
Disinilah Dinda, berbaring di salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak kota Lombok. Dinda hanya bisa diam dan mengikuti semua perintah Arya. Begitu dia selesai bebersih, Arya membawanya ke Rumah Sakit.
Sembari Dokter memeriksa, Arya hanya diam dengan wajah datarnya. Sesekali dia mengetik sesuatu di ponselnya.
“Bu Dinda silahkan disini dulu ya. Nanti dokter Radit akan memberikan suntikan vitamin. Bu Dinda tidak perlu langsung bangun, istirahat saja dulu sebentar sekitar 15 - 20 menit.”, ujar Dokter.
“Mari Pak.”, lanjut Dokter itu lagi kepada Arya sambil membawa pria itu ke ruangannya.
“Kondisi kandungan Bu Dinda tidak bermasalah.”, ujar Dokter tersebut.
‘Hah… syukurlah.’, ujar Arya dalam hati. Dokter itu melihat jelas wajah lega Arya dan tersenyum.
“Namun, berhubung usia kandungannya baru menginjak 8 minggu, jadi mohon untuk lebih dijaga agar kejadian yang Bapak ceritakan tadi tidak terjadi lagi. Hingga usia 12 minggu, kehamilan masih sangat rentan. Bahkan sampai usia 20 minggu-pun masih harus extra hati - hati.”, jelas Dokter itu menuliskan beberapa resep tambahan.
“Untuk kondisi istri saya sendiri bagaimana, Dok?”, tanya Arya.
“Sehat. Meskipun terlihat lemah, tapi tubuh Ibu Dinda berada dalam kondisi yang fit dan siap dengan kehamilannya.”
“Arya mengangguk mendengar penjelasan dokter. Ia menerima resep tambahan yang diberikan dan pergi menebusnya. Sementara Dinda dipindahkan ke ruangan untuk mendapatkan injeksi vitamin dan mungkin dia juga akan tertidur untuk sementara waktu agar bisa beristirahat.
*******
“Del, kamu gapapa?”, tanya Andra pada Delina yang sejak turun dari kapal masih tidak banyak bicara.
“Kamu masih kepikiran jawaban kamu ke Pak Arya tadi, ya?”, tanya Suci.
Delina mengangguk.
“Sudahlah, Dinda juga pasti mengerti. Lagian dia juga pasti tidak tahu apa yang kita bicarakan kecuali Pak Arya dan Pak Erick bilang. By the way, apa kita perlu WA Dinda untuk menanyakan keadaannya?”, tanya Andra.
“Nanti saja, dia mungkin sedang istrahat di kamarnya.”
“Semoga saja dia tidak dimarahi Pak Arya. Atau jangan - jangan, Pak Arya bersedia balik mengantarkan Dinda karena dia memang ingin memarahinya?”, tanya Andra terkejut.
“Ga mungkin, Pak Arya jarang marahin intern, kok.”, kata Suci.
‘Lagipula, mereka ada hubungan spesial, mana mungkin Pak Arya memarahinya. Eh… kesal sekali.. Bagaimana kalau yang jatuh tadi adalah aku? Apa Pak Arya akan melompat tanpa berpikir dua kali seperti tadi?’, tanya Suci melamun.
‘Heh.. pria itu.. Aku tak menyangka dia bisa menunjukkan aksi heroik seperti tadi. Apa itu berarti dia benar - benar tulus ke Dinda? Seorang Pak Arya? Argh.. bahkan hingga saat inipun sulit bagiku untuk percaya hubungan mereka.’, Bryan juga tenggelam dalam lamunannya.
“Eh.. Eh.. Siska… Siska… Sini…”, panggil Andra saat melihat Siska melewati meja makan mereka.
“Kenapa?”, jawab Siska jutek.
Wanita itu sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Andra karena dia bukanlah orang pertama yang menghujaninya dengan sejuta pertanyaan tentang kejadian tadi dan tentu saja dia sudah muak menjawabnya.
“Jutek banget, sih.”
“Apa?”, tanya Andra.
“Pak Arya kembali bersama Dinda? Berdua saja?”, tanya Andra.
“Tanya langsung pada orangnya. Aku tidak tahu. Dan satu lagi, kalian bisa - bisanya melepaskan life jacket saat di kapal padahal sudah diwanti - wanti untuk tidak buka. Kalian kira, kalian adalah foto model? Argh.. aku tidak bisa membayangkan betapa murkanya nanti Pak Arya. Kalian siap - siap saja di kantor.”, kata Siska.
“Wah jangan menakut - nakuti begitu, Sis.”
