
Arya memarkirkan mobilnya di sebuah restoran rumahan terkenal di pinggir kota. Waktu perjalanan yang ditempuh untuk bisa ke tempat ini sekitar 1 jam. Dinda sudah tertidur sejak tadi di kursi sebelahnya.
‘Hm.. sudah sampai, tapi aku tidak tega membangunkannya. Sepertinya lelah sekali. Tidurnya sampai pulas begini. Apa seharusnya tadi aku tidak mengajaknya kesini.’, bathin Arya menyesali idenya yang ingin mengajak Dinda makan disini.
‘Apa seharusnya aku tidak membelikannya es krim secepat itu?’, tanya Arya pada dirinya sendiri.
Melihat gadis itu menangis haru, Arya menjadi lebih lunak dan langsung mengabulkan keinginan istrinya. Lagipula, hanya sebuah es krim saja. Sepulangnya dari Rumah Sakit, mereka langsung berhenti di minimarket yang memiliki beberapa varian es krim.
Gadis itu ingin membeli empat, tetapi Arya hanya mengabulkan dua saja. Tidak baik juga baginya makan terlalu banyak es krim. Dinda kemudian berdalih, dua lagi akan dia berikan pada Arya. Padahal sejak awal dia seperti memilih es krim untuk dirinya sendiri.
Dari situlah, tiba - tiba tercetus dalam dirinya untuk mengajak wanitanya itu makan di restoran langganan keluarga. Restoran ini sudah tergolong tua dan letaknya juga di pinggiran kota. Meski tokonya masih terus sama sejak 10 tahun yang lalu keluarga mereka menemukannya, tapi antriannya tetap ramai.
Beruntung, semakin malam antrian justru semakin berkurang.
“Hm? Sudah sampai?”, Dinda mengerjap - ngerjapkan matanya.
Tidurnya terganggu karena riuh suara klakson yang berada di dekat parkiran mobil. Cahaya lampu mobil juga langsung mengusik tidur nyenyaknya.
“Iya. Sudah sampai. Kamu sepertinya lelah, apa kita kembali lagi kapan - kapan? Sudah malam juga.”, kata Arya menawarkan.
“Hm? Kenapa harus kembali, mas. Kita sudah menghabiskan waktu satu jam kesini. Aku mau coba makanan yang katanya legendaris itu.”, kata Dinda yang melirik ke arah jam tangannya sebentar memastikan berapa lama waktu yang mereka habiskan menuju restoran ini.
Dinda juga sempat melihat review - review orang tentang restoran ini. Dan ternyata resto ini juga pernah masuk ke video salah satu youtuber review makanan terkenal. Dinda semakin tertarik untuk mencobanya.
Keunggulan dari restoran ini adalah mereka selalu menggunakan bahan - bahan yang segar dengan penyedap rasa alami. Meski ukurannya tidak terlalu besar dan fancy, tetapi restoran ini sangat bersih dan rapi.
Menu makanannya di dominasi oleh sup yang tentu saja sangat cocok untuk ibu hamil seperti Dinda.
“Ya sudah kalau begitu, pasang hijabnya, kita turun dan pesan.”, kata Arya.
“Hn.”, jawab Dinda.
“Kamu kenapa menangis tadi?”, tanya Arya ketika perlahan satu persatu makanan yang mereka pesan sampai.
Dinda dengan sigap mengambilkan piring Arya dan mengisinya dengan nasi. Pria itu selalu makan sedikit porsi nasi karena dia ingin menjaga bentuk tubuhnya.
“Memangnya mas Arya tidak terharu? Tiba - tiba ada bayi kecil di dalam perutku. Tadinya hanya seperti lingkaran kecil, tapi sekarang aku bisa melihat satu persatu bagian tubuhnya meskipun kecil. Aku hanya tidak menyangka hal ini bisa terjadi.”, jelas Dinda.
“Dan itu semua bikin kamu menangis?”
“Hn. Tiba - tiba saja semua perasaan seperti berkumpul. Tiba - tiba ingat bunda. Ingat awal kita ketemu. Ingat semua hal yang terjadi dan tahu - tahu air mata itu turun.”, terangnya lagi.
“Hm-m.. terus kenapa makin lama tangisnya jadi makin kencang?”, tanya Arya lagi.
Hari ini dia aktif memberikan pertanyaan. Tidak seperti biasanya.
“Karena mas Arya. Kenapa coba ditanyain. Kan aku jadi malu.”, kata Dinda sambil ikut mengambil nasi untuknya.
