Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 159 Pak Arya punya Istri?


__ADS_3

“Guys, katanya Bu Susan masuk rumah sakit, ya?”, salah seorang karyawan sudah membuka topik hangat di sore hari. Ya, sore hari menuju jam pulang memang menjadi momen - momen tanggung untuk para pekerja kantoran.


Mereka akan masuk ke fase dilema antara melanjutkan pekerjaan yang tak kunjung selesai atau bersiap - siap untuk pulang. Disaat inilah terkadang ruang gosip mulai terbuka. Tak terkecuali dengan beberapa manusia - manusia yang pagi tadi baru saja di sidang oleh Arya.


Mereka berkumpul dengan beberapa orang yang mendapat giliran sidang di hari sebelumnya. Suasana memang menjadi sangat hektik di divisi Business and Partners baru - baru ini. Seiring dengan performance yang bagus mereka harus menghadapi konsekuensi dimana ekspektasi meningkat dan dibanjiri oleh beberapa project besar.


Kesempatan yang bagus, terutama peningkatan terjadi di masa kepemimpinan Arya. Meski hari - hari mereka dibumbui protes tetapi mereka juga merasakan bonding yang lebih baik dengan Arya sebagai kepala divisi dibandingkan pendahulu - pendahulunya.


Meski terkadang suasana menjadi sangat hektik dan sibuk, tetapi Arya adalah sosok pemimpin yang logis dan sistematis. Cara kerjanya efisien namun sekaligus seru. Di sisi yang lain, mereka juga harus tahan banting menghadapi keras dan tajam dan pedasnya kritikan darinya. Apalagi, kalau Arya sudah marah.


“Iya… baru dengar kabar ada masalah dengan perutnya karena dia diet berlebihan. Beberapa waktu lalu dia bilang sedang diet, kan? Bahkan sering skip makan siang.”


“Padahal dengan kesibukan dia, harusnya dia tidak menerapkan pola makan seperti itu. Lagian dia juga sudah langsing, kok. Masih diet - diet saja.”


“Yah, mana kita tahu. Mungkin dia memang menginginkan berat badan tertentu atau sedang dengan dengan seseorang.”


“Yang kasihan itu Pak Arya. Baru aja harus meeting dadakan di Bali, sekarang dia harus ke Singapur juga. Mungkin dia bukan manusia tapi transformer.”


“Eh..tapi ya. Kok aku merasa sepertinya Pak Arya memang sedang punya pacar, deh.”


“Kamu berpikir begitu juga? Sepertinya kita sudah pernah bahas. Menurutku juga begitu. Soalnya dia makin strict sama rule work-life balancenya dia.”


“Betul - betul. Kalau dia single, mana mungkin ambis banget pengen pulang on-time.”


“Iya, mana ambisnya Pak Arya pengen pulang on-time beda ama yang lain. Kalau yang lain kerjaannya ditinggal, kalau pak Arya malah dipress dan tetap deliver pekerjaan on-time. Hah.. aku stress tiap minggu meeting sama beliau.”


*******


Penerbangan ke Singapura berjalan dengan lancar. Tidak ada delay dan mereka juga tiba tepat waktu. Dari sana, Siska sudah mengatur transportasi dengan baik sehingga mereka bisa langsung berangkat ke hotel.


Arya harus mempelajari dokumen untuk meeting besok termasuk dengan materi presentasi yang sudah disiapkan oleh Susan sebelumnya. Tadinya, karyawan bawahan Susan yang sudah tiba duluan ingin menjemput Arya di bandara namun dia mencegahnya. Menurutnya lebih baik mereka mempersiapkan untuk besok ketimbang melakukan hal yang tidak penting.


“Hem.. ehem… “, Arya mencoba untuk mengatur suaranya.


Mereka berada di dalam taksi menuju hotel yang letaknya agak jauh dari Bandara. Mereka memilih hotel ini karena hanya berjarak 5 menit dari kantor klien mereka.


Siska, setelah adegan di parkiran beberapa jam yang lalu, wanita ini tidak bertanya apapun pada Arya. Tentu saja dia tidak berani bertanya karena Arya juga bersikap seolah - olah tak ada yang perlu dijelaskan.


Namun, Arya baru sadar jika untuk beberapa waktu Siska terkesan blank. Dari situlah, Arya yang awalnya enggan menjelaskan terpaksa harus memberikan penjelasan. Ya, tipikal Arya memang malas menjelaskan sesuatu. Pada Dindapun dia masih sering begitu apalagi dengan orang lain.


“Saya kasih kamu kesempatan 3 pertanyaan. Mulai dari sekarang.”, ujar Arya.


