
“Halo, Pak Cecep?”, kata Arya melalui sambungan teleponnya siang ini.
Arya sudah di perjalanan menuju bandara setelah melakukan check-out hotel dan wrap-up meeting dengan tim yang ada di Bangkok. Bagiannya sudah ia selesaikan dan tim di cabang Bangkok yang akan meneruskan project sesuai dengan milestone yang ditetapkan.
“Iya Den?”
“Nanti, begitu sampai di bandara, saya mau pakai mobilnya. Pak Cecep nanti saya panggilin taksi untuk ke rumah ya. Gapapa, kan?”, tanya Arya.
“Oh iya.. Gapapa Den. Sudah kangen dengan istrinya ya den? Haha.”, kata Pak Cecek melemparkan guyonan.
“Tentunya. Tahu aja Bapak.”, kata Arya singkat sambil mengeluarkan tawa kecilnya.
Dia ingin menjawab ‘Pastinya…. Lima hari tanpa pelukan istrinya membuatnya tersiksa. Rasanya bumi berputar sangaaattt lama’.
Bahkan beberapa kali Arya tidak bisa tidur karena dia terus memikirkan bagaimana caranya agar pekerjaannya cepat selesai.
“Oke. Makasih Pak Cecep. Oleh - olehnya nanti kita bongkar di rumah.”
“Wah.. ada oleh - oleh buat saya juga Den Arya?”
“Ya pastilah Pak. Yasudah kalau begitu. Saya mau sampai bandara. Sampai bertemu nanti, Pak.”, kata Arya menutup teleponnya.
Sepulang dari bandara, Arya ingin mengajak Dinda ke salah satu restoran favoritnya. Hanya berdua. Saat ini dia seperti ingin terbang langsung ke Indonesia.
******
*“Dinda..?”, panggilan seorang wanita yang dia kenal mengalihkan perhatiannya. *
*Dinda terkejut. Dia langsung mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam kantong. *
Disinilah Dinda sekarang, di sebuah cafe yang masih berada di sekitaran bandara. Awalnya Dinda menolak ajakan perempuan ini untuk berbicara empat mata, tetapi perempuan itu mampu membuat Dinda tak bisa menolak.
“Kamu mau pesan apa? Silahkan, aku yang traktir.”
“Makasih, mba.”, jawab Dinda singkat dengan senyuman tipis.
Bagaimana Dinda bisa menelan sesuatu saat berhadapan dengan wanita ini. Bahkan airpun sulit dia telan. Dinda sudah pernah bertemu dengannya sekali secara langsung meski wanita itu tidak mengenalinya. Sepertinya Dimas berusaha agar wanita itu tak menyadari siapa yang ada di hadapannya.
Namun, Dinda cukup kaget karena wanita itu menghampirinya kali ini. Entah sejak kapan, wanita itu mengetahui tentang Dinda. Karena Dinda tak sadar, saat tempo hari dia bertemu Dimas di depan kantor, ada sepasang mata wanita itu yang memperhatikan mereka.
“Kamu se- tidak suka itu denganku? Bukankah seharusnya terbalik. Kamu yang bersama Arya sekarang. Seharusnya aku yang menunjukkan wajah tidak nyaman.”
‘What? Apa - apaan wanita ini? Seharusnya dia yang menunjukkan wajah tidak nyaman? Apa dia tidak salah bicara?’, kata Dinda dalam hati. Tapi dia tak ingin menimbulkan keributan yang tidak penting.
Saat inipun, dia takut Arya melihat mereka bertemu. Bukan Dinda takut Arya justru akan memarahi Sarah, wanita yang ada di hadapannya ini. Dinda tak sepercaya diri itu. Meski dia sudah mendengar penuturan Ibas kemarin dan ingin mempercayainya. Tapi setengah hatinya tetap tak yakin.
Dinda takut, Arya justru berpaling pada Sarah. Tidak, Dinda takut jika sejak awal hingga sekarang Sarah selalu ada di hati Arya. Rasanya, membayangkannya saja Dinda tidak sanggup.
