
Dinda tidak menyangka keputusannya untuk menyusul Arya malam ini membuatnya kehilangan harta yang paling berharga baginya. Meski ia kini sudah menjadi istri Arya yang sah, tetapi dia masih belum bisa memastikan komitmen Arya pada pernikahannya. Dinda tak ingin nasibnya sama dengan ibunya. Dikhianati dan ditinggalkan begitu saja.
Tapi semuanya sudah terlambat. Arya sudah merenggut itu darinya. Dan yang lebih buruk lagi adalah saat pria itu masih dalam pengaruh alkohol. Arya sudah terlelap dari setengah jam yang lalu. Sementara Dinda masih terisak menangis disampingnya. Perlahan, dia juga ikut tertidur karena lelah. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 2 malam.
Jam 7 pagi hari…
Mata Dinda yang terlelap perlahan mulai mengerjap. Ia berusaha membuka matanya sambil menahan pegal yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Dinda berharap apa yang terjadi tadi malam hanyalah mimpi. Namun tubuhnya yang kini berada di balik selimut tebal hotel seolah tak pernah bisa melupakan perlakuan Arya semalam.
Masih diranjang yang sama, Dinda menoleh ke samping dan mendapati Arya masih terlelap. Hanya setengah tubuh Arya yang tertutup selimut, sementara punggungnya terekspos melawan dinginnya AC kamar itu.
Dinda berusaha bangun perlahan sambil meringis. Tubuhnya benar - benar remuk. Ia tetap mengalungkan selimut di tubuhnya. Pandangannya beredar ke sekitar kamar. Baju miliknya dan Arya sudah berserakan tak menentu di lantai.
“Aaak… Aaa”, Dinda meringis pelan saat berusaha menurunkan kakinya ke lantai. Dia ingin segera mandi dan meninggalkan kamar ini.
Dinda memijat pelipisnya karena efek sakit kepala yang dirasakannya. Gadis itu berusaha berdiri sambil melingkarkan selimut di tubuhnya dan menyeretnya ke kamar mandi. Meninggalkan Arya di kasur hanya dengan celana pendeknya saja.
Masih dengan selimut yang melingkar di tubuhnya, Dinda memandangi dirinya di cermin. Di lehernya, banyak sekali tanda merah. Dinda memejamkan matanya dan dari situ keluar beberapa tetes buliran air mata yang seolah tak kering dari tangisnya semalam.
Gadis itu beranjak dan menyalakan shower untuk membersihkan dirinya. Dinda melihat beberapa noda merah di selimut yang ia bawa. Lama dia di kamar mandi. Entah mandi atau semakin tenggelam dengan bayangan - bayangan tadi malam.
Air shower seperti sudah menyatu dengan air matanya yang tak berhenti turun. Hati Dinda sakit. Begitu sakit sampai suara tangis pun tak keluar lagi. Hanya wajah datar dengan air mata yang terus mengalir.
Satu jam ia habis kan di kamar mandi. Dinda keluar menggunakan handuk kimono yang tersedia di sana. Dia keluar kamar mandi dan mengutip satu persatu bajunya yang berserakan di lantai, sebelum akhirnya kembali lagi ke dalam kamar mandi untuk mengenakannya.
15 menit yang lalu.
“Aahhh … Arghhh… hm… Argghhh.”, Arya perlahan terbangun dari tidurnya dengan kepala yang terasa ingin pecah.
Matanya mengedarkan pandangan ke sekililing ruangan yang tidak dia kenal. Ia melihat baju yang berserakan di lantai. Matanya masih biasa saja saat melihat kemeja dan celana panjangnya, namun wajahnya langsung terkejut tatkala melihat baju tidur wanita juga berserakan di lantai.
Sekelebat bayangan - bayangan tadi malam mulai kembali masuk dalam ingatannya. Bagaimana dia mencium Dinda dengan kasar dan tidak melepaskannya. Bagaimana Arya mengambil sesuatu yang paling dijaga oleh gadis itu sambil mengatakan hal yang tidak pantas padanya.
Mata Arya kini tertuju pada noda merah yang ada disampingnya. Ia tersadar pada kesalahan besar yang sudah ia lakukan.
__ADS_1
“Ah…Sh*t.”, ujarnya saat sadar apa yang sudah dia lakukan pada Dinda, istrinya.
Sejak ia bercerai, Arya sudah sering minum di bar. Setidaknya 4 kali dalam sebulan. Banyak wanita yang mengobrol dengannya dan mengajaknya tidur, tapi semabuk apapun dia, Arya tidak pernah sekalipun tergoda untuk tidur dengan mereka. Bahkan, pikiran itu tidak pernah ada sekalipun dalam benaknya.
Tapi, mengapa malam ini dia tak bisa mengendalikan dirinya sama sekali saat melihat Dinda ada di hadapannya? Dia jelas sudah melakukan kesalahan besar, meski Dinda adalah istri sahnya.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka, Arya melihat sosok Dinda yang sudah mandi dengan balutan handuk kimononya.
“Din, Din… saya minta maaf. Saya gak bermaksud.”, Arya mencoba berdiri meskipun kepalanya masih sangat pusing. Ia berdiri sempoyongan, tapi terus berusaha mendekat pada Dinda.
Gadis itu mengutip satu persatu pakaiannya tanpa memedulikan Arya.
“Din, dengarkan saya dulu. Saya minta maaf. Saya sudah keterlaluan. Din..”, Arya berhasil memegang tangan Dinda, namun gadis itu menepisnya dan segera masuk ke kamar mandi.