“Eh?”, respon Siska bingung mendengarkan perkataan Arya barusan.


“Kepala kamu sekarang pasti penuh dengan pertanyaan, kan? Saya kasih kamu kesempatan bertanya 3x, batas waktu sampai kita di hotel.”, ucap Arya.


Pria ini memang sangat ahli dalam mengubah situasi. Bahkan disaat seperti inipun dia masih bisa bersikap cool.


“Pak Arya dengan anak intern itu….. pacaran?”, tanya Siska berhati - hati.


Meskipun dia diberikan kesempatan, tapi dia tetap saja bingung apa yang harus dia tanyakan. Dia masih shock dan kena mental dengan adegan yang dia lihat di parkiran beberapa jam yang lalu. Seorang Pak Arya? Mencium wanita di parkiran? Dan wanita itu anak intern, pula? What?, begitu kira - kira yang ada di pikiran Siska. Mind Blowing scene.


“Dia istri saya.”, jawab Arya santai dan singkat.


“Oh… Hah? Eh? Apa, Pak?”, Siska tidak bisa mempercayai pendengarannya. Untung saja dia tidak sedang minum kopi yang sedang dia pegang sekarang. Jika tidak dia mungkin bisa kena denda karena menumpahkan kopi ini di dalam taksi.


“Pak Arya ga sedang mengerjai saya, kan?”, tanya Siska.


“Itu masuk dalam 3 kesempatan kamu bertanya?”, kata Arya.


“Ah.. enggak - enggak, Pak. Saya ganti pertanyaan.”, kata Siska buru - buru.


‘Oke.. anggap aku bisa mencerna jawaban itu.’, pikir Siska dalam hati.


“Pak Arya sudah menikah lagi? Sejak kapan? Kapan pacarannya? Dinda? Beneran Dinda?”, Siska ingin mengendalikan dirinya tapi malah menghujani Arya dengan banyak pertanyaan.


“10 menit lagi kita sampai, sebaiknya kamu memilih pertanyaan dengan baik.”, ujar Arya.


“Okay. Kapan Pak Arya menikah?”, dari sekian banyak pertanyaan yang ingin Siska sampaikan, dia memilih pertanyaan ini sebagai prioritas.

__ADS_1


“Sekitar 6 bulan yang lalu. 6.5 bulan lebih tepatnya.”, jawab Arya.


‘What? 6.5 bulan dia bilang? Jadi selama ini mereka sudah suami istri dan satu kantor but no one knows? Sampai si penggosip seperti Andra pun gak tahu? Wahhh!’


‘Hem… tinggal 4 menit lagi. Satu pertanyaan lagi apa ya? Saking banyaknya pertanyaan yang ada di kepalaku sekarang ini, aku bingung harus menanyakan pertanyaan yang mana.’


‘Hayo Sis, berpikir, tanya apa, ya. Arghh..’


“Oke, sudah sampai.”, ujar Arya segera setelah taksi yang mereka tumpangi sampai di depan lobi hotel.


“Eh? Udah sampai?”, Siska kaget sambil celingak - celinguk ke kiri dan ke kanan. Dan benar ternyata mereka benar - benar sudah sampai.


“Pak, satu pertanyaan lagi?”, kata Siska dengan wajah yang memelas.


“Hangus.”, jawab Arya singkat.


“Turun. Kamu segera check-in sama punya saya sekalian. Kirim pesan ke 4 anggota yang sudah sampai, temui saya di Cafe. Kita meeting sekarang agar nanti malam mereka bisa lanjut istrirahat.”, ujar Arya segera mengeluarkan perintah.


“Baik, Pak Arya.”, ucap Siska sambil berjalan ke lobi bersama dengan petugas hotel yang membawa koper mereka.


‘Ah.. bodoh sekali. Kenapa tidak tanya, bagaimana mereka bisa bertemu? Kapan pacaran? Wah.. aku masih tidak percaya Pak Arya sudah menikah lagi dan istrinya, Dinda?’


‘Wait, jadi waktu team building, dia mengubah aturan sana sini jangan - jangan karena Dinda? Tunggu.. waktu Dinda jatuh ke laut dan Pak Arya terjun, juga karena Dinda istrinya? Bentar - bentar, terlalu banyak puzzle yang harus aku rangkai.’


‘Waktu Pak Arya volunteer untuk kembali ke hotel setelah kejadian itu? Ah.. kenapa aku tidak memikirkannya. Pak Arya selalu rasional sih jadi tak ada yang membuatku curiga, apalagi Dinda intern.’


