong?”, Arya masih tidak mengerti kenapa bocah seperti Arga tidak pernah ke cafe.


“Kita gak pernah berkumpul di cafe mas. Biasanya di tempat futsal, alun - alun, bazar makanan, lebih ke aktivitas - aktivitas dari komunitas gitu mas.”, jawab Arga.

__ADS_1


“Hm..kamu sudah punya pacar?”, tanya Arya lagi.


Sebelum Arga menjawab, seorang pramusaji sudah datang ke meja mereka untuk mengambil pesanan. Karena Arga bingung memilih, Arya membantunya untuk memilihkan sarapan sekaligus minuman dan beberapa snack.


Meski mereka tadi sudah sarapan, tetapi mengangkat kardus makanan dan perjalanan jauh membuat perut mereka kembali lapar.


“Hm…”


“Kenapa bingung?”, tanya Arya penasaran.


“Jangan bilang - bilang mba Dinda ya mas. Sudah punya sih.”


“Kok sih? Memangnya kenapa kalau Dinda tahu?”


“Mba Dinda gak bolehin aku pacaran. Katanya, pacaran nanti kalo sudah bisa bertanggung jawab. Jajan saja masih minta bunda, mau macarin anak orang. Kasian bunda capek kerja. Gitu.”, jawab Arga dengan polos menirukan gaya Dinda saat mengomelinya.


Tawa Arya langsung pecah mendengarnya. Dia bisa membayangkan bagaimana gadis itu mengatakannya.


“Tapi kamu tetap pacaran?”, tanya Arya lagi, dia masih belum bisa menyudahi tertawanya karena menurutnya ini adalah cerita yang sangat lucu.


Sebaliknya, Arga merasa seperti sedang duduk dengan orang lain. Mas Arya yang waktu itu dia lihat mengatakan ijab kabul pernikahan tidak seperti ini. Waktu itu mas Arya yang dia kenal sangat dingin seperti kaleng es.


“Jadi, kamu tetap pacaran?”, tanya Arya lagi karena dia lihat Arga bengong.


“Jangan kasih tahu mba Dinda ya mas. Arga juga jalannya ga ke tempat - tempat yang mahal kok. Dia sahabat Arga juga yang biasa jalan sama teman - teman yang lain. Dia juga bukan tipe cewek yang morotin pacarnya kok. Tapi kalo mba Dinda tahu, aku pasti diomelin.”, jelas Arga sangat detail.


Arya kembali tertawa. Sepertinya sudah lama dia tidak tertawa lepas. Biasanya dia hanya tertawa seperti ini bersama sepupu - sepupunya, Fam, Dito yang mungkin usianya masih diatas Arga.


“Iyaa.. rahasia kamu aman kok. Berarti, Dinda benar - benar tidak pernah pacaran sebelumnya?”, tiba - tiba Arya merasa penasaran.


“Iya. Dia itu kupu - kupu mas. Kuliah pulang - kuliah pulang. Paling dia jalan sama teman - teman kampusnya yang itu - itu aja. Hmm.. Bianca, Sekar, siapa lagi ya namanya. Aku lupa, mas.”


“Ah.. kamu tahu kan Bianca akan menikah dengan salah satu sepupu mas.”


“Ah yang benar mas Arya? Berarti akan jadi keluarga dong, mas? Ahh”, kata Arga refleks. Ekspresinya jadi berubah.


“Kenapa? Kayanya kamu gak suka.”


“Hm.. bukan begitu mas. Tapi pacar aku itu adiknya mbak Bianca.”


“Hahahaha…”, Arya kembali tertawa. Kebetulan yang luar biasa menurutnya.


Pesanan datang. Arga terkesima melihat beberapa menunya karena sangat baru untuknya. Salah satunya adalah Taco.


“Tapi mas, sebelumnya ada beberapa cowok yang mendekati mba Dinda. Bahkan sampai datang ke rumah.”, ujar Arga. Dia sudah sangat nyaman berbicara dengan Arya sehingga obrolan mereka mengalir begitu saja.


“Siapa?”, kalimat Arga barusan langsung menarik perhatian Arya.


“Hm.. kebanyakan senior dia dulu di kampus. Sekarang sudah bekerja. Dulu bahkan mba Dinda pernah hampir masuk ke perusahaan tempat senior - seniornya juga bekerja.”


“Trus Dinda responnya gimana?”


“Kebanyakan sih mba Dinda menghadapi seperlunya dan menolak baik - baik. Soalnya sampai datang ke rumah, jadi mba Dinda gak mungkin usir. Tapi ada satu orang yang hampir jadian dulu sama mba Dinda. Namanya siapa ya.. Sampai sekarang masih WhatsApp aku karena mba Dinda sudah ganti nomor. Terus tanya nomor mba Dinda terus.”


“Jangan dikasih.”, satu kata dengan ekspresi penuh arti dan mengintimidasi dari Arya sukses membuat Arga terkejut. Dia kira respons Arya tidak akan seperti itu.


“Oh iya jelas mas. Aku gak respon. Mba Dinda juga selalu wanti - wanti aku untuk gak respon lagi. Karena mba Dinda juga sudah menolak dengan baik - baik.”, jawab Arga singkat. Tiba - tiba dia jadi merasa melihat sosok Arya yang dia lihat pertama kali. Dingin.


‘Apa aku salah ngomong ya? Mas Arya cemburu? Ah masa sih? Kan itu kejadian dulu.’, Arga bertanya - tanya dalam hati.


‘Tapi baguslah kalau mas Arya cemburu. Berarti dia beneran sayang sama mba Dinda. Jadi, aku lega.’


“Kalau orang itu masih mengirim pesan ke kamu. Kamu kasih nomornya ke mas.”, ujar Arya lagi pada Arga.


“Oke baik mas.”, jawab Arga singkat.


Arya segera menghabiskan makanannya. Dia merasa aneh, entah mengapa omongan Arga tadi membuat hatinya panas. Padahal sebelumnya dia merasa biasa saja. Lagi pula ini kan cerita lama.

__ADS_1


‘Ada apa sih dengaku. Kenapa responku berlebihan? Seharusnya aku tidak perlu berkata seperti itu. Heh.. lagi pula pria itu aneh, kenapa sudah ditolak masih menghubungi. Apa dia tidak punya harga diri. Heh. Awas saja kalau ketemu.’, gerutu Arya dalam hati.


***Jangan lupa\, 'Like'\, Favorit'\, dan berikan 'Komentar' agar author semakin bersemangat untuk menulis. Thanks untuk dukungannya! *****:) **


__ADS_2