
Kelima karyawan Digital and Development sudah berbaris di dalam ruangan Arya. Semuanya menunduk karena sudah mengetahui alasan mereka dipanggil kesini. Arya masih duduk di kursinya sambil mengetik beberapa email penting. Sesekali mereka mencuri pandang ke arah Arya.
“Sudah tahu ya pastinya kenapa kalian saya panggil kesini?”, itulah kalimat pertama Arya.
Arya bangun dari kursinya perhatiannya sejenak tertuju pada Dinda.
“Kalian boleh duduk.”, ujar Arya setelah melihat Dinda.
Awalnya Arya ingin membiarkan mereka berdiri lama sebelum memberikan peringatan karena dengan begitu Arya bisa memberitahu dengan tegas bahwa kesalahan mereka saat itu sudah sangat fatal.
“Saya sudah berbicara dengan Erick sebelum memanggil kalian kesini. Dia sadar bahwa kesalahan kalian di Team Building memang tidak bisa dibenarkan. Saya menjelaskan ini supaya kalian tidak salah paham.”, tutur Arya dengan nada bicaranya yang tegas.
Semuanya mengangguk menandakan paham apa yang sedang dikatakan Arya.
“Hm… Pak Arya.. Hm…”, Delina mengangkat sebelah tangannya perlahan ke atas sambil takut - takut.
“Ya? Ada yang mau kamu sampaikan?”, tanya Arya sebelum ia melanjutkan kalimatnya.
“Sebenarnya… hm… sebenarnya saya yang bersikukuh untuk melepas life jacket itu untuk berfoto. Mereka sudah menolak tapi saya terus memaksa untuk sekali potret saja.. Dan…”
“Saya tahu apa yang akan kamu katakan. Saya hargai keberanian kamu untuk mengakui kesalahan fatal yang kamu buat, tapi kalian adalah pria dan wanita dewasa yang bisa mengambil keputusan. It’s not like she’s forcing all of you. But, you did follow the decision on your own conscious. Apa kalau ada pihak eksternal yang memaksa kalian untuk menjual data klien, kalian juga akan mengambil keputusan yang sama?”, ujar Arya menunjuk karyawan selain Delina.
“That’s why I call you all here.”, lanjut Arya.
“Senang sekali kamu mengatakan hal itu karena saya jadi mengetahui kalau kalian selemah itu dalam menolak gagasan dari orang lain meski kalian tahu itu adalah hal yang berbahaya. Bagaimana saya bisa yakin kalian bisa menghandle tugas di divisi kalian dengan baik, jika hal seremeh itu saja tidak kalian ikuti.”
Semuanya terdiam, tidak ada yang bisa menjawabnya sama sekali. Arya berdiri bersandar di samping mejanya dengan aura yang sangat mendominasi. Sementara Dinda, Delina, Suci, Bryan, dan Andra duduk terdiam.
‘Gila.. aku belum pernah merasakan aura segelap ini. Gimana si Dinda bisa pacaran sama orang seperti ini, sih?’, ujar Bryan dalam hati.
‘Apa pria ini benar - benar memarahi Dinda? Kami semua dipanggil termasuk istrinya sendiri? Apa dia mau menunjukkan sesuatu padaku?’, ucap Suci dengan penuh percaya diri mesti hanya di dalam hati.
“Kenapa? Kamu ingin mengatakan sesuatu? Kata Arya yang mendapati tatapan Suci padanya.”
“Tidak… Tidak ada Pak.”, jawab Suci.
Tok tok
“Masuk.”, jawab Arya saat mendengar ketukan pintu dan ternyata itu adalah Siska.
__ADS_1
“Pak, maaf mengganggu. Jadwal interviewnya akan dimulai 5 menit lagi. Sepertinya Pak Arya harus ke lantai HRD sekarang.”.
“Oke Sis, thank you.”, jawab Arya singkat dan meminta Siska menunggunya.
“Saya harap kali ini terakhir kalinya saya memanggil kalian ke ruangan hanya untuk hal - hal seperti ini. Mengerti?”, kata Arya dengan tegas.
“Iya, Pak.”, jawab Andra yang sudah berkeringat meskipun sedang berada di ruangan yang ber AC.
“Baik Pak, saya mengerti.”, kali ini giliran Delina yang menunduk kemudian suasana mendadak jadi hening.
‘Bukannya dia sudah dipanggil HRD ya. Kenapa padangannya masih kesini juga?’, tanya Bryan dalam hati.
“Yang lain? Tidak ada yang menjawab? Kamu, Dinda?”, tanya Arya langsung menyebut nama.
