Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 110 Cuti Bersama


__ADS_3

Pagi sudah lama datang, tapi tak ada satupun dari keduanya yang berniat untuk bangun. Dinda, gadis ini sudah ingin turun dari ranjang sejak sejam yang lalu, tapi Arya terus saja menahannya. Akhirnya Dinda ikut tertidur lagi.


Di luar sedang hujan deras sejak pukul 5 sore tadi. Momen yang paling tepat untuk berada di balik selimut. Arya juga sudah tertidur pulas sambil mendekap istrinya. Dia memanfaatkan momen ini karena besok dia sudah harus terbang ke Bangkok dan kembali lagi hari Jum’at.


Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Masih belum ada tanda - tanda keduanya untuk bangun. Sesekali, Arya melakukan pergerakan, tapi itu hanya untuk sekedar untuk memastikan Dinda masih ada dalam pelukannya.


Ting Tong Ting Tong


Bel apartemen berbunyi. Awalnya, bunyi bel itu tidak mengusik mereka sama sekali. Tetapi bunyi yang kedua membuat Dinda terbangun. Dia berusaha untuk melepaskan pelukan Arya di pinggangnnya untuk melihat siapa yang ada di depan.


“Mau kemana?”, tanya Arya di sela - sela tidurnya.


Mata pria ini masih terpejam. Dia sulit membukanya karena matanya masih mengantuk.


“Ada yang pencet bel mas. Mungkin tetangga unit sebelah.”, jawab Arya.


“Udah biarin aja.”, balas Arya.


“Hm? Gimana kalau ternyata urgent kaya kemarin lagi?”, ucap Dinda mencoba untuk bangun.


“Ada anak perempuannya kok kemaren. Tuh, udah gak bunyi lagi. Kalau bunyi terus sampai 5 kali baru disamperin.”


“Hm? Tahu darimana?”, tanya Dinda bingung.


“Kemarin ketemu di parkiran. Heh, dia bikin kaget saja. Ah sudahlah bukan bahasan penting. Ayo.. tidur lagi.”, kata Arya berusaha menarik Dinda masuk ke dalam selimut.


“Ih.. udah ah.. Udah jam berapa ini mas? Mas Arya gak mau sarapan? Yuk, bangun.”


“Besok aku harus ke Bangkok, Din. Pulangnya juga masih Jum’at. Kamu tega ya?”, ucap Arya.


“Hm?”, tanya Dinda pura - pura bertanya tapi bibirnya sudah menyunggingkan senyum.


“Kenapa senyum - senyum?”, tanya Arya heran.


“Engga.”, jawabnya tapi masih tersenyum.


“Tuh masih senyum - senyum.”


“Engga.. Udah ayo bangun.”, ujar Dinda menarik lengan kekar Arya keluar dari selimutnya.


“Kalau kamu mau mandi bareng, aku bangun.”


“Ih..mas Arya suka begitu deh.”, protes Dinda.


“Suka begitu apa? Aku kan hanya mengajak kamu mandi bareng.”, kata Arya santai.


“Ya.. itu… ngapain coba mandi bareng. Udah aahh… mas Arya…lepasin”, protes Dinda lagi.


Dinda bisa saja lanjut mandi dan tidak menghiraukan Arya, tapi pria itu sedang menahan pergerakannya dengan tenaganya.


“Kalau begitu cium dulu.”, kata Arya mencoba membuat kesepakatan.


“Gak mau, belum gosok gigi. Malu ah.”


“Aaaakkk…. Haha.. geli.. Mas Arya… Ihhh… mmmmhhhh.”, teriak Dinda.


Gadis ini belum menyetujuinya, tapi Arya sudah menyerangnya secara bergerilya. Alhasil, pagi itu menjadi pagi yang panjang lagi untuk keduanya.


******


“Oh.. mas Arya.. kayanya Bu Ratih di unit sebelah kasih ini.”, Dinda menunjukkan sekantung buah apel pada Arya.


“Hn..”, jawab pria itu singkat.


Sepertinya dia masih kesal karena Dinda memaksa untuk bangun.


“Mas Arya marah ya?”, tanya Dinda.


Gadis itu menaruh apel di atas rak di dapur dan memeluk Arya yang sedang menunggu kopinya selesai dari belakang.


“Kenapa peluk - peluk? Tadi bukannya kamu tidak ingin aku peluk?”


“Mas Arya, maksud aku tu kan.. Aku bangun karena sudah tidur lama. Mas Arya bisa lanjut tidur lagi. Bukan karena aku gak mau dipeluk. Hm?”, Dinda mencium punggung pria itu dan bersikap sedikit manja agar kemarahan Arya surut.

__ADS_1


Arya berbalik dan menatap wajah Dinda. Lalu, pria itu memberikannya kecupan singkat. Dinda tersenyum.


“Mm.. mas Arya sarapannya kopi? Baunya gak enak.”, Dinda memegang leher dan perutnya yang terasa tidak enak. Dia baru saja mencium aroma kopi itu.


