
Pasien Rumah Sakit Ibu dan Anak yang check up rutin hari ini untuk dr. Rima tidak terlalu banyak.
Diantara semua hari - hari yang sibuk, memang terkadang ada hari - hari dimana mereka bisa selesai praktek lebih cepat.
Rumah Sakit sudah menyediakan sistem pembuatan janji online sehingga, para dokter bisa memaksimalkan waktu mereka.
Para pasien ini juga sudah mengetahui tentang hal ini. Hanya pasien baru yang jumlahnya tidak terlalu banyak yang mungkin akan perlu bimbingan untuk bisa melakukan janji lewat aplikasi online.
Namun, jadwal check-up harus diundur 1 jam karena dr. Rima harus melakukan operasi dari salah satu pasien UGD.
Alhasil, beberapa urutan pasien harus diselesaikan hari ini meski harus membuat dr. Rima lembur dari shift yang seharusnya. Kalau tidak, jadwal akan menumpuk di hari berikutnya. Ketiadaan beberapa orang dokter senior di Rumah Sakit seminggu ini karena konferensi membuat penanganan pasien menjadi sulit.
“Nek, Mama kok belum muncul juga. Katanya tadi sebentar lagi.”, tanya anak umur 10 tahun yang menunggu di belakang Dika.
“Sebentar ya, nenek tanyakan lagi.”, ujar wanita paruh baya itu berjalan menuju arah petugas.
“Permisi, belum selesai shift, ya?”, tanyanya pada petugas.
“Iya Bu. Mungkin sekitar 30 menit lagi. Apa perlu saya sampaikan. Supaya ibu bisa menunggu di ruangannya.”, kata petugas tersebut memberikan arahan.
“Tidak. Tidak perlu. Kita kesini mau memberi kejutan. Jadi, jangan diberitahu.”, ujar wanita itu.
“Baiklah. Silahkan ditunggu ya, Bu.”, balas petugas sambil tersenyum ramah.
Wanita paruh baya itu kembali ke kursinya.
“Sebentar lagi. Kamu baca buku saja dulu.”, ujar wanita itu pada anak laki - laki tersebut yang kemungkinan adalah cucunya.
“Lama juga ya, mama. Ya sudah, aku baca buku saja.”, jawabnya.
Tiga puluh menit berlalu dengan cepat untuk para dokter dan perawat yang sedang bekerja. Kesibukan menangani sekian banyak pasien membuat mereka kadang lupa waktu. Berbeda dengan pasien yang sedang menunggu giliran. Tiap detik rasanya bergerak lambat.
“Masih belum ya, nek?”, ujar anak itu tadi.
Sepertinya dia sudah bosan membaca buku. Perhatiannya kembali tertuju pada jam besar yang terletak di bagian tengah area administrasi.
“Sedang menunggu seseorang?”, akhirnya Dika tertarik untuk bertanya setelah sedari tadi merasa penasaran.
“Haha.. iya. Anak saya adalah salah satu dokter di rumah sakit ini. Ini anaknya. Dia baru selesai kompetisi di sekolah dan menang. Dia mau memberikan kejutan pada mamanya.”, jelas wanita itu.
Dika takjub mendengarnya. Padahal, dia hanya bertanya dan berharap jawaban singkat. Namun, wanita itu memberikan penjelasan panjang seolah tak ingin percakapan itu berakhir.
“Hm… kompetisi apa?”, kali ini Dika mengarahkan pertanyaanya pada anak laki - laki tersebut.
“Kompetisi karate om.”, jawab anak itu ragu - ragu tetapi dengan bangga menyebutkannya.
“Hm… mama kamu pasti bangga.”, ujarnya.
“Tentu saja.”, kali ini, anak laki - laki itu tampak lebih percaya diri.
“Oh, dokter sudah selesai. Ada yang mencari Anda, dok.”, tak lama terdengar suara petugas memanggil dr. Rima yang datang dari arah barat.
Rima yang memang sudah mengetahui siapa yang mencarinya langsung mengikuti arah telunjuk dari petugas yang memberikan informasi. Dr. Rima menolehkan pandangannya. Ia bisa melihat Dika disana.
Namun, dia tak mengira ada orang lain yang juga ada disana dan sepertinya sudah siap memanggilnya.
“Mama!”, panggil anak laki - laki tadi yang menangkap kedatangan Rima saat tak sengaja menoleh melihat jam.
__ADS_1
Dia langsung berlari ke arah dr. Rima tanpa mempedulikan neneknya.
