Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 163 Kenalin Istri saya


__ADS_3

Hari ini benar - benar sangat ramai dibandingkan dengan hari akhir pekan biasanya. Bahkan, begitu satu studio selesai menayangkan film, toilet langsung penuh dengan banyak orang. Dinda harus rela mengantri agar bisa masuk.


Beruntung dia lebih cepat datang. Jika terlambat sedikit saja, mungkin dia harus mencari alternatif toilet yang lain. Ada 5 orang sebelum Dinda dan parahnya ada 2 toilet rusak diantara 8 toilet yang tersedia. Hal ini memperlambat pergerakan orang yang mengantri.


Setelah menghabiskan waktu mengantri sekitar 15 menit, Dinda baru bisa mendapatkan giliran untuk masuk ke dalam. Setelah selesai dengan bisnisnya di toilet, Dinda segera kembali.


‘Wah, antriannya bisa sampai disini.’, ujar Dinda takjub ketika melihat beberapa antrian.


Sepertinya ada satu studio lagi yang baru saja selesai menayangkan film, sehingga jumlah orang yang ada di dalam toilet bukannya berkurang, malah semakin bertambah.


“Oh? Siapa wanita itu?”, ujar Dinda saat melihat seseorang berbicara dengan Arya.


Karena Dinda tidak mengenalnya, dia memilih untuk tidak menghampiri Arya terlebih dahulu dan hanya melihat dari tempat dia berdiri sekarang.


“Pak Arya! Benar Pak Arya, kan? Wah… apa kabar Pak?”, ujar seseorang menyapa Arya.


“Baik. Kamu apa kabar?”, jawab Arya singkat. Dia juga menambahkan pertanyaan basa - basi sambil sesekali melihat ke arah toilet namun masih belum melihat Dinda. Menoleh sedikit lebih ke kiri saja, Arya bisa melihat Dinda. Namun, beberapa kerumunan orang membuat Arya kesulitan melihatnya.


“Pak Arya nonton dengan siapa? Sepertinya tidak sendiri.”, ujar Jessica.


“Iya, saya nonton bersama istri saya. Kamu?”, tanya Arya.


Jessica sedikit kaget karena Arya langsung menjawab dengan santai pertanyaannya.


‘Huh! Ternyata benar kalau Pak Arya sudah menikah lagi pasca bercera dengan Mba Sarah. Aku jadi penasaran, seperti apa sih istrinya. Aku tidak bisa melihat foto profil picturenya di WhatsApp meski aku menyimpan nomornya.’, kata Jessica dalam hati.


“O-oh.. saya baru tahu kalau Pak Arya sudah menikah. Saya kira masih single.”, ujar Jessica.


Dari luar dia memang tampak biasa saja, namun di dalam dia merasa sedikit kesal. Menurut penilaiannya, Arya seperti memberikan jarak padanya. Padahal, Arya hanya bersikap biasa saja.


“Jadi, lagi nonton bareng istri ya, Pak?”


“Hn.”, jawab Arya singkat sambil mencari keberadaan Dinda.


Sekumpulan orang yang tadi berada di tengah sudah berlalu. Arya bisa dengan mudah menemukan Dinda dari kejauhan. Pria itu melambaikan tangannya seperti memanggil ke arah Dinda.


‘Oh? Mas Arya kenapa manggil aku? Wanita itu siapa ya? Apa tidak apa kalau aku mendekat?’, tanya Dinda.


‘Sini.’, seolah - olah itu yang diucapkan Arya melalui lambaian tangannya.


Arah pandangan Jessica pun secara refleks mengikuti arah lambaian dan pandangan Arya. Dia penasaran seperti apa wanita yang menjadi istri baru Arya.


Dinda berjalan perlahan mendekati Arya. Mau bagaimana lagi, pikirnya. Arya sudah memanggilnya terang - terangan. Tidak mungkin dia pergi. Begitu Dinda mendekat, Arya langsung menariknya lebih dekat lagi. Arya juga dengan santainya melingkarkan tangannya di pinggang Dinda.


“Kenalkan ini Dinda, istri saya. Din, ini Jessica, dia dulu MA di kantor, sama seperti Suci. Angkatan di atas Suci.”, ujar Arya memperkenalkan keduanya. Dinda terkejut mendengar nama wanita ini.


