Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 18 Ngantor Lagi


__ADS_3

“Ma, aku berangkat ya. Sarapannya sudah habis, dan sebagian juga sudah Dinda bawa untuk ngemil di kantor.”, ucap Dinda riang sambil menunjukkan kotak bekalnya yang sudah diisi sandwich.


Tiga hari setelah pernikahan, Inggit masih mendapati Dinda memanggilnya dengan sebutan tante. Inggit menegurnya dan memintanya untuk selalu ingat memanggilnya mama, sama seperti Arya. Karena sekarang mereka sudah satu keluarga, Inggit tidak ingin detail - detail seperti ini tidak langsung diterapkan.


“Bagus. Kamu naik apa ke kantor? Gak mau dianter sama mamang aja? Papa gak kemana - mana hari ini, kok.”, kata Inggit menawarkan.


“Engga usah Ma, Dinda berangkat naik ojek online aja sampe depan, abis itu naik bus. Gampang lah ma. Lebih dekat dari rumah Dinda dulu.”, jawab Dinda sambil tersenyum lebar dan berlari keluar. Tak lupa ia juga pamit pada Kuswan.


Sebenarnya, Dinda masih canggung dengan Kuswan, papa Arya. Meski terlihat ramah, tetapi sifatnya sangat konservatif dan kelihatan observatif sekali. Dinda takut kalau - kalau salah dalam berbicara. Alhasil ia menghemat kata - katanya dan hanya melontarkan kalimat penting saja.


Hari pertama kerja lagi setelah cuti panjang. Dinda sangat gembira karena setidaknya dia bisa melupakan masalahnya. Apalagi Arya sedang di luar negeri. Dia pulang masih lebih dari seminggu lagi.


Di kantor …..


“Pagi Pak, Pagi mas, Pagi..”, Dinda menyapa hampir semua orang yang ia kenal menjelang ke area divisinya, Dinda melewati ruangan Arya yang pintunya sedikit terbuka.


Meskipun tidak ada orangnya, tetapi aura hitam itu tetap kental keluar dari ruangan itu. Ia tidak ingin mengingat bahwa dia sudah menjadi istri pemilik ruangan itu.


Dinda sudah memikirkan ini selama cuti. Pokoknya di kantor, dia harus melupakan fakta bahwa dia adalah istri pak Arya. Dia tidak ada hubungan sama sekali dengan orang itu dan hanya sebatas bos. Di rumah, nanti beda cerita. Yang jelas, Arya harus menjadi dua orang yang berbeda di matanya.


“Din, kamu kemana aja say. Cutinya lama banget!”, kata mba Titin, manager tim sebelah yang sering ngopi - ngopi cantik di area-nya.


“Gak kemana - mana mba. Cuma istirahat aja. Gak lama kok cuma 5 hari. Kemarin kan tanggal merah.”, jawab Dinda sambil mengeluarkan bekal sandwich dan botol susu. Dinda juga langsung membuka komputer sambil melihat berapa email yang sudah dilewatkannya selama 5 hari ini.


“Hai Din, sehat? Gimana cutinya?”, pak Erick tiba - tiba nongol dari arah pantry. Di belakangnya juga ada mbak Rini, spv Dinda. Dinda tidak memperhatikan tas yang sudah ada di meja pak Erik. Tandanya orang ini sudah datang dari tadi dan sedang mengambil kopi di pantry.


“Alhamdulillah, produktif Pak.”, kata Dinda asal. Gimana gak produktif. Selama 5 hari cuti, dia sudah fitting baju, akad nikah, resepsi, nyaris diunboxing bos sebelah, dan sudah mengikuti training 24 jam penuh menjadi istri seorang Arya Pradana langsung dari mamanya.


“Wah gimana tu maksudnya produktif? Kamu bikin anak?”, sontak Dinda langsung tersedak dengan susu yang baru saja diteguknya. Perkataan pak Erick mengingatkannya kembali momen yang lebih mengerikan lagi dari apa yang terjadi di malam pertama.


***Hari ke-3 setelah pernikahan Dinda dan Arya ***


*Arya ternyata sangat suka dengan AC. Dia tidak bisa hidup tanpa benda satu ini. Jika sudah berada di dalam kamar, tidak tanggung - tanggung. Dia akan menyalakannya bahkan hingga 16 derajat di malam hari. Efeknya, satu ruangan jadi lemari es. *


*Dinda dengan setelan baju tidurnya yang tipis, harus rela meringkuk di dalam selimut yang masih sama dinginnya. *


*“Duh gimana ini, dingin banget.”, Dinda tidak bisa tidur karena tubuhnya kedinginan. Alhasil Dinda tidak nyaman dan hanya bisa berusaha meringkuk dengan berbagai posisi. *


*“Bisa gak sih gak berisik?”, kata Arya frustasi mendengar gadis ini meliuk - liuk di dalam selimut yang sama dengannya. *


*“Maaf AC nya bisa digedein lagi gak, Pak? Dingin banget.”, kata Dinda polos. Dia tidak tahu bahwa satu kata itu sukses menjadi tiketnya ke pengalaman suami istri yang lebih ekstrim. *

__ADS_1


*“Oke. Bukan AC-nya yang harus dikecilin. Sepertinya kamu yang harus saya hangatkan.”, lontar Arya santai sambil bangun dari tidurnya dan duduk. Dinda yang membelakanginya masih belum sadar. *


Arya menelusupkan tangannya ke leher gadis itu dan menariknya ke hadapannya.


