Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 76 Profesionalitas Seorang Arya Pradana


__ADS_3

“Good Morning! Pagi!.”, Arya menyapa satu persatu orang yang menyapanya di perjalanan menuju lift untuk naik ke lantai ruang kerjanya.


Tidak seperti biasanya, Arya memang datang sedikit terlambat hari ini. Sehingga, saat dia datang, banyak karyawan yang sudah datang lebih dulu dan menyapanya. Biasanya, Arya selalu datang 15 - 30 menit sebelum jadwal masuk kantor dan jarang sekali berpapasan dengan bawahannya.


Hari ini, Arya sengaja karena dia merasa berhak untuk terlambat. Kemarin, dia menghadiri banyak meeting seperti robot.


“Pagi, Pak Arya.”, Erick menyapa bersama beberapa orang manager finance yang juga baru datang.


Arya hanya tersenyum melihat Erick yang sedang asyik berdiskusi dengan dua orang manager finance. Sepertinya mereka membicarakan anggaran untuk pengembangan software baru di tim Digital.


“Oh tidak.. Bisa - bisanya aku melupakan itu.”, ujar Arya meracau sendiri.


“Kenapa?”, tanya Erick yang mendengarnya.


“Aku meninggalkan ponsel di mobil. Pantas dari tadi ada yang rasanya hilang. Naik saja dulu. Oiya pak Angga, minta tolong untuk info ke pak Danu kalau meeting dengan Finance besok ganti jam, ya.”, ujar Arya pada seorang manager finance bernama Angga.


Orang yang diperintah mengangguk dan mengiyakan perintah Arya. Selanjutnya, dengan langkah yang berat, Arya berbelok menuju parkiran di basement. Ketinggalan ponsel sama saja meninggalkan seperempat otaknya. Klien akan menghubunginya melalui ponsel itu. Di saku celana Arya sekarang, dia hanya membawa ponsel pribadinya saja.


Parkiran pagi itu lumayan ramai, Arya harus berhati - hati saat berjalan. Beruntung, tempat dia memarkirkan mobil tidak jauh. Arya menekan tombol kunci mobilnya dan sebuah mobil berwarna putih berbunyi.


Arya membuka pintu dan mencari - cari ponselnya.


“Ah.. Dinda juga meninggalkan ponselnya di mobil. Dia pasti kebingungan mencari ponselnya. Ya sudah, diambil dulu saja.”, ujar Arya sambil mengambil ponsel miliknya dan juga milik Dinda lalu memasukkannya ke dalam tas kantor miliknya.


Arya menutup mobil dan menguncinya kembali. Di perjalanan menuju lift yang membawanya ke lobi, Arya melihat Dimas. Orang yang paling dia hindari sejak insiden lebih dari dua pekan yang lalu.


Tak mengatakan apapun, Arya memilih untuk berlalu dengan santai. Lift sebelumnya sudah penuh dan dia harus menunggu lift selanjutnya yang sepertinya masih lama. Ada 3 lift disana, namun 2 lift sedang ada pengecekan reguler. Hanya 1 lift yang beroperasi hari ini. Dia harus rela menunggu lift bersama Dimas. Tidak ada orang lain karena semuanya sudah naik ke lift yang barusan.


Arya masih tetap stay cool dan menganggap Dimas orang lain yang tidak dia kenal. Jangankan menyapa, melirik pun tidak.


“Aku menerima pukulan kemarin dengan suka rela. Aku sadar aku berhak menerimanya. Tapi, jangan terlalu keras pada Sarah. Dia tidak salah.”, kalimat mematikan pertama yang dikeluarkan oleh Dimas. Arya mengacuhkannya seolah tak mendengarkan apapun.


“Jika kamu butuh penjelasan. Aku bisa memberikan sebanyak apapun yang kamu mau. Semua tidak sekejam yang kamu pikirkan.”, ujar Dimas.


“Aku sudah tidak menganggap kalian berdua. I’ve my own life. An expensive one which I need to protect. I’ll not make a scene about what happened. I buried it long ago.”, ucap Arya tegas.


“What is your relationship with her?”, setelah lama berpikir dan mencari tahu, Dimas akhirnya memilih untuk menanyakannya langsung.


