Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 136 Pillow Talk Edisi Tim Building


__ADS_3

Arya kembali ke kamarnya setelah melewati diskusi intens dengan Gilbert beberapa menit yang lalu di parkiran. Dia masih tidak menyangka, mantan bosnya dulu berubah dratis menjadi lebih buruk dari yang dia kenal.


Arya sebenarnya sudah curiga kalau aksi menghilang dari kantor yang dilakukan Gilbert berkaitan dengan promosi jabatan Arya baru - baru ini. Tadinya, Arya tidak ingin berpikir sampai kesana, namun Gilbert menumpahkan kenyataan itu sendiri dari mulutnya.


Gilbert memang berbakat dalam dunia kerja. Saat pertama kali Arya masuk, dia banyak belajar darinya. Namun, Gilbert memiliki masalah dengan dengan sistem berpikirnya yang merasa mereka yang lebih senior layak untuk mendapatkan promosi lebih dulu bukan karena performa.


Sehingga, untuk beberapa kesempatan Gilbert sering menyalahgunakan kekuasaannya untuk mencaplok hasil kerja bawahannya. Rasa insecure membuat Gilbert malah semakin tertinggal dari juniornya.


Arya tidak terlalu banyak memikirkan perkataan Gilbert tadi karena sepanjang perjalanan menuju kamarnya, dia sudah memikirkan keputusan yang dia ambil untuk pria itu.


Ceklek… Arya membuka pintu. Suasana hening terasa di kamar itu. Arya sudah bisa menduga kalau Dinda mungkin sudah tertidur. Dan dugaannya benar. Gadis itu sudah tertidur pulas di dalam kamar.


Arya menaiki ranjang dan mendekat pada Dinda. Pria itu memeluknya dari belakang. Dinda bergeming dan mengerjap, sepertinya dia terbangun.


“Mas Arya?”, tanya Dinda memastikan.


Dia berbalik dan menemukan wajah pria itu sudah berada di hadapannya.


“Lama sekali. Dari mana? Menemui orang bernama Gilbert itu?”, tanya Dinda.


Arya mengangguk.


“Proyeksi karir kamu, sudah selesai?”, tanya Arya.


“Kenapa tiba - tiba menanyakan proyeksi karir?”, tanya Dinda.


“Kamu ikut tim building ini pakai free pass ya, Din? Lupa? Harusnya kamu sudah memberikan proyeksi karir kamu sebelum ikut tim building.”, tutur Arya.


“Sudah selesai kok.”, ujar Dinda.


“Mana? Coba presentasikan?”


“Kenapa jadi presentasi bukannya tidur?”, ujar Dinda.


Arya tak menjawab.


“Apa aku harus keluar dari perusahaan?”, tanya Dinda tiba - tiba.


“Hm?”, Arya sebenarnya terkejut dengan pertanyaan Dinda yang tiba - tiba tetapi dia bisa menyembunyikannya.


Dinda menyentuh wajah Arya sambil menatapnya. Arya juga menatap intens ke arah Dinda yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu yang serius padanya.


“Apa yang membuat kamu berpikir kalau kamu harus keluar dari perusahaan?”, tanya Arya meltakkan lengannya di pinggang Dinda.


“Hm.. Pak Erick sudah tahu tentang kita.”


Arya tertawa simpul.


“Jangan khawatirkan dia. Dia tidak akan mengatakan apapun.”, jawab Arya.


“Hm.. mas Arya pasti kesulitan kalau karyawan yang lain tahu terutama yang berada di bawah Pak Arya. Mereka pasti berpikir kalau Pak Arya memberikanku privilege khusus.”, ungkap Dinda.


“Kamu lupa siapa saya? Head Division of Business and Partners. Divisi paling bergengsi di kantor.”


“Sombong”, balas Dinda.


“Memang kenyataannya, kan? Saya tidak berbohong.”


“Bagaimanapun aku berpikir, tetap saja jawabannya adalah keluar dari perusahaan. Bukankah karena itu mas Arya memintaku untuk membuat proyeksi karir?”, tanya Dinda.


