Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 70 Weekend


__ADS_3

Akhir pekan menjadi waktu yang paling ditunggu - tunggu oleh para pekerja kantoran, termasuk Dinda dan Arya. Arya sudah pergi ke gym favoritnya sejak tadi pagi dan Dinda sibuk dengan kebun barunya yang dibuatkan Inggit untuknya.


Kebun ini sudah jadi sejak beberapa hari yang lalu, namun Dinda belum membeli tanaman yang ingin dia tanam. Dia berpikir ingin menanam bunga tetapi sepertinya menanam buah lebih menyenangkan.


“Jadi, non mau tanam apa disitu?”, tanya Bi Rumi yang sibuk menyapu halaman.


Hujan tadi malam sukses membuat dedaunan berterbangan di area rumah. Kediaman Inggit memiliki sekitar 5 buah pohon besar dan beberapa tanaman yang tinggi - tinggi di taman. Jika hujan datang, maka dedaunan yang sudah tua akan membanjiri halaman dan menjadi kesibukan Bi Rumi keesokan harinya.


“Masih bingung, Bi. Aku mau cari bibitnya dulu. Itu tray yang biasa digunakan mama, kan?”, tanya Dinda.


“Lebih baik langsung cari bibit aja, non. Kalau benih susah. Nyonya Inggit sudah pernah coba, tapi malah jadi banyak yang terbuang.”, jelas Bi Rumi.


“Hm..Baik kalau begitu, nanti Dinda akan pesan online saja.”


“Minta anterin den Arya aja, non. Ada kok beberapa kilometer dari sini.”, usul Bi Rumi.


“Mas Arya sibuk, takutnya ngerepotin, Bi. Dimana alamatnya, Bi? Nanti aku pergi sendiri.”


“Mending dianter mas Arya kali, Din.”, Ibas tiba - tiba datang dengan sepeda olahraganya. Sepertinya dia baru saja dari luar.


“Kamu gak diundang selalu saja datang.”, canda Dinda.


“Jailangkung kali.”


“Eh.. kamu mau nonton ga siang nanti? Aku ada film yang mau ditonton nih, tapi bingung mau pergi bareng siapa.”


“Pacar kamu?”, tanya Dinda.


“Sudah putus, sebulan yang lalu.”


“Ahh.. karena itu kamu tiba - tiba demot dan diam di kamar terus sebulanan?”


“Udah ah.. Mau ga? Aku yang traktir. Eh.. tapi kamu di kasih kartu kredit sama mas Arya, kan? Hihi… kita jalan pake itu aja, yuk.”, usul Ibas sambil tersenyum jahil.


“Ih.. katanya mau traktir, kok malah pake kartu kredit mas Arya. Engga ah.. Ga berani.”, tolak Dinda.


“Sama suami sendiri takut. Ya udah… aku traktir, deh beneran. Mau ya, jam 1. Filmnya bagus.”, kata Ibas berusaha membujuk.


“Aku ijin mas Arya dulu ya, Bas.”


“Udah kaya anak sekolahan aja pake ijin segala.”


*****


Ibas dan Dinda sudah melaju ke sebuah Mall terbesar di kota X. Disana, ada sebuah bioskop yang rame dan paling up to date. Selain luas, disana juga banyak sekali makanan. Film mereka mulai jam 2 lewat. Ibas sudah membeli tiketnya terlebih dahulu melalui aplikasi.


“Kita makan dulu aja, yuk. Sambil tunggu filmnya.”, ajak Ibas.


“Kamu udah beli kan? Film apa sih yang kamu tonton?”, tanya Dinda penasaran.


“Tar juga tahu.”, Jawab Ibas.


“Aku searching sekarang, jangan - jangan film horror lagi.”, Dinda mengambil ponselnya dan mencari film yang akan dimainkan jam segitu di bioskop X.


Di sisi lain, Ibas masih sibuk mencari tempat parkir. Siang itu, Mall sudah ramai dan menghabiskan spot parkiran dibawah. Ibas harus naik beberapa lantai untuk bisa menemukan tempat parkir, dan membuatnya malah lebih jauh dari lantai bioskop.


“Hm.. ada satu film action, satu film kartun, dan satu film horror. Kamu gak mungkin ajak aku nonton film kartun, jadi pilihannya cuma film action dan horror. Jadi, apa tiket film yang kamu beli?”, tanya Dinda.


“Udah…tenang aja. Kan ada aku.”, kata Ibas dengan gayanya yang sok cool.