“We’re divorced.”, jawab Arya singkat dan penuh penekanan.


“Not Sarah. But the girl I saw on the Shopping Mall few weeks back with you. Dinda.”


“Bukan urusanmu. Dan satu lagi. Menjauh darinya!.”, Arya segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol tutup.


“You’ll take another one.”, lanjut Arya lagi sebelum pintu lift benar - benar tertutup.


*****


Selasa pagi yang masih sama sibuknya dengan hari senin untuk semua orang di kantor ini. Dinda perlahan masuk ke lobby kantor. Dia mengintip ke kiri dan ke kanan. Meski dia tidak salah, tapi tetap saja dia merasa deg - deg-an dan takut bertemu dengan rekan se-kantornya.


Sampai saat ini pun, Dinda belum tahu bagaimana harus mengambil sikap. Dinda segera berjalan ke arah lift dengan cepat karena dia tidak melihat keberadaan yang lain. Dinda bernafas lega. Dia menekan tombol lantai divisinya dan menunggu lift dengan tenang. Setidaknya sebelum kehadiran dua orang di belakangnya.


“Morning, Dinda!”, Bryan dan Fas sudah ada di belakangnya. Sepertinya mereka baru saja datang dari arah parkiran.


“Hai… pa-pagi.”, balas Dinda dengan nada kikuk.

__ADS_1


“Santai aja, Din. Kita ga masalah, kok. Yang lain gak tahu, tapi aku dan Bryan totally understand kenapa kamu gak mau ikutan. Mereka juga agak keterlaluan sih, kenapa tidak memberitahu kamu sebelumnya kalau tempatnya ganti.”, ujar Bryan pada Dinda.


“Emm… baik banget kamu Bryan.”, ujar Dinda dengan nada menggemaskan. Fas tersenyum disamping Bryan sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Sejujurnya kita kaget kenapa kamu tiba - tiba pergi. Trus lewat pintu masuk kendaraan lagi. Haha…”, Fas tertawa kecil saat mengingat apa yang dia lihat tadi malam.


“Ya.. meski ada hal yang sedikit mengejutkan, tetapi kita gak apa - apa, kok. Lagian itu hak kamu juga dan kamu memang tidak diberitahu di awal. Kalau kamu tahu, kamu pasti akan menolak baik - baik.”, ujar Bryan.


Bryan tidak menyebutkan detail informasi yang disampaikan Suci padanya agar persoalan tidak semakin runyam. Setelah dia cerna baik - baik sepulang dari klub, dia berpikir kalaupun Dinda adalah tipikal wanita seperti itu, Suci tidak berhak mengatakan itu pada semua orang (bergosip).


Dia hanya melihat saja dan belum bertanya. Jika dia merasa tertipu, seharusnya dia membicarakannya baik - baik dengan Dinda. Sejujurnya, sampai sekarang Bryan tidak mempercayainya. Mungkin Suci salah lihat atau memang ada alasan dibaliknya.


Meski baru beberapa bulan kenal, Bryan tahu benar, Dinda bukanlah wanita seperti itu.


“Yuk naik.”, ujar Fas saat melihat pintu lift sudah terbuka.


Lift dengan cepat membawa mereka ke lantasi divisi Digital and Development dan Business and Partners. Dinda mengintip di belakang Bryan untuk melihat apakah Suci, Delina, dan Andra ada di meja mereka. Sedangkan Fas, dia berhenti di lantai lain karena dia bekerja di divisi Finance.


Disana tidak terlihat Suci dan Andra. Hanya ada Delina disana. Dia sepertinya juga sibuk karena saat ini aktivitas kantor sudah dimulai. Bryan duduk di tempatnya yang jaraknya berbeda dua blok dari Dinda.


“Pagi, Delina.”, sapa Dinda pelan. Disana hanya ada Delina dan Azis. Erick dan Rini tidak terlihat. Sepertinya dia sedang meeting di ruangan lain.


“Hai, pagi Din.”, jawab Delina dengan nada seperti biasanya. Namun, dia langsung melanjutkan pekerjaannya. Mungkin dia sedang sibuk. Begitu pikir Dinda.


