
Arya sudah memastikan Dinda memasuki lift. Sekarang saatnya dia keluar dari mobil. Pria itu mengambil tablet, tas kerja, dan tidak lupa satu buah tumbler untuk tempat kopi.
Hal yang wajib bagi Arya untuk minum kopi di pagi hari. Dan biasanya Siska sudah menyiapkan itu di mejanya. Arya hanya perlu memindahkannya ke dalam tumblr kesayangannya. Menurutnya, kopi akan terasa berbeda saat diminum menggunakan tumbler kesayangannya.
“Hai, good morning Pak Arya.”, suara seseorang mencuri perhatian Arya.
Segera setelah dia mengunci mobilnya, keberadaan seseorang yang menghampirinya entah dari mana mengagetkannya. Arya mengenal pria itu. Pria yang beberapa waktu ini menguji prinsip profesionalitasnya.
“Maaf, kenapa Bapak menatap saya seperti itu?”, tanya Dika heran.
Hingga saat ini, Arya hanya bertemu dengan Dika dimana selalu ada orang di sekitar mereka. Arya juga tahu kalau pada pertemuan tanpa sengaja mereka di restoran tempo hari, Dika menguping pembicaraannya dengan Sarah saat wanita itu menghampirinya.
Arya tidak mengatakannya karena dia tidak mau Dinda tahu apa yang terjadi antara dirinya, Dika dan Sarah. Bahwa, sebelum Dika masuk ke perusahaan ini, mereka sudah pernah bertemu dalam situasi yang kurang mengenakkan sebelumnya.
“Kenapa? Kamu merasa tidak nyaman? Jika iya, itu urusanmu, bukan urusanku.”, kata Arya membalas dengan kalimat sinis dan tajam.
“Kenapa perlakukan Pak Arya berbeda dari biasanya. Memangnya ada yang salah?”, tanya Dika masih penasaran.
“Di parkiran, aku dan kamu masih belum terikat hubungan kerja. Jika kita sudah melangkah masuk ke dalam gedung, baru aku akan mengubah sikapku menjadi sikap profesional. Perlakuanku yang seolah tidak terjadi apa - apa selama ini bukan berarti aku lupa siapa kamu. Aku hanya berpikir, that’s worthless.”, Arya baru saja ingin berlalu dari sana namun Dika menghentikannya.
“Baiklah kalau begitu. Apa kamu tahu kalau Sarah masih sangat mencintaimu?”, tanya Dika.
“None of my business.”, jawab Arya dengan tegas dan lantang.
“Karena Dinda? Saya tahu kalau dia adalah istri Pak Arya sebelum kejadian malam itu. Asal Pak Arya tahu.”, kata Dika.
“We’re not talking about Dinda, right now. Apa tujuan kamu masuk ke perusahaan ini sebenarnya? Apa Sarah yang memintamu?”, tanya Arya.
Sebenarnya, dia tidak ingin memperpanjang percakapan yang tidak berguna ini tapi Dika terus saja menguji kesabarannya.
“Heh! Kenapa kalian berdua merasa ada yang aneh dengan fakta aku join di perusahaan ini? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”, tanya Dika.
“If not, then mind your business.”, ucap Arya sebelum segera berlalu dari Dika.
‘Dia benar - benar sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Sarah. Aku kira waktu itu hanya karena ada Dinda disana. Apa dia sudah mencintai istrinya sepenuhnya?’, tanya Dika dalam hati.
‘Bukankah kata Sarah, pernikahan mereka hanya arrangement dari mantan mertuanya? Apa yang membuat Dinda begitu spesial untuknya sampai melupakan Sarah yang sudah bersamanya hampir 10 tahun?’, Dika bertanya - tanya dalam hati.
“Hah”, Arya menghela nafasnya.
‘Kenapa aku harus bertemu dengan orang - orang yang paling aku hindari hari ini.’, gerutu Arya dalam hati.
Saat pintu lift terbuka, Dimas sudah berada di dalamnya. Hanya sendiri. Arya harus menghadiri meeting online sekitar 10 menit lagi. Jika dia melewatkan lift ini, maka kemungkinan besar dia akan terlambat untuk menghadiri meeting.
‘Untuk apa aku harus menghindari pria ini. Memangnya apa salahku.’, kata Arya dalam hatinya.
Harga dirinya sedikit tercoreng ketika ada pemikiran untuk menghindari Dimas. Akhirnya Arya tetap masuk.