“Kenapa? Memang baunya seperti ini.”, ujar Arya.


“Mm.. sebentar aku ke kamar mandi dulu.”, balas Dinda sambil sedikit berlari kecil menuju kamar mandi di kamar utama.


Uaakkk… Uakkk… Uakkk


‘Hm.. kenapa aku tidak bisa mencium aroma kopi ya? Aneh sekali. Padahal sebelumnya masih bisa.’


“Kamu gapapa, Din?”, Arya menghampirinya dari pintu kamar.


Dinda buru - buru mengelap mulutnya dan bersikap seolah tidak ada apa - apa.


“Ah… engga kok. Mungkin karena belum sarapan aja.”, jawab Dinda sambil menyunggingkan senyum tipis.


“Mau cari sarapan di luar?”, ujar Arya menawarkan.


“Hm.. aku mau masak aja, mas. Kan, besok mas Arya mau ke Bangkok. Hari ini aku masak, biar mas Arya ingat pulang.”, kata Dinda bercanda.


“Memangnya aku pernah lupa pulang? Ya sudah kalau begitu. Aku lanjut kerja sebentar gapapa, ya.”, lanjut Arya.


Dia belum sempat menyelesaikan beberapa analisa laporan yang akan dia bawa ke Bangkok. Ditambah hari ini dia cuti. Dari tadi sudah ada setidaknya 5 panggilan yang dia abaikan.


“Iya.. aku mau siap - siap dulu.”, ujar Dinda.


“Siap - siap? Kemana?”, tanya Arya.


“Di kulkas gak ada makanan sama sekali. Jadi aku mau ke supermarket.”


“Ya sudah aku antar.”


“Ga perlu mas. Kan cuma di Mall sini.”, kata Dinda.


Apartemen Arya tersambung dengan sebuah Mall yang lumayan besar. Penghuni apartemen hanya perlu turun ke lantai 5 atau 4 yang sudah langsung terhubung dengan lobi Mall lantai yang sama.


“Bukannya mas Arya mau kerja? Dari tadi kayanya hapenya bunyi terus. Lagian, aku pernah ketemu mba Suci di mall bawah. Nanti kalau dia lihat, bagaimana?”, kata Dinda sedikit khawatir.


“Suci kan di kantor. Gak mungkin dia ada di mall pagi begini. Sudah biar aku temenin ya?”


Dinda tak bisa menolak. Sejujurnya dia juga ingin Arya menemaninya karena ini akan jadi kali pertama mereka berbelanja bersama seperti ini. Orang kantor pasti sedang ada di kantor karena ini hari kerja. Kalaupun mereka makan di luar, mereka pasti lebih memilih mall - mall yang paling dekat dengan kantor.


Dinda mengenakan outer dan hijabnya. Tak lupa dia memberikan sedikit solekan natural di wajahnya agar lebih segar.


“Sepi banget ya mas, apartemennya.”, celetuk Dinda saat mereka sudah berada di lift.


“Ya.. kamu berharap orang lari - larian di koridor? Itu rumah sakit atau sekolahan namanya, bukan apartemen.”, jawab Arya.


Dinda memberikan tatapan tajam ke Arya karena menjawabnya dengan asal.


“Ya.. lagian kamu tanya nya ada - ada aja. Apartemen, ya sepi karena semua orang di dalam unitnya masing - masing. Kalau kamu mau rame, ya nanti di Mall.”, jawab Arya.


Tentu saja Dinda masih tidak puas dengan jawaban Arya.


“Baik Pak Arya.”, balas Dinda.


‘Percuma berbicara dengan kepala Divisi Business and Partner yang galak ini. Sepertinya dia ramah dan manis kalau di kasur aja.’


Arya mendaratkan ciuman singkatnya ke bibir Dinda. Terang saja, gadis ini terkejut. Ditambah mereka sedang ada di lift. Ya.. walaupun hanya mereka berdua.


“Mas Arya.”, protes Dinda.


“Nah, itu baru panggilan yang benar. Kan sudah ada perjanjian kalau kamu panggil saya ‘Pak’, saya akan cium kamu.”, jelas Arya kembali mengingatkan Dinda.


“Lagian, jawaban mas Arya mengingatkan saya pada bos di kantor. Yang kalo lewat bikin suhu AC semakin turun sampai 0 derjat celcius”


Arya hanya membalas omongan Dinda dengan senyuman.


******


“Pagi Pak Erick.”, sapa Suci begitu sampai di kantor.

__ADS_1


Dia sedikit terlambat hari ini. Biasanya Suci selalu datang tepat waktu. Tapi, malam tadi dia kembali menemui pacarnya dan terlambat bangun pagi ini.


Personil divisinya di kantor sudah hampir lengkap. Dia juga sudah bisa melihat Andra, Bryan, Delina, dan beberapa orang lainnya duduk rapi di bangku mereka.