Dinda langsung meletakkan tasnya di dekat laci dan mulai menghidupkan komputernya. Dinda melihat beberapa email yang membutuhkan balasan cepat. Dinda memulai pekerjaannya dengan membalas email - email tersebut satu per satu dan menuliskan pekerjaan yang bisa dan harus dia kerjakan hari ini.


‘Oh..ponselku kemana, ya?’, Dinda baru sadar jika dia tidak memegang ponselnya dari tadi.


Dinda mencoba memeriksa tasnya, tetapi dia tidak menemukan ponselnya. Dia juga memeriksa saku outer yang dia kenakan, tetapi nihil.


Sepanjang perjalanan, Dinda merasa tidak memegang ponselnya sama sekali.


‘Oh.. di mobil mas Arya! Iyaa… tadi aku sedang lihat - lihat kue yang lagi hits di instagram. Lalu tanpa sengaja meletakkannya di samping kursi. Ahh.. bodoh sekali. Bagaimana ini? Mas Arya pasti sudah mulai meeting. Aku juga tidak bisa ke ruangannya jika tidak dipanggil. WhatsApp juga tidak bisa. Mana mungkin aku pinjem ponsel orang. Telepon kantor juga akan aneh. Bagaimana ini? Masa aku tanpa ponsel sampai pulang. Aku juga mana tahu mas Arya pulang jam berapa hari ini?’, Dinda sangat panik.


Dia juga bingung bagaimana pulang tanpa Arya. Dia tidak bisa memesan ojek karena ponselnya tidak ada. Dia juga tidak bisa meminjam ponsel orang lain karena sama saja dia memberitahu tempat tinggalnya sekarang yang alamatnya sama dengan milik Arya.


Kring kring kring


Telepon meja Dinda berdering. Tertulis nama Arya Pradana di telepon mejanya. Dinda langsung mengangkatnya dengan cepat. Dia takut kalau ada yang melihat Arya meneleponnya.


Siapapun kecuali level manager ke atas, kalau menemui Arya, pasti lewat Siska, sekretarisnya. Jika ada yang lihat Arya menelepon langsung, pasti akan banyak yang bertanya.


“Halo..”, jawab Dinda.


“Kamu ke ruangan saya sekarang.”, perintah Arya dengan singkat, padat, dan jelas. Ia bahkan langsung menutup teleponnya setelah mengatakan satu kalimat itu.


Untung saja Dinda mengeluarkan perhatian penuh saat mendengar kalimat tadi. Jika tidak, dia tidak tahu perintah yang diberikan Arya.


‘Aku semakin yakin pasti bawahan pak Arya tingkat stresnya tinggi.’, batin Dinda dalam hati.


‘Eh? Tapi kenapa dia memanggilku? Memangnya aku ada urusan apa dengan dia di kantor? Sepertinya proyek yang kemaren sudah selesai. Pelatihannya juga sudah rampung. Tanya jawabnya juga masih minggu depan.’, Dinda baru sadar kalau dia diminta ke ruangan Arya.


Dinda menutup teleponnya yang sebenarnya sudah ditutup oleh Arya lebih dulu beberapa menit yang lalu. Gadis itu berdiri dan merapikan kursinya sebelum berjalan ke arah ruangan Arya yang berada berseberangan dari divisinya. Dia harus berjalan menyusuri lorong, melewati beberapa sekat divisi Business dan Partners, melewati pantry, baru sampai di ruangan Arya.


Sebelum mengetuk pintu, Dinda menghela nafas sebentar. Di rumah, Dinda sudah bisa lebih nyaman berada di dekatnya karena dia seperti orangnya berbeda. Tapi, di kantor, dia tetaplah pak Arya. Dengan profesionalitasnya yang selangit itu, semangat Dinda bisa dihirup habis oleh aura gelap Arya.

__ADS_1


Tok tok tok


“Permisi, Pak. Dinda.”, ucap Dinda sebelum membuka pintunya.


“Masuk.”, jawab Arya tegas.


“Pak Arya memanggil saya?”, kata Dinda dengan nada dan cara bicara formal.


Tanpa berbicara panjang, Arya mengambil ponsel Dinda dan memberikan padanya.