“Aku tidak menakut - nakuti. Aku sudah lebih dari tiga tahun menjadi sekretaris Pak Arya. Aku tahu benar bagaimana kepribadiannya. Aku harap kalian bisa melewatinya.”, ujar Siska kemudian berlalu.
*******
Arya memasuki kamar dimana Dinda sedang menerima injeksi vitamin dan tertidur pulas. Berdasarkan keterangan dokter, dia akan sadar sekitar 20 menit lagi. Injeksi tersebut memberikan efek ngantuk padanya.”
Melihat ekspresi damainya yang tertidur pulas membuat Arya kembali mengingat kejadian tadi. Begitu cepat sampai dia tak bisa mengontrol dirinya.
“Aku harus mengambil keputusan tegas untuk hal ini. Tapi aku juga tidak ingin melukainya.”, ujar Arya dengan suara yang sangat pelan.
Kring kring kring.. Ponsel Arya berbunyi.
“Halo..”, jawab Arya tanpa melihat siapa yang menelpon dan ponsel mana yang sedang dia angkat.
“Aryaaaa… kamu ini gimana sih gak telpon - telpon mama.”, ujar Inggit dengan suara heboh.
__ADS_1
“Kamu lagi dimana?”, tanya Inggit. Penting baginya untuk menanyakan dimana keberadaan puteranya sebelum dia melanjutkan kalimatnya.
“Lagi di hotel, ma. Kenapa?”, tanya Arya.
“Kamu lagi sama Dinda ga?”, pertanyaan selanjutnya dari Inggit.
“Enggak Ma, Aku kan lagi Tim Building bukan honeymoon.”, Arya menoleh sebentar ke arah Dinda dan menjawab pertanyaan Inggit. Dia berbohong karena tak ingin menimbulkan kekhawatiran. Lagi pula, Dinda baik - baik saja.
Arya juga belum menceritakan tentang kehamilan Dinda pada mamanya dan berencana memberitahunya saat tiba nanti.
“Kamu tahu gak, mama ketemu siapa tadi?”, ucap Inggit dengan suara yang menggebu - gebu.
“Siapa, ma?”, jawab Arya dengan nada malas.
“MANTAN istri kamu.”, kata Inggit memberikan penekanan pada kata ‘Mantan’.
Arya sudah tidak terkejut lagi. Saat ini sepertinya tidak ada yang penting baginya selain yang ada di hadapannya. Sarah? Dia menganggap semua sudah selesai dengan wanita itu.
“Halo, Arya?”
“Iya, ma.”, jawab Arya.
“Jangan bilang kamu masih bertemu dengan wanita itu?”, tanya Inggit.
Sarah terlihat sangat percaya diri seolah tak pernah terjadi apa - apa. Hal ini membuat Inggit khawatir kalau Arya masih berhubungan dengan wanita itu.
“Ma…ada hal yang lebih penting yang mau dibicarakan selain itu?”, tanya Arya karena dia malam membicarakan Sarah.
“Enggak.”
“Ya sudah kalau begitu, Arya tutup dulu ya, besok kita bertemu di rumah.”, jawab Arya baru akan memutuskan panggilan teleponnya.
“Tapi kamu gak berhubungan dengan wanita itu kan Arya. Kamu kan sudah ada istri sekarang.”
“Ma, aku tutup dulu ya, teleponnya.”, ucap Arya.
“Arya…”, suara Inggit masih terdengar sesaat sebelum Arya menutup sambungan teleponnya.
*******
Kuswan sudah selesai check-up routine hari ini. Obat juga sudah diambil dan semua proses administrasi sudah selesai. Baru saja menaiki mobil, ekspresi Inggit sudah tidak enak. Ibas bisa menduga alasannya.
Pertemuan kembali Sarah dan Inggit membuat kilasan beberapa tahun silam kembali muncul. Menurut Inggit, Sarah menjadi alasan utama hidup putera pertamanya hampir saja hancur.
‘Kenapa wanita itu muncul lagi di sekitar Arya? Aku kira dia sudah ke Amerika dan tinggal disana? Untung saja aku sudah lebih dulu bergerak menikahkan Arya dan Dinda. Kalau tidak, wanita itu pasti akan kembali menghancurkan hidup puteraku.’, kata Inggit dalam hati.
Sesampainya dirumah, Inggit langsung membantu Kuswan untuk istirahat atas arahan dokter. Kemudian dia ke dapur untuk sekedar minum. Masih ada Ibas disana yang mencari hal yang sama.