“Jangan salah paham, sayang. Aku meminta kamu mmembuat proyeksi karir karena aku ingin mengetahui apa yang menjadi tujuan kamu. Jika ternyata Divisi Digital and Development adalah tempat yang cocok dan sesuai untuk kamu, then let’s go for it. Sebentar lagi, akan ada kepala divisi Digital and Development yang baru. Kamu tidak perlu lagi menyembunyikan status kamu.”


“Bagaimana kalau sebelum itu, status pernikahan ini sudah diketahui lebih dulu?”


Arya teringat pada perkataan Gilbert barusan. Bryan, Suci, Erick, dia yakin mereka tidak akan memberitahukan hal seperti ini pada karyawan lain. Arya bisa menjaminnya. Tapi Gilbert. Dia tak bisa mengetahui apa yang akan dikatakannya minggu depan saat dia ke kantor.


“Kenapa kamu berpikir begitu? Sudah lebih dari 3 bulan dan tidak banyak yang tahu tentang kita.”, kata Arya.

__ADS_1


Dinda hanya diam dan tidak mengatakan apa - apa.


“Kenapa? Kamu ada yang ingin disampaikan?”, tanya Arya menatap Dinda dan mengelus pipinya lembut.


“Mas Arya.. bagaimana kalau ternyata… “, Dinda masih tak bisa mengeluarkan kata itu dari bibirnya.


“Kenapa? Apapun yang mau kamu katakan, I’m here to hear you, babe.”, Arya mengecup kening, mata, dan bibir Dinda lembut untuk memberikan ketenangan pada wanitanya itu.


Dinda akhirnya berani memegang tangan Arya dan mengarahkannnya pada perutnya. Arya menatap lurus pada Dinda. Tatapan yang menenangkan.


“Bagaimana kalau…. Disini.. Ada…”, Dinda tak bisa mengatur kata - katanya.


Arya dengan sabar menunggunya.


“Ehem… bagaimana kalau disini ada calon bayi kita?”, kata Dinda akhirnya.


Arya tersenyum lega mendengar kalimat Dinda. Segera setelah mendengar perkataan Dinda, Arya langsung mencium bibirnya dengan lembut. Awalnya Dinda terkejut, namun sepertinya ciuman ini lebih menggambarkan bagaimana respon Arya terhadap kabar tersebut.


Arya sudah mengetahuinya dua hari yang lalu dan dia sangat senang namun tak bisa menekspresikan dirinya karena Dinda belum memberitahu itu. Arya harus menahan perasaannya dan menunggu saat yang tepat untuk Dinda memberitahunya.


Luapan perasaan yang tertahan itu, Arya tumpahkan lewat ciuman lembutnya di bibir Dinda dan Dinda merasakan hal yang luar biasa lewat ciuman itu. Semua negative thinking yang dia pikirkan selama ini seketika sirna. Semua kekhawatiran berlebihan yang dia terima pudar.


“Kenapa butuh waktu lama untuk kamu memberitahukanku tentang kabar baik ini?”, tanya Arya setelah melepas ciumannya.


“Hm?”


“Aku sudah mengetahui kamu hamil sejak dua hari yang lalu, saat aku memanggil kamu kesini. Awalnya aku marah karena kamu tidak memberitahukan berita penting seperti ini. Tapi, aku sadar, mungkin butuh waktu untuk kamu percaya padaku.”


Dinda tertegun mendengar penjelasan Arya.


“Kamu jadi makin cantik dan menggoda kalau memasang ekspresi seperti itu. Jangan membuat pertahananku runtuh untuk tidak menyentuh kamu sekarang.”, kata Arya pada Dinda.


“Mas Arya…”


“Kalau bukan karena aku mengkhawatirkan kamu, aku mungkin akan mengirim kamu kembali ke kamar hotel kamu. Tonight will be hard.”, kata Arya setengah jujur setengah bercanda.


“Memang kenapa kalau sama istri sendiri?”, balas Arya.