‘Oh..?’, Dinda terkejut karena ponsel yang dari tadi dia cari - cari sudah ada di tangan Arya.


‘Kok bisa?’, Dinda tidak mengeluarkan suara, tetapi Arya sudah bisa memahami gerakan bibir Dinda.


“Saat mengambil punya saya yang ketinggalan, saya juga lihat ponsel kamu.”, ujar Arya dengan suara pelan.


“Ooh..Makasih ya.”, ‘Mas’, Dinda tidak mengeluarkan suara pada panggilan ‘Mas’ karena takut ada yang mendengar.


Dan benar, sedetik kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan Arya.


Tok tok.


Arya melihat jamnya. Meetingnya masih 10 menit lagi. Siapa yang kira - kira datang menemuinya? Begitu kira - kira yang ada di pikiran Arya.


“Masuk.”, ujar Arya. Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Suci.


Ekspresi Arya biasa saja. Namun, dia bisa melihat jelas ekspresi Dinda dan Suci yang nampaknya kaget melihat satu sama lain.


“Kamu boleh keluar.”, kata Arya pada Dinda. Gadis itu langsung undur diri keluar ruangan dan menutup pintu setelah Suci masuk.


“Ada apa? Seingat saya, kita tidak ada janji meeting hari ini. Lagi pula, sepertinya kamu sudah sepenuhnya di divisi Digital dan Development, kan?”, ujar Arya.


“Saya ingin bertanya tentang poin penilaian saya, Pak. Kenapa untuk analysis hanya diberikan 70 poin? Menurut saya, selama di divisi Business and Partners saya memberikan yang terbaik.”, kata Suci.


Arya ingin menjawab, namun sepertinya Suci belum menyelesaikan kalimatnya.


“Apa karena saya secara terang - terangan terhadap perasaan saya ke Pak Arya?”, lanjut Suci.


“Heh..”, Arya berdecak pelan.


“Tidak ada faktor luar yang mempengaruhi penilaian saya. Kamu mungkin merasa sudah memberikan analysis terbaik. Dan saya akui kamu yang terbaik diantara semua MA yang diassign di divisi saya. Tapi, nilai kamu masih 70.”, ujar Arya.


“Asal kamu tahu? Nilai tertinggi yang pernah saya berikan adalah 60, dan kamu mendapatkan extra 10 dari saya. Artinya, kamu memiliki 30 nilai tidak sempurna. Kamu tahu dimana? Dari 5 project yang goal dan kamu pegang. Dua diantaranya bermasalah, termasuk company paper di Polandia yang lolos dari pengecekan kamu.”, ujar Arya.


“Saya tahu, kesalahan dilimpahkan pada divisi lain for the sake of stability. Tapi, saya tahu semua berawal dari kesalahan kamu yang tidak teliti dalam menganalisa. Perlu saya jabarkan lagi?”, ujar Arya.


Suci terdiam. Dia kira Arya tidak mengetahuinya sama sekali. Permasalahn paper company yang membuat manajemen heboh berawal dari dirinya. Suci diam saja, karena berdasarkan keterangan yang ia terima, divisi lain yang bersalah. Sebenarnya tidak ada yang disalahkan. Arya tidak menunjuk divisi manapun yang bersalah dan langsung menanganinya secara profesional. Tetapi, dia tahu gossip yang beredar dan dari situlah Suci tahu.


Dia tidak menyangka ternyata sejak awal Arya tahu. Suci hanya bisa diam menunduk karena dia sadar sudah melakukan salah besar dengan memprotes nilainya.


Arya mengambil bolpoint di mejanya. Dia mencoret nilai ‘70’ di lembar penilaian Suci dan menggantinya menjadi ‘65’.


“This is for your bad analysis to ask me over this question. Jika tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan, silahkan keluar. Saya ada meeting 5 menit lagi.”, kata - kata Arya benar - benar tajam.


‘Bodoh kamu Suci. Ah.. kamu membuat persona negatif di depan Pak Arya. Padahal selama ini sudah bersusah payah untuk menciptakan kesan yang baik.’, Suci hanya bisa merutuki dirinya.

__ADS_1


Dia mengambil map penilaianya tanpa protes dan keluar dari ruangan Arya dengan wajah lesu.


__ADS_2