Sarah mengambil penerbangan yang lebih awal dibandingkan dengan Arya. Dia sudah berusaha sebisa mungkin untuk berada di satu penerbangan dengan Arya namun siapa sangka, Arya justru mengganti jadwal penerbangannya.
Sarah berpikir karena Arya ingin menghindar darinya. Padahal, Arya memang harus mengganti jadwal penerbangannya karena harus ada wrap-up meeting tambahan yang harus dia lakukan sebelum akhirnya menyerahkan project itu sepenuhnya pada tim yang ada di Thailand.
“Melihat ekspresi dan bahasa tubuh kamu. Aku yakin kamu sudah cukup mengenal siapa aku.”, kata Sarah melanjutkan kalimatnya setelah memesan kopi. Minuman yang saat ini Dinda hindari.
Beruntung, Dinda sudah jarang terpengaruh dengan bau kopi. Tapi tetap saja, jika lama - lama rasa mualnya bisa kambuh. Dinda mencari cara agar bisa menyelesaikan pembicaraan ini sebelum kopi itu tiba.
“Tentu saja. Mba Sarah adalah mantan istrinya mas Arya, kan? Saya ingin pura - pura tidak tahu, tapi sepertinya mba Sarah justru menginginkan sebaliknya.”
“Apa kamu tahu jika saya adalah cinta pertama Arya?”
“Saya tidak begitu peduli dengan hal itu. Yang terpenting adalah saya yang menjadi istri mas Arya saat ini dan saya hanya perlu melakukan tugas saya sesuai dengan posisi saya sebagai istri. Terlepas dari dulu mas Arya pernah menikah dengan mba Sarah, saya yakin itu bukan urusan saya.”, ujar Dinda dengan tegas.
Dia tidak tahu dari mana keberanian ini muncul. Saat mengatakan itu, dia memegang perutnya mencoba mencari kekuatan dari situ. Dia merasa, sampai saat ini dia masih menjadi istri Arya. Apapun yang terjadi, jika bukan keluar dari mulut mas Arya, statusnya masih sama. Istri Arya.
“Heh… sepertinya aku underestimate kamu. Aku kira dengan citra jilbab itu, kamu adalah wanita yang lembut dan halus.”
“Menurut saya, saat ini saya sudah bersikap lembut dan halus. Setiap wanita tentu harus mempertahankan marwah mereka. Saya tidak tahu jika ada kesepakatan lain antara mba Sarah dengan mas Arya. Tapi, sampai detik ini saya masih istri mas Arya.”
“Kesepakatan? Bagaimana jika kami memang punya kesepakatan untuk kembali bersama?”
Dinda mengenggam tangannya dengan sekuat tenaga, berusaha untuk tidak menunjukkan emosinya dan tetap tenang. Demi bayinya, dia harus tetap tenang.
Disaat itu juga, pesanan kopi Sarah datang. Baunya lebih menyengat dari kopi yang biasanya Dinda temui di kantor. Dinda mulai sulit menahan perutnya karena aroma kopi itu terus mentrigger mual di perutnya.
“Maaf, tapi saya tidak pernah mendengar kesepakatan itu dari suami saya. Sepertinya saya salah menerima ajakan ini. Saya merasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Saya permisi.”, ucap Dinda mengambil tasnya dan berdiri meninggalkan Sarah.
“Kamu tidak akan pernah bahagia dengan Arya. Dia bukan tipe pria yang mencintai wanita sepenuhnya. Masih sekitar 4 bulan kan? Lihat saja, dia akan segera bosan dengan kamu. Apalagi tipe wanita membosankan sepertimu. Ya.. mungkin dia hanya ingin mencoba gadis muda yang disodorkan secara sukarela padanya lewat perjodohan. Jika dia sudah muak, dia juga akan meninggalkanmu.”, kata Sarah menghentikan langkah Dinda.
__ADS_1
Dinda sudah tidak memperhatikan kata - kata Sarah. Setelah Sarah mengatakan kalimatnya, Dinda dengan mantap meninggalkan wanita itu dan berjalan cepat menuju toilet. Dia bergegas mencari toilet kosong dan mengeluarkan muntahannya.
