Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 41 Hari Terakhir Bulan Madu


__ADS_3

“Buat apa sih beli barang begini?”, kata Arya dengan ekspresi kesal.


“Ini bagus mas. Khas dari sini. Kesannya sentimental banget.”, Dinda masih tersenyum memegang dua buah botol berisi pasir.


“Din, kalau kamu mau beli botol isinya pasir, depan rumah banyak. Tinggal beli online botolnya, terus kamu kasih aja pasir depan rumah.”


“Pasirnya kan beda mas. Di dalam botol ini adalah pasir pantai Maldives. Tempat bulan madu kit….”, Dinda agak kikuk mengucapkan kalimat terakhir.


“Tempat bulan madu kita? Kenapa ga diterusin kalimatnya?”, tanya Arya masih sambil memilih - milih barang yang lain.


“Gapapa. Pokoknya nanti di dalam sini, kita masukin foto yang waktu itu kita menyelam sama yang terakhir di pantai. Kan jadi lucu, mas.”, Dinda tersenyum.


“Ya sudah bayar sana. Masih banyak pesanan oleh - oleh orang serumah yang harus dibeli.”, ujar Arya mengingatkan seabrek pesanan lagi yang harus mereka cari.


Arya sampai bingung. Orang rumah mendukung mereka bulan madu atau malah menjadikan mereka jastip saja.


“Wah baju ini lucu, mau beli buat orang di rumah.”, Dinda kembali riang melihat barang - barang lainnya.


"Baju ini gak mau, Din?", tanya Arya menunjuk sebuah baju seksi yang ada diantara beberapa baju pantai lainnya.


"Ih apaan sih?", Dinda langsung menghindar pergi.


"Yakin ga mau? Aku beli 10 nih.", ujar Arya kembali menggodanya.


Waktu siang itu mereka habiskan untuk belanja oleh - oleh. Kebanyakan adalah untuk orang rumah seperti mama, papa, mba Andin, dan lainnya. Tidak sedikit juga saudara yang mendapat bocoran perihal bulan madu Arya yang minta dibawakan oleh - oleh.


Tentu saja semua ditolak oleh Arya karena mereka akan dianggap mengimpor barang kalau beli oleh - olehnya berkoper - koper.


Sore itu, mereka juga menghabiskan waktu untuk mencoba makanan - makanan khas Maldives yang kaya akan makanan laut.


Meski sebelumnya sudah pernah melihat Arya makan makanan laut, tapi Dinda baru tahu kalau Arya ternyata sefanatik itu dengan makanan laut.


Arya rela harus pergi jauh - jauh ke Ithaa Undersea Restaurant hanya untuk menikmati makanan sambil ditemani hewan - hewan laut. Tapi tak dipungkiri, Dinda juga langsung jatuh cinta dengan tempat ini.


“Wahh keren banget sih. Ternyata ada ya, tempat makan yang sekeren ini. Mana pilihan menunya banyak banget.”


“Lobster, scallops itu apa mas Arya?” , Dinda tak henti - hentinya bertanya.


“Kerang.”


“Hamachi? Wah.. ini di dalamnya ada lobster yang namanya beda - beda. Beetroot.. Bingung mau makan apa. Saya ikut mas Arya aja.”


“Dari tadi waiternya nungguin kamu pesan, endingnya cuma disamain sama punya saya. Kamu coba pesan yang menurut kamu paling asing, deh.”


“Semuanya asing.”


“Ya udah, coba saya pesankan buat kamu.”, Arya langsung menyebutkan dua menu. Dia tersenyum ke arah Dinda yang sekarang sibuk foto - foto.


Akhirnya Arya mengikuti arah gadis itu pergi. Arya meletakkan dagunya di bahu Dinda yang mencoba merekam suasana restoran dan ikan dengan instagram di ponselnya. Karena kaget, Dinda tak sengaja menekan post.


“Pak Arya… mengagetkan saja.”

__ADS_1


“Sini kita foto berdua.”, Arya mengambil ponsel Dinda dan menutup laman instagram gadis itu. Dia lantas mencari aplikasi kamera dan mengambil beberapa selca gambar mereka. Arya juga meminta waiters untuk memotret menggunakan kamera digital milik Arya.


“Mas Arya, jangan gitu. Malu.”