Dinda memukul dada bidang Arya pelan mendengar komentar pria itu.


“Hm.. bagaimana kalau karyawan tahu kalau aku hamil? Beberapa waktu ini aku kesulitan menahan tanda - tanda hamil yang muncul, mas.”, tutur Dinda. Dia sudah bisa lebih jujur sekarang.


“Aku hanya perlu melepaskan divisi Digital and Development. Tidak hanya ada aku sebagai kepala divisi di kantor. Manajemen mungkin bisa menjadikan Erick sebagai kepala divisi sementara. Why It should be me?”, balas Arya.


“Bagaimana mungkin Pak Arya mengatakan itu.”


“Din, kamu masuk ke kantor bukan dengan campur tangan aku. Kamu apply , interview, dan lulus dengan usaha kamu sendiri. Aku tidak pernah memberikan privilege apapun pada siapapun.”, jelas Arya.


“Kalaupun orang kantor mengetahui lebih dulu sebelum kita memutuskan untuk memberitahu. We’ll deal with it. I’ll deal with it. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu tetap bisa menyelesaikan masa intern kamu. Dan apapun karir kamu ke depan, I’ll fully support you. Aku hanya minta satu hal. Please jaga bayi kita karena aku ga sama dia 24 jam dan cuma kamu yang sama dia 24 jam.”


Senyum Dinda merekah saat Arya mengatakan kata - kata manis itu. Dia kira dia tidak akan pernah mendengarnya dari seorang Arya Pradana yang dingin ini.


“Kenapa kamu melihatku dengan ekspresi itu.”, kata Arya.


“Ohiya.. Sepertinya aku harus kembali ke kamar, Mba Suci dan Mba Delina pasti akan menanyakan aku.”


“Sudah, mereka juga pasti sedang sibuk.”, balas Arya dengan senyuman.


“Kenapa mas? Kok mas Arya tahu?”


“Sudah, malam ini kamu habis kan waktu dengan saya. Besok shubuh - shubuh saya antar ke kamar kamu. Bilang saja kamu menginap di kamar lain karena kamar kamu terkunci. Salah siapa mereka bawa kartu aksesnya.”


“Tapi kan di rumah juga nanti ketemu.”


“Kenapa? Kamu bosen tidur sama saya? Ya sudah.”, Arya pura - pura bangun karena ingin menggoda Dinda.


“Mas Arya.. Engga bukan itu maksudnya..”, Dinda dengan cepat menarik lengan baju Arya agar pria itu tidak pergi.

__ADS_1


“Tuh kan, bayinya pengen saya di samping kamu.”


“Hm? Orang bayinya belum bisa ngapa - ngapain, kan masih kecil. Masih berbentuk bulat.”


“Kamu ada fotonya?”, tanya Arya.


“Hm.”, Dinda mengangguk.


“Mana - mana? Sini aku mau lihat.”, ekspresi Arya saat ini adalah ekspresi yang belum pernah dilihat Dinda sebelumnya.


“Di kamar. Aku taruh di dalam tas. Tapi aku foto di ponsel. Sebentar aku ambil dulu.”


“Jangan - jangan, biar aku aja yang ambil. Kamu tunggu disini.”, kata Arya mengambil ponsel Dinda yang sedang di charger di meja kerjanya.


“Ini. Benarkan, masih seperti telur, belum ada bentuknya.”, kata Dinda memperlihatkan foto di ponselnya.


“Ini, kelihatan mirip aku, Din.”


“Mirip darimananya. Orang masih bulat begitu.”, kata Dinda sambil tertawa.


“Jadi berapa usianya?”, tanya Arya masih tidak melepaskan pandangannya pada foto janin hasil USG di ponsel Dinda.


“Hm.. 7 minggu mau masuk 8 minggu berarti sudah hampir dua bulan.”


“Hm.. proses produksinya sekitar dua bulan yang lalu ya.. Berarti..”, tiba - tiba Arya terdiam.


