Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 172 Baik - baik saja


__ADS_3

Dinda, gadis itu sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit. Dia sengaja memanfaatkan satu hari cuti agar bisa lebih santai untuk periksa kandungan ke rumah sakit. Kebetulan hari ini tidak ada yang keluar rumah, jadi Dinda bisa meminta bantuan Pak Cecep untuk mengantarnya ke rumah sakit.


“Non, RS nya yang di dekat apartemen Den Arya, ya?”, tanya Pak Cecep kembali memastikan


“Iya Pak. Rumah Sakit Ibu dan Anak yang di dekat apartemen mas Arya.”, jawab Dinda.


“Oh Baik, non. Hm.. Den Arya..”, Pak Cecep ingin bertanya tetapi ia ragu - ragu. Takut kalau dia salah berbicara.


“Iya, kenapa Pak?”, tanya Dinda tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Cecep.


“Tidak non. Tidak apa - apa.”, akhirnya Pak Cecep memilih untuk mengurungkan niatnya bertanya.


Lebih kurang 45 menit lebih waktu yang mereka habiskan untuk sampai di Rumah Sakit yang dimaksud.


“Terima kasih, Pak. Gak usah di tunggu.”, ujar Dinda berbicara melalui kaca mobil pada Pak Cecep.


“Loh, nanti pulangnya gimana, Non?”, tanya Pak Cecep heran.


“Nanti aku mau menginap di apartemen. Mas Arya kan mau kesini, jadi aku minta antarkan dia saja. Kan dekat.”, jawab Dinda sambil melambaikan tangannya pada Pak Cecep.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”, tanya seorang perawat kepada Dinda.


“Saya mau periksa rutin kandungan.”, jawab Dinda.


“Sudah membuat janji sebelumya?”


“Sudah sus. Saya sudah daftar online untuk pukul 11.30.”


“Baik. Sebentar saya cek, ya.”, balas suster tersebut.


“Atas nama Ibu Dinda Lestari?”, tanyanya memastikan.


“Iya dok.”


“Baik. Silahkan ditunggu, ya. Kemungkinan akan sedikit terlambat beberapa menit karena pasien sebelumnya.”, ujar suster tersebut memberikan arahan.


Dinda dua kali ke rumah sakit ini, jadi dia sudah hapfal kemana harus pergi dan bagaimana sistemnya. Dinda mengambil duduk paling ujung karena gilirannya masih lama. Di depannya ada 5 orang ibu hamil yang juga sedang menunggu.


Entah giliran mereka sebelum atau sesudah Dinda. Tiga diantaranya ditemani oleh suami mereka yang sibuk bermain ponsel. Satu diantaranya ditemani oleh anaknya yang berseragam SD. Mungkin mereka kesini setelah jam sekolah dasar berakhir.


Tadinya, Dinda mengira ibu itu juga sendiri, ternyata suaminya baru datang membawa kopi.


‘Hem.. mas Arya datang gak ya, hari ini. Semoga aja datang. Sebenarnya aku mengerti mas Arya pasti sibuk. Tapi, aku juga tidak bisa menghilangkan perasaan kecewa dan sedih. Dan aku juga tidak bisa berhenti memikirkan hal negatif. Seperti, apa aku tidak sepenting itu untuk mas Arya? Hah..’, ucap Dinda dalam hati.


‘Apa aku whatsapp saja, ya. Ah.. jangan. Nanti kalau ternyata mas Arya sedang meeting, bagaimana. Lagian masih banyak waktu. Aku tunggu saja.’


Sambil membunuh waktu, biasanya Dinda memainkan game favoritnya, cooking mania. Tapi, kali ini dia mau melakukan aktivitas yang berbeda. Dinda membuka ponselnya dan mencari rekomendasi - rekomendasi tempat wisata menarik yang ada di Korea Selatan.


Saat Arya memberitahu tentang tiket liburan itu, Dinda langsung memetakan jadwal liburan mereka. Seminggu. Dilihat dari tanggal tiket yang Arya beli. Mereka akan berangkat di hari Minggu dan pulang di hari Sabtu.


Dinda sudah menandainya di kalendar. Sekarang saatnya untuk mengisi itinerary. Dinda ingin menghabiskan waktu yang sangat produktif disana. Tidak hanya tentang Arya, tetapi juga wishlistnya mendatangi tempat - tempat hits di sana.


‘Hm.. mas Arya mau gak ya kalau aku ajak ke kantor agency terkenal disana. Siapa tahu aku bisa bertemu dengan pemain drama yang aku lihat. Hm. masukkan list saja dulu.’, Dinda tampak asyik dengan dunianya sendiri.


