
“Hai dok, selamat pagi.”, sapa Dimas.
Taman sekitar terlihat sangat rindang. Pepohonan juga bergerak seiring dengan semilir angin lembut yang sedikit menyegarkan. Dimas bisa melihat jelas dari tempat dia berdiri saat ini. Pria itu tengah memantau proses pengerjaan branch Cafe terbarunya.
“Hum.. saya tidak tahu kalau brand Anda juga buka di Rumah Sakit.”, tanya dokter tersebut.
“Awalnya sulit. Tapi, berkat adanya jaringan teman, akhirnya saya bisa buka disini. Saya tidak tahu akan seperti apa marketnya. Tapi, saya berharap bisa sukses karena belum ada kompetitornya.”, ujar Dimas menjawab.
Ya, dokter yang dimaksud adalah dr. Rima. Mereka bertemu tanpa sengaja di sebuah hotel besar di luar kota. Saat itu Dimas sedang bertemu dengan teman lama disana. Sedangkan dr. Rima sedang mengikuti konferensi di bidang kesehatan.
Kamar hotel mereka berseberangan. Seorang wanita yang sedang hamil yang satu lift dengan mereka tiba - tiba saja pingsan. dr. Rima dengan cepat memberikan pertolongan pertama, sedangkan Dimas membantu menghubungi ambulans dan meminta bantuan petugas hotel. Kerja sama mereka telah menyelamatkan seseorang.
Ibu itu benar - benar beruntung, karena saat insiden terjadi, di hotel itu sedang ada konferensi besar dimana banyak sekali dokter - dokter ahli yang berlalu lalang.
Awalnya dr. Rima tidak sadar, namun saat melihat Dimas lebih dekat, dia baru tahu kalau pria itu adalah pria yang diperkenalkan oleh bartender di bar tempo hari.
“Aku kaget kamu mengikuti kompetisi karate Deni kemarin. Aku kira kamu hanya bercanda.”
“Haha dia menyebutkannya? Padahal aku menyuruhnya untuk menjaga rahasia.”, kata Dimas tersenyum sambil menyeruput minumannya.
“Dia senang ada yang datang selain neneknya. Bagaimana kamu bisa akrab dengan anak kecil? Aku rasa kalian baru bertemu beberapa kali.”, ujar Rima dengan tatapan bingung.
“Hum.. lonely soul recognise lonely soul?”, kata Dimas sambil bercanda.
“Maksudmu?”
“...”, Dimas tak menjawab.
“Baiklah… pria penuh misteri. Saatnya aku kembali untuk menemui pasien - pasienku. Jangan lupa memberikan kupon gratis padaku jika cafemu sudah launching.”, kata dr. Rima sebelum berlalu.
Dimas memberikan ekspresi ‘Oke’ dengan permintaan dr. Rima.
Rambut dan jas putih dr. Rima beberapa kali terbang terkena angin yang kencang sore itu. Seolah ingin mengiringi siluetnya berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.
********
“Kamu tidak berangkat bekerja? Aku kira kamu sudah pergi dari tadi. Oh.. bau sekali. Kamu minum semalaman?”, kata Rianti yang kaget suaminya masih berada di dalam ruang kerjanya.
Dia baru saja ingin mencari stationary yang dia pikir ada di ruang kerja Dika. Alangkah kagetnya wanita itu saat melihat suaminya tertidur di sofa dengan kemeja yang acak - acakan. Ruangan itu juga bau karena ada botol minuman disana.
“Untung saja Putera sedang tidak di rumah. Kamu sudah gila. Kenapa minum sampai di rumah segala? Apa tidak bisa pergi ke bar?”, ujar Rianti sambil menendang - nendang lengan Dika.
Dia ingin memeriksa apakah laki - laki itu masih sadar atau tidak.
“Ada apa denganmu?”, tanyanya heran.
Biasanya mereka tidak pernah terlibat percakapan yang intens sebelumnya. Tapi pemandangan ini adalah pemandangan langka yang hampir tidak pernah dilihatnya dari Dika sejak dia menikah.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh minum sepertimu, hah? Memangnya hanya kamu yang boleh minum?”, kata Dika bangun dan mendudukkan badannya di kursi.
“Heh.. masih hidup kamu rupanya. Setidaknya aku tidak pernah menunjukkan kalau aku mabuk di rumah. Kenapa? Apa kamu akhirnya menyesal telah melewatkan kesempatan untuk menjadi pemilik saham di perusahaan ayahku?”, kata Rianti dengan nada yang menyinggung perasaan Dika.
“Sudah sana mandi dan berangkat ke kantor sebelum kamu dipecat dari sana.”, kata Rianti sebelum mengambil stationary yang dia inginkan dan pergi.
Namun, Dika justru menarik lengannya hingga tubuhnya terjatuh di atas pangkuan Dika.
“Apa - apaan kamu?”, Rianti sangat kaget saat dirinya berada dekat dengan suaminya.