Jika dia menghitung mundur sekitar dua bulan yang lalu adalah saat Arya mabuk dan tidak sengaja memaksa Dinda untuk melakukannya. Arya tidak akan pernah melupakan malam itu karena dia benar - benar tidak bisa memaafkan dirinya bahkan sampai saat ini.


“Mas Arya.”, seolah mengetahui apa yang ada dipikiran Arya saat ini, Dinda menatap pria itu.


“Mas Arya ga perlu merasa bersalah tentang waktu itu. Aku sudah memaafkannya, kok.”


“Tapi..”


“Waktu gak bisa diputar ulang kan? Aku tidak bisa bohong kalau setelah itu aku benar - benar benci sama mas Arya. Tapi, disaat yang sama aku juga sadar kalau aku juga salah. Karena mas Arya tidak pernah memaksa ku dengan pernikahan ini….”


“Shutt…aku yang salah dan aku benar - benar minta maaf. Dan makasih karena sudah kasih aku kesempatan untuk jadi Ayah. I’ve never never thought this will come to me.”, kata Arya.


EPILOGUE


Saat dinner party tadi malam sebelum ke klub, Suci duduk di meja bundar yang juga di duduki oleh Erick.


“Pak Erick, apa yang terjadi kalau misalnya ada yang memiliki hubungan khusus antar sesama karyawan dalam satu divisi?”, entah ada angin apa dan darimana, Suci yang sedari tadi tidak berbicara justru melontarkan pertanyaan aneh pada Erick.


Saat menanyakan hal itu, dia melihat ke arah Arya. Hal ini membuat Erick menyimpulkan kalau Suci mengetahui tentang hubungan antara Arya dan Dinda.


“Pak Arya sendiri yang mengatakannya padaku. Aku tidak mencuri dengar ataupun memaksanya memberitahu.”, terang Suci ketika mendapatkan ekspresi penuh arti dari Erick.


“Lalu? Kenapa kamu menanyakannya? Arya memberitahu kamu karena dia percaya kamu akan menyimpan kartunya. Kenapa kamu malah bertanya seolah - olah kamu ingin memberitahu hubungan  mereka pada orang - orang.”


“Kenapa Pak Arya malah mempercayaiku. Seharusnya dia takut aku mungkin akan mencelakai istrinya.”, tanya Suci.


“Pelankan suaramu. Kamu mungkin memang bukan wanita yang baik, tapi Arya juga tahu kamu tidak sejahat itu.”


“Kenapa Pak Arya harus menikah dengan gadis seperti Dinda? Memangnya apa kelebihannya dibandingkan aku?”, nada bicara Suci kemudian berubah menjadi rengekan.


“Heh… heh.. Sudahlah, pria di dunia ini bukan hanya Arya saja. Lagian, yang kamu tahu tentang Arya itu masih 10% nya. Percayalah, dia memang tampan dan hot, tapi dia membosankan. Kamu tahukan kalau kulkas paling dingin itu bukan kulkas dua pintu, tapi Arya.”


“Tapi tetap saja, Pak Erick. Hati ini sakit. Aku tidak bisa menerimanya. Bagaimana aku bisa menghadapi Dinda dan Pak Arya kalau harga diriku seperti terinjak - injak begini.”


“Ci.. kamu hanya perlu mengurangi sifat underestimate kamu. Kamu terlalu over yourself. Look around.”, kata Erick sebelum berdiri hendak mengambil daging bakar yang sudah dia incar sedari tadi.


“Hah..”, Suci menghela nafasnya berat.


‘Sepertinya aku resign saja. Kenyataan ini terlalu berat untukku. Bagaimana bisa aku bertemu pak Arya dan Dinda setiap hari sambil berpikir mereka sudah tinggal satu rumah, satu kamar, satu… Argghhhhhh’, bathin Suci kesal.


“Kamu kenapa Ci? Ga ngambil udang bakar? Disana ada cumi juga tahu.”, kata Andra menghampiri.

__ADS_1


“Dasar kamu tukang makan, tukang gosip… ga lihat sikon. Sana makan sendiri.”, omelan Suci membuat Andra shock.


__ADS_2