__ADS_1


“Ihh baru tahu kalau kamu se-pede ini.”


“Kalau aja tadi Arga mau ikutan, makin seru pasti.”, ungkap Ibas yang masih kecewa karena Arga tak bisa ikut.


“Kasian, lagi mempersiapkan ujian.”, ujar Dinda.


Dinda jadi ingin sekali menginap di rumahnya barang sehari dua hari. Dia sangat kangen dengan bundanya dan adik laki - lakinya, Arga. Mungkin dia akan meminta ijin Arya terlebih dahulu.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di bioskop. Hari ini banyak sekali orang karena ternyata film horor yang ingin ditonton oleh Ibas tayang perdana hari ini. Entah dari mana laki - laki itu bisa mendapatkan tiketnya dengan cepat. Meski sudah slot ke sekian, tapi hebat dia bisa mendapatkan slot dari sekian banyak orang.


Ibas menukarkan tiketnya terlebih dahulu sebelum bergerak mengajak Dinda untuk mengisi perutnya. Mereka belum makan siang.


“Mau makan apa? All you can eat, atau?”, Ibas menawarkan sambil menunjuk beberapa resto favoritnya.


“Hm..All You Can Eat, kayanya enak.”, ujar Dinda.


“Ya udah, yuk.”, tanpa ragu, mereka segera memasuki resto All You Can Eat untuk daging panggang dan rebus itu.


Ibas segera melakukan pesanan dan hendak membayar.


“Pake ini aja. Aku jarang banget pake.”, kata Dinda menyodorkan kartu debit miliknya pribadi.


“Hem? Kamu nawarinnya bukan kartu kredit mas Arya?”, tanya Ibas bingung.


“Aku mau traktir kamu pake duit aku sendiri. Gapapa kan?”


“Heem.. gapapa nih? Aku jadi terharu.. Haha.”, kata Ibas setengah bercanda pada Dinda.


Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka segera mengambil kursi yang paling nyaman disudut. Sofa empuk dengan area yang lebih privat.


“Jadi… sudah sejauh mana hubungan kamu dengan mas Arya? Kalian sudah…”, tanya Ibas menggoda Dinda.


“Ya.. aku serius tanya-nya. Di Maldives kemarin ngapain aja?”


“Maaf, bukan untuk konsumsi anak kecil.”


“Usia kita sama kali, Dinda.”, jawab Ibas mencoba mengingatkan.


Kring kring kring. Ponsel Dinda berbunyi. Tertulis nama ‘Abang Ojol’ di atasnya. Ibas melihat dan sudah membaca nama yang tertulis.


“Kamu pesan ojek? Buat apa?”, tanya Ibas bingung.


“Ahhh… sebentar.”, Dinda tak sempat menjawab pertanyaan Ibas dan langsung mengangkat ponselnya.


“Iya.. halo mas.”, jawab Dinda.


“Kamu jadi ke bioskop sama Ibas?”, tanya suara bariton di seberang sana.


“Iya, ini sekarang lagi makan sambil menunggu filmnya mulai.”, jawab Dinda.


“Hm.. nanti kalau sudah kabarin, ya. Kita makan malam di luar.”, ajak Arya.


“Di luar? Hm.. iya.”, jawab Dinda. Ibas di hadapannya sudah penasaran dan bertanya - tanya siapa yang dia panggil mas. Nama kontaknya tadi jelas - jelas ‘Abang Ojol’.


“Bisa kasih ke ibas telponnya.”, pinta Arya.


“Ini.”, kata Dinda menyodorkan ponsel miliknya pada Ibas.


‘Siapa?”, Ibas bertanya lewat bahasa tubuhnya.

__ADS_1


“Halo… Ibas. Kamu hati - hati, ya bawa Dinda. Jangan kamu tinggal sendirian. Bawa mobil juga jangan ugal - ugalan.”


“Ooh.. mas Arya.. aku kira siapa. Abis nama kontaknya, ‘Abang Oj…’”, belum sempat Ibas menyelesaikan kalimatnya, Dinda datang menutup mulut Ibas.


‘Jangan disebut.’, begitu kode Dinda pada Ibas.


“Nomor mas Arya disimpan ‘Abang Ojol’ sama Dinda.”, Dinda membulatkan matanya melihat kejahilan adik Arya yang satu ini.


“Gak ugal - ugalan, kok. Aku kan ga kaya mas Arya.”, jawab Ibas sebelum menyerahkan ponsel itu kembali pada Dinda.