“Hello.. Good Afternoon, Mam. You want to check-in? Hello… mam? How can we help you?’, saat Siska tenggelam dalam pikirannya, dia tidak sadar kalau petugas hotel sudah memanggilnya berkali - kali.


“Ciuman tadi..”, kaa Siska tanpa sadar.


“Oh? How can we help you, miss?”, kata resepsionis itu lagi.


“Ah.. sorry. Check-in for two single rooms, please. With a harbor view.”, ujar Siska saat sudah kembali dari hiruk pikuk pikirannya yang masih kacau karena Pak Arya.


“Okay, total.. You want to pay with a credit card? Okay, sure.. These are the cards……”, petugas hotel memberikan kedua kartu dan Siska lanjut untuk mengikuti petugas yang akan membawa koper mereka.


Selanjutnya, dia juga mengabari 4 karyawan yang sudah datang tadi untuk menemui Pak Arya di cafe bawah. Sebelum ikut meeting di cafe bawah, seperti biasa, Siska memeriksa kondisi kamar hotel terlebih dahulu apakah sesuai dengan Pak Arya atau tidak. Setelah memastikan semuanya. Baru Siska bisa turun dan ikut bergabung.


*******


Tok tok tok tok


“Iya…”, jawab Dinda saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.


“Dipanggil mama makan di bawah.”, ternyata suara Ibas.


‘Tumben dia di rumah.’, celetuk Dinda dalam hati.


Dia segera bangun dari tempat tidur meninggalkan laptopnya di nakas. Rambutnya yang masih digerai dia ikat lalu segera berjalan turun ke bawah. Saat membuka pintu, dia bertemu dengan Andin bersama dua krucilnya.


“Malam tante Dinda.”, ujar Rafa dengan manisnya. Setelah itu, Samawa mengikuti.


Jarang - jarang Dinda melihat mereka keluar makan malam karena biasanya selalu ingin makan di kamarnya.


“Haloo sayang… kapan sampainya?”, tanya Dinda karena seingatnya beberapa hari yang lalu mereka tidak di rumah.


Dinda juga baru pulang hari ini setelah beberapa hari di apartemen.


“Sudah dua hari yang lalu tante.”, jawab Samawa manis.


Mereka berbincang sambil turun ke bawah.


“Dari kemarin kamu di apartemen ya? Makanya gak lihat kita pulang. Arya mana?”, tanya Andin yang menggendong Samawa sementara Rafa yang sangat lincah sudah berada di bawah lebih dulu.


Inggit langsung menyapa cucunya begitu sudah sampai di bawah dan mendudukkan mereka di meja makan. Bi Rumi sibuk sekali bolak balik membawa makanan ke atas meja.


“Din, Arya mana? Pulang larut lagi?”, tanya Inggit.


Dia juga termasuk yang gencar dari kemarin memberitahu Arya untuk mencoba pulang lebih awal karena istrinya sedang hamil.

__ADS_1


“Mas Arya berangkat ke Singapur hari ini, Ma. Mas Arya mungkin belum sempat bilang ke mama karena tadi berangkatnya buru - buru.”, jawab Dinda sambil mengambil duduk di samping Ibas.


“Arya, kok meeting lagi? Kemarin bukannya dia baru saja ke Bali, ya? Memangnya anak buahnya cuma satu. Gimana sih, pa. Perasaan timnya makin banyak kenapa jadi dianya yang makin sibuk.”, protes Inggit ke Kuswan karena dia yang lebih tahu mengenai urusan kantor.


“Namanya Arya pegang lebih banyak tim sekarang, Ma. Dulu dia pegang 5 atau 7 ya, papa lupa. Sekarang dia pegang 10. Bayangkan saja betapa sibuknya, ma.”


“Ya, tapi kan istrinya lagi hamil loh, pa. Masa sudah pulang larut, meeting di luar. Kan kasihan Dinda.”, ujar Inggit dengan semangat 45.


Dinda hanya diam. Dia juga bingung harus mengatakan apa. Disatu sisi dia mengerti, tapi disisi lain dia juga sedih karena belakangan ini lebih banyak sendiri.


“Sabar ya sayang. Semoga ga lama - lama disana. Arya info ga kapan dia pulang?”


“Mungkin weekend katanya, ma.”


“Hm.. kemaren Arya sudah absen lagi ya periksa kandungan. Kamu kenapa gak bilang sama mama, kan bisa mama temenin.”, ujar Inggit.


“Gapapa, ma. Dokternya baik kok.”