“Yah.. cuma aku yang terlambat dong hari ini.”, kata Suci.


Dia mengambil pecahan 50 ribuan dan memasukkannya ke kotak. Kotak ini adalah kesepakatan mereka kalau ada yang terlambat maka harus memasukkan 50 ribu ke dalamnya. Uangnya akan mereka gunakan untuk makan bersama satu tim.


“Eh.. Dinda juga belum masuk ya? Tas nya ga ada. Aku kira di ke toilet.”, kata Suci.


Dinda tidak terlihat ada di kursinya. Dari kejauhan, Suci mengira gadis itu sedang ke toilet atau ke tempat lain, tapi saat mendekat memasukkan pecahan 50 ribuan, dia sadar bahwa tasnya tidak ada.


“Dia terlambat juga ya?”, tanya Suci.


“Dinda gak masuk hari ini, dia cuti. Kayanya dia lupa membuat email out of office-nya.”, jelas Erick yang sedang merapikan dokumen yang akan dia bawa untuk meeting hari ini.


Bryan menoleh begitu mendengar Dinda sedang cuti.


“Dinda cuti karena apa, pak?”, tanyanya pada Erick yang harus berhenti karena pertanyaan Bryan.


“Cuti biasa. Mungkin dia sedang lelah.”, jawab Erick ngasal.


Padahal dia tahu benar kenapa gadis itu cuti.


‘Hm..apa pak Arya melakukan sesuatu di luar dugaanku karena kejadian kemarin? Aku hanya ingin melihat reaksinya. Tak kusangka reaksinya berlebihan seperti ini.’


“Heh, Bryan. Kenapa kamu kepo sekali. Namanya cuti ya cuti.”, kata Suci membangunkan lamunan Bryan.


“Bukan urusan kamu.”, jawab Bryan membuat Suci telak dan terdiam.


‘Kenapa si Bryan belakangan jadi sok peduli dengan Dinda, sih?’, tutur Suci kesal.


“Ah… aku harus kirim email ke Pak Arya nih.”, kata Suci segera membuka laptopnya dan mempersiapkan email laporan yang harus dia kirimkan ke Arya pagi ini.


10 menit. Suci membuat draft email, membacanya berulang dan melampirkan attachement laporan untuk ditanda - tangani Arya. Sebenarnya karena Arya hanya acting sebagai head Digital and Development, dia hanya perlu menandatanganinya saja seperti kebanyakan kepala divisi yang statusnya menggantikan sementara.


Tetapi bukan Arya namanya jika tidak mengerjakan pekerjaannya dengan sempurna. Dia selalu membaca bahkan tak segan menunda approval sebelum dia mengerti apa yang dia tanda - tangani.


Karena itulah, Suci harus berhati - hati dalam meminta persetujuan terhadap apa yang dia kerjakan sebelum mengirimkan email pada Arya.


“Oke.. send!”, kata Suci begitu selesai mengirimkan emailnya.


Tak lama ada balasan dari email Arya namun itu adalah email otomatis.


“Hah? Pak Arya cuti?”, kata Suci setengah berteriak.


“Mengagetkan saja kamu Ci.”, tutur Delina.


Rini yang sedang fokus juga merasa terganggu dengan teriakan Suci dan menoleh untuk memeriksa kenapa gadis itu.


“Pak Arya cuti. Dia tidak mengatakan apa - apa kemarin.”, tanya Suci.


Kemarin dia sempat bertemu dengan Arya di ruang meeting.


“Lagian kamu siapa? Ngapain dia bilang - bilang ke kamu segala kalau mau cuti?”, sekali lagi, komentar Rini yang kali ini membuat Suci telak dan terdiam.


‘Iya juga.’


“Pak Arya juga cuti? Pesan otomatisnya bilang apa?”, lagi, Bryan kembali menunjukkan ketertarikannya.


“Cuma bilang urusan pribadi. Kenapa, kamu ada yang harus minta tanda - tangan dia juga?”, tanya Suci.


“Engga.”, jawab Bryan kembali ke tempat duduknya.


“Terus ngapain tanya - tanya?”, kata Suci melampiaskan kekesalannya pada Bryan.


‘Mereka pasti bersama. Aah.. andai aku berdiri lebih dekat, mungkin aku bisa mendengar apa yang mereka berdua katakan.’


“Haha… Dinda janjian sama Pak Arya ya, cutinya bareng.”, celetuk Delina yang sebenarnya hanya asal bicara, tetapi malah menarik perhatian Suci.


Wanita itu terdiam dan berpikir di kursinya.


‘Ah tidak - tidak.. Pikiran berbahaya macam apa yang aku pikirkan. Tidak mungkin. Kebetulan saja mereka cuti nya bareng. Ga mungkin lah mereka ada sesuatu? Dinda? Pak Arya? Hah,.. gak mungkin banget. Aku berani bertaruh.’, Suci terus bersikap denial karena firasatnya terus curiga dan mengatakan sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2