Meski Dika berstatus sebagai suaminya, tetapi mereka tidak pernah sedekat ini.
“Huh..! Hanya sedekat ini saja ekspresimu sudah seperti itu.”, kata Dika sinis.
“Lepaskan.”, kata Rianti.
“Apa kamu menyukaiku?”, tanya Dika random.
“Pertanyaan macam apa itu?”, kata Riantai tetap berusaha menarik tangannya dari Dika.
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu membuatku hidup seperti ini?”, kata Dika dengan tatapan yang tajam.
“Bagaimana kalau aku katakan aku menyukaimu? Apa kamu percaya?”, kata Rianti dengan tatapan yang tak kalah serius.
‘Apa aku harus mengakui kekalahanku sekarang?’, pikirnya dalam hati.
Dika melepaskan pegangannya dari Rianti. Dia juga melepaskan istrinya itu dari pangkuannya dan pergi begitu saja menuju kamarnya.
Rianti hanya bisa terdiam.
*********
Menjelang Townhall dengan CEO di Perusahaan, para karyawan disibukkan dengan pembuatan presentasi. Masing - masing Kepala Divisi pasti akan meminta mereka untuk memberikan data yang akurat. Hal itu juga terjadi di Business and Partners. Terlebih, Kepala Divisi mereka adalah orang se-Perfect, Arya.
Hampir tidak ada kesalahan yang luput dari pandangannya. Hal itu juga yang sebenarnya membuat para manager di divisi Business and Partners terkadang stress.
Selain dengan data dan persiapan Town Hall, ada hal lain juga yang membuat divisi Business and Partners lebih sibuk dari biasanya. Apalagi kalau bukan GOSIP HANGAT seputar Kepala Divisi mereka.
Hanya dalam waktu beberapa jam saja, berita itu sudah tersebar hampir ke seluruh ponsel karyawan yang ada di divisi Business and Partners. Bahkan, beberapa orang di divisi lain yang memang biang gosip juga sudah mengetahuinya.
Ya, gosip itulah yang diketahui oleh Andra pagi ini. Dia sangat antusias sampai - sampai tidak sabar untuk menceritakannya dengan tim yang lain. Bahkan ia rela berangkat pagi hanya untuk itu.
‘Andra, Andra.. Suatu saat nanti, kebiasaan ini mungkin yang akan menghancurkan kamu.’
Mungkin pernyataan ini adalah pernyataan ke-100 kalinya yang sudah diucapkan oleh Erick padanya. Bryan juga sering memperingatkan dirinya. Bahkan Fas juga sampai geleng - geleng kepala. Fas justru lebih kepo pada intel Andra yang membuat pria itu tahu berbagai gosip dari divisi sebelah.
“Wah.. orang yang menyebarkan hal ini, tahu banget timing yang pas.”
“Timing apa?”
“Sebentar lagi kan ada Town Hall dengan CEO.”
“Tapi, menurut kalian siapa wanita itu? Sudah pasti itu bukan Siska.”
“Apa orang yang menyebarkan ini juga memiliki tampak depannya? Ahhh aku sangat penasaran. Kenapa dia mengirimkan trailer seperti ini?”
“Orang jelas begini, bagaimana cara editnya? Tapi ini dimana sih posisinya?”
“Sekitarnya sengaja di blur supaya tidak ketahuan dimana.”
“Artinya kalau tempatnya ketahuan, kita bisa tahu siapa wanita itu?”
“Bisa jadi. Karena menurutku ada alasan kenapa foto ini di blur.”
“Eh, tapi Pak Arya tahu gak sih kalau foto seperti ini tersebar? Atau hanya kita saja yang tahu?”
“Kalau yang menyebarkan pintar sih, dia tidak akan menyebarkan ke Siska.”
“Tapi, Siska bisa tahu dari teman - temannya.”
“That’s the point, cepat atau lambat, Pak Arya juga tahu kalau kehidupan pribadinya ada yang mengumbar.”
“Bukankah ini biasa saja? Pak Arya punya pacar. Perempuan. Wajar gak sih? Dia kan juga sudah tiga tahun jadi Duda Tampan.”
“Hem.. betul. Wajar kalau Pak Arya punya pacar. Aku bingung kenapa hal seperti ini di besar - besarkan.”
“That’s the point? Why? Kenapa foto ini disebarkan? Perasaan Pak Arya bertemu dengan banyak perempuan seksi di klub malam, tidak ada yang foto, tidak ada yang membicarakan, dan tidak ada yang menyebarkan.”
“Ya, at least di awal - awal kita sempat gosip tentang itu. Tapi, tidak ada yang istimewa. Kenapa foto kali ini berbeda?”
“Berarti ada sesuatu di belakangnya.”
“Benar sekali.”