Dia sama sekali tidak memiliki niat untuk menyapa Dimas. Tapi, Dimas justru sebaliknya. Selain itu, karena dia melihat siluet Dika berada beberapa meter dari arah lift yang mereka naiki, dia jadi ingin menanyakan sesuatu.
__ADS_1
“Apa kamu mengenal pria itu?”, tanya Dimas pelan.
“Kamu bertanya padaku?”, balas Arya ketus.
“Tentu saja, siapa lagi. Memangnya ada orang lain selain kita disini.”, kata Dimas.
“Salah satu kepala divisi di perusahaan.”, jawab Arya malas.
‘Wait. Kenapa aku harus menjawab pertanyaan orang ini.’, kata Arya jengkel.
“Hati - hati. Pria itu adalah selingkuhan Sarah. Entah apa tujuannya bergabung dengan perusahaan yang sama denganmu.”, kata Dimas memperingatkan.
“Heh.. bukankah kamu selingkuhannya? Aku baru tahu kalau dia punya selingkuhan yang lain. Terima kasih untuk kekhawatiranmu, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri.”, kata Arya masih dengan nada sinis dan ketus.
“Aku mengatakan ini bukan karena aku mengkhawatirkanmu. Tapi, Dinda.”, kata Dimas memperjelas.
Saat itu, pintu lift sudah terbuka di lantai lobi. Seharusnya mereka keluar. Tetapi mereka masih terlibat pembicaraan.
“Berhenti mengurusi istri orang lain. Urusi saja urusanmu sendiri, perempuanmu sendiri. Haruskah aku mengulangi pukulan tempo hari?”, kata Arya menatap tajam ke arah Dimas lalu pergi.
Arya segera menekan tombol lift ke atas dengan emosi karena berbicara dengan Dimas sudah menguras tenaganya.
‘Hah.. mengkhawatirkan Dinda? Memang dia siapanya Dinda? Argh.. membuat orang emosi saja.’, dari luar, orang sekitar mungkin melihat Arya begitu tenang, tetapi di dalam, dia sebenarnya sedang marah - marah.
Jika Arya naik ke atas untuk segera menghadiri meeting. Dimas berjalan menuju cafenya. Beberapa hari ini dia memang sering menghabiskan waktu di cafe ini. Setidaknya 3 hari dalam seminggu, dia pasti menyempatkan diri untuk mengontrol langsung kafenya ini.
“Oh, hai Din. Kamu disini?”, sapa Dimas terkejut saat melihat Dinda ternyata sudah berbaris mengantri di depan meja kasir bersama dengan Delina.
“Tuhkan, Dimas. Kamu suka sama Dinda, ya? Hayo mengaku. Ekspresi kamu langsung berubah 180 derajat dari yang kita lihat kemarin.”, kata Delina mulai bergosip.
“Oh, benarkah?”, alih - alih membantah atau menunjukkan ekspresi tidak suka, Dimas malah membuatnya jadi ambigu.
“Sikat aja Dim. Dinda single, kok,”, kata Delina sambil berbisik.
“Benarkah? Tahu dari mana kamu? Wanita secantik dia, pasti sudah ada yang punya.”, balas Dimas sambil ikut berbisik.
Tapi percayalah, meskipun keduanya berbisik, suara mereka bisa didengar oleh Dinda dengan jelas, bahkan sangat jelas.
“Din, boleh kita berbicara sebentar?”, kata Dimas setelah puas bercanda dengan Delina.
“Wuuu…. Dimas, aku suka karena kamu langsung bergerak cepat. “, puji Delina.
Dinda tampak enggan dan merasa tidak nyaman dengan ajakan tersebut.
“Maaf, aku harus segera ke atas. Nanti Pak Erick mencariku.”, kata Dinda hendak pergi sebelum mengambil pesanannya.
“Sebenar saja, Din. Penting. Aku janji tidak lebih dari 5 menit, please.”, kata Dimas lembut.
“Sudahlah, Din. Sebentar saja kok, katanya. Pesanan kita sudah siap. Biar aku yang bawa ke atas, ya. Aku jalan duluan, ya. Nanti minuman milk avocado kamu aku taruh di atas meja, ya.”, kata Delina langsung kabur.
__ADS_1
Padahal, Dinda tadi tanpa sengaja bertemu dengan Delina saat menunggu lift untuk menuju lantai atas. Delina juga yang menyeretnya ke cafe karena dia tidak ingin kesana sendiri. Sebagai gantinya, Delina mentraktir Dinda, juga. Karena itulah, Dinda jadi memesan Milk Avocado, padahal dia sudah sarapan.