Dia benar - benar tidak kuat dengan bau kopi yang lebih menyengat dari biasanya. Tidak hanya karena Sarah yang pesan, mungkin karena kondisi Cafe yang ramai dan pengunjung kiri kanan juga memesan kopi, Dinda tak bisa menahannya.
Tok tok tok tok
“Mba, mba gapapa?”, tanya seorang petugas kebersihan di toilet wanita.
“Iya mba, gapapa.”, sahut Dinda dari dalam.
Dia terus muntah meski tak banyak yang dia keluarkan karena memang rasa mual yang luar biasa dari perutnya yang mentriggernya begitu. Setelah dia rasa sudah mulai mendingan, Dinda mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. Dia memejamkan matanya sebentar, menekan - nekan bagian rahang bawahnya dengan lembut, sebelum akhirnya keluar dari toilet.
“Mba, yakin gapapa? Apa perlu kita panggilkan petugas kesehatan? Atau mau saya antar ke ruangan kesehatan?”
“Ga, gapapa mba. Saya hanya mual saja.”
“Hm.. maaf mba-nya lagi hamil, ya?”, tanya petugas itu.
“Iya, mba.”, jawab Dinda tersenyum.
“Oh.. ini, saya ada minyak kayu putih, mungkin bisa meredakan rasa mualnya. Mba cari tempat duduk saja, kasihan kayanya kecapekan.”, kata petugas itu memberikan minyak kayu putih yang dipegangnya pada Dinda.
Dinda merasa tidak enak namun petugas itu mengatakan tidak apa - apa. Untuk menghargainya, Dinda menerima pemberian petugas itu dan permisi keluar. Dia mencari tempat duduk yang sepi agar tidak terlalu membaur dengan yang lain dan mentrigger rasa mualnya lagi.
Dinda mengambil beberapa vitamin yang diresepkan padanya di dalam tas, lalu meminumnya. Dia juga mencoba mencium minyak kayu putih yang diberikan padanya dan benar, aroma terapi ini mampu membuatnya lebih rileks.
“Hm.. apa aku coba cari yang asem - asem juga ya? Tiba - tiba aku menginginkannya.”, Dinda berdiri dan mencari - cari di beberapa kios - kios makanan di pintu kedatangan. Setelah menanyakan ke beberapa tempat, Dinda akhirnya menemukan manisan mangga.
Dia merasa lega dan membelinya lalu kembali duduk untuk menikmati kudapan yang sulit ia temukan. Meski harganya luar biasa lebih mahal dari biasanya, tapi Dinda senang karena bisa melonggarkan rasa mual di perutnya.
Kring Kring Kring
Saat ia sedang nikmat menyantap manisan mangga yang sudah dibelinya, Arya menguhubungi ponsel Dinda.
“Halo, sayang. Kamu dimana? Aku sudah sampai dan sedang menuju pintu kedatangan.”, kata Arya di sambungan teleponnya.
“Hm? Sebentar.”, Dinda memasukkan manisan ke dalam tasnya dan berjalan menuju pintu kedatangan.
Ia mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan suaminya.
“Ketemu.”, jawab Arya dari sebrang telepon sebelum mematikannya.
Arya melihatnya sekilas saat Dinda masih celingak celinguk mencari kemana arah yang harus dia tuju. Begitu jarak antara mereka mulai tereliminasi, Arya langsung melepas pegangannya pada koper dan memeluk Dinda dari belakang.
Tak lupa, pria itu juga menyesap sedikit aroma gadis itu dari lehernya. Bagian yang sangat dia sukai dari Dinda. Sontak, tentu saja gadis itu terkejut karena dia sedang berada di bandara dan seseorang memeluknya dari belakang.
Namun, segera setelah dia bisa mencium aroma khas parfum dari tubuh Arya dan suara bariton miliknya, Dinda tersenyum dan membalikkan badannya. Senyumnya melebar saat Dinda melihat wajah pria itu. Seketika semua beban pikirannya selama seminggu ini memudar dan dia tak mengingatnya.