“Ha-ha-ha.. Kamu malu lantas menangis yang kencang? Memang ada - ada saja. Terus apa lagi minta es krim segala.”, kata Arya hanya bisa geleng - geleng kepala.
“Tiba - tiba aku pengen es krim. Mas Arya memelukku erat dan seketika aku lupa kalau kita sedang berada di ruangan dr. Rima. Untung saja bukan Rara yang sedang jaga jadi asistennya dr. Rima. Kalau itu Rara, aku pasti tidak akan berani menampakkan diri untuk sementara waktu.”, kata Dinda sambil menyeruput sup daging sapi segar yang mereka.
“Woah… segar sekali. Hm… segar. Benar - benar beda rasanya dengan sup daging kebanyakan.”, kata Dinda memuji sup daging yang baru saja diseruputnya.
“Benarkan? Katanya, ini adalah tempat nge-date pertama kali papa dan mama. Tentu saja, dulu yang merintis adalah orang tua ibu - ibu yang merintis sekarang.”, kata Arya memberikan penjelasan.
“Ooh.. semacam usaha turun temurun, ya?”, tanya Dinda antusias.
“Hm.. nanti desert nya, aku sudah pesan sup jagungnya. Kamu harus coba, enak banget.”, kata Arya.
“Hm.”
********
“Dika, aku mau berbicara sebentar.”, kata Rianti begitu melihat Dika baru saja pulang dan baru saja ingin masuk ke dalam kamar.
“Apa? Aku lelah mau mandi.”, jawab Dika.
Selain dia memang sedang lelah, dia juga ingin menghindari pembicaraan dengan Rianti saat ini. Wanita itu sedang berada di fase aneh. Belum lagi ancaman Sarah yang tiba - tiba padanya.
‘Kenapa Sarah bisa tahu tentang Rima?’, pertanyaan ini selalu ada di kepalanya sejak pertemuannya dengan Sarah.
“Papa mengajak kita untuk berlibur bersama mereka. Dua hari satu malam pekan ini.”, kata Rianti menahan lengan Dika.
“Liburan? Tiba - tiba?”, tanya Dika.
“Tidak. Papa sudah merencanakannya dari sebulan yang lalu. Aku saja yang terus menunda - nundanya karena aku tidak memiliki kesempatan untuk berbicara denganmu.”, jelas Rianti.
“Ada apa dengan kalian satu keluarga? Tiba - tiba bersikap aneh. Apa perusahaan papa sedang tidak baik - baik saja?”, tanya Dika mengerutkan dahinya.
“Hah.. kenapa kamu harus mengatakan seperti itu. Papa hanya ingin lebih akrab dengan menantunya. Dia juga ingin menghabiskan waktu dengan Putera.”, jawab Rianti.
“Kalau begitu, ajak saja dia berlibur dengan Putera dan kamu. Kenapa harus mengajakku? Aku sibuk.”, jawab Dika.
“Putera, dia ingin mama papanya ikut. Masa hanya aku yang pergi. Hanya dua hari. Sabtu pagi berangkat, minggu sore pulang. Apa sesulit itu?”, tanya Rianti.
Dika nampak berpikir sebentar. Dia tidak tertarik dengan ide ini sama sekali. Dia sudah bisa membayangkan akan seperti apa liburan keluarga ini nanti.
Namun, ancaman Sarah tiba - tiba mengusik dirinya. Di saat seperti ini, sebaiknya Dika tidak menciptakan kegaduhan dan kecurigaan pada Rianti. Mungkin saja dengan begitu, apapun nanti yang mungkin akan dikatakan Sarah padanya, Rianti tidak percaya.
“Baiklah. Dua hari satu malam.”, ujar Dika memastikan karena dia juga membutuhkan istirahat.
__ADS_1
Berdasarkan pengalamannya di masa lampau, mengobrol dengan papa Rianti akan menghabiskan 90% energinya.
“Okay!”, balas Rianti senang.
Awalnya dia menunjukkan ekspresinya, kemudian ketika sadar dia langsung memperbaikinya dan mengubah ekspresinya segera menjadi biasa saja.
“Hah.. ada - ada saja.”, kata Dika saat Rianti sudah pergi menjauh darinya.
********
“Oh.. den Arya sudah pulang?”, Bi Rumi membantu membukakan pintu rumah.
Jam sudah larut. Mereka terkena macet di perjalanan pulang. Perjalanan yang seharusnya hanya satu jam molor menjadi satu setengah jam.
