
“Jadi, apa ada email terbaru dari James?”, tanya Arya yang memutar setirnya untuk keluar dari kawasan perkantoran menuju destinasi mereka selanjutnya malam ini. Sebuah kawasan dimana ada mall, apartemen, dan juga hotel di tempat yang sama.
Arya harus menghadiri acara kantor di sebuah klub disana dan Dinda mungkin harus berputar - putar sekitar mall untuk menunggu Arya. Dia tidak mau pulang sendirian. Perjalanan ke rumah bersama Arya juga menjadi waktu yang dia nikmati.
Kalau dia pulang sendiri, tanpa Arya. Sampai di rumah belum ada Arya. Pria itu mungkin akan pulang saat dia sudah bersiap untuk tidur, atau bahkan sudah terlelap. Lalu, besok rutinitas kantor yang sama akan diulangi kembali.
Lantas, kapan waktu berduanya? Jadi, Dinda memanfaatkan segala kesempatan yang ada.
“Belum ada. Pak James janji akan mengabari minggu ini. Jadi masih ada tiga hari lagi.”, ujar Dinda.
“Jangan terlalu berharap.”, kata Arya dengan nada yang sangat dingin.
Padahal kata - kata itu saja, tanpa intonasi dingin juga sudah sangat menyakitkan. Apalagi dengan suara datar Arya.
‘Dia ingin menghiburku atau malah membuatku tambah sedih.’, kata Dinda dalam hati.
“Kemungkinan kamu bisa stay atau tidak itu adalah 50%. Itu juga sudah kemungkinan paling tinggi. Karena kemungkinannya 1:0, lebih baik tidak memberikan harapan terlalu tinggi. Prepare for the worst. Semakin tinggi harap kamu, maka semakin tinggi rasa kecewa yang kamu dapatkan.”, ujar Arya setelahnya.
“Kenapa mas Arya semudah itu mengatakannya? Aku tidak tahu aku ini apa tanpa pekerjaan itu.”, balas Dinda.
Arya sedikit terkejut dengan respon istrinya.
“Apa aku ..”
“Hn… mas Arya terlalu jujur sampai bikin sakit disini.”, Arya belum selesai mengatakan kalimatnya, Dinda sudah memotongnya.
“Maaf. Aku terbiasa memikirkannya dengan logika. Aku tidak tahu kamu akan sakit hati dengan kata - kata itu.”
“Apa ada yang mau menerima wanita hamil? Bagaimana dengan startup tempat Ibas bekerja?”, tanya Dinda menoleh pada Arya.
Pria itu terus berkonsentrasi untuk menyetir. Dia hanya sesekali melihat ke arah Dinda. Itupun hanya jika mereka harus berhadapan dengan lampu merah.
“Jangan start-up Ibas.”, kata Arya dengan cepat.
Dia bahkan tidak terlihat berpikir sebelum menjawabnya.
“Kenapa?”, tanya Dinda bingung.
“Oh? Hm.. yang jelas jangan.”, kata Arya.
“Iya, tapi kenapa? Sepertinya disana masih ada banyak lowongan. Mungkin saja ada yang cocok denganku. Aku tidak masalah jika tidak mendapatkan gaji saat maternity leave. Asalkan aku bisa bekerja dan belajar.”, ungkap Dinda.
“Bukankah katanya istri harus mendengarkan suami. Kamu coba yang lain tapi jangan start-up.”, ujar Arya.
“Iya, tapi harus tahu alasannya. Masa mengikuti saja tapi tanpa alasan yang jelas. Itu tidak adil namanya. Aku juga perlu tahu alasannya supaya bisa lebih ikhlas mengikutinya. Oiya.. tumben mas Arya bicara begitu. Seperti bukan mas Arya saja.”, kata Dinda menggodanya.
“Start-up pasti banyak yang sepantaran kamu.”, jawab Arya singkat.
‘Jawaban apa itu?’, Dinda bertanya - tanya dalam hati.