‘Jessica? Bukankah dia orang yang meneleponku tempo hari tetapi tidak mengatakan apapun?’, pikir Dinda dalam hati.


Dinda mengulurkan tangannya saat Jessica juga melakukan hal yang sama. Dinda tersenyum dan Jessica membalas senyumannya.


‘Cantik.’, tanpa Jessica sadari, itu kata yang keluar dari mulutnya saat melihat Dinda untuk pertama kalinya.

__ADS_1


‘Ada apa dengan Pak Arya? Kenapa tipe wanitanya jadi berubah drastis seperti ini? Sejak kapan dia menyukai wanita berhijab. Dengan melihat saja, aku bisa merasakan bagaimana personalitinya.’, pikir Jessica heran.


“Sepertinya teman kamu sudah mencari - cari. Itu teman kamu, kan?”, kata Arya saat melihat beberapa orang berdiri tidak jauh dari mereka. Jelas sekali kalau mereka menunggu Jessica.


“Ah, iya.”


“Okay, kita juga mau pulang sudah malam. Bye.”, kata Arya.


“Yuk sayang.”, ujar Arya menggenggam tangan Dinda sambil berlalu dari sana.


“Ehm.”, balas Dinda dengan anggukan.


*******


Arya dan Dinda melewatkan momen malam akhir pekan yang indah berdua. Mereka berbelanja bersama di supermarket, makan malam, sampai menonton di bioskop. Quality time yang jarang - jarang Dinda dan Arya dapatkan.


Di tempat lain, Sarah justru melewatkan akhir pekan yang menyebalkan. Dia menghubungi Dimas untuk sekedar bertemu dengannya dan makan bersama tapi pria itu mengaku sibuk. Kemudian, dia mencoba untuk menghubungi Dika mengajak hal yang sama. Dia juga penasaran kenapa waktu itu Dika tiba - tiba menanyakan tentang istri Arya. Tapi, sepertinya pria itu sedang sibuk dengan hal yang lain.


“Halo, Dim. Kamu lagi dimana?”, tanya Sarah tanpa basa - basi.


“Aku sedang di luar kota mempersiapkan opening cabang yang baru.”, jawab Dimas.


“Dimana?”, tanya Sarah lagi seolah tidak mempedulikan jawaban Dimas sebelumnya.


“Kenapa? Kamu ingin menyusulku? Jauh. Ya sudah, aku tutup dulu, ya. Bye.”, ujar Dimas.


“Ih.. kenapa dia memutuskan telepon begitu saja? Jauh, sejauh apa? Pria itu serius tidak sih mau mendekati Dinda. Kenapa dia justru sibuk dengan pekerjaannya. Dasar!.”, ujar Sarah marah - marah sendiri di apartemennya.


Selanjutnya, dia mencari nomor Dika. Dia tahu pria itu pasti sedang sendiri di akhir pekan. Meski dia sudah berkeluarga, tapi hubungannya dengan istrinya tidak begitu baik. Mereka jarang bahkan jarang bertemu.


“Hm? Istrinya? Huh, tumben sekali dia bersama dengan istrinya di akhir pekan? Tunggu, apa jangan - jangan dia bersama wanita lain lagi? Dasar Dika, satu wanita saja apa tidak cukup untuknya?”


********


“Kenapa kamu sering kesini? Sepertinya kita tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Aku senang bertemu denganmu lagi tapi bukan malah jadi bertemu rutin begini. Aku tidak enak dengan istrimu.”, ujar dr. Rima.


Dika seringkali datang ke rumah sakit tempat dia bekerja. Kadang malam setelah jam kantor atau akhir pekan seperti hari ini. Padahal, dr. Rima sengaja tidak memberitahukan jadwal jaganya pada Dika agar menghindari hal - hal seperti ini.


“Kamu menyogok karyawan rumah sakit? Kenapa bisa pas sekali bertemu denganku?”, kata dr. Rima.


“Hahaha.. Bagaimana kalau aku bilang, aku datang tiap hari? Ada waktu dimana aku tidak bertemu denganmu karena shift jagamu sudah berakhir. Dan hari ini kebetulan aku bisa bertemu denganmu lagi.”, jelas Dika.


“Kalau begitu, aku ingin kamu tidak mendatangiku lagi.”, ujar dr. Rima sambil berlalu melewati Dika.