Tanpa ia sadari, 3 nomor antrian sudah dipanggil. Sekarang hanya tersisa dua. Jika satu orang membutuhkan waktu sekitar 20 menit, maka dalam 40 menit, Dinda sudah bisa masuk ke dalam ruangan periksa.


Dinda melihat ke arah pintu masuk, belum ada tanda - tanda Arya muncul. Dinda mencoba untuk membuka aplikasi WhatsApp. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari pria tersebut.


“Ibu Kinarsih.”, kata suster memanggil antrian selanjutnya.


Sekarang hanya tersisa satu antrian lagi. Jika orang itu dipanggil, berarti antrian selanjutnya adalah Dinda. Seiring dengan panggilan antrian berjalan, orang - orang baru juga mulai berdatangan.


“Suster.”, panggil Dinda mendekati suster yang melakukan pemanggilan nama.


“Iya, Bu? Ada yang bisa saya bantu?”


“Boleh saya mundurkan antrian saya untuk 1 orang?”, tanya Dinda meminta.


“Jadi, satu orang di bawah ibu maju terlebih dahulu, apakah begitu?”, tanya suster memastikan.


“Iya. Apa boleh? Soalnya suami saya belum datang. Mungkin kena macet. Boleh ya sus.”, tanya Dinda memohon.


“Oke, ga masalah Bu. Asal tidak minta dimajukan saja, nanti yang lain bisa protes. Sebentar saya tanya ke nomor antrian yang di belakang Ibu, ya. Apakah beliau bersedia.”


“Baik, boleh Bu Dinda. Silahkan menunggu lagi.”, ujar Suster tersebut.


“Terima kasih sus. Terima kasih, Bu.”, selain pada suster tersebut, Dinda juga berterima kasih pada ibu hamil yang mau maju terlebih dahulu menggantikannya.

__ADS_1


Dinda kembali duduk. Kali ini dia sudah tidak terlihat santai. Ketika nomor urut antrian selanjutnya dipanggil masuk, Dinda mulai was - was.


‘Apa mas Arya memang tidak bisa datang, ya.’, katanya sudah mulai menyerah. Tapi, di dalam hati, dirinya masih berharap.


20 menit berlalu, antrian yang seharusnya miliknya sudah digantikan oleh orang lain. Artinya, setelah orang tersebut masuk, selanjutnya adalah giliran Dinda.


10 menit berlalu.


Dinda sudah kehilangan harapannya. Dia sudah menyerah. Mungkin, mas Arya memang ada hal mendesak yang membuatnya tidak bisa datang kali ini.


Dinda ak ingin bersikap berlebihan, toh ini hanya periksa kandungan. Selama hasilnya baik, kenapa dia harus bersedih. Dinda mulai berada di tahap menghibur dirinya sendiri.


“Ibu Dinda Lestari?”, panggil suster tersebut.


Panggilan itu menghentikan lamunannya. Dinda berdiri dan berjalan menuju ruang periksa. Suster tersebut agak heran karena suami Dinda juga belum datang.


“Apa mau saya undur satu antrian lagi, Bu? Saya lihat suami ibu belum datang.”, kata Suster itu menawarkan.


Dia bisa melihat kekecewaan di wajah Dinda. Mungkin dengan mengundur antriannya satu lagi bisa menjadi waktu yang pas untuk menunggu suaminya datang.


“Tidak perlu sus. Dia tidak datang.”, jawab Dinda menggeleng pelan dan masuk ke dalam.


“Selamat Siang, Bu Dinda.”, ujar dr. Rima menyapa dengan hangat.


Rima mengamati wajah Dinda sebentar. Kemudian dia melihat ke arah pintu yang ditutup.


‘Pak Arya tidak datang lagi.’, ujarnya menarik kesimpulan dalam hati.


Tapi, untuk tidak memperkeruh suasana pasiennya, dr. Rima tidak membahas itu sama sekali dan tetap membuka senyumnya selebar mungkin.


“Apa kabarnya? Keluhannya masih ada? Terakhir saya dengar Bu Dinda masih mengalami mual beberapa kali?”, tanya dr, Rima.


“....”, tak ada jawaban dari Dinda.


“Bu Dinda? Din?”, panggil Rima


“Oh? Iya dok? Kenapa?”, tanpa sadar, dirinya melamun.


“Bu Dinda baik - baik saja?”, tanya dr. Rima.


“Iya, dokter. Saya baik - baik saja.”, ucap Dinda memaksakan senyumnya.


“Mohon maaf atas nama siapa?”, tanya suster yang bertugas di luar.


Dinda menoleh ke arah pintu karena mengenal suara tersebut.


“Dinda Lestari. Sudah pu-lang, ya sus?”, tanya pria tersebut dari luar.