“Jadi, gimana sehat kandungannya? Pokoknya next mama mau temenin ya kalau Arya ga bisa juga. Ohiya, kamu itu kalau Arya ga sempet temenin juga, hukum aja. Bilang kamu ga mau bobok sama dia.”, ujar Inggit.


Dinda yang sedang meminum air putihpun tersedak karena apa yang dikatakan Inggit persis dengan apa yang dikatakan oleh Bianca.


“Kamu kenapa sayang?”, tanya Inggit memastikan.


“Eng- engga ma, gapapa.”, jawab Dinda.


“Woh… jangan - jangan kamu sudah menerapkan yang seperti mama Inggit bilang lagi, Din? Pantesan mas Arya mukanya beberapa hari ini kusut.”, kata Ibas sembarangan.


“Aaaaa..”, Dinda menginjak kaki Ibas di bawah.


“Kenapa kamu? Apa kabar itu, gebetan kamu yang lagi kamu deketin, sampai maling baju Arya.”, tanya Andin.


“Gagal, mba.”, kata Ibas lesu.


“Kenapa tahun ini aku ga beruntung dengan wanita. Diputusin, giliran mau gebet, ditolak mentah - mentah. Kurangnya apa aku… ketampanan, turunan dari mas Arya. Bahkan lebih tampan sedikit. Kecerdasan, jangan ditanya. Lebih - lebih dari Arya.”, kata Ibas dengan penuh percaya diri.


“Kenapa?”, tanya Ibas pada Dinda yang sudah memasang ekspresi heran.


“Mirip darimananya?”, ujar Dinda.


“Wah.. ga tahu dia ma. Coba nanti kalau mas Arya pulang, aku berbaris disamping mas Arya. Pasti kamu bingung mana adik ipar, mana suami kamu.”, ujar Ibas.


“Hahaha.. Ga mirip om.”, kata Samawa polos sambil lanjut memakan pisangnya.


Semua yang ada di ruangan tertawa lepas karenanya. Sebentar lagi, keluarga ini juga akan kedatangan anggota baru. Anak pertama dari Arya dan Dinda yang saat ini masih di kandungan.


‘Semoga nanti kamu bisa selucu itu ya, nak. Jangan dingin seperti kulkas kaya papa kamu.’, ujar Dinda dalam hati sambil mengelus - elus perutnya yang masih rata.


“Oiya Din, kamu sepertinya belum konsumsi susu hamil, ya? Besok weekend kita ke supermarket, ya. Kita beli susu hamil dan buah. Harusnya dari bulan pertama, mama kelupaan lagi, ya ampun.”, ujar Inggit.


“Gapapa, ma. Mas Arya sudah janji mau ke supermarket bareng untuk beli weekend nanti.”, jawaban Dinda membuat Inggit terkejut karena tidak menyangka Arya inisiatif juga.


Saat di parkiran mobil beberapa jam yang lalu. 


“Mba Siska?”, ucap Dinda kaget saat melihat orang di belakangnya adalah Siska. 


Saking larutnya dalam emosional dengan Arya, Dinda jadi lupa kalau tadi Arya dan Siska jalan bareng ke sini. 


“Sis, kamu tunggu di mobil, ya.”, ujar Arya pada Siska yang masih bengong namun segera melakukan perintahnya. 


“Kamu baik - baik di rumah, ya sayang. Maaf kalau lagi - lagi aku harus melakukan perjalanan business. Aku balik weekend. Nanti kita ke supermarket bareng beli susu hamil. Kamu belum beli sama sekali, kan?”, ujar Arya sebelum mencium leher istrinya. 


Dinda tak berhenti tersenyum mengingat kalimat itu. Bahkan sampai di rumah, sedang mandi, duduk santai, kalimat itu terus terngiang - ngiang di kepalanya.


“Din, jadi kamu langsung luluh cuma karena kata - kata itu?”, ujar Bianca.


Sekembalinya Dinda makan malam, dia menerima telepon Bianca. Gadis itu mulai curhat tentang Reza panjang kali lebar sampai lebih kurang 30 menit. Kemudian dia tiba - tiba teringat dengan masalah Dinda dan Arya.


“Tapi kata - kata itu benar - benar ngena, Bi. Sebenarnya aku juga ga bisa lama - lama tidur sendirian. Kadang malam - malam suka kebangun dan kasihan lihat Mas Arya tidur di sofa.”

__ADS_1


“Heh… kamu itu terlalu lunak. Gayanya mau kasih hukuman ke mas Arya. Luluh juga cuma dirayu pakai susu hamil doang.”, ujar Bianca greget dengan Dinda.


__ADS_2