*“Pak, Pak Arya mau apa?”, kata Dinda Panik. *


*“Kamu bilang kamu dingin. Dari pada kamu ganggu saya tidur, lebih baik saya hangatkan kamu dulu, setelah itu kita tidur.”, kata Arya membuka bajunya. *


*“Pak maksud saya bukan itu. Pak saya mohon jangan pak, saya belum siap.”, Dinda berusaha menarik dirinya keras tetapi kepalan tangan itu sukses menguncinya dalam dekapan Arya. *


*“Sepertinya kamu tidak memikirkan kata - kata saya kemarin malam. Semua ada konsekuensinya. Dan kamu harus menerima konsekuensi dari keputusan itu. Menjadi istri saya, berarti harus siap melayani saya. Kamu pikir saya baca ijab kabul tanpa mengharapkan apa - apa?”, kata Arya dengan suara sedikit berbisik. *


*“Saya sudah bilang. Saya dapat keuntungan dari pernikahan ini. Saya bisa tidur dengan gadis muda seperti kamu. Lalu kamu? Tapi kamu tidak mengindahkan peringatan saya, sok sok keras dan kuat tanpa mempertimbangkan resiko kedepannya. Orang kaya kamu, kerja di company seperti perusahaan kita, itu gak akan pernah bisa jadi Partners.”, kata Arya tidak kalah tegas dari sebelumnya. *


*Dinda kembali menelan ludah. Kata - kata Arya membuatnya tak berkutik. Ia merasa kecewa, takut, dan tidak berdaya. Ia tidak menyangka pak Arya lebih buruk dari yang ia kira. Dinda hanya bisa terdiam saat pak Arya mulai melepas pakaiannya bagian atas sambil terus mengecup bibir dan leher gadis itu.  *


*Air mata Dinda menetes. Lampu nakas yang masih hidup membuat Arya melihat jelas tetesan itu. Arya segera menghentikan aktivitasnya. Dia beranjak bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Saat itu jam menunjukkan pukul 1 pagi. *


*Setelah malam itu, Arya lebih sibuk dengan persiapan keberangkatannya ke luar negeri. Tak jarang Arya tidur di ranjang saat Dinda sudah tidur nyenyak. Bahkan hari berikutnya Arya tertidur di sofa ruang kerja. *


*Perlakuan Arya yang acak membuat Dinda bingung. Kata - katanya yang tajam menutup ruang bagi Dinda untuk bertanya sebenarnya apa yang ada dipikirannya tentang pernikahan ini. Apa benar dia hanya menginginkan tubuhnya saja. *


“Din…Halo… Din?”, panggil seorang gadis menyadarkan lamunan nya.


Gadis ini namanya Delina. Mereka berada di divisi yang sama namun dengan posisi yang berbeda. Delina adalah pegawai tetap. Usia mereka sama tetapi Delina lulus 3.5 tahun jadi sudah bekerja lebih dulu. Dia juga memulai karirnya sebagai intern. Baru satu bulan ini dia diangkat menjadi pegawai tetap.


Selain Delina, ada Bryan. Dia adalah anak IT yang sudah 3 tahun bekerja di perusahaan ini. Usianya 5 tahun lebih tua dari mereka. Tapi, Bryan memang tipikal yang suka hangout dengan karyawan perempuan dan yang lebih muda. Bukan karena dia punya maksud jelek. Tapi karena dia punya jiwa muda yang masih kental. Banyak karyawan baru yang salah mengira usia Bryan karena dia memang punya image muda.


Di divisi Finance, Dinda juga punya satu teman intern yang masuk bersamaan dengannya, namanya Fas. Mereka berempat sering jalan, makan, dan hangout bareng di kantor. Berhubung di kantor banyak sekali pegawai yang sudah berpengalaman, jadi mereka sulit untuk didekati.


Para intern dan pegawai yang baru biasanya memang berkelompok membuat grup - grup sendiri. Berbeda dengan MA (Management Associate), mereka biasanya lebih mudah bergaul dengan para head dan partners. Selain mereka menarik dan pintar, mereka juga memang lebih sering terlibat proyek dengan para bos.


Tetapi ada satu MA yang lumayan ramah dengan Dinda dan teman lainnya. Dia adalah Suci. Suci adalah kakak kelas Dinda. Satu angkatan diatasnya. Suci sudah jadi MA selama hampir 2 tahun. Dia lulus lebih cepat. Dia adalah MA yang bekerja langsung di bawah pak Arya.


