Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 214 Dinda Sakit


__ADS_3

Arya mengerjapkan matanya setelah terlelap hingga pagi. Saat membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah balkon kamar yang masih tertutup.


Hewan peliharaan milik Kuswan termasuk Burung - burung dan ayam juga sudah heboh sejak pagi.


Di masa pensiunnya, Kuswan mengisi waktu dengan memelihara hewan seperti ayam, burung, ikan, dan bebek.


Meski rumahnya tidak sebesar yang lain yang berada di perumahan itu, namun mayoritas nya adalah pekarangan, taman, kebun, dan juga ternak peliharaan miliknya.


Jika Kuswan senang beternak maka Inggit senang berkebun.


“Hm?”, Arya mencoba mengembalikan nyawanya yang masih melayang - layang karena rasa kantuk luar biasa padahal sudah pagi.


Arya mencoba memeriksa sekali lagi untuk memastikan pandangannya dan benar, balkon belum terbuka. Padahal, biasanya jam segini pasti suara burung - burung sudah menyeruak masuk melalui area balkon.


Dinda yang selalu bangun lebih pagi pasti akan membuka pintu beranda karena itu adalah bagian favoritnya di kamar ini.


Arya mengedarkan pandangannya ke sebelah untuk memastikan. Dan ternyata benar, masih ada Dinda disana, tidur dengan posisi seperti menghilang di balik selimut.


‘Tumben belum bangun.’, bathin Arya.


Arya beranjak dari tempat tidur tanpa membangunkan Dinda. Dia berpikir mungkin Dinda sangat lelah dan membutuhkan waktu tidur extra. Mungkin dia bisa mandi lebih dulu dan membangunkannya nanti.


5 menit….10 menit….15 menit…. 20 menit.


Pintu kamar mandi terbuka. Arya sudah selesai dengan rutinitas paginya. Lebih cepat dari biasanya. Sebelum masuk ke dalam area lemari pakaian, matanya memantau Dinda sebentar.


Masih belum ada pergerakan. Dia masih tertidur di balik selimut. Arya bahkan tidak bisa melihatnya karena dia tenggelam di balik selimut putih.


‘Masih tidur. Ya sudahlah.’, ujar Arya.


Arya berencana untuk membiarkannya tidur lebih lama lagi. Menurutnya, kasihan juga kalau dibangunkan. Arya mencari - cari pakaiannya. Dia berencana untuk mengenakan kemeja biru dengan celana bahan senada. Lengkap dengan blazer navy. Tanpa dasi.


Arya meletakkannya dulu di atas lemari dan mengenakannya nanti. Sekarang dia ingin mengenakan kaos dan celana pendek dulu sambil membereskan tas kerjanya.


5 menit… 10 menit… Arya keluar dari ruang kerjanya dan kembali melirik ke kasur. Masih sama.


‘Hm? Masih tidur?’, Arya bergerak menuju ranjang sambil membawa dokumen. Dia meletakkannya di nakas dan duduk di samping untuk membangunkan istrinya.


“Din, bangun. Sudah jam 6 lewat, kamu belum mau siap - siap?”, ujar Arya memulai dengan panggilan suara terlebih dahulu.


Tak ada suara. Akhirnya dia memegang bagian atas selimut. Dinda menenggelamkan seluruh badannya ke dalam selimut, sehingga Arya mencoba menggoyangkan sedikit untuk membangunkannya.


“Din?”


“Hm?”, ada suara yang menyahut dari dalam. Pelan sekali.

__ADS_1


“Kamu ga ke kantor? Ayo bangun.”, panggil Arya pelan.


Dinda tak menjawab. Akhirnya, Arya berinisiatif untuk membuka selimut Dinda agar lebih mudah untuk membangunkannya. Hal yang hampir tidak pernah terjadi. Biasanya Dinda yang selalu membangunkan Arya.


“Din.. kamu..Oh? Din? Dinda?”, Arya baru ingin mencoba membangunkannya dengan menarik lengannya sedikit.


Namun, begitu tangan Arya menyentuh tangan istrinya, dia merasakan suhu di tangan itu panas.


“Din, kamu sakit? Panas banget badannya. Sini, coba sebentar.”, Arya membalikkan tubuh Dinda agar bisa dalam posisi berbaring lurus.


Pria itu meletakkan tangannya di kening Dinda. Panas. Fix, sepertinya istrinya sakit. Untuk memastikan apakah dia perlu di bawa ke rumah sakit, Arya membuka laci di nakas samping kanan di depannya untuk mengambil termometer.


‘38.7 °C. Tinggi sekali.’, Arya segera mengambil ponselnya untuk menghubungi dr. Rima.


“Halo, dok. Maaf saya ganggu pagi - pagi. Istri saya demam. Suhunya sampai 38.7 °C. Lebih baik langsung saya bawa ke rumah sakit atau bagaimana dok?”, tanya Arya.


“Selain suhu panas tinggi, apa ada keluhan lain?”, tanya dr. Rima.


“Sayang, kamu ada merasa tidak nyaman atau sakit dibagian lain?”, tanya Arya.


“Pusing, dehidrasi, kram, susah bernafas?”, ujar dr. Rima memberitahu melalui telpon agar Arya menanyakan itu.


Arya mengulang pertanyaan dr. Rima pada Dinda. Dinda menggeleng.