“Oh, kebetulan baru saja masuk. Bapak, suaminya?”, tanya suster tersebut, namun pria itu langsung membuka pintu.


Ya, Dinda tidak salah dengar. Pria yang berada di luar barusan adalah Arya.


“Mas Arya.”, ujar Dinda terkejut tapi kemudian moodnya perlahan membaik ketika Arya masuk ke dalam dan mengambil duduk di sampingnya.


“Maaf dok, saya terlambat.”, ujar Arya kemudian menyapa dokter Rima yang kemudian membalasnya dengan senyuman.


“Bagaimana Bu Dinda, bisa kita mulai pemeriksaannya? Sudah bisa konsentrasi sekarang?”, tanya dokter Rima sambil tersenyum bercanda.


“Iya dok. Sudah bisa dimulai.”, jawab Dinda sumringah karena Arya sudah ada disana.


Pemeriksaan dilakukan secara verbal terlebih dahulu dengan menanyakan apa saja keluhan - keluhan yang dialami Dinda sepanjang kehamilan sejak terakhir kali mereka periksa. Kemudian, dr. Rima juga menjelaskan beberapa reaksi - reaksi tubuh yang lumrah yang akan Dinda temui kedepannya.


“Sekarang kita coba cek USG?”, tanya dr. Rima berdiri sambil mengarahkan Dinda untuk berbaring di tempat USG.


Dinda berjalan lebih dulu dan mulai berbaring. Sedangkan Arya masih tertinggal di kursi dan baru mulai berdiri. Di sisi lain, dokter Rima sedang mempersiapkan alatnya terlebih dahulu.


“Argh..”, Arya merintih pelan saat akan berdiri dari duduknya.


Dokter Rima dan Dinda yang mendengar meski sangat pelan memastikan ke belakang.


“Pak Arya baik - baik saja.”, tanya dr. Rima.


“Hn.”, jawab Arya tersenyum sambil memasang wajah coolnya.


Dia kemudian berjalan ke arah Dinda dan duduk di sampingnya sambil melihat gambaran USG yang diberikan. Tak lupa, Arya memegang telapak tangan Dinda dan terlihat sangat antusias melihat pergerakan.


“Sebelumnya, mungkin belum terlalu terlihat, ya. Sekarang ukuran janinnya sudah berkembang dan normal sesuai dengan umur janin. Itu kaki dan tangannya sudah mulai terlihat. Tapi ukurannya masih kecil sekali. Untuk saat ini, kita masih kesulitan untuk mengetahui jenis kelaminnya karena masih tertutup. Mungkin pada pemeriksaan selanjutnya sudah bisa. ….”, dr. Rima menjelaskan dengan sangat detail.

__ADS_1


Arya dan Dinda mendengarkan penjelasan itu dengan penuh konsentrasi. Sesekali mereka bertukar pandang karena takjub dengan apa yang mereka lihat di layar.


“Untuk usia kehamilan yang sudah hampir mencapai 3 bulan ini, Bu Dinda mungkin masih merasakan mual, ya. Tapi, jangan menjadi alasan untuk tidak makan. Kalau misalnya malam, harus dipaksa. Mungkin bisa coba gonta ganti menu, tapi harus yang bergizi.”, terang dr. Rima kembali.


“Mohon untuk dijaga sekali kandungannya. Jangan melakukan pekerjaan berat, stress, bepergian jauh, hati - hati dalam bergerak karena di usia kehamilan trimester pertama ini masih sangat beresiko. Sampai disini ada yang mau ditanyakan?”, tanya dr. Rima mengembalikan alat ke posisi sebelumnya.


“Saya sudah resepkan beberapa vitamin. Silahkan nanti diambil di bagian depan seperti biasanya, ya. Untuk Pak Arya, tolong dijaga istrinya ya. Jauhkan dari stress.”, kata dr. Rima sambil berkedip.


“Ha-ha.. Baik dok. Terima kasih penjelasannya.”, ujar Arya.


********


Dinda dan Arya kini sudah berada di bagian tempat pengambilan obat sekaligus pengurusan administrasi. Mereka masih mengantri giliran.


“Mas Arya, makasih ya sudah datang menemani. Tadi, aku pikir mas Arya gak akan datang.”, ujar Dinda sangat antusias.


Saking senangnya, dia tidak malu memeluk Arya tiba - tiba meski di sekelilingnya masih banyak orang.


“Arghhh… “, Arya lagi - lagi meringis kesakitan.


“Oh? Mas Arya kenapa?”, tanya Dinda kaget karena Arya meringis begitu dia memeluknya.


“Enggak.. Gapapa.”, jawab Arya sambil menahan sakit.