Setidaknya sesaat sebelum Dinda melihat Sarah berada lurus di belakang Arya namun dengan jarak yang lumayan jauh. Sepertinya wanita itu baru selesai menghabiskan kopinya di cafe yang tadi.
Dinda yang masih berada dalam pelukan Arya, dan kondisi Sarah yang berada jauh di belakang Arya dan tak terlihat oleh pria itu, membuat Dinda memberanikan diri untuk menatap tajam pada Sarah sebentar sebelum mencium leher Arya lembut.
Melalui tindakan itu, Dinda ingin menegaskan pada Sarah bahwa saat ini, yang dia tahu, dialah yang berada di dekapan Arya, bukan wanita itu.
*“Heh… brengsek.. Berani sekali wanita itu menyulut emosiku. Aku kira dia wanita kemaren sore yang bisa aku rendahkan dengan mudah. Ternyata aku memang terlalu meng-underestimate dirinya.”, ucap Sarah kesal melihat apa yang dia saksikan di depan matanya. *
“Fuh…”, Dinda menghela nafasnya berat. Sejujurnya ini adalah tindakan paling berani seumur hidupnya.
Dia sudah sering di bully di sekolah karena dianggap sudah merebut pacar seniornya. Tapi, tak sekalipun Dinda membalas mereka. Dia hanya menunduk dan membiarkan senior - seniornya itu menyalahkan, memarahi, dan memaki Dinda.
Saat itu, Dinda belum memiliki Bianca yang baru dia kenal saat kuliah. Sehingga Dinda harus berhadapan dengan pembully - pembully itu sendiri.
Tapi sekarang, entah keberanian dari mana. Apa hamil membuatnya lebih kuat dari biasanya secara mental?
“Hm.. tumben?”, kata Arya kaget saat Dinda mengecup lehernya.
Dinda hanya menggeleng.
“Segitu kangennya?”, Arya mulai dengan sikap sok coolnya.
Dinda taka menjawab dan memberikan ekspresi yang ambigu pada Arya.
“Hm? Baiklah.. Aku telpon pak Cecep dulu untuk bawa mobil kesini.”
Tak selang berapa lama, pak Cecep muncul dan memberikan kunci mobil pada Arya.
“Hm?”, Dinda melihat dengan bingung.
__ADS_1
“Den Arya mau drive berdua dengan non Dinda. Saya disuruh pulang.”, kata Pak Cecep cepat menangkap maksud pandangan Dinda yang terlihat bingung.
“Ini ya pak. Makasih pak Cecep.”, ujar Arya memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Pak Cecep.
“Gak kebanyakan ini Den. Ke rumah paling cuma 200 ribuan.”, kata Pak Cecep saat menerima 4 lembar uang 100 ribu.
“Sisanya buat jajan anak - anak di rumah, pak. Anggap aja denda karena saya baru bisa kasih oleh - olehnya besok. Daripada unboxing oleh - oleh, saya lebih pengen unboxing istri saya.”, kata Arya mengeluarkan lelucon yang membuat wajah Dinda memerah. Dia lantas langsung mencubit Arya di bagian perut saking malunya pada Pak Cecep.
“Jadi gak langsung pulang ke rumah, Den?”, kata Pak Cecep.
“Hm. Saya mau ke apartemen dulu. Besok baru ke rumah.”, balas Arya.
“Ya sudah kalau begitu saya permisi ya Den. Hati - hati.”
“Yuk sama2 Pak, hati - hati.”, kata Arya menggamit pinggang Dinda dan segera naik ke dalam mobil.
“Mas Arya gak bilang mau pulang ke apartemen.”
“Saya sudah menahan diri gak ketemu kamu 5 hari. Kamu mau saya bawa kamu ke rumah? Papa pasti akan bicara sampai tengah malam menanyakan proyek. Terus? Saya gak bisa dong berdua sama kamu.”
“Mas Arya demam ya?”, Dinda melekatkan tangannya ke kening Arya karena sikapnya yang dingin berubah 180 derajat dari biasanya.
