Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 81 Dinda, Si Penakut


__ADS_3

“Vilanya ini mas Arya? Gak salah?”, komentar Dinda begitu ia dan Arya sampai di villa tersebut.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat. Ada kemacetan tak terduga akibat perbaikan jalan karena ada hujan deras yang mengakibatkan mereka harus menghabiskan waktu ekstra di perjalanan.


Begitu sampai, Dinda langsung bergidik karena villa yang dia lihat berbeda jauh dari yang ada dipikirannya. Dia kira villa ini seperti penginapan yang biasa dia dan teman - temannya datangi. Meskipun letaknya di puncak, tapi masih ramai. Sedangkan villa ini, seperti sepi.


Pinggirnya juga hutan dan sejauh mata memandang tidak ada rumah - rumah lain disana. Dinda tadinya masih tertidur, sehingga tidak terlalu memperhatikan jalanan ke sini. Tapi begitu suara burung hantu terdengar, Dinda langsung terjaga dari tidurnya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah gerbang Villa yang sudah berkarat. Di bagian tengah ada bentuk hati dan tulisan yang sudah tidak terbaca.


Dinda tidak begitu melihat kiri kanan tetapi tidak ada cahaya selain lampu jalan yang berarti tidak ada perumahan di dekat sana.


“Mas Arya.”, Dinda langsung memegang lengan Arya yang masih fokus pada kemudi karena mereka baru saja ingin parkir.


“Kenapa?”, balas Arya datar.


“Katanya Villa buat lamaran, kenapa jadi villa buat uji nyali begini sih? Mana mau jam 12 lagi. Mas Arya jangan jauh - jauh ya.”


“Ini karena masih malam aja. Besok juga kalau kamu bangun, pasti indah banget disini. Berasa seperti di Eropa. Ini lampunya sengaja gak dinyalain semua biar hemat listrik soalnya gak semua pake listrik. Sebagian masih pakai genset.”, ujar Arya.


“Kok bisa begitu?”, Dinda masih berusaha tenang dengan melihat sekelilingnya. Tangannya tidak sekalipun dia lepas dari lengan Arya.


“Tangannya boleh gak di lepasin sedikit. Ini saya mau parkir susah loh.”


“Ini kita aja yang disini?”, tanya Dinda.


“Ada yang lain. Memangnya kita mau ke acara lamaran siapa kalo gak ada orang?”, balas Arya.


“Tapi kenapa tidak ada orang sama sekali? Seperti cuma kita berdua saja.”


“Malam ini sepertinya iya. Yang lain kayaknya baru datang besok.”, ujar Arya.


“Kok gitu?”


“Bercanda… yang lain kayaknya udah pada datang juga, cuma masih di perjalanan. Atau ada yang sudah sampai duluan dan sudah di kamarnya masing - masing.”, jawab Arya. Mendadak dia jadi gemas melihat Dinda yang mukanya sudah sangat pucat.


Dinda tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan menghabiskan waktu dua hari di tempat yang menyeramkan seperti ini.


‘Kenapa lamarannya harus pakai konsep gothic seperti ini sih?’, celetuk Dinda dalam hati. Entah dari mana dia mendapatkan ide kalau lamaran Reza akan mengusung konsep gothic.


“Mas Arya, kita tidurnya sekamar kan?”, tiba - tiba muncul pertanyaan bodoh dari Dinda yang dia sendiri tidak sadar karena sudah terlampau takut.


“Hahaha… gak, kamu tidurnya sama tukang jaga Villa disana.”, ujar Arya asal.


“Ehhh?”, Dinda langsung panik.


“Ya iya lah Dinda. Kamu lupa, kalau kamu itu istri saya?”, Akhirnya Arya berhasil memarkirkan mobilnya dekat dengan salah satu rumah villa yang akan mereka tempati.


“Iya.. tiba - tiba lupa mas.”, jawab Dinda semakin ngaco. Sepertinya kepalanya sudah dipenuhi oleh berbagai pikiran negatif karena sudah parno.


Villa disini terdiri dari villa utama dimana yang pasti keluarga tante Indah yang inti pasti akan ada di sana semua. Selain itu, ada rumah - rumah villa kecil yang mengusung tema rumah - rumah tradisional dengan atap dinding dan atap jerami. Tentu saja, ini hanyalah dekorasi semata.


Bagian dalam rumah tetap terbuat dari batu yang bisa memberikan kehangatan orang di dalamnya. Sedangkan bagian luar diberikan jerami sebagai tema.


“Mas Arya mau kemana?”, Dinda panik saat Arya keluar dari mobilnya.