Tadi, dia masih bisa mencoba menutupinya, tapi kali ini tidak. Ekspresi wajah Arya jelas menandakan pria itu sedang menahan sakit.


Dinda langsung membuka kancing kemeja Arya.


“Din, kamu ngapain? Ini lagi banyak orang loh. Din..”, Arya langsung panik ketika Dinda langsung membuka kancing bajunya.


Dinda baru membuka dua kancing pertama, namun Arya sudah menutupnya kembali.


“Kamu ngapain? Kamu mau melakukannya disini? Nanti di rumah saja.”, ujar Arya masih sempat bercanda.


Namun, Dinda sudah memasang wajah serius. Arya sedikit bergidik padahal biasanya dia yang auranya selalu lebih kuat dari Dinda.


“Atas nama Ibu Dinda Lestari.”, panggil staf administrasi rumah sakit.


“Nama kamu sudah di panggil. Kita selesaikan pembayarannya dulu, ya dan ambil vitaminnya.”, ujar Arya.


Dinda tidak menjawab. Dia masih menatap curiga pada Arya.


“Atas nama Ibu Dinda Lestari.”, petugas harus memanggil sekali lagi karena belum nampak ada yang bergerak.


“Kita lakukan pembayaran ya sayang. Nama kamu sudah dipanggil.”, ujar Arya sambil berdiri.


Mau tidak mau, Dinda mengikuti dari belakang. Arya memberikan kartu kreditnya. Tanpa berlama - lama, proses pembayaran selesai. Petugas juga menyerahkan vitamin yang sudah di bungkus rapi.


“Hm.. aku parkir mobilnya agak jauh. Aku ambil dulu, ya mobilnya.”, ujar Arya.


“Mas Arya yakin gapapa? Buka dulu bajunya, aku mau lihat.”, kata Dinda sudah hampir menangis karena dia sudah mencium bau - bau kebohongan dari Arya.


“Disini? Sebentar aku ambil mobil dulu ya, kamu tunggu disini. Oke?”, ujar Arya.


Dinda tidak menjawab dan hanya bisa duduk setelah pria itu menyuruhnya duduk.


Arya memanggil ojek pangkalan yang kebetulan baru saja menurunkan orang di depan rumah sakit. Dia tidak mungkin berjalan dalam kondisi seperti itu.


“Arghhhh… perih sekali.”, ujar Arya meringis. Dia mengatur nafasnya karena gesekan kemeja benar - benar membuat rasa perih menjalar ke otaknya.


*******


“Aku langsung antar ke apartemen, ya. Kemarin mau menginap disini sampai akhir pekan, kan?”, tanya Arya kembali bersikap seolah tidak terjadi apa - apa.


“Aku mohon, mas Arya parkirin dulu mobilnya.”, saat ini mereka sedang berada di lobi depan rumah sakit.


Butuh sekitar 15 - 20 menit untuk Arya kembali mengambil mobilnya dan melaju ke rumah sakit lagi. Berbeda dengan satu setengah jam yang lalu, kini jalanan sudah mulai lancar karena jam makan siang sudah selesai.


Dinda mengambil ponsel kantor Arya dan membuka passwordnya. Dia membuka calendar kerja Arya dan melihat tidak ada meeting lagi di kalender pria itu. Arya hanya bisa membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia mau. Arya juga sudah memarkirkan mobilnya.


Tanpa aba - aba, Dinda langsung membuka kemeja Arya. Begitu sampai ke kancing kemeja bagian tengah, dia langsung menyibaknya ke belakang dan menemukan berbagai luka gores mulai dari tengkuk, hingga bagian bahu bawah. Selainnya tertutup dengan singletnya.


Dinda meneruskan membuka kancing hingga paling bawah dan menyibakkan kemeja itu agar lengan Arya bisa terlihat. Lagi - lagi dia melihat beberapa luka gores di bagian siku belakang. Sepanjang itu, sebentar - sebentar Arya meringis karena tangan Dinda tanpa sengaja menyentuh lukanya.


“Mas Arya kenapa? Ini kenapa? Kenapa ga bilang kalau mas Arya luka - luka begini? Sejak kapan?”, tanya Dinda yang tangisnya sudah tumpah.


“Gapapa Din, ini cuma ga sengaja jatuh aja, kok. Iya, jatuh.”, Arya tak bisa memikirkan alasan apapun sekarang karena selain dia menahan perih, usahanya untuk bersikap baik - baik saja sudah gagal.

__ADS_1


“Jatuh apanya sampai baretnya sebanyak ini mas. Kita masuk lagi ke RS, minta susternya obatin, yuk. Ini tu lukanya banyak. Kalau infeksi gimana? Ayukk…”, ujar Dinda menangis sambil menarik telapak tangan Arya.


__ADS_2