“Okay… jadi kamu simpan kontak aku jadi ‘Abang Ojol’. Nanti kita bicarakan di rumah, ya. Siap - siap aja nanti Pillow Talknya.”, kata Arya sebelum menutup ponselnya.


“Ihh.. tuhkan kamu iseng banget, sih.”, kata Dinda pada orang dihadapannya yang hanya bisa tertawa.


“Lagian mas Arya aneh. Kamu kan udah besar, mana mungkin hilang. Dia suruh aku gak ninggalin kamu sendirian”, ujar Ibas sambil memasukkan daging ke dalam mulutnya.


“Makan sana yang banyak.”, kata Dinda berpura - pura kesal.


****


Tempat gym yang biasa Arya datangi adalah tempat gym yang sama dengan Erick. Tempat gym ini merupakan fasilitas apartemen. Meskipun begitu, pihak luar bisa mendaftar dengan rekomendasi dari salah satu pemilik unit apartemen.


Arya nyaman nge-gym disini karena sebelumnya juga dekat dengan apartemennya. Selain itu, di tempat ini juga terbilang sepi. Tapi sepertinya Arya akan segera pindah membership karena tempatnya jadi jauh. Sekarang, Arya tinggal di rumah orang tuanya yang jaraknya berbeda arah.


“Ngapain pindah sih? Udah bagus disini murah, selain itu juga bisa ketemu gue.”, kata Erick sambil mengangkat sebuah barbel di tangan kanannya.


Sedangkan Arya sedang berlari di sebuah treadmill dengan kecepatan sedang.


“Jauh dari rumah.”, kata Arya sambil ngos - ngosan. Dia mematikan treadmillnya setelah berlari kurang lebih 20 menit.


“Lo tinggal di rumah orang tua ya, sekarang. Kenapa gak balik lagi ke apartemen, sih? Lagian, lo juga udah besar.”


“I’m a devoted son.”


“Cuih… gaya lo. Beberapa bulan yang lalu masih mabuk di klub, sekarang bisa bilang devoted son.”, kata Erick blak - balkan.


Sejak satu kantor dengan Arya, Erick menjadi sahabat Arya yang paling sering menempel dengannya. Dia berkata santai seperti ini hanya ketika di luar kantor saja. Begitu di dalam kantor, Erick bisa dengan profesional berpindah karakter sebagai bawahan Arya. Setidaknya sampai kepala divisi yang baru datang.


“Ya.. tapi kayaknya gue bakal berhenti minum. Mungkin gue juga akan berhenti merokok.”, kata Arya random sambil melihat ke luar jendela gym.


“Lo gak sakit, kan? Demam?”, Erick meletakkan barbelnya dan memeriksa kening Arya dengan telapak tangannya.


“Sejak pertama gue kenal lo dan ternyata kita satu SMA, gue ga pernah dengar sekalipun kata - kata tadi. Lo mabuk kayanya. Tadi malam lo ke klub, ya?”


“Hahahaha…”, Arya hanya terkekeh pelan.


“By the way, kabarnya nih, isu - isu di manajemen nih, lo mau naik jabatan lagi, ya?”, Erick penasaran dengan rumor yang ia dengar beberapa hari ini dari atas.


Arya hanya mengangkat bahunya.


“Hobi lo ya, naik jabatan tiap tahun.”, canda Erick.


Dari gelagat-nya, sepertinya Arya sudah tahu hal tersebut. Mungkin HRD sudah memberitahunya.


“Harusnya gue masuk divisi Business and Partners aja, biar naik jabatannya cepat.”, kata Erick sambil menenggak air mineral miliknya.


“Heh..memang teorinya begitu? Divisi DD itu baru. Lo harusnya bangga bisa jadi Vice President untuk divisi itu. Kabar baik akan datang buat lo, kok. Tenang aja.”, kata Arya menepuk bahu Erick dan berlalu ke ruang ganti.


Dia berniat bebersih dan pulang. Aktivitas gymnya sudah selesai hari ini. Dia sudah menghabiskan 4 jam. Biasanya dia hanya menghabiskan waktu 3 jam atau paling singkat 2 jam. Tapi karena dia berniat untuk pindah membership ke tempat gym yang lebih dekat, dia menambah waktunya sebagai salam perpisahan dengan gym yang sudah ia gunakan selama 3 tahun terakhir.

__ADS_1


*****


__ADS_2