“Kamu mau tidur di mobil? Hayuk.. Turun.. Kita bawa koper dulu. Yang lain biar besok pagi aja. Beberapa makanan sudah dimasukkan termos kan? Kata mama kayaknya gapapa kalau dikeluarkan besok pagi.”, ujar Arya sambil mengeluarkan satu koper lumayan besar yang berisi baju - baju mereka.


“Kamu bawain tas saya yang itu ya, sama laptop. Kayanya besok saya ada meeting sebentar. Charger sama ponsel kamu jangan lupa.”, lanjut Arya lagi.


Dinda menuruti semua perintah Arya. Dia membawa tas berisi perlengkapan kerja Arya dan juga memastikan tidak ada charger, ponsel, atau barang penting yang tertinggal karena Arya pasti akan menyuruhnya mengambilnya sendiri disini.

__ADS_1


“Jalan duluan, kan kamu takut katanya.”, ujar Arya dari belakang.


“Mau bareng aja jalannya. Nanti kalau saya jalan duluan, terus sewaktu saya lihat di belakang ga ada mas Arya, gimana?”


“Kalau dari dulu saya tahu kamu itu penakut. Mungkin sudah saya bully kamu, Dinda. Kayanya di Hawai kamu biasa saja. Kan disana juga sepi.”, tanya Arya heran.


“Tapi kan disana suasananya jelas berbeda mas. Banyak lampu - lampu, terus kita di laut.”, balas Dinda.


Arya hanya bisa tersenyum. Tanpa sadar, dia terkagum pada tingkah Dinda yang menggemaskan.


*****


Akhirnya, Arya bisa merebahkan badannya di atas kasur dengan tenang setelah drama Dinda yang sudah berepisode - episode. Gadis itu sekarang sedang memasukkan beberapa pakain ke dalam lemari.


“Ternyata, walaupun bagian luarnya sedikit menyeramkan, tetapi bagian dalamnya bagus.”, celetuk Dinda pelan sambil memasukkan satu per satu baju ke dalam lemari.


“Loh, kok ada ini?”, ujar Dinda bingung.


“Kenapa lagi?”, kata Arya bermaksud ingin menghampiri Dinda. Sebenarnya dia hanya ingin mengambil teh panas yang diberikan oleh penjaga Villa beberapa menit yang lalu di atas meja. Namun, pertanyaan Dinda membuat dia penasaran.


“Hahahah.. Enggak.”, jawab Dinda sangat canggung. Tampak gadis itu sedang memegang sesuatu di balik tangannya.


“Apa yang kamu sembunyikan?”, tanya Arya lagi. Pria itu ingin mengambil sesuatu yang coba disembunyikan Dinda di belakang punggungnya.


Posisi Dinda saat itu sedang berdiri di samping sofa. Arya memaksa untuk melihat dan Dinda terus berusaha untuk menyembunyikan. Dinda terus mundur dan tak sengaja menginjak pasta gigi yang terjatuh di bawah lantai.


Dinda terpeleset, namun Dinda justru spontan menarik handuk kimono yang Arya kenakan. Kejadiannya begitu cepat, Dinda yang sadar dirinya akan terjatuh segera melepaskan apapun itu yang sedang dia pegang dan menarik Arya.


Mereka terjatuh di atas sebuah sofa yang tidak terlalu tinggi. Tipikal sofa santai di depan televisi ala - ala Villa yang lumayan rendah dan lebar. Dinda berada di posisi bawah karena dia yang terjatuh lebih dulu.


Wajah Dinda dan Arya saling berhadapan. Beberapa titik - titik air bekas keramas Arya jatuh di atas kepala Dinda. Namun, keduanya seperti tidak menggubris hal itu. Arya bisa dengan jelas merasakan detak jantung Dinda yang begitu cepat. Begitu pula sebaliknya, Dinda juga bisa mendengarkan detak jantung Arya.


Dinda juga ikut tersadar setelah mendengar Arya berdehem. Dia menelan air ludahnya dan berusaha untuk kembali berkonsentrasi.


Sebenarnya, jika mengikuti kata hati, Arya ingin sekali mencium bibir ranum Dinda dan menyesap aroma tubuhnya. Namun, Arya mencoba dan berusaha sekeras mungkin untuk mengendalikan dirinya.


“Kenapa kamu jatuh sambil ajak - ajak orang segala sih?”, protes Arya.


“Ya.. refleks.”, jawab Dinda. Dia sudah bangun dan duduk di sofa sambil pura - pura merapikan rambutnya yang ia gerai begitu saja.


Arya segera mengedarkan pandangannya pada onggokan baju di samping sofa yang tadi dijatuhkan Dinda begitu saja.


‘Mama ada - ada aja. Selalu tidak mau ketinggalan meletakkan lingerie ini di koper.’, ujar Arya dalam hati.


