
Arya, pria ini sebenarnya merasa bersalah membiarkan masalah tadi malam unresolve sampai saat dia berangkat ke luar kota. Dia juga bisa merasakan sikap Dinda yang dingin meski dia menerima begitu saja ciumannya.
*“Lihat saja, kamu juga akan mempunyai masalah yang sama dengan siapapun itu. Dinda? Apalagi perempuan yang masih bau kencur itu. Aku saja yang sudah lebih lama dengan kamu, tidak mengerti sebenarnya mana yang menurut kamu prioritas?.’ *
Ingatannya pada perkataan Sarah yang kurang lebih sama membuatnya sedikit takut. Arya baru akan mengambil ponsel di sakunya agar bisa menghubungi Dinda namun pengumuman dari pihak bandara sudah memanggil nomor penerbangannya. Penumpang sudah bisa masuk ke dalam pesawat.
Arya mencoba menekan nomor ponsel Dinda sekali, namun gadis itu tidak mengangkatnya. Arya akhirny kembali memasukkan ponsel ke kantongnya dan mendorong kopernya menuju gate mengikuti penumpang lain dengan nomor penerbangn yang sama.
Mungkin dia akan menghubungi Dinda nanti, saat dia sudah tiba di bandara atau di hotel. Semoga saat itu kemarahan gadis itu sudah mulai mereda.
Dinda termasuk yang jarang sekali kesal dengan hal - hal sepert ini. Tapi hormon karena kehamilannya membuat perasaannya lebih sensitif dari biasanya.
Disisi lain, Dinda sudah tiba di rumah sakit dengan menggunakan taksi online. Dia sudah menghubungi Mama Inggit dan memberi tahu orang rumah kalau dia akan menginap di rumah bundanya sampai hari Senin. Mungkin lebih lama sedikit. Dia bahkan tidak ingat kapan Arya akan pulang. Atau mungkin dia tidak ingat apakah Arya sudah memberitahu kapan dia akan pulang.
Seperti beberapa waktu lalu, Dinda sudah melakukan reservasi secara online dan tinggal menunggu gilirannya yang kurang lebih sama dengan waktu yang sudah ia pilih di aplikasi online rumah sakit ini.
Berdasarkan pengalamannya yang lalu, mungkin hanya ada perbedaan sekitar 10-15 menit saja.
“Ibu Dinda Lestari.”, panggil asisten dokter pada orang - orang yang berbaris di depan ruangan dr. Rima.
Dinda mengacungkan tangannya dan berjalan menuju pintu masuk ruangan.
“Selamat siang, Ibu Dinda. Apa kabar?”, sapa dr. Rima dengan sangat ramah.
Sampai hari ini, masih menjadi misteri bagi Dinda, bagaimana cara dr. Rima masih bisa menjaga moodnya selama seharian menghadapi pasien yang berbeda - beda.
“Alhamdulillah baik, dok.”, jawab Dinda sambil mengambil duduk.
“Hm? Lagi - lagi sendiri? Bukankah Pak Arya sudah tahu tentang kehamilan istrinya? Dia menghubungi saya dengan paniknya beberapa pekan lalu karena, KAMU HAMPIR TENGGELAM, ya?”, kata dr. Rima mengubah intonasinya karena dia baru ingat tentang hari itu.
Dia bahkan melupakan panggilan formalitasnya karena sepertinya merasa mereka sudah lumayan akrab, meski baru dua kali bertemu. Belakangan ini Dinda dan Arya jarang ke apartemen, mereka juga bingung apakah mereka masih bisa dikatakan sebagai tetangga atau tidak.
“Hehe.. Iya Dok.”, jawab Dinda sambil cengengesan.
Dia sadar bagaimana berbahayanya situasinya waktu itu tapi sekaligus malu.
“Hehe? Bu Dinda harus lebih hati - hati dalam menjaga kandungannya. Meski saya katakan kehamilan Bu Dinda tergolong normal, janinnya kuat, dan tidak ada masalah serius, tetap harus hati - hati.”, omelan dr. Rima mulai keluar.
“Iya Dok. Maaf, saya janji akan lebih hati - hati kedepannya.”
“Terus dimana Pak Arya? Dinas lagi?”, tanya dr. Rima yang sudah mempersilahkan Dinda untuk berbaring.
Dinda mengangguk.
“Susah ya, punya suami yang super sibuk?”, dr. Rima memulai obrolan yang kali ini tidak ringan.
“Iya Dok. Apalagi jarak saya dan mas Arya lumayan jauh. Saya bingung bagaimana harus menghadapi dia.”, tidak seperti biasanya, Dinda dengan mudah curhat pada dr. Rima.
Menurut Dinda, dia dan dr. Rima tidak memiliki kenalan yang sama. Jadi, oke - oke saja untuk bercerita hal seperti ini dengannya.