Meski Pak Arya sangat keras, tetapi Dinda nyaris tidak pernah melihat Suci merasa kesulitan. Sepertinya dia enjoy bekerja dengan Pak Arya. Padahal teman - teman dan rekan yang lain mereka tertekan.


“Ah iya? Sorry sorry, aku melamun kayanya.”, kata Dinda sadar sudah dipanggil berkali - kali oleh rekannya.


“Efek cuti lama jadi bisa bikin nge-blank, ya. Password komputer masih inget ga?”, kata Delina masih menggodanya.


“Kamu kemana aja sih? Lama banget cuti.”, sambungnya.

__ADS_1


“Enggak kok, cuma istirahat aja.”, Dinda menjawab singkat sambil menggigit sandwich yang dari tadi ada di tangannya.


“Hi guysss… Pak Arya lagi ga ada nih. Ntar makan bareng di mall yuk.”, mba Suci baru saja tiba. Biasanya dia datang ke kantor 30 menit lebih cepat dari Dinda.


“Wah, suci. Nyali lo tinggi ya. Mentang - mentang ga ada pak Arya, datangnya telat.”, Suci hanya cengengesan menimpali perkataan Bryan yang baru datang.


“Yang penting gue gak kaya lo. Telatnya konsisten.”, semua tertawa dan bercanda. Pagi itu membuat hari Dinda sedikit lebih cerah. Dia bisa sejenak melupakan masalahnya.


**EPILOG **


“Arya, aku senang kamu mengangkat telepon ini.”, kata seseorang di seberang telepon.


“Ada apa? Kamu mengganggu tidurku.”, kata Arya datar.


“Aku baru saja mendarat di Indonesia. Ada tawaran menarik disini. Jadi, ….”


“Apa urusanku? Kamu sudah bukan istriku lagi.”, jawab Arya tanpa menunggu lawan bicaranya di telepon selesai dengan kalimatnya.


Malam itu adalah malam pertama Arya dan Dinda. Sudah jam 2 malam. Dinda yang tidak bisa tidur kedapatan berada di depan Arya saat lelaki itu terbangun karena bunyi dering telepon genggamnya.


Rupanya benar. Orang yang menghubungi Arya adalah Sarah, mantan istrinya. Begitu memastikan siapa yang menelepon, Arya langsung berjalan ke ruang kerja agar Dinda tidak mendengarnya dan membuat gadis itu bertanya - tanya.


“Arya, apa yang kamu lihat waktu itu salah. Aku bukan wanita seperti itu.”, kata Sarah memelas. Ucapannya terdengar lirih.


“Sar, dengarkan aku. Aku sudah tidak peduli jika yang aku lihat itu benar atau salah. Jikalaupun itu salah, kamu dan aku sudah tidak punya hubungan apa - apa. Kamu yang mengakhiri pernikahan ini. Bahkan kamu tidak berpaling saat aku memohon kesempatan.”, ucap Arya masih dengan nada datar.


Meski wajahnya menunjukkan kegetiran, tetapi nada suaranya tetap ia pertahankan agar Sarah tidak salah paham.


“Aku minta maaf, aku bisa jelaskan semua. Aku rindu kamu Arya, aku rindu pelukan kamu. Bahkan setiap malam yang dingin, aku ingat kamu terus.”, Sarah berupaya meyakinkan Arya.


“Pergilah pada Dimas.”, Arya menutup telepon genggamnya. Hatinya bergemuruh. Jika mengikuti logika, dia sangat ingin memeluk perempuan itu lagi.


Menyesapi aroma tubuhnya yang khas. Benar, di malam yang dingin, Arya juga masih mengingat kebersamaan mereka. Tapi hatinya sudah terhempas jauh sekali. Sakit. Ia tidak bisa membiarkan perasaan mengaburkan pandangannya.


Arya membuka pintu ruangan bermaksud kembali ke tempat tidur. Badannya sudah remuk hari ini karena harus melaksanakan serangkaian acara pernikahan yang bahkan lebih padat dari meetingnya belakangan ini.


Begitu keluar ruangan, Arya langsung dihadapkan dengan siluet Dinda yang terbentuk akibat lampu nakas. Ia menatap lurus gadis itu. Keberadaan gadis itu, pakaian yang ia kenakan, dan perasaan campur aduk yang kini dirasakan oleh Arya membuat tubuhnya bertindak lebih cepat dari pada otaknya.


Ia tak sadar apa yang telah dilakukannya sampai tangan gadis itu menepis kedua lengannya yang sudah sejak kapan memegang dagu gadis itu. Ia memegang bibirnya dan berdecih. Ada rasa manis disana. Ia tak menyangka, pesona Dinda malam itu bisa menariknya.


‘Mungkin aku hanya terbawa suasana. Hampir saja aku menidurinya.’, begitu pikir Arya dalam hati

__ADS_1


__ADS_2