Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 263 Bagaimana Nasib Karir Dinda Bagian 3


__ADS_3

Dinda memasuki kawasan Divisi Digital and Development dengan wajah deg-degan. Entah mengapa, sedari tadi orang - orang terus melihatnya ketika dia melewati sepanjang jalan menuju kursi miliknya. Tentu mereka yang melihat bukan berasal dari Divisi Digital and Development.


“Kenapa sih mba? Kok kayanya aku dilihatin sampai sebegitunya? Ada apa sih mba?”, tanya Dinda perlahan sambil menurunkan tasnya ke kursi.


Saat itu, Delina kebetulan sudah datang dan meneguk minumannya. Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, tetapi area Digital and Development masih sepi. Sementara kontras dengan itu, divisi Business and Partners sudah ramai.


“Hm? Masa sih? Aku gak ngeh.”, ujarnya yang sedari tadi sibuk memainkan ponsel.


“Apa hanya perasaanku saja, ya mba. Tapi beneran seperti banyak yang menatapku?”, kata Dinda lagi.


“Hm… mungkin masih tidak percaya kalau kamu itu adalah istrinya Pak Arya.”, Delina memberikan alasan apapun yang terlintas di kepalanya.


“Tapi kan itu sudah lama terungkap, kenapa baru diperhatikan sekarang.”, Dinda merasa bukan itu alasannya.


“Apa ya.. Coba kamu buka email, mungkin saja ada sesuatu.”, kata Delina.


Kring kring kring


Telepon di meja Dinda berbunyi. Keduanya yang ada disana terkejut.


“Angkat, Din.”, seru Delina.


“Hah… bikin kaget saja.”, celetuk Dinda sebelum mengangkat teleponnya.


‘Pak James’, kata Dinda tak bersuara, hanya mulutnya saja yang komat - kamit.


‘Angkat.’, Delina juga ikut komat - kamit mengikuti Dinda seolah - olah Pak James bisa mendengar mereka padahal telepon meja belum lagi diangkat dan terhubung.


“Halo, selamat pagi.”, sapa Dinda terlebih dahulu.


“Selamat pagi, Dinda. Saya James. Maaf menghubungi pagi - pagi. Bisa ke ruangan saya sebentar? Saya akan ada perjalanan bisnis selama dua minggu kedepan. Khawatirnya saya tidak ada waktu untuk berdiskusi dengan kamu.”, jelasnya cepat.


“Bisa Pak. Saya kesana sekarang Pak?”, tanya Dinda memastikan.


“Iya, saya tunggu di ruangan saya, ya.”


Dinda segera menutup teleponnya dan mengambil ponsel di dalam tasnya kemudian melangkah pergi.


“Eh, mau kemana?”, tanya Delina.


“Dipanggil Pak James ke ruangannya. Aku kesana sekarang ya, mba. Titip untuk infoin kalau ada yang bertanya.”, teriak Dinda dari jauh karena dia sudah setengah jalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


“Lagi? Ya sudah. Good Luck, ya.”, sahut Delina lanjut memainkan ponselnya.


“Eh mau kemana, Din?”, tak berapa saat, Dinda berpapasan dengan Andra yang baru datang.


“Mau ketemu Pak James.”, Dinda bergegas dan hanya bisa menyampaikan kalimat itu padanya.


“Oh? Pak James mana?”, tanya Andra sambil berteriak karena Dinda sudah menekan tombol lift dan hendak turun.


“HRD.”, teriak Dinda kembali sebelum pintu lift tersebut tertutup.


Sesampainya di ruangan HRD.


“Selamat pagi, Pak.”, ucap Dinda mengetuk pintu terlebih dahulu karena James terlihat seperti sedang serius menatap layar laptopnya.


“Ohiya, Dinda. Selamat pagi. Silahkan duduk.”, sapanya kembali.


“Syukurlah kamu datang pagi hari ini. Saya yang skip sebenarnya. Flight saya jam 11 lewat dan seharusnya jam segini saya sudah harus berangkat ke bandara. Saya baru sadar kalau saya harus menginformasikan sesuatu ke kamu.”, jelas James terlihat buru - buru.


Dinda hanya mengangguk menandakan dia paham yang dibicarakan oleh James.


“Saya ingin membahas tentang status kamu. Saya baru akan mengirimkan email, tetapi saya merasa sebelum mengirimkan email ini, saya perlu berbicara empat mata dengan kamu terlebih dahulu.”, ucap James dengan nada pelan.


“Iya, Pak.”, Dinda kembali mengangguk menandakan dia paham.


Deg…


‘Sepertinya dia akan menyampaikan berita yang tidak aku harapkan.’, kata Dinda dalam hati.


Semangatnya yang tadi perlahan mulai sirna.