Tapi, Delina justru meninggalkannya disini dan kabur begitu saja.
“Duduk dulu sebentar. Aku tidak akan melakukan apa - apa. Lagi pula banyak orang disini. Arya juga tadi sudah ke atas. Tidak akan ada yang salah paham.”, kata Dimas mencoba membuat Dinda lebih nyaman.
“Apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan.”, tanya Dinda to the point agar pertemuannya cepat selesai.
“Dika. Pria itu Kepala Divisi kamu, kan? Tempo hari aku melihatnya di restoran.”, tanya Dimas.
“Iya. Memangnya ada apa?”, tanya Dinda.
Sebenarnya Dinda tidak tertarik sama sekali dengan pembicaraan ini. Tapi, jika dia menolak, maka Dimas akan tetap membujuknya dan membuat semuanya jadi lebih lama lagi. Jadi, Dinda hanya mencoba mengikuti arah pembicaraan Dimas.
“Kamu harus hati - hati dengannya.”, kata Dimas memperingatkan.
“Hati - hati? Untuk apa? Kamu mengenalnya?”, tanya Dinda jadi heran dengan peringatan yang barusan diberikan oleh Dimas.
“Arya tidak menceritakannya padamu?”, tanya Dimas.
“Arya? Menceritakan apa? Mas Arya? Untuk apa mas Arya membahas Pak Dika? Seperti yang kamu katakan. Benar, Pak Dika adalah Kepala Divisi di tempatku, tidak ada hubungannya dengan mas Arya.”, kata Dinda.
“Ternyata Arya benar - benar tidak menceritakannya padamu. Arya mengenal Dika.”, kata Dimas dengan penuh penekanan.
“Heh, tentu saja mereka saling kenal. Mereka sama - sama Kepala Divisi. Walaupun aku hanya intern, tapi aku tahu kalau bercerita tentang Pak Dika padaku bukanlah hal yang penting. Jadi, untuk apa mas Arya menceritakan tentangnya. Sudahlah, aku mau kembali.”
“Tunggu, Din. Bukan itu maksudku. Arya sudah mengenal Dika jauh sebelum pria itu masuk di perusahaan yang sama dengan kalian.”, kata Dimas berusaha menghentikan Dinda untuk pergi.
“Lalu? Hal seperti itu tentu bisa terjadi.”, balas Dinda.
“Dika memiliki hubungan spesial dengan Sarah dan Arya tahu itu. Arya pernah memergoki Sarah dan Dika sedang berdua di sebuah hotel di luar kota. Padahal besoknya mereka berencana untuk bertemu.”, jelas Dimas.
Dinda bisa mendengar penjelasan Dimas tapi dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan pria itu.
“Kenapa Arya tidak menceritakannya padamu? Dan kenapa Arya bersikap biasa saja pada Dika? ”, tanya Dimas.
“...”, tidak ada respon dari Dinda.
“Yang jelas, kamu harus berhati - hati dengan pria itu.”, kata Dimas memperingatkan.
“Baiklah. Terima kasih atas saran yang kamu berikan. Sudah lima menit. Aku harus kembali.”, kata Dinda.
“Din, tunggu.”, Dimas refleks memegang pergelangan tangan Dinda.
“Oh maaf.”, katanya tak lama berselang karena melihat wajah Dinda terkejut.
“Apa kamu baik - baik saja setelah bertemu Sarah saat itu?”, tanya Dimas.
Kali ini pertanyaannya tulus. Dimas tidak tahu sama sekali tentang pertemuan Dinda dan Sarah pada waktu sebelumnya. Bagaimana Dinda sudah berani untuk menghadapi Sarah.
__ADS_1
Kenyataan bahwa Arya memiliki orang dari masa lalu tidak berubah. Tetapi Dinda juga harus percaya bahwa dia adalah orang yang ada di samping Arya sekarang.
“Tentu saja. Aku menghormati mba Sarah sebagai mantan istri mas Arya. Tetapi, saat ini, aku adalah istrinya. Jadi, kejadian waktu itu tidak mempengaruhiku sama sekali. Dan aku yakin mas mas Arya juga begitu. Terima kasih atas perhatianmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir.”, kata Dinda sebelum berlalu meninggalkan Dimas.