Dinda terkejut dan hal itu terlihat jelas dari wajahnya.
“I-iya Pak Arya. Saya minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi.”, jawab Dinda juga tidak berani melihat ke arahnya.
Meskipun tipis, tapi Arya menyunggingkan senyumnya sedikit di bagian sudut bibirnya.
“Iya Pak.”, jawab Bryan dan Suci kompak saat Arya dan Suci serta Bryan tanpa sengaja bersitatap mata.
“Okay. Saya harap kalian semua mengerti dengan apa yang saya katakan tadi. Kalian boleh keluar.”, lanjut Arya lagi pada yang lainnya.
“Langsung ke ruang meeting Kamboja saja ya, Pak Arya.”, ujar resepsionis yang berada di lantai HRD.
Arya kemudian mengangguk dan langsung berjalan terus ke ruang meeting yang dimaksud.
“Selamat pagi.”, kata Arya menyapa dengan tegas tanpa ada kesan ramah sedikitpun.
“Selamat pagi, perkenalkan saya Roland, Pak.”, ucap pria berkacamata yang ada di ruang meeting Kamboja.
Usianya kira - kira sekitar 40 tahun. Dia memiliki perawakan yang tinggi, putih, dan sedikit berisi. Arya sedikit terkesan dengan aura kepercayaan diri yang dikeluarkannya.
“Arya.”, jawab Arya singkat.
“Silahkan duduk.”, lanjutnya lagi.
“Sebelumnya kerja dimana?”
__ADS_1
“Sudah berapa lama mendalami dunia IT?”
“Sudah pernah memegang level manager?”
“Berapa jumlah project yang dipegang sebelumnya?”
“Berapa skala companynya?”
“Sudah pernah dealing dengan project luar negeri?”
“Apa Anda tahu core business perusahaan ini dan dimana peran Anda nantinya?”
Arya terus menghujani pria itu banyak pertanyaan. Sehingga tak terasa waktu satu jam sudah berlalu. Arya adalah tipe yang akan terus menanyakan pertanyaan meskipun dia tidak puas dengan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.
“Terima kasih. Anda akan mendengar dari HRD beberapa hari lagi.”, ujar Arya kemudian mempersilahkan pria yang lebih tua darinya itu keluar dari ruang meeting.
“Ada lagi ya Pak.”, ujar admin yang sudah berdiri di depan ruang meeting Kamboja untuk memberikan Arya lembaran kertas yang harus dia isi untuk pelamar yang tadi.
“Ada empat ya, hari ini?”, tanya Arya sambil mengisi lembaran kertas tersebut.
“Iya, betul Pak. Yang kedua sudah datang namun kebetulan masih di toilet. Yang ketiga juga sudah datang dan sedang mengisi beberapa dokumen di front desk.”, jelas admin tersebut.
“Langsung masukkan saja semuanya. Sudah tiga kan yang datang?”, tanya Arya memastikan.
“Satu lagi masih di lantai bawah, Pak. Apa mau dipanggil langsung sekalian saja?”
“Hm… saya ada meeting mendadak hari ini, jadi langsung semuanya saja.”, ujar Arya.
“Baik kalau begitu, Pak. Yang dua saya minta masuk ruangan meeting saja ya, Pak.”
“Hm. langsung kamu suruh tunggu di ruang meeting saja. Saya mau buat kopi dulu.”
“Oke baik Pak Arya.”
Tidak butuh waktu lama untuk membuat kopi karena Arya meminta bantuan office girl yang ada di sana. Untuk menghemat waktu, Arya langsung masuk ke ruang meeting berharap pelamar sudah berada di sana semua.
Koridor menuju ruang meeting Kamboja sangat panjang sehingga butuh waktu untuk Arya sampai. Dan ruang meeting Kamboja juga berada di paling ujung. Sembari berjalan dan memegang tumblr kopinya, Arya melihat seorang pria berjalan menuju ruang meeting Kamboja.
Seseorang yang Arya kenal tetapi Arya masih belum bisa mengingatnnya.
__ADS_1
‘Apa dia pelamar juga? Seperti kenal. Dimana ya aku pernah bertemu? Wajahnya tidak asing.’, kata Arya dalam hati.
Arya bisa melihat pria itu menuju ruang meeting, berarti dia adalah salah satu pelamar. Tak lama setelah pria itu masuk, admin HRD terlihat berjalan di belakangnya. Arya memberikan kode seperti bertanya ‘Apa dia pelamar juga?’ dari kejauhan dan Admin mengangguk.