“Bi, boleh bantu bawa tas ini ke kamar saya ya.”, kata Arya memberikan dua tas pada Bi Rumi.
Satu tas miliknya dan satu tas lagi milik Dinda. Sementara Dinda masih tertidur di dalam mobil. Arya kembali ke mobil dan membuka pintu dimana Dinda duduk. Dia melakukannya dengan pelan karena tidak ingin membangunkannya.
“Syu syu syu… kata Arya berbisik agar Dinda merasa tenang. Dia sedikit terusik dengan suara - suara yang muncul saat membuka dan menutup pintu. Arya memutuskan untuk menggendongnya masuk ke dalam kamar.
Dinda tertidur sangat pulas, sampai - sampai dia nyaman saja berada di gendongan Arya.
“Habis darimana?”, tanya Ibas main nyelonong dari arah kamarnya.
“Syut.. “, Arya langsung menyuruhnya diam.
“Huu.. takut banget istrinya bangun. Sesayang itu… Arya Pradana.. “, goda Ibas yang langsung segera kabur ke lantai bawah.
********
"Mama kenapa Bas?", tanya Arya yang keluar dari kamarnya untuk mengambil air di dapur.
Biasanya Dinda atau Bi Rumi menaruh satu di atas, tetapi sepertinya hari ini keduanya lupa.
Ibas tadi baru pulang dari mengantar mamanya untuk menjenguk anak dari temannya dan baru saja mengganti baju tidurnya.
Dia ingin makan ronde tengah malam di dapur saat keduanya bertemu dengan mama Inggit.
"Biasa, habis ketemu teman arisan mama. Abis ngejengukin di rumah sakit. Tapi, pulang - pulang bete. Kalah debat, katanya.", ujar Ibas.
"Hush, sembarangan aja kamu.", Inggit yang habis mengipas - ngipas kepalanya menggunakan buku resep tipis, melemparkannya ke kepala Ibas dan mendarat tepat di atas mangkok indomie yang baru dia seduh.
"Ihh mama..masuk nih ke dalam. Gak higienis lagi kan ma. Perlu nambah sath lagi. Ih si mama Ih.", kata Ibas semakin usil.
"Heh, buku resep masuk kesana, yang ada di keluarin trus makan. Kenapa malah nambah lagi.", kata Arya bingung dengan adik semata wayangnya.
"Kamu tuh ya, Ibas. Mulutnya usil banget. Siapa bilang mama kalah debat. Mama tuh cuma bete. Padahal sudah niat baik datang, menjenguk, mana mama juga kasih kado yang mahal. Tapi pulang - pulang kuping mama dibikin panas.", ujar Inggit mengomel.
Dia juga mengambil kotak susu Dinda dan menyeduhnya di gelas.
"Dinda belum tidur? Tadi kata Bi Rumi, pulang - pulang ketiduran. Kamu yang angkat ke atas.", tanya Inggit.
"Enggak. Masih tidur kok, ma.", ujar Arya.
"Lah trus susunya? Kamu mau bangunin?", tanya Inggit.
Arya bikin aja dulu. Dinda juga punya kebiasaan bangun malam. Tinggal sebentar lagi. Nanti kalau dia bangun, susunya sudah ada disamping.", ujar Arya mengambil bubuk susu sesuai takarannya.
"Wuih suami idaman memang. Berasa terlahir kembali kalo lihat mas Arya tuh. Dulu aku hampir lupa sama muka mas Arya. Karena kerja, pulang, trus pagi sudah kerja lagi. Weekend, kerja, gym, pulang, Senin kerja lagi. Gak kaya sekarang. Berwarna...", puji Ibas namun terkesan menggodanya.
"Urusin aja mie kamu. Gak usah banyak komentar.", ujar Arya memberikan tendangan pada adiknya.
Kebetulan mereka sedang berdiri sejajar.
"Memangnya tante Retno ngomong apa, ma?", tanya Ibas kepo.
"Biasa dia banding - bandingin anaknya. Bilang kalo, 'coba aja kemaren anak situ mau sama anak saya, sekarang mah situ sudah nimang cucu'.", Inggit bahkan menunjukkan dengan ekspresinya bagaimana tante Retno mengucapkannya.
Arya tak bisa menahan senyum simpulnya.
"Udah zaman ke berapa, masih aja ma, ngomongin hal - hal kaya begitu. Memangnya menikah sama punya anak buat tanding - tandingan.", komentar Ibas.
"Mama sih gak panas sama omongan yang itu. Biasa aja. Orang toh dulu juga sering diomongin begitu. Apalagi sekarang Arya kan sudah ada istri, sudah mau jadi calon Ayah. Ya, mama senyumin aja.", kata Inggit.