“Apaan sih. Sehat kok. Ya udah masuk.”, kata Arya meminta Dinda untuk segera masuk ke dalam mobil sedangkan dirinya mengitari bagian depan untuk masuk ke bangku kemudi.
Arya segera menstarter mobil dan dia meletakkan kedua tangannya di kemudi. Saat itulah Dinda baru menyadari kalau telapak tangan Arya menggunakan perban.
“Mas Arya, tangannya kenapa?”, tanya Dinda segera setelah melihatnya.
Dia tak melihat tangan Arya tadi karena pria itu sudah terlanjur memeluknya dan memposisikan tangannya di belakang Dinda.
“Hmm.. gak kenapa - kenapa kok.”, jawab Arya masih mencoba denial.
“Gak kenapa - kenapa tapi diperban tebal seperti itu? Mas Arya memang gak pernah mau cerita tentang hal - hal seperti itu. Jadi mas Arya anggap aku ini apa?”, Dinda benar - benar sudah terlihat seperti tipikal ibu hamil yang moodnya swing swing secara tiba - tiba.
Baru saja dia masih tersenyum bahagia dan sumringah, sekarang hanya karena tidak di beritahu tentang luka di tangan Arya, dia langsung sedih.
“Eh.. eh.. Kamu kenapa nangis? Ah… Din.. bukan maksud aku .. seperti itu.. Din.. kamu..”, bahkan seorang Arya Pradana bisa dibuat speechless oleh sikap Dinda.
“Oke.. aku… aku cuma gak mau kamu khawatir. Kamu tenang dulu ya.. Iya iya aku jelasin. Jangan nangis. Masa baru ketemu kamu udah nangis. Sayang.. Aku jelasin - aku jelasin.”, kata Arya panik.
Tittttttt… tiiiiittttt
Mobil di belakangnya sudah memberikan klakson karena mobil Arya berhenti lama.
“Woi… disini bukan parkiran woy… mau ngetem, di parkiran sono…”, teriak mobil di belakangnya yang memberikan klakson.
“Wah.. ini orang ngajak ribut. Tinggal belok aja sih, ribet amat. Fuhh….”
“Bentar ya Din, aku jalan dulu. Sambil jalan aku jelasin.”, Arya tidak mau mencari keributan dan akhirnya melajukan mobilnya agar mobil dibelakangnya berhenti mengomel.
“Jadi.. hari kedua di Bangkok. Ada kejadian tidak terduga yang ceritanya panjaaaaang banget. Musti aku ceritain juga?”, tanya Arya.
Dinda mengangguk.
“Panjang ceritanya.”
“Ya udah mulai aja dulu.”, kata Dinda.
“Boleh ga ceritanya nanti sambil di ranjang aja?”, goda Arya sambil tersenyum.
“Ihh mas Arya.”
“Intinya, salah satu area yang masuk cakupan di tempati oleh para demonstran yang berpikir aku dan tim sebagai pihak yang bertanggung jawab. Bentrokan yang tak bisa dihindari terjadi dan ini hasilnya. Ponsel aku untuk urusan kantor, hilang dan untuk urusan pribadi rusak. Karena itu aku gak bisa telpon kamu beberapa hari.”
“Nah itu singkat ceritanya. Katanya panjang.”
“Jadi kamu ga mau tanya gimana lukanya?”, kata Arya
“Oh iya… gimana itu lukanya? Di tangan, seperti yang kamu lihat. Sisanya kamu bisa lihat pas di ranjang.”, goda Arya lagi.
“Apaan sih ranjang mulu… pikirannya ya.”, protes Dinda.
“Ih beneran, luka lainnya ada di bagian yang cuma bisa kamu lihat kalau aku buka baju. Atau mau aku buka baju sekarang?”
Dinda menyipitkan matanya dan menyorotkan dengan tajam ke arah Arya.
“Hahaha.”, Arya tertawa renyah melihat reaksi Dinda.
__ADS_1
Dia benar - benar merindukan interaksi ini selama sepekan. Respon - respon lucu Dinda pada setiap guyonannya. Ekspresi lugu dan polos gadis itu. Arya akui, dia merindukannya.