“Hm.. kamu masih 20-an kan? 23?”, tebak dr. Rima.
“Iya, tebakan dr. Rima tepat sekali.”
“Kamu masih terlihat muda sekali. Saya pikir masih anak SMA loh kalo kamu tidak bilang kamu sudah lulus dan bekerja. Ingat waktu sekitaran bulan lalu kamu periksa kehamilan disini? Saya kira kamu anak SMA, makanya saya sedikit khawatir kamu tidak ditemani siapa - siapa.”
“Benarkah, dok?”, tanya Dinda tersenyum karena merasa senang disebut lebih muda.
__ADS_1
“Hm. Bahkan saat kamu bilang kamu sudah menikah, saya gak langsung percaya, loh. Saya pastikan lagi ke administrasi. Untunglah ternyata kamu tidak bohong.”
“Haha, dokter bisa saja.”
“Beneran loh, saya gak bohong. Oke, saya jelasin dulu hasil USG nya ya… “, dr. Rima menghentikan obrolan ringannya sementara untuk menjelaskan tentang hasil USG Dinda.
Di usia kandungan yang sudah mengincang 2.5 bulan ini, pada intinya semua baik - baik saja. dr. Rima memberikan beberapa tips - tips mengenai perubahan - perubahan yang mungkin akan Dinda rasakan kedepannya.
Dia juga tidak boleh bergantung pada obat untuk mengurangi mualnya, namun lebih banyak mengkonsumsi makanan dan sayuran bergizi. dr. Rima menyarankan juga agar Dinda tidak terlalu berpikir keras, merasa terbebani, atau hal lainnya yang membuat dia stress.
“Pokoknya fokus kamu cuma satu. Bayi kamu. Itu prioritas utama. Yang lain kalau bisa jangan terlalu dipikirkan. Termasuk pak Arya yang super sibuk. Biasa kok, kalau dia tidak bisa menemani karena kesibukannya. Yang terpenting Mba Dinda jangan banyak negative thinking, ya.”, nasehat dr. Rima.
“Oiya, ketemu dimana dengan Pak Arya? Jarak berapa sih tadi? 10? 12?”, tanya dr. Rima sambil berjalan kembali menuju kursinya untuk menulis resep. Dia juga memberikan aba - aba pada asistennya agar menginformasikan pada dokter selanjutnya karena shift dia hari ini sudah selesai.
“12 Dok.”
“Hm? Gimana ceritanya bisa pacaran dengan Pak Arya? Ketemu dimana?”
“Dijodohin, Dok.”, jawab Dinda tersenyum malu.
dr. Rima menutup mulutnya dengan tangan karena tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Dijodohkan? Beneran?”, kata dr. Rima kaget.
Karena dari panggilan telepon Arya beberapa waktu lalu, mereka terlihat seperti pasangan yang sudah berpacaran lama. Bagaimana paniknya pria itu, bagaimana dia bertanya dengan detail. Ya.. meski belum pernah bertemu. Saat dia mabuk tempo hari tidak bisa dihitung karena dia tidak terlalu ingat.
“Hehe.”, Dinda hanya bisa merespon ringan.
“Wow. Impressive, ya. Saya tertarik sekali mengobrol lama dengan Bu Dinda, Mba Dinda? Haha saya jadi bingung bagaimana memanggilnya.”
“Hm.. waktu itu kita sudah setuju untuk memanggil ‘Mba Dinda’ saja. Tapi, kalau di luar, panggil Dinda saja ya, Dok.”
“Aaah, engga - engga, Dok.”, Dinda jadi salah tingkah dengan candaan Dinda.
“Kapan - kapan kalau mba Dinda lagi di apartemen, info - info ya. Mungkin kita bisa mengobrol.”, jawab dr. Rima tersenyum.
“Baik. Terima kasih ya, Dok.”
“Hati - hati di jalan, ya. Naik apa kesini?”
“Taksi online, dok. Aman kok.”
“Waduh.. Hm.. Pak Arya memang harus diomelin, ya. Istrinya lagi hamil malah naik taksi online.”
“Haha gapapa dok. Ga terlalu jauh, kok.”, kata Dinda tersenyum. Padahal jarak dari rumah ke rumah sakit ini lumayan.
Setelah berpamitan dengan dr. Rima, Dinda segera mengantri obat. Pengalaman sebelumnya, mengantri obat disini lumayan lama. Padahal waktu itu hari biasa. Bagaimana kalau weekend seperti ini, pikirnya.
Dinda mulai duduk dan menunggu namanya dipanggil. Di sela - sela waktu mengantri, dia menyempatkan diri untuk bermain game online. Biasanya dia akan menonton drakor, tetapi dia takut antriannya terlewat karena asyik menonton.