*********
Sementara itu di divisi Digital and Development, nampaknya suasana masih kondusif, aman dan terkendali. Hal ini karena sumber gosip sedang meeting di luar bersama Rini. Dia sekarang sedang stress di tempat meeting karena memegang informasi penting tetapi tidak bisa memberitahunya pada siapapun.
__ADS_1
‘Kenapa sih, mba Rini harus mengganti jadwal meetingnya menjadi hari ini.’, Andra terus mengutuk mba Rini sepanjang meeting.
“Oke Pak. Terima kasih atas penawarannya. Kemungkinan besar perusahaan kami tertarik untuk menggunakan produk dari perusahaan Bapak. Namun, kami perlu melakukan diskusi mendalam secara internal dengan divisi IT kami terlebih dahulu.”, jelas Rini.
“Baik Bu Rini, Terima kasih atas kepercayaannya. Kalau begitu kami tunggu kabar baik segera.”
Masing - masing berdiri dari tempat duduknya dan saling bersalaman. Andra sebagai karyawan yang lebih junior daripada Rini mempersilahkan tamu mereka untuk undur diri dengan membukakan pintu.
“Ahhh… akhirnya selesai juga meetingnya.”, ucap Andra lega.
Ia terlihat segera mengambil buku dan pulpennya dan berencana kabur sebelum Rini memberikan perintah lain yang aneh - aneh.
“Eh eh eh.. Mau kemana kamu Andra?”, panggil Rini langsung menarik kerah kemeja Andra bagian belakang.
“Ada apa lagi, mba? Kan meeting nya sudah selesai?”, tanya Andra bingung
“Kamu ya, sudah seperti cacing kepanasan selama meeting. Lihat jam terus. Ada apa sih?”, tanya Rini heran.
“Hm… Mba Rini. Selama kita meeting, mba Rini gak tahu ada kabar penting yang sudah terlewatkan. Gak tahu, kan?”, kata Andra dengan nada yang dibuat - buat.
“Apaan sih.”, tanya Rini heran.
“Sini.”, Andra kemudian mengajak Rini untuk mendekat padanya sembar dia membuka sesuatu di ponselnya.
“.....”, masih belum ada respon dari Rini. Dia masih mencoba mencerna foto yang diberikan.
“Oh?”, kata Rini refleks menutup mulutnya.
“Itu, Pak Arya?”, tanya Rini penasaran.
Andra mengangguk.
“Bersama wanita?”, tanyanya lagi.
Andra kembali mengangguk.
“Ih, Andra. Kamu, ya. Bahaya tahu. Kalau Pak Arya sampai tahu, bisa habis kamu. Ini urusan pribadi orang.”, kata Rini sampai menutup pintu ruang meeting karena tidak ingin ada yang mendengar.
“Ini sudah bukan rahasia lagi. Aku yakin banyak karyawan di divisi Business and Partners yang juga sudah melihat ini.”, kata Andra.
“Kamu sebarin ke mereka?”, tanya Rini semakin kaget.
“Bukan. Aku juga dapat dari informan terpercaya. Di luar divisi Business and Partners, hanya orang - orang khusus yang dapat foto ini.
“Jadi, bukan kamu yang foto?”, tanya Rini lagi.
“Ya, bukanlah. Aku juga gak seberani itu, mba.”
“Terus siapa yang foto?”, tanya Rini dengan nada panik.
“Ya mana aku tahu. Informan aku adalah orang kesekian yang dapat foto ini. Kita gak tahu dari mana asalnya.”
“Gila. Ini tuh sudah melanggar privasi. Se-kepo apapun sama Pak Arya, masa sampai sebegini nya. Hati - hati kamu, jangan ikut - ikutan gosip. Kalau pak Arya sampai tahu, bisa habis.”, kata Rini memperingatkan.
“Lebay banget mba Rini, orang Business and Partners saja sudah banyak yang tahu.”
“Jadi, kamu dari tadi gelisah saat meeting karena ingin menceritakan foto ini ke yang lain?”, tanya Rini tidak percaya dengan anak buahnya.
Andra mengangguk polos.
“Heh, aku kasih saran ya ke kamu. Kantor itu adalah tempat bekerja, bukan tempat gosip. Kalau kamu mau bergosip, pindah kerja aja di perusahaan infotainment yang bisnisnya memang berita artis. Biar hasrat kepo kamu terpuaskan.”, kata Rini greget.
“Mba Rini kan juga suka gosip.”, ujar Andra.
“Ini sudah keterlaluan, Andra. Aku saranin kamu jangan ikut - ikutan. Pak Arya itu lebih menyeramkan dari yang kamu kira. Jangan sampai kamu ada di situasi yang salah.”, Rini membuka pintu ruangan meeting dan berlalu.
Andra hanya terdiam merasa tidak terima. Tadinya dia bersemangat untuk menunjukkan foto itu pada yang lain. Tapi, setelah dia pikir - pikir, perkataan Rini barusan membuatnya sedikit takut juga.
__ADS_1