“Heran mama. Berapa kali mama berpikirpun, mama masih bingung kenapa mas kamu pernah punya hubungan dengan wanita itu.”, kata Inggit akhirnya menumpahkan kekesalannya.
“Siapa? Mba Sarah maksud mama?”
“Hm. Mama ga mau membicarakan dia di mobil karena takut mempengaruhi kesehatan papa kamu. Kalau dia tahu wanita itu berkeliaran di sekitar Arya, pasti papa langsung emosi. Mama takut banget kejadian malam itu terulang.”
“Tenang ma. Mas Arya sudah ga pernah bahas mba Sarah lagi, kok. Lagian nih ya, lihat aja mas Arya, kayanya dia sudah mulai fokus sama istrinya. Kayanya gak mungkin buat mba Sarah masuk lagi.”, kata Ibas.
“Lagi bicarain siapa ma?”, Andin muncul di pertengahan kalimat Ibas.
“Mba Sarah. Tadi mama ketemu mba Sarah di rumah sakit.”
“Hah, yang bener ma?”
“Iya.. ngapain mama bohong tentang hal seperti itu.”
“Terus? Kapan dia sudah disini lagi? Bukannya kata mama dia ke Amerika?”, tanya Andin.
“Mama juga tidak tahu. Sepertinya Arya tahu kalau dia sudah kembali. Mama telpon dia tapi jawabannya gantung.”
“Yah.. biasalah ma, tipikal Arya. Dia kan suka begitu. Gantung.”, ucap Andin.
“Wanita itu tahu kalau Arya sudah menikah lagi.”, ucap Inggit.
__ADS_1
“Tunggu ma. Jangan - jangan wanita itu sudah bertemu dengan Dinda.. Eh maksud aku mba Dinda.”, ucap Ibas.
Wajah Inggit langsung menegang. Andin juga menoleh ke arah Ibas.
“Aduh.. mama jadi pengen Dinda cepet - cepet pulang. Mau tanya langsung. Mama takut wanita itu bilang yang aneh - aneh ke Dinda dan mempengaruhinya.”
‘Kalau dipikir - pikir, sebelumnya Dinda juga pernah beberapa kali membicarakan tentang Sarah. Apa karena dia sudah bertemu, ya?’, pikir Ibas.
********
“Mas Arya masih marah sama aku?”, Dinda memberanikan diri untuk bertanya pada Arya.
Mereka sudah di dalam mobil tetapi masih di parkiran dan Arya belum menghidupkannya. Dinda mengambil kesempatan itu untuk berbicara karena jika ditunda nanti, mungkin sudah kecil kemungkinan berbicara intens seperti ini kecuali di rumah.
Arya tidak bergeming dengan pertanyaan Dinda. Tetapi dia juga belum menghidupkan mobilnya. Berarti Arya mendengarkan dan memikirkan pertanyaan Dinda barusan.
Arya hanya meletakkan kedua tangannya pada kemudi dan menatap lurus ke depan. Situasi seperti membuat Dinda takut.
“Mas Arya kalau mau marah, marah saja. Jangan begini, aku takut.”, kata Dinda jujur.
Arya menghela nafasnya sebentar dan menoleh ke kiri untuk mencoba membuat dirinya tenang. Serapa besar rasa khawatir Arya pada Dinda, sebesar itu pula kemarahannya.
“Kamu sadar ga sih yang sudah kamu lakukan tadi di kapal? Kenapa kamu lepas life jacket kamu?”, akhirnya Arya bertanya. Dia berusaha mengontrol emosinya saat ini.
“Kamu ga peduli sama keselamatan kamu sendiri? Bagaimana kalau tadi saya gak ada di kapal itu Din? Gimana kalau tadi saya ga bisa menemukan kamu? Bagaimana kalau tadi saya ga bisa mengembalikan pernafasan kamu dengan CPR? Kamu sadar ga sih betapa berbahayanya yang kamu lakukan?”, ucap Arya menumpahkan semua kemarahannya. Nada suaranya rendah tetapi penekanan pada kalimatnya membuat Dinda hampir menangis.
“I don’t know how to deals with twenty like you. Hah.. Dan, kamu itu HAMIL. Harusnya kamu bisa ratusan kali lebih hati - hati dari biasanya. Tapi kamu malah lepas life jacket, foto di tempat yang berbahaya. Oh… ****!”
“We’ll talk about this later. I can’t control myself.”, ucap Arya menghidupkan mobil bersiap untuk melaju kembali ke hotel.