Sementara itu disisi lain, dr. Rima sudah selesai praktek. Dia kebagian menjaga UGD tadi malam sehingga dia sudah bisa pulang setelah shift siang selesai. Dinda adalah pasiennya terakhir hari ini. Sementara pasien lain akan ditangani oleh dokter kandungan yang lain.
dr. Rima masih mengobrol dengan beberapa anak KoAS nya saat pria yang dia kenal menghampirinya.
“Dika? Ada perlu apa kesini?”, tanya dr. Rima. anak KoAS nya mundur teratur setelah melihat pembimbing mereka ada yang menghampiri.
“Aku dengan anak kamu di rawat disini? Belum boleh pulang?”, dr. Rima iseng bertanya pada pihak administrasi karena merasa heran bisa bertemu Dika disini setelah sekian lama. Awalnya dia tak ingin, tapi rasa penasaran sudah terlanjur menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
“Oh? Kamu mencari tahu?”
“Ah tidak.. Hanya kebetulan mendengar saja.”
“Hm, sudah selesai?”, kata Dika mengarahkan pandangannya pada tas dan penampilan dr. Rima yang siap untuk pulang.
“Ah.. iya.. Aku selesai shift siang hari ini.”
“Apa boleh aku ajak mengobrol sebentar di Cafe sekitar sini?”, tanya Dika hati - hati.
“Hm? Mengobrol? Aku kira kita tidak ada bahan yang perlu diobrolkan. Aku senang bisa bertemu denganmu, tapi hanya sebatas itu.”
“Ah.. belum apa - apa kamu sudah membuat garis pemisah.”
“Kamu sudah menikah, begitu pula denganku. Jadi, aku kira kita perlu menjaga privasi masing - masing. Bukankah begitu?”, tanya dr. Rima.
“Hm.. kalau begitu hanya 10 menit di taman sekitar sini? Ada yang ingin aku tanyakan.”
“10 menit, mungkin bisa disini?”
“Hayolah, hanya sebentar. Aku beli kopi disana sebentar.”, kata Dika menunjuk mesin kopi di dekat lift menuju lantai dua. Sekitar 10 meter dari tempat mereka berdiri.
Belum sempat dr. Rima menolak, Dika sudah berjalan menghampiri mesin kopi tersebut. Dia sempat mengantri sebentar karena ada dua orang di depannya yang juga membeli kopi. Dika menekan satu capuccino dan satu mocca.
“Ibu DINDA LESTARI”
Disisi sebelah kiri, lebih tepatnya hanya beberapa meter dari dr. Rima berdiri, adalah tempat pengambilan obat. Akhirnya setelah menunggu lama, Dinda bisa mengambil obatnya. Dia sudah menyelesaikan administrasi sebelumnya sehingga prosesnya jauh lebih cepat.
Setelah mengambil obat dan berjalan menuju lobi, dia melihat dr. Rima yang masih berdiri disana.
“Oh.. dr. Rima belum pulang? Saya kira sudah dari tadi karena sepertinya sedang buru - buru.”, kata Dinda kembali menyapa.
“Aah.. tiba - tiba bertemu kenalan dan sedang menunggunya.”, jawab dr. Rima.
“Ooh…Baiklah kalau begitu. Saya balik duluan ya, dok.”, kata Dinda berlalu meninggalkan dr. Rima.
Saat Dinda menghampiri dr. Rima, Dika sudah selesai dengan kopinya dan sedang berjalan maju ke arah dr. Rima. Dika memperhatikan sebentar ke arah mereka yang sedang mengobrol. Dia tidak bisa melihat wajahnya saat itu.
Setelah Dinda pamit dan berbalik menju ke arah lobi. Barulah, Dika seperti mengenal perempuan yang dia lihat baru saja berbicara dengan dr. Rima.
‘Hm?’, dahi Dika berkerut karena dia yakin mengenal gadis itu, namun dia tidak yakin.
“Siapa?”, tanya Dika segera setelah menghampiri dr. Rima dan memberikan kopinya.
“Salah satu pasien.”, jawab dr. Rima.
“Hm? Bukankah kamu dr. kandungan?”
“Iya betul, aku dokter kandungan.”
“Berarti pasien itu hamil?”, tanya Dika ragu - ragu.
dr. Rima tidak begitu menggubris pertanyaan Dika dan menjawab sewajarnya.
“Apa - apaan pertanyaan kamu. Walaupun tidak semua yang datang padaku sedang hamil. Tapi, ya. Tunggu, kamu kenal gadis itu? Sebagai dokter, aku tidak boleh membocorkan data pasien, loh.”, kata dr. Rima yang mulai heran.
“Ahahaha.. Mana mungkin aku kenal.”, jawab Dika.
__ADS_1
‘Mana mungkin itu anak intern di kantor. Ah.. sudahlah mungkin aku salah lihat.’, ucap Dika dalam hati.