Arya melihat dengan jelas ada buliran tangis di matanya.
‘Arghhh…Arya… bodoh. Apa yang sudah kau lakukan.’, Teriak Arya dalam hati sambil meremas rambutnya dan memijat pelipisnya. Selayang matanya melihat noda merah yang ada di kasur, kemudian menoleh pada Dinda lagi dengan hati yang penuh penyesalan.
Arya bergerak menuju pintu kamar mandi dan berdiri disana sambil mengetuk serta memanggil nama Dinda.
Arya menarik lengan gadis itu.
“Din…”, panggil Arya lirih namun Dinda tidak menjawabnya sama sekali.
Dia mengambil tasnya yang ada di meja kamar hotel dan berjalan menuju pintu keluar.
“Din.. kamu mau kemana? Tunggu saya, kita pulang bersama.”, kata Arya menggenggam tangan Dinda. Namun gadis itu tak bergeming dan maju terus hingga pegangan tangan Arya terlepas. Dinda membuka pintu dan keluar begitu saja.
Arya ingin mengejar, namun keadaannya saat ini membuatnya tak bisa keluar kamar. Alhasil Arya hanya bisa terdiam frustasi saat Dinda sudah meninggalkannya di kamar itu dengan pintu tertutup.
*****
Dinda berada di sebuah mall besar yang letaknya tidak begitu jauh dari kediamannya setelah menikah dengan Arya, rumah Inggit dan Kuswan. Awalnya, Dinda berniat pulang, berberes, dan berangkat kantor seolah - olah tidak ada yang terjadi.
__ADS_1
Namun, di tengah perjalanan dia kembali teringat pada bayang - bayang kejadian tadi malam. Dia menangis lagi dan memutuskan berhenti. Kebetulan, taksi yang ia tumpangi berhenti tidak jauh dari mall tersebut.
Tanpa tujuan yang jelas, Dinda hanya masuk ke dalam mall. Dia mengitari dan tak terasa sudah berada di lantai paling atas mall tersebut. Lantai atas hanya diisi oleh satu merchant, bioskop. Jam saat itu menunjukkan pukul 1 siang.
Sepanjang Dinda memandang, banyak remaja - remaja berkelompok yang saling bersenda gurau sambil menunggu film yang mereka inginkan diputar. Remaja SMA, SMP, bahkan ada beberapa orang dewasa.
Di bioskop sedang ada 3 judul film yang sedang diputar. Pertama adalah film komedi asal Amerika Serikat, lalu ada film cartoon action petualangan, dan film perang. Dinda berjalan menuju kasir dan memilih film perang karena hanya itu satu - satunya film yang akan segera dimulai.
Hanya beberapa menit saja, pintu bioskop sudah dibuka. Beberapa remaja yang tadi berkelompok mulai masuk ke dalam sinema. Hari itu, bioskop tidak terisi penuh. Setidaknya hanya 50% saja. Dinda memilih bangku yang paling ujung dan paling sepi. Sementara kebanyakan penonton memilih bangku paling tengah.
Ternyata film perang ini juga memiliki unsur komedi didalamnya. Aksi tembak - tembakan dengan suara keras dan gelak tawa penonton membuat ruangan itu riuh. Meski banyak penonton yang tertawa, ternyata di sudut bangku yang paling sepi, ada Dinda yang menangis terisak.
Tangisnya melebur dengan gelak tawa dan suara aksi pemain dalam film tersebut. Hijab yang ia kenakan sudah basah untuk menyeka air matanya. Tangis yang tadi malam seolah tak pernah habis.
Disisi lain..
Arya sudah mengumpulkan segala kesadarannya. Meski saat bangun dia sepenuhnya sudah sadar, tetapi tubuhnya masih sempoyongan akibat pengaruh whiskey yang kuat. Arya sebetulnya tidak terlalu sering mengkonsumsi whiskey, hanya sesekali saja. Dia lebih sering minum cocktail atau bir.
Pria itu segera pergi ke meja resepsionis untuk memeriksa apakah Dinda sudah melakukan checkout atau belum. Ternyata belum. Arya menyelesaikan administrasi dan meminta petugas valet untuk mengambil mobilnya.
“Pak, lihat istri saya? Tingginya segini, mengenakan hijab warna hijau palm dan outer warna senada.”, kata Arya pada salah satu petugas sebelum pergi menuju lobi untuk mengambil mobilnya.
“Oh.. ada tadi Pak. Sudah keluar hotel dan naik taksi.”, jawab petugas tersebut.
“Tahu kemana perginya?”, tanya Arya lagi.
“Wah.. saya kurang tahu, Pak.”, Arya tak bisa membendung kekecewaannya saat mendengar jawaban itu.
Sesampainya di mobil, Arya langsung berusaha menghubungi Dinda, namun hasilnya nihil. Sebaliknya, ponselnya malah beberapa kali berbunyi karena panggilan dari orang kantor.
“Halo, Pak Arya. Pak, sudah ditunggu tim manajemen untuk meeting. Kemarin saya cancel karena saya gak bisa menemukan Bapak. Saya coba cari alasan. Tapi hari ini saya gak bisa karena manajemen sudah telepon ke meja saya lima kali hari ini.”, tutur Siska melalui sambungan telepon ke ponsel Arya dengan nada frustasi.
Betapa tidak, sejak kemarin, dia tidak bisa menghubungi bosnya itu sementara ada dua meeting menantinya.
__ADS_1
“Baik. Saya ke kantor.”, kata Arya dengan nada lemah.
Arya kembali mengacak rambutnya dan memutuskan untuk segera melajukan mobil.