“Alasannya karena banyak yang sepantaran? Terus kenapa? Justru lebih mudah berkomunikasi dengan yang sepantaran. Seperti teman. Kalau di kantor yang sekarang, aku harus berkomunikasi dengan karyawan yang usianya berbeda - beda. Teknik komunikasinya juga harus beda. Kadang aku jadi harus berpikir 5 kali sebelum bicara.”, oceh Dinda panjang lebar.
__ADS_1
“Ya, bagus. Kamu jadi banyak keahlian.”
“Tunggu, jadi memangnya kenapa kalau sepantaran. Tunggu, aku tidak ingin GR, tapi hanya ini alasan yang terpikirkan olehku. Jangan bilang mas Arya cemburu? Eih gak mungkin - ga mungkin.”, kata Dinda segera menyangkal pemikirannya.
“Hn.”, jawab Arya seperti tak ada gerakan bibirnya sama sekali.
“Hn? Hn maksudnya? Mas Arya suka setengah - setengah deh kalau jawab. Singkat - singkat amat. Lagi nabung suara?”, goda Dinda sambil tersenyum.
Arya memutar setirnya memasuki sebuah kawasan yang mereka tuju. Mereka masuk dari arah Mall. Lebih mudah untuk keduanya. Pembicaraan mereka harus berhenti sebentar karena Arya harus fokus pada beberapa hal kecil seperti mengambil kartu parkir, mencari tempat, dan lain - lain.
“Nanti kita lanjut pembicaraan yang tadi.”, ujar Arya turun dari mobil.
Dinda juga ikut turun dari mobil. Mereka bertemu di belakang. Arya sudah siap menunggu istrinya untuk menyeberang bersama menuju ke lobi.
“Tunggu, masih ada mobil.”, ujar Arya menahan lengan Dinda yang sudah ingin berjalan padahal masih ada mobil di kanannya.
“Oh iya, untung saja.”, respon Dinda memundurkan langkahnya.
“Kamu itu bikin saya deg - deg-an. Gimana bisa ditinggal sendiri kalau begini.”, ujar Arya.
“Bisa kok, mas Arya. Aku orangnya hati - hati, kok.”, balas Dinda.
Padahal biasanya dia juga kemana - mana sendiri sebelum menikah dengan Arya. Tapi, berhubung Dinda orang rumahan, jadi kemana - mana nya mungkin hanya sekali se-abad saja (lebay). Dinda hanya keluar rumah di luar jadwal ngampusnya adalah hanya saat teman - temannya mengajak jalan saja.
“Jadi, kamu mau ditinggal disini?”
“Iya, aku mau muter - muter aja. Sudah lama tidak jalan - jalan di mall. Sekalian lihat - lihat kalau ada baju bumil yang cocok.”, kata Dinda.
“Kan ini ada.”, Dinda menunjukkan tasnya.
Arya sudah memberikannya lebih dari cukup.
“Beneran mas Arya. Memangnya aku mau borong semua. Aku juga belum tentu beli karena mama sudah beli banyak.”, ucapnya.
“Ya sudah sana. Nanti kalau sudah selesai kabari, ya.”, lanjut Dinda lagi.
“Ya udah.. Hati - hati.”, ucap Arya.
**********
“Segera tentukan waktunya.”, Dika mengatakan dengan tegas pada istrinya.
Hari ini Dika pulang karena Putera dikabarkan sakit dan kembali ke rumah hanya selang beberapa hari dia kembali ke asramanya. Tidak parah. Hanya demam karena mungkin kelelahan. Namun karena Putera terus meminta papanya, Dika akhirnya pulang dan tidur di rumah bersamanya.
Putera baru saja tertidur. Dika menggunakan waktu ini untuk berbicara serius dengan Rianti perihal permintaan maafnya yang belum juga dia lakukan.
“Baiklah. Begitu Putera sembuh aku akan menemuinya dan meminta maaf.”, ucap Rianti.