“Saya sudah memperjuangkan kamu agar bisa tetap bekerja sebagai intern di divisi Digital and Development selama kurang lebih 4 bulan ke depan. Namun, hal itu tidak dapat kami lakukan menimbang prinsip ketidakberpihakan yang harus kami pegang. Saya juga tahu Pak Arya juga sudah mengusahakan yang terbaik dengan mendiskusikannya langsung dengan atasan saya, tapi, saya tetap tidak bisa mengesampingkan peraturan - peraturan yang ada. Di satu sisi, kami kecewa karena Pak Arya tidak terus terang lebih awal tentang ini.”, terangnya panjang lebar.


“Di situasi seperti ini, saya yakin di perusahaan setipe harus memberikan kesempatan memilih pada karyawan. Siapa yang akan tinggal. Namun, saat ini kamu adalah intern dan Arya adalah kepala Divisi. Beliau adalah aset yang penting untuk perusahaan. Bukan berarti saya mengatakan kamu tidak. Semoga kamu tidak salah paham. Tetapi, kami tetap harus menghitung persentasenya.”, lanjut James lagi.


Dinda berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan kekecewaannya. Bukankah Arya juga mengatakan padanya untuk tidak terlalu berharap agar semua bisa mengalir begitu saja, apapun keputusannya. Tapi mungkin itu hanya berlaku untuk orang sekelas Arya yang sudah berpengalaman, tidak untuk Dinda.


“Kamu tetap bisa menyelesaikan satu bulan ini karena masih pertengahan. Dan untuk bulan berikutnya, kami harus melepas kamu. Saya akan berusaha untuk mengusahakan agar kamu tetap mendapatkan sertifikat. Namun, hanya dengan masa internship terhitung selama 6 bulan. Semoga kamu bisa mempergunakan sertifikat itu untuk meniti karir di tempat yang baru. Kira - kira sampai disini kamu memiliki pertanyaan?”, ujar James membangunkan Dinda dari lamunannya.


Ucapan James sudah terdengar samar - samar untuknya.


“Hm.. untuk sementara ini saya merasa belum memiliki pertanyaan, Pak. Nanti kalau ada saya akan menghubungi Bapak.”, kata Dinda berusaha setenang mungkin. Padahal di dalam hati, dia sudah seperti orang yang ingin menangis.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Saya akan mengirimkan email ke kamu segera. Setelah itu terkait sertifikat, saya mungkin baru bisa memberitahu kamu seminggu dari sekarang. Semoga bisa lebih cepat dari itu.”, James terlihat menutup laptopnya.


“Baik Pak.”


“Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kamu bisa kembali lanjut bekerja.”, balasnya.


“Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu.”, kata Dinda sebelum meninggalkan ruangan HRD. Sepanjang jalan, wajahnya hanya bisa dia tekuk.


Arya sedang tak di kantor, sehingga dia tak bisa berlari padanya. Jika dia ada di kantor pun, Dinda tak yakin jika dia bisa melakukannya saat pria itu masih bekerja.


************


“Aku sudah mengatur waktu di minggu ini untuk bertemu dengan Dinda dan Arya. Pastikan kamu datang dan tidak mengulur waktu. Arya, pria itu tidak akan segan meneruskan berkas laporannya di kepolisian. Dia bahkan belum menariknya.”, terang Dika saat Putera sedang tidur.


Hari ini, Putera sudah bisa pulang. Mereka berencana untuk membawanya pulang saat Putera sudah bangun.


“Iya.. harus berapa kali aku mengatakan iya padamu.”, ucap Rianti yang kesal karena Dika tak berhenti membahasnya. Kenapa pria itu harus membahas soalan ini terus menerus. Padahal ada persoalan yang lebih penting yang perlu mereka bahas.


“Baguslah kalau kamu mengerti apa maksudku.”, kata Dika bermaksud untuk beranjak dari sana.


“Kita juga harus membahas yang lain.”, kata Rianti.


“Apa?”, balas Dika cepat sambil menoleh ke belakang.


“Seseorang datang berbicara dengan Putera dan mengatakan kalau kamu bukan papanya. Menurut kamu siapa yang melakukan itu padanya?”, kata Rianti.


Dia tak bisa menunda pembahasan ini lebih lama lagi, dia harus segera membahasnya sekarang.


“Apa? Lelucon macam apa itu?”, Dika memberikan tanggapan yang membuat Rianti sedikit kaget.


Ini bukanlah respon yang dia bayangkan. Dia pikir Dika akan bersikap biasa saja tentang hal ini. Rianti melirik ke arah Dika sebentar sebelum melanjutkan kata - katanya.


“Pria atau wanita?”, tanya Dika singkat.


“Maksudmu?”


“Apa kamu tahu, pria yang datang menemui Putera, apa kamu tahu jika dia adalah seorang pria atau wanita?”, ucapnya lagi memperjelas.


“Oh.. Putera bilang wanita. Wanita itu tiba - tiba saja datang dan mengatakan hal itu padanya lalu pergi. Menurutnya, dia tak pernah melihat wanita itu sebelumnya.


Di kepalanya, Dika hanya berpikir satu orang.

__ADS_1


‘Apa dia lagi yang punya kerjaan seperti ini? Kalau bukan dia, siapa lagi?’, ucap Dika dalam hati.


__ADS_2