“Ma, Mama.”, ujarnya langsung memeluk dr. Rima saat sudah berada di dekatnya.
Tentu saja, Rima kaget luar biasa. Dia tidak mengetahui kalau putera dan mamanya datang ke rumah sakit. Dia hanya tahu Dika yang datang menemuinya. Wajah Rima langsung membeku selama beberapa saat sampai panggilan Deni, puteranya menyadarkannya.
“Oh? Deni? Mama gak tahu kalau kamu kesini.”, kata Rima karena dia masih terkejut.
“Iya, aku mau kasih kejutan ke mama. Akhirnya, nenek bawa aku kesini. Mama kan tadi gak bisa datang ke kompetisi karate aku. Aku menang ma.”, Deni menjelaskan dengan penuh antusias.
Dia bahkan berlari kembali ke kursinya untuk mengambil medali di dalam tasnya.
“Ma, sini sini. Ma, ini medalinya. Bagus, kan? Ma, nanti kita foto sama medali ini ya, ma. Di tempat yang waktu itu kita pernah foto waktu aku menang kompetisi menggambar, ya ma.”, kata Deni menarik - narik lengan Rima.
“Oh? Oh iya.. Iya sayang. Wah.. keren ya kamu bisa menang lomba karate.”, balas Rima.
Perhatiannya masih terbagi antara menjawab pandangan heran Dika yang dari tadi melihatnya dengan tatapan penuh arti dengan antusiasme Deni.
“Oiya, ma. Tadi, om yang waktu itu juga nonton aku kompetisi, ma. Sayangnya dia datang terlambat, jadi cuma datang waktu pengumuman pemenang. Tapi gapapa, dia jadi tahu kan kalau aku menang karate.”, Deni masih terus menceritakan pengalamannya.
Rima hanya bisa tersenyum berusaha untuk tidak merusak mood puteranya, meskipun sekarang dia terlihat sangat bingung untuk merapikan situasi ini.
********
Taman Rumah Sakit Ibu dan Anak menjadi tempat yang paling indah di rumah sakit ini. Setidaknya, pasien bisa merasakan udara segar dan tidak jenuh dengan aroma rumah sakit yang identik dengan aroma obat - obatan.
Rumah Sakit Ibu dan Anak ini adalah salah satu Rumah Sakit Swasta terbaik di daerah sana. Desain interiornya diperhatikan dengan baik, termasuk taman ini. Selain ada spot - spot rindang, banyak juga permainan anak - anak yang sengaja di taruh dengan rapi dibagian tengah.
Sesekali, kita bisa melihat ibu - ibu hamil yang sudah hampir masuk due date-nya terlihat berjalan - jalan di sekitar taman.
Di taman ini, Dika dan Rima duduk di salah satu kursi taman di bawah pepohonan yang rindang. Rima sudah memesan makanan dan meminta mama dan anaknya Deni untuk menunggu di ruangannya.
“.....”, sebaliknya, tidak ada respon berarti dari Rima.
Dia sendiri masih bingung harus mengatakan apa. Hal yang tadi sudah direncanakan untuk dia katakan buyar. Tadinya, Rima bersedia menemui Dika karena dia ingin mengatakan pada pria itu untuk berhenti menemuinya.
Tapi pemandangan tadi membuatnya jadi lebih sulit lagi mengatakan hal itu.
“Usianya kurang lebih sama dengan Putera, anak laki - lakiku. Berarti kamu menikah di waktu yang hampir bersamaan dengan aku menikah?”, kata Dika dengan nada yang membingungkan. Entah dia membuat pernyataan atau sedang melemparkan pertanyaan.
Rima meneguk kopinya sebentar.
“Dika, aku harus kembali.”, ujarnya kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Dika menarik lengan Rima tepat saat wanita itu ingin beranjak pergi dari sana. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya memberikan tatapan yang tidak dimengerti oleh Rima.
“Maaf Dika. Tapi, sebaiknya kamu tidak datang lagi kesini. Aku ingin mengatakan itu saja padamu. Berteman? Aku pikir hal seperti itu pun tidak bisa kita lakukan. Maaf.”, Rima melepaskan tangan Dika dan pergi berlalu dari sana.
Tak terasa, satu dua bulir air matanya jatuh mengiringi langkahnya menjauhi pria itu.
********
“Aku jarang melihatmu di klub akhir - akhir ini? Kamu kemana?”, tanya Sarah pada Dimas.
Siang tadi mereka tidak jadi bertemu. Namun, beberapa saat yang lalu Sarah iseng mendatangi klub dan melihat Dimas berada di situ.