Jika pembicaraan ini diteruskan, yang ada dia hanya akan membuat Dinda semakin terpojok dan itu juga tidak baik baginya. Gap usia membuat Arya khawatir omongannya akan membuat Dinda terluka dan bukan membuat istrinya sadar dan lebih hati - hati kedepannya.
Sesampainya di hotel, Arya mengantar Dinda ke kamarnya. Hari belum terlampau sore sehingga para bawahannya pasti belum kembali ke hotel. Dari mobil tadi, suasana sangat hening. Arya hanya melihat lurus ke depan dan tidak berbicara sepatah katapun.
Lobi hotel sore ini lumayan ramai karena ada gerombolan mahasiswa yang sedang pariwisata. Sepertinya sebagian dari mereka sedang melakukan check-in. Arya memegang tangan Dinda agar gadis itu tetap berada disampingnya diantara kerumunan mahasiswa.
Arya menekan tombol lift dan tak lama terbuka dalam kondisi kosong. Arya meminta Dinda masuk terlebih dahulu dengan memegang bagian pinggul belakang gadis itu memberikan kode untuk masuk.
Arya sudah menekan tombol lantai kamar Dinda dan sesaat akan menekan tombol tutup, beberapa kelompok mahasiswa mulai masuk ke dalam lift. Arya langsung menarik pinggang Dinda dan menjaga agar gadis itu tetap berada di jangkauannya tanpa terdesak oleh mahasiswa - mahasiswa tadi.
Dinda mengarahkan pandangannya pada Arya. Ia tersentuh dengan sikap Arya barusan dan kembali memikirkan sikap - sikap Arya sebelumnya. Saat Dinda sadar, air mata sudah turun di pipinya.
Arya tidak menyadari itu karena dia sibuk melihat ke nomor lantai. Tangis yang awalnya hanya mengeluarkan bulir air mata itu mulai mengeluarkan suara. Tentu saja, perhatian mahasiswa yang ada di dalam lift langsung tertuju pada Dinda dan Arya yang sedang berdiri menutupi Dinda.
Arya sedikit terkejut melihat Dinda yang tiba - tiba menangis terisak di dalam lift. Posisi Arya saat itu seperti orang yang sedang memaksa gadis itu melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan dan posisinya mereka ada di hotel.
“Saya gak ngapa - ngapain dia kok. Dan, dia istri saya.”, kata Arya berusaha menjelaskan karena tatapan - tatapan mahasiswa itu membuatnya tidak tenang.
“Walaupun istrinya, jangan dibikin nangis dong, om.”, kata salah seorang mahasiswa laki - laki.
“Yuk, sayang. Sudah sampai.”, kata Arya kemudian saat lift sudah berhenti di lantai kamar Dinda.
“Yang sabar ya mba.”, lanjut mahasiswa yang lain saat Arya dan Dinda turun.
‘Heh…Om? Sabar? Yang ada saya yang harus sabar disini.’
“Yang lain akan kembali sore. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu telpon saya.”, kata Arya.
Dinda mengangguk.
“Sudah jangan nangis lagi. Nanti kita lanjut bicara di rumah. Kamu istirahat dulu. Ini vitaminnya yang dari dokter, diminum sekalian. Kalau lapar, kamu telpon petugas dan pesan apapun yang kamu mau. Atau kamu juga bisa telpon saya. Mengerti?”, perintah Arya.
Arya mengangguk lagi.
“Jangan buka pintu sembarangan. Jangan keluar - keluar kalau gak perlu. Kalau mau keluar, tunggu teman kamu balik. Entah kenapa kamu itu selalu saja bawaannya mengundang orang gak jelas untuk mendekat. Entah kenapa gak di hotel sini gak disana, ada aja yang menguntit. Jadi, kamu hati - hati, ya. Anything, call me.”
“He-eh.”, jawab Dinda mengangguk dan dengan mata yang berkaca - kaca.
Arya memejamkan matanya sebentar, bernafas perlahan sebelum akhirnya mengangkat dagu Dinda yang masih tertunduk dan mencium bibir gadis itu lembut. Arya berencana hanya menciumnya singkat karena toh dia masih dalam mode marah sekarang. Namun, saat dia akan melepaskan ciumannya, Dinda justru menariknya. Ciuman itu akhirnya menjadi lebih lama. Awalnya Arya terkejut tapi ia tak menolaknya.
Dinda mulai melepaskan ciuman yang seolah menjadi permintaan maafnya. Arya mencium leher Dinda sebentar dan meminta istrinya itu masuk ke kamar karena dia juga akan kembali ke kamarnya.
__ADS_1