“Masih gak mau mengaku kalau kamu ingin menggoda saya?”, tanya Arya sambil mengambil onggokan lingerie yang terjatuh tadi. Meski dia sudah menduga ini adalah titipan Inggit, tapi Arya masih ingin menggoda Dinda.


“Mama yang masukin mas. Bukan saya.”, ujar Dinda.


“Jadi, kamu mau bilang kalau kamu memang gak berniat menggoda saya? Terus tadi apa. Jelas - jelas kamu menarik handuk kimono saya sampai terbuka.”


“Tapi kan itu insiden. Kecelakaan.”, jawab Dinda sambil berdiri meninggalkan Arya. Dia ingin ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sekarang giliran Dinda.


Meski malam semakin larut, tetapi dia tidak ingin tidur dalam kondisi belum bebersih. Arya justru menarik lengan Dinda.


Arya hanya tertawa. Dia kembali ke kasurnya untuk membuka beberapa email yang dia biarkan sejak tadi sore.


Cling Cling. Notifikasi ponsel Arya berbunyi.


Dari: Fam Bawel 

__ADS_1


Mas Arya udah nyampe villa beloom?


Dari: Mas Arya 


Udah.. kamu nginep di sebelah mana?


Dari: Fam Bawel


Beloom nyampe hahahaha.. Kayanya besok belom bisa liat sunrise deh. 


Ban kita kempes di jalan tol hahahahaha


Dari: Mas Arya 


Hahahahaha.. Sama siapa? Harusnya kamu udah disini, kan yang punya hajat.



Dari: Fam Bawel


Sama Dito hahahaha kacau


Arya hanya bisa geleng - geleng kepala. Fams adalah anak tante Indah yang notabene adik Reza (sepupu yang mau lamaran). Tetapi, alih - alih pergi bersama keluarganya, dia malah berangkat bersama Dito. Akhirnya, karena penasaran, Arya memutuskan untuk menelepon Fams.


“Kenapa kamu?”, tanya Arya dengan nada lembut tetapi sudah ingin menahan tawanya. Diantara semua sepupu, Arya memang lebih dekat dengan Fams dan Dito.


“Aku lagi marahan sama Reza. Jadi, berangkatnya bareng Dito. Hahaha.. Dito gak periksa ban mobil dulu, main jalan - jalan aja.”, jelas Fams dengan nada setengah bercanda. Dia memang paling santai dalam segala situasi. Bahkan terjebak dengan kondisi ban bocor tengah malam di jalan tol sekalipun.


“Eh itu kalian gak bahaya apa. Udah coba hubungi pihak bengkelnya belum? Tukang derek atau siapa. Ini kalian di tol mana? Kalau sudah dekat, mas bisa jemput.”, ujar Arya pada Fams.


“Dito telepon Edo. Dia baru mau masuk tol ini, jadi kita bareng dia aja, mas.”


“Ooh.. ya sudah. Hati - hati yaa.”, ujar Arya sambil menutup ponselnya.


“Siapa mas?”, tanya Dinda yang baru keluar dari kamar mandi.


“Oh? Emm.. Fams.”, ujar Arya sambil menelan ludahnya. Beberapa hari ini dia sulit untuk berkonsentrasi jika sudah melihat Dinda mengenakan gaun malamnya.


“Ya udah.. Besok mau lihat sunrise, kan? Lebih baik kamu tidur sekarang.


“Mas Arya?”


“Saya mau cek email dulu. Setelah itu langsung tidur.”


“Baiklah kalau begitu.”, jawab Dinda sambil masuk ke dalam selimut tebal berwarna coklat.


“Uuhhh dingin banget, enak deh.”, ujar Dinda.


“Biasanya kamu gak suka dingin.”


“Kalau yang natural enak mas. Bukan AC.”, balas Dinda pada Arya.


Tak lama, Dinda segera memejamkan matanya dan terlelap hanya dalam hitungan menit. Arya masih lanjut bekerja sampai pukul 2 pagi, sebelum menutup laptopnya dan masuk ke dalam selimut. Ia memiringkan tubuhnya ke arah Dinda.


Arya menyeka beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis itu dan memandangnya lamat.


‘Apa sebesar itu kesan buruk yang aku berikan padanya di hotel waktu itu?’, tanya Arya dalam hati.


Arya jelas menyadari bahasa tubuh Dinda yang beberapa kali menghindarinya saat Arya memulai skinship yang lebih intens. Dinda memang nyaman berada di samping Arya untuk sekedar memeluk dan menerima ciuman dari pria itu. Tetapi, setiap kali Arya ingin berbuat lebih, bahasa tubuh Dinda jelas menolaknya.

__ADS_1


Arya mencium kening Dinda sebelum mulai masuk ke dunia mimpi dan beristirahat dari hiruk pikuk dunia kerja yang memusingkan kepalanya.


__ADS_2