“Kok malu?”, Arya ternyata sudah memeluk Dinda dari belakang. Dengan aba - aba Arya, sang waiters pun mengambil beberapa shot gambar.


“Saya ini suami kamu. Kok malu?”


“Mas Arya aneh.”


“Aneh kenapa?”


“Aneh aja. Moodnya seperti roller coaster yang tiba - tiba di bawah, terus tiba - tiba di atas.”


Dinda merasa aneh dengan sikap mas Arya. Sepertinya baru seminggu yang lalu dia masih acuh tak acuh dan dingin padanya. Kadang membentak, kadang lembut, sekarang dia tiba - tiba romantis.


Dinda takut jika dia menyukai sikap romantis ini dan tidak mau lepas.


‘Kalau mas Arya terus romantis begini, bagaimana perasaanku jika tiba - tiba dia bersikap dingin lagi.’


“Kenapa?”, Arya sadar Dinda melamun dan beberapa kali memanggilnya.


“Din, makanannya sudah datang.”


Mereka menyantap hidangan laut yang luar biasa nikmat. Pemandangan, tata letak restoran yang rapi, membuat mood orang yang bersantap di sana menjadi bagus.


Arya beberapa kali tertawa karena Dinda tidak mengerti cara membuka dan memakan hidangan yang saat ini ada di mejanya. Dinda hanya membalas dengan senyuman.


****


“Hai Din..apa kabar? Sudah dua hari gak lihat kamu.”, Dinda kembali bertemu dengan Angel di ruangan spa.


Hari ini adalah hari terakhir mereka menikmati liburan di Maldives. Besok, Arya dan Dinda sudah harus kembali pulang ke Indonesia. Arya sedang keluar untuk kembali melakukan aktivitas diving yang kemarin tidak sempat dia lakukan.


Kali ini, Arya ingin melakukan wreck diving yaitu aktivitas diving dengan melihat area - area kapal tenggelam. Tempat diving biasanya ada di kedalaman. Dinda tidak bisa melakukan aktivitas ini karena dia tidak bisa berenang. Untuk scuba diving masih aman, tetapi tidak untuk wreck diving.


Bosan di kamar sendirian, Dinda akhirnya iseng mencoba voucher spa di hotel ini yang pastinya terkenal. Lumayan bisa memanjakan kulit. Tak disangka Dinda malah bertemu Angel.


“Baik kok, mba. Saya minta maaf atas sikap saya yang kemarin ya, mba. Saya ga ada maksud.”, Dinda merasa tidak enak karena sudah ketus tempo hari.


“Gapapa kok, santai aja.”, balas Angel. Dia juga ingin spa di tempat yang sama.


“Kapan balik?”, tanya Angel.


“Besok mba, penerbangan sore.”, Angel mengangguk menanggapi jawaban Dinda.


“Ooh.. Eh Din.. kamu itu dijodohin ya?”


“Huh? Kenapa bertanya begitu mba?”, Dinda bingung dengan pertanyaan Angel yang terlalu spontan.


“Engga, kemaren Anton cerita. Katanya Arya sempat emosi sama dia waktu aktivitas scuba. Makanya kita menyelam dengan menggunakan kapal yang berbeda.”

__ADS_1


“...”, Dinda masih mencoba mencerna kalimat Dinda.


“Anton cuma bercanda bilang kalau kamu bukan tipe Arya banget. Dia bingung kenapa Arya bisa menikah dengan kamu. Tapi, Arya malah sensi dan mereka terlibat perseteruan.”


“Kenapa pacar mba bisa mengira begitu?”, Dinda tambah bingung.


Angel tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Dinda, “Kalau boleh jujur, sebenarnya saya juga bingung. Sepengetahuan saya, tipe Arya itu ya..yang seperti Sarah. Maaf kalau kamu tersinggung. Tapi, diantara kami pembicaraan seperti itu biasa, kok. ”


“Saya jadi penasaran, memangnya seperti apa mba Sarah?”


“Kamu belum pernah liat Sarah sama sekali?”


Dinda tak ingin mengatakan bahwa ia sudah pernah melihat wanita itu. Apalagi harus mengatakan jika dia pernah melihat wanita itu lewat foto pernikahan yang masih tergantung rapi di kamar apartemen Arya.


“Saya takut salah bicara lagi dan malah menyinggung perasaan kamu. Jadi lebih baik kita bicara hal lain aja, ya.”