Namun, Dika menangkap pergelangan tangan dr. Rima dan menariknya ke pelukannya.


“Dika! Kamu apa - apaan sih. Lepasin, gak? Kamu gila? Kita di rumah sakit.”, ujar dr. Rima terkejut, bingung, dan juga marah.


Mereka sedang ada di koridor rumah sakit. Area yang memang lumayan sepi. dr. Rima baru saja menyelesaikan prakteknya sekitar 10 menit yang lalu. Biasanya hari biasa, koridor ini akan penuh, tapi kalau sudah malam, jarang yang melewati koridor ini.


Dika akhirnya melepaskan pelukannya. Dan satu tamparan melayang di pipinya.

__ADS_1


“Aku harap kamu tidak datang kesini lagi.”, kata dr. Rima dan kali ini benar - benar berlalu dari pandangan Dika.


“Rim, aku minta maaf. Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan kita.”, sore itu, Dika menghancurkan segalanya dalam hidup Rima. 


Hari itu adalah hari pengumuman bahwa dia diterima di sebuah universitas kedokteran ternama. Rima, gadis itu hanya memiliki ibunya dan merupakan anak satu - satunya. Hari dimana Rima bisa memberikan kabar terbaik untuk ibunya, justru memberikan kabar buruk. 


Dia hamil. 


Tak berapa lama setelah Dika memutuskan hubungan mereka dan pergi, Rima pingsan. Beberapa orang di sekitar sana membawanya ke rumah sakit terdekat. Ibunya datang setelah dihubungi oleh pihak rumah sakit. 


Saat itu, Rima masih membawa form registrasi dimana ada nama kontak ibunya. Seharusnya hari itu menjadi hari paling bahagia untuk ibunya karena Rima berhasil lulus di universitas kedokteran ternama. Tapi, saat dokter mengabarkan bahwa anaknya hamil, kelulusan, atau apapun itu tidak berarti apa - apa untuk ibunya. 


Anaknya hamil. 


Anak perempuan satu - satunya yang dia perjuangkan dan banggakan selama ini, Hamil di luar nikah. 


Runtuh sudah semua harapan yang dia pegang. 


Rima dan ibunya harus pindah rumah karena malu. 


Rima harus melewati masa kuliahnya sambil mengandung. Rima harus mendapat cercaan dari orang di sekitarnya, dan teman - teman kampusnya. Bahkan dia sempat mendapatkan kesulitan dari beberapa dosen yang sentimen tentang dirinya. Besar perjuangan wanita itu untuk sampai di titik ini. 


Dia tidak mau kembali pada kesalahan yang sama. 


Dika tak tahu apa - apa tentang kehamilannya. 


Dia juga tidak boleh tahu apa - apa tentang DENI, puteranya. 


********


‘Jessica? Apa benar dia yang menghubungiku waktu itu? Aku kasih tahu ke mas Arya tidak, ya?’, Dinda masih memikirkan perkenalannya tadi dengan orang bernama ‘Jessica’.


“Dinda!”, Arya menarik Dinda segera setelah gadis itu blank dan berdiri di area berbahaya di tempat parkiran. Sebuah mobil yang melaju kencang hampir saja mengenainya.


“Kamu mikirin apa sih? Itu mobilnya hampir menyerempet kamu, Din!”, teriak Arya marah.


“Oh?”, Dinda baru tersadar dari lamunannya.


“Kamu mikirin apa? Hah… kamu ya.. Bikin khawatir tahu ga, kalau ditinggal sendiri.”, ujar Arya menghela nafasnya.


“Maaf, maaf mas Arya. Maaf.”, Dinda meminta maaf bahkan sambil memeluk Arya dan mengusap punggungnya agar kemarahan pria itu hilang.


“Kamu lagi mikirin apa sih? Tadi kayanya biasa aja kamu. Kenapa?”, tanya Arya.


Dinda menggeleng.


“Ya udah masuk dulu. Sudah malam. Kita balik, ya? Atau masih mau jalan - jalan?”, ujar Arya.


“Enggak, udah.”, jawab Dinda.


Ya sudah kalau begitu. Kita drop beberapa buah yang tadi ke Bunda, ya. Abis itu kita pulang.”, ujar Arya.

__ADS_1


Dinda mengangguk.


********


__ADS_2