“Sepertinya tidak dok. Hanya demam saja.”, jawab Arya.


“Kalau - kalau besok pagi suhunya meningkat, bisa segera di bawa ke rumah sakit. Pak Arya bisa update saya kalau ada pertanyaan.”, lanjut dr. Rima.


“Hm.. baik dok. Terima kasih.”, ujar Arya.


Arya segera menurunkan suhu AC agar tidak terlalu dingin. Kemudian dia keluar kamar menuju ke bawah untuk mengambil obat di kotak khusus yang biasa disediakan Inggit plus air putih.


“Hm? Kamu sakit, Arya?”, tanya Inggit yang baru saja keluar dari kamar.


“Dinda ma. Demam.”, jawab Arya.


“Oalah.. Gak langsung di bawa ke rumah sakit? Berapa suhunya? Sudah di kasih obat? Gejala lain ada ga? Aduh.. ibu hamil loh ini.. Kenapa bisa sakit.”, ujar Inggit langsung panik dan naik ke atas.


“Iya, ini Arya juga mau ambil obatnya.”, jawab Arya datar, namun mamanya sudah menghilang dan ternyata sudah naik ke atas.


“Selamat, jadi anak tiri yang dicuekin.”, ujar Ibas yang juga sudah berada di bawah tapi dalam kondisi belum mandi. Entah sedang mencari apa.


“Sayang, oalah, panas banget badannya. Mana ini si Arya lama banget.”, ujar Inggit sudah sampai di kamar Dinda.


“Nah ini dia… ayo dikasih obatnya. Kamu lama sekali.”, kata Inggit mengomel.

__ADS_1


Arya hanya bisa menghela nafas. Padahal dari dia ke bawah sampai ke atas, tidak ada jeda untuk melakukan yang lain.


“Sayang, minum obat dulu, ya.”, ujar Arya membantu Dinda untuk bangun dan memasukkan satu pil penurun panas padanya.


Gadis itu tak bertenaga. Dia hanya pasrah dan mengikuti instruksi yang diberikan. Inggit terlihat khawatir di samping mereka.


“Mas..”, kata Dinda pelan, tapi dia tak punya tenaga untuk melanjutkan.


“Sudah, nanti aku infokan ke Erick kalau kamu izin sakit. Jangan khawatir. Kamu tidur, istirahat.”, ujar Arya.


“Kalau begitu mama ke bawah minta Bi Rumi untuk menyiapkan bubur dan sup supaya Dinda bisa sarapan yang ringan.”, kata Inggit.


“Oiya, kamu gimana? Harus kerja hari ini? Gak bisa cuti saja?”, tanya Inggit.


“Ma, tolong jagain Dinda sebentar ya. Arya harus ke kantor karena ada beberapa meeting. Tapi nanti selesai meeting Arya langsung pulang. Jam 2 atau jam 3 harusnya Arya sudah selesai.”, ujar Arya.


“Hm.. ya sudah kalau begitu. Tadi kamu sudah ngomong sama dokternya kan? Dinda ga ada keluhan lain selain demam?”, tanya Inggit.


Arya mengangguk.


“Tapi mama nanti rutin cek suhunya. Kalau naik, mama langsung telpon Arya aja. Arya bisa batalkan meeting nya. Pak Cecep ready di rumah kan?”, tanya Arya memastikan.


“Iya, Pak Cecep ready di rumah kok. Kamu gak usah khawatir. Hah.. kasihan banget ini anak mama, lagi hamil, demam lagi. Mama perlu telepon Bunda Ratna gak? Mungkin Dinda mau dekat sama bundanya. Semenjak di sini kan, baru sekali ini Dinda sakit.”, kata Inggit menawarkan.


“Ya udah, nanti pulang kantor Arya jemput bunda Ratna dulu biar bisa sama - sama kesini. Besok kan weekend, jadi biar bunda bisa menginap disini untuk menemani Dinda.”, balas Arya.


Inggit mengangguk.


“Ya sudah mama ke bawah dulu deh. Kamu belum mau berangkat, kan?”, tanya Inggit.


“Belum ma. Arya nemenin Dinda dulu. Nanti jam 8 -an Arya jalan. Meetingnya masih jam 10.”


“Kalau begitu, mama minta Bi Rumi untuk membawakan sarapan kamu kesini, ya.”, kata Inggit mengusap - usap Dinda sebentar sebelum akhirnya turun ke bawah.


Arya mengangguk.


Arya menaikkan selimut Dinda ke atas. Dia memegang tangan istrinya. Panas. Meski begitu, Dinda nampak merasa kedinginan. Wajahnya juga terlihat lelah.


“Halo Rick. Dinda sakit. Dia tidak bisa ke kantor hari ini.”, ucap Arya begitu ponselnya tersambung dengan Erick.


“Oh? Hem.. baiklah, aku akan menginfokan kalau dia cuti sakit pada Pak Dika. Parah tidak? Padahal, dia juga sedang hamil.”, ujar Erick.


“Tidak. Hanya demam biasa. Tapi suhu tubuhnya lumayan tinggi. Mungkin kelelahan dan daya tahan tubuhnya menurun. Kalau begitu, minta bantuannya ya Rick.”, tambah Arya lagi.


“Iya.. semoga Dinda lekas sembuh.”, balas Erick.

__ADS_1


“Hn.”, sebelum Arya menutup ponselnya.


__ADS_2