“Ingat, yang kamu lakukan tidak hanya merugikan gadis itu seperti yang kamu lihat saja. Akibat hubungan mereka yang terungkap. Gadis itu harus kehilangan pekerjaannya dan hampir semua orang menggosipkan dirinya.”, jelas Dika.
“Itu bukan urusan aku dong. Siapa suruh mereka menyembunyikan hubungan mereka. Bikin orang salah paham saja. Aku memang salah sudah main labrak orang, tapi dampak dari omongan pria itu, bukan salah aku dong.”, jawab Rianti tak terima.
__ADS_1
Dika tak ingin berdebat.
“Minggu ini.”, ucap Dika sebelum memasuki kamarnya.
**********
Ting ting ting
Bunyi notifikasi pesan di ponsel Dinda mengalihkan perhatiannya dari sebuah baju berwarna putih yang terpasang di salah satu etalase toko.
‘Baju hamil nya terlihat menarik.’, pikirnya dalam hati.
Dari Bianca:
Din, aku boleh bicara sama kamu?
‘Hm?’, Dinda heran dengan pesan yang baru saja dikirimkan Bianca. Tak biasanya dia bertanya dulu. Bahkan dia sering kali langsung datang tanpa pemberitahuan.
Dinda langsung menekan tombol telepon.
“Halo Assalamu’alaikum, Bi. Kenapa?”, tanya Dinda to the point.
Terdengar suara sesegukan dari arah seberang sana.
“Bi, kamu kenapa? Tenang dulu. Bicara pelan - pelan. Sebentar aku cari tempat duduk dulu.”, kata Dinda.
Meski baru menginjak 4 bulan, tapi Dinda tidak bisa berdiri terlalu lama apalagi dia sudah berputar - putar mall selama 30 menit.
“Dinda…….”, tangisnya pecah.
Seketika itu Dinda langsung khawatir.
“Kamu kenapa? Kamu dimana sekarang? Kamu tidak apa - apa, Bi?”
“Aku kayanya bakal cerai deh sama mas Reza… huwaaaaaa…..”, dia baru saja mengeluarkan beberapa kata kemudian sudah menangis lagi.
“Memangnya ada apa? Cerita pelan - pelan.”, kata Dinda.
“Kamu dimana? Bukan sedang di rumah? Kok rame?”, perhatian Bianca rupanya teralihkan dengan berbagai pengumuman dan suara musik di belakang Dinda.
“Aku sedang di Mall. Tidak apa - apa, kamu cerita saja.”
“Nanti saja kalau kamu sudah pulang. Aku tidak mau mengganggumu. Kamu pasti sedang bersama mas Arya, kan.”, suara tangis Bianca mulai mereda diganti dengan nada yang lesu.
“Mas Arya tidak bersamaku. Dia sedang menghadiri acara kantor dan aku menunggunya. Jadi aku sendirian, tidak apa - apa kalau kamu ingin cerita sekarang, Bi.”, Dinda kembali menawarkan.
“Tapi aku bingung harus mulai dari mana…. Yang jelas kata - kata itu muncul dari mulutku begitu saja. Lalu mas Reza bukannya menahan, tak kusangka dia malah mengiyakan dan pergi. Sampai sekarang dia belum pulang. Aku tidak tahu dia kemana.”, tangisnya kembali.
“Jadi, sekarang kamu di rumah kalian, kan?”, tanya Dinda hanya ingin memastikan sahabat yang sekarang sudah menjadi keluarganya ini berada di tempat yang aman.
“Hn… tapi mas Reza gak pulang - pulang.”, jawab Bianca.
__ADS_1
“Baiklah.. Kamu tenang dulu, ya. Mungkin kalian sama - sama emosi. Aku akan coba tanyakan ke mas Arya. Mungkin saja dia tahu. Mas Reza kan sepupunya. Kamu tunggu saja di rumah, mas Reza pasti akan pulang. Hm? Kamu yang tenang, ya.”, Dinda mencoba menenangkan Bianca terlebih dahulu.