“Aku sibuk mengurusi beberapa branch yang baru. Kenapa?”, tanya Dimas.
__ADS_1
“Kamu sedang menghindariku?”, tanya Sarah
“Tidak. Mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Tidak, aku merasa belakangan ini kamu menghindariku. Kenapa? Aku melakukan kesalahan?”, tanya Sarah.
“....”, Dimas menenggak gelasnya tanpa menjawab pertanyaan Sarah.
“Apa karena pertemuan di restoran waktu itu? Aku tidak tahu sama sekali kalau Arya ada disitu.”, kata Sarah emosi.
“Aku tahu. Tapi kenapa kamu harus mengejarnya dan membuat drama disana. Sarah, kamu sudah bukan istri Arya. Dia sudah memiliki kehidupan yang baru. Haruskah kamu mengganggunya lagi?”, tanya Dimas.
“Bukankah waktu itu kamu berjanji akan merebut Dinda darinya agar aku bisa kembali pada Arya?”
“Aku tidak pernah berjanji seperti itu.”, balas Dimas.
“Kamu menyukainya kan? Ambil! Lalu, biarkan Arya kembali padaku. Kamu tahu, aku sadar kalau aku sudah berbuat kesalahan besar dengan melepaskan Arya. Aku benar - benar ingin kembali padanya.”, kata Sarah sambil menangis.
“Sarah, satu hal yang aku pahami sekarang saat mendengar kata - kata Arya. Mungkin aku menginginkan Dinda karena sekarang dia milik Arya. Butuh waktu lama untukku mengakuinya. Tapi, kamu harus menyadarinya. Kamu hanya menginginkan Arya, karena dia sudah dimiliki oleh orang lain. Kamu hanya tidak ingin kehilangan itu. Jika kamu masih menganggapnya sama seperti barang. Itu bukan CINTA namanya, tapi OBSESI.”, Dimas menghabiskan satu gelas minumannya lagi dan mengambil jaket nya lalu pergi.
“Dimas, Dimas, tunggu.”, kata Sarah menarik lengan Dimas.
“Plis, kamu salah. Kamu tahu kan, aku benar - benar membutuhkan Arya. Hanya bersamanya aku merasa memiliki kehidupan. Dimas, plis bantu aku.”, kata Sarah memohon pada Dimas.
“Sadarlah, Sar. Kamu sudah melukainya terlalu dalam. Jangan melakukan kesalahan yang sama. Satu lagi. Dika, kamu tidak ada campur tangan tentang keputusannya pindah ke perusahaan yang sama dengan Arya, kan?”, tanya Dimas.
“.....”, Sarah tidak menjawab.
Dimas tak berharap mendengar jawaban dari Sarah meski dia melemparkan pertanyaan itu.
“Tenangkan dirimu dan kembalilah pada Sarah yang dulu.”, ujar Dimas sebelum benar - benar meninggalkan wanita itu disana.
********
Muachhh..
Arya baru saja pulang dari kantor. Hari ini dia ada meeting hingga sore. Meeting itu berlanjut hingga makan malam dan baru pulang sekitar pukul 9 malam. Dia kira Dinda sudah tidur.
Tetapi, begitu membuka pintu, pria itu menemukan istrinya masih berdiri menikmati angin malam di beranda kamar mereka. Balutan gaun malam dan rambutnya yang tergerai membuat siluet Dinda terlihat sangat seksi malam itu.
Arya mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Dia mencium leher Dinda untuk menyesap ranumnya aroma gadis itu. Mereka masih tinggal di apartemen setidaknya hingga akhir pekan ini.
“Kenapa belum tidur?”, tanya Arya dengan suara baritonnya yang lembut.
“Aku menunggu mas Arya.”
“Menungguku? Kenapa? Kalau sudah lelah, kamu langsung tidur saja. Susunya sudah diminum? Kalau belum, aku akan membuatkannya dulu.”, ujar Arya.
Dinda mengangguk.
“Yah.. harusnya aku pulang lebih awal agar bisa membuatkan istriku ini susu hamilnya.”, kata Arya lembut.
“Mas Arya, aku boleh bertanya?”, kata Dinda.
“Hm? Boleh setelah aku mandi? Sudah gerah rasanya.”, kata Arya.
“Baiklah. Mas Arya sudah makan malam? Kalau belum, biar sekalian aku siapkan.”, ujar Dinda.
__ADS_1
“Sudah. Tadi di jamu oleh klien. Kamu tunggu disini. Kalau sudah mengantuk. Kita bicarakan besok. Hm?”.
Dinda mengangguk.