"Justru tadi yang info kalo istri Arya juga sedang hamil bukan mama tapi tetangga sebelah yang juga ikut arisan. Eh tetiba setelah itu dia panas kayanya, langsung merembet ke Andin. Hah... mama sudah gemeteran tahan emosi tadi.", ujar Inggit lagi.
"Oh.. pantes ya tadi mama keluar trus amplopnya di buka lagi. Isinya dikurangin. Hahahahaha.", Ibas tertawa puas mendengarnya.
"Beneran, ma?", Arya yang tadi hanya diam saja akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Heh... salah sendiri.. harusnya tadi dapet banyak, gegara mulutnya ga dijaga, ya jadinya ga dapet. Dari pada mama gak ikhlas, ngasihnya.", ujar Inggit lagi dengan ekspresi wajah yang lagi - lagi tergambar lewat raut mukanya.
"Haha... mama ada - ada aja. Udahlah, omongan kaya gitu gak usah di dengerin, ma.", lanjut Ibas sambil menambahkan bumbu di atas mie yang sudah matang.
"Kamu makan mie instan jam segini, gak takut mekar?", tanya Arya sebelum dia naik ke atas.
Ibas hanya memberikan senyuman usilnya.
"Kalau mau, bilang!", sindir Ibas.
Dia tahu kalau mas nya sudah hampir setahun lebih tidak makan mie instan demi menjaga postur tubuhnya.
__ADS_1
"Nanti jangan lupa diberesin ya, Bas. Mama mau tidur.", ucap Inggit bangun dari duduknya menuju kamar.
"Sepertinya Deni tertidur. Aku akan membantumu mengangkatnya ke atas.", ujar Dimas bermaksud untuk mengangkat Deni, anak dokter Rima.
Hari ini dokter Rima harus lembur karena ada satu jadwal operasi yang dipercepat. Dia baru bisa pulang sekitar pukul 10 malam. Sementara itu, Deni harus dijemput dari tempat lesnya sejak pukul 7 malam. Ibundanya tidak bisa melakukan itu.
Iseng mencoba peruntungan, dokter Rima menghubungi Dimas dan meminta bantuannya. Deni termasuk anak yang tidak terbiasa dengan orang asing. Uniknya, dia justru merasa nyaman dengan Dimas padahal mereka baru saja bertemu dan itu juga tanpa sengaja.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Dimas mengiyakan permintaan Rima dan membantunya menjemput Deni. Dia bahkan membawa anak itu makan malam dan bermain sebentar di tempat permainan anak - anak yang berada di sekitar restoran.
Tidak hanya itu saja. Dimas juga berbaik hati membelikannya mainan. Saat itu, Deni tiba - tiba bertanya tentang sosok papa. Orang lain memilikinya kenapa dia tidak punya. Lalu Deni bertanya bagaimana rasanya punya papa pada Dimas.
"Om, bagaimana rasanya punya papa?", tanya Deni yang sudah lelh bermain dan sedang duduk menghabiskan es krim nya.
*"Hm? kenapa kamu tiba - tiba bertanya tentang itu? Hm.. aku tidak ingat bagaimana rasanya.", jawab Dimas. *
*"Loh? Kenapa begitu? Papa om sudah tidak ada?", tanya Deni lagi. *
*"Ada.", jawab Dimas, namun suaranya terdengar sendu. *
*"Om saja ada. Apa hanya aku di dunia ini yang tidak memiliki papa?", kali ini suara sendu terdengar dari ucapan Deni. *
*"Kenapa wajahmu begitu? Kamu tahu? Mungkin saja kamu lebih baik tanpa harus memiliki papa.", ujar Dimas. *
*"Kenapa begitu? Bukankah seharusnya di dalam keluarga itu harus ada papa dan mama?", Deni bertanya dengan wajah polosnya. *
*"Tapi tidak semua orang bisa bahagia hanya karena mereka memiliki papa. Kamu punya mama kan?", lagi - lagi Dimas menjawab seperti itu. *
"Hn.", jawab Deni mengangguk mantap.
"Kamu bahagia?", tanya Dimas lagi.
"Hn. Aku sangat bahagia.", Deni kembali menjawab dengan mantap.
"Lalu dimana masalahnya? Kamu bahagia, itu yang terpenting.", ujar Dimas sambil tersenyum manis pada Deni.