“Saya penasaran, bagaimana sebenarnya wanita bernama Sarah itu?”, tanya Dinda sekali lagi pada Angel.


Awalnya Angel enggan berbicara. Beberapa kali ia menolak. Namun karena Dinda terus menanyakannya, Angel tak punya pilihan lain. Menurut pendapatnya, Dinda juga harus mengetahuinya.


“Saya percaya pasti banyak orang yang mengatakan bahwa kamu itu cantik, Din. Ya.. menurut saya kamu memang cantik. Tapi, Sarah lebih dari sekedar cantik. Dia cerdas, seksi, berwibawa, dan auranya bisa membuat wanita - wanita disekitarnya tidak percaya diri, termasuk saya.”


“Dan Arya, saya yakin kamu mengenalnya lebih dari saya karena kalian sudah bersama sekarang. Selain tampan, Arya memiliki kepribadian, cara berbicara, kecerdasan yang diinginkan oleh wanita seperti Sarah. Bayangkan, dua orang dengan aura dan kharisma yang kuat bersatu. Mereka adalah pasangan ideal.”, lanjut Angel.


“Saya tidak mengetahui pasti karena hanya mendengar dari Anton saja. Tapi, Arya bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta. Tetapi, Sarah bisa dengan mudah menaklukan pria itu. Mereka sudah berhubungan lama, bahkan sejak masih kuliah di Stanford. Arya melanjutkan studinya di MIT karena itu adalah impiannya dan orang tuanya. Tapi, dia berhenti dan malah melanjutkan lagi di Stanford, tempat yang sama dengan Sarah.”


“Asal kamu tahu aja Dulu, saya dan Anton terjebak lama dalam friendzone. Namun, sejak Sarah dan Arya jadian, saya punya kesempatan untuk menjadi lebih dari itu dengan Anton.”, Angel mengingat - ingat hubungan pertamanya dengan Anton.


“Iya, kamu benar. Saya sudah lama suka dengan Anton, tapi saya tidak tahu, kalau Anton juga sudah lama suka dengan Sarah. Sekarang, saya harus puas diri meski hanya sebatas friends for benefit dengan Anton. Setidaknya, saya bisa berada dengan orang yang saya cintai.”, Angel menatap Dinda nanar. Dia mengasihani dirinya sendiri.


Awalnya Dinda mengira Angel itu menyebalkan karena terkesan meremehkannya. Tapi, sepertinya Angel hanya melihat bahwa dirinya yang dulu persis seperti posisi Dinda saat ini.


“Kenapa mbak Angel bisa bertahan dengan hubungan seperti itu? Apa mba Angel bahagia?”, Dinda memberanikan diri untuk bertanya.


“Dulu iya, tapi sekarang entahlah.”


“Apa mba Angel tahu kenapa mas Arya dan mba Sarah bercerai?”, tanya Dinda hati - hati.


Dia tahu bahwa dia sudah salah menanyakan hal ini pada orang yang baru saja ditemui. Seharusnya Dinda bersabar dan mendengar jawabannya langsung dari Arya.


Tetapi, ini satu - satunya cara supaya Dinda bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Arya dan mantan istrinya. Dinda harus bisa segera memutuskan, menjalani pernikahan ini atau mencari jalan lain.


“Maaf Din, saya juga nggak tahu. Saya terima informasi itu dari Anton. Awalnya saya takut, Anton akan kembali mengejar Sarah. Tapi, Anton pernah bilang sama saya bahwa mungkin saja retaknya hubungan mereka ada hubungannya dengan Dimas.”


“Dimas?”


“Iya, Anton, Sarah, Arya, dan Dimas, mereka sahabat dekat di Stanford. Saya tidak tahu detail ceritanya, tetapi mereka sudah berteman sejak semester awal perkuliahan. Yang saya dengar dari Anton, Dimas menghilang tidak lama setelah kelulusan. Sarah dan Anton tetap lanjut di Stanford, tapi Arya lanjut di MIT. Selebihnya saya tidak tahu. Saya sudah jarang pergi dengan mereka, begitu juga Anton. Mungkin lima tahun setelahnya, Arya dan Sarah menikah dan kembali ke Indonesia.”


‘Mungkinkah perceraian mereka ada hubungannya dengan pria bernama Dimas?’


****

__ADS_1


__ADS_2