'Jangan sepertiku. Punya tapi serasa tidak punya. Ada tapi tidak menganggap ku ada.', bathin Dimas dalam hati.
Flashback off
Dimas menawarkan untuk mengantarkan Deni ke atas. Anak itu sudah berusia 10 tahun, pasti sulit untuk Rima menggendongnya ke atas sendirian. Apalagi dia sudah bekerja lembur hari ini. Dia pasti sangat lelah.
Kasihan juga kalau Rima harus membangunkan Deni. Dia baru saja tertidur pulas.
Namun, Rima menggeleng. Dia menolak dengan sopan tawaran Dimas.
"Tidak perlu. Aku hanya perlu membangunkannya dan berjalan ke atas. Tidak akan lama. Aku juga nanti memang harus tetap membangunkannya untuk gosok gigi.", Rima mendapatkan alasan yang tepat untuk menolak tawaran Dimas.
Alasan utama yang membuat Rima tidak mau menerima tawaran itu adalah karena ibunya. Dia takut ibunya akan mengira bahwa Dimas adalah ayah kandung Deni.
Begitulah perasaan seorang ibu. Sekecil apapun kemungkinan itu, dia berharap dan terus berharap lagi. Meskipun terkadang, harapan itu justru semakin menghancurkan hati putrinya yang saat ini tidak mau berpikir ke arah sana.
"Hn. Baiklah kalau begitu. Hati - hati, kamu akan mengejutkannya.", ujar Dimas.
"Den, Deni sayang. Yuk bangun. Kita sudah sampai. Saat nya untuk turun dan naik ke atas.", ujar Rima mengusap - usap puteranya agar dia segera bangun dari tidurnya.
"Den, Deni.. yuk bangun yuk.. kita sudah sampai. Kita naik ke atas, bobok di kasur biar lebih nyaman ya sayang.", ucap dr. Rima pada puteranya.
"Um? Kita sudah sampai rumah?", Deni masih belum membuka matanya.
Nampaknya dia benar - benar mengantuk sampai tak sanggup membuka matanya.
"Yuk nak, kita naik sekarang. Kasian lih, om Dimas sudah mau pulang. Yuk sayang. Kamu cuci muka dulu, gosok gigi, lalu lanjut tidur di kasur yang empuk yah, biar lebih nyaman.
Deni berusaha mengucek - ngucek matanya agar bisa terbuka. Rima berangsur mengambil tas nya dan membantu puteranya untuk turun dari dalam mobil.
Dimas membantu memastikan pintu mobil tetap terbuka dan mudah bagi mereka untuk turun.
"Om Dimas, kapan kita main lagi?", ucap Deni.
Ini menjadi kalimat pertama yang keluar darinya begitu dia bangun.
"Eh.. om Dimas nya sibuk, tidak bisa terus - terusan main sama kamu.", Rima langsung memotong puteranya.
Hari ini dia sangat berterima kasih pada Dimas. Dia tidak tahu sudah sebanyak apa dia merepotkan pria itu malam ini.
"Nanti kapan - kapan kita main lagi.", ujar Dimas memegang dan mengacak - acak rambut Deni.
'Kalau anak yang dikandung Sarah selamat waktu itu, mungkin aku akan punya satu yang seperti ini.', tiba - tiba terbersit ingatan itu di kepalanya.
Padahal, saat Sarah mengatakan dia sedang hamil anak pria itu, Dimas ketakutan. Dia sudah mengkhianati persahabatannya dengan Arya dan sekali lagi, dia akan mengkhianatinya.
Tidak terbersit dan terpikirkan saat itu bahwa anak yang dikandung Sarah adalah anaknya.
"Dimas, Dim?", panggil dokter Rima membangunkan lamunan Dimas.
"Tidak usah dipikirkan. Deni masih anak - ank. Dia pasti masih ingat senangnya main denganmu. Beberapa hari lagi dia juga sudah lupa. Tenang saja.", kata dr. Rima yang berpikir kalau Dimas melamun karena dia tak enak menolak Deni.
"Oh bukan - bukan, aku merasa senang bermain dengannya. Tidak masalah. Aku hanya sedang melamunkan hal yang lain saja.", jawab Dimas berusaha menjelaskan agar drm Rima tidak salah mengerti.
"Kalau begitu kami pamit ke atas ya. Terima kasih bantuannya hari ini. Aku sudah mengambil banyak waktumu. Hati - hati.", ucap dr. Rima menunggu sampai Dimas masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Daaa om Dimas.. hati - hati. Sampai bertemu lagi.", ucap Deni dengan senyumnya yang tulus.