Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 40 Sikap Tegas Sang Arya Pradana


__ADS_3

“Hai, Gue Angel. Sorry, kemarin kita belum sempat kenalan formal. Soalnya sudah diambil alih oleh Bapak - bapak itu.”, sapa Angel sambil mengarahkan pandangannya pada Arya dan Anton yang tengah mempersiapkan proses menyelam mereka hari ini bersama petugas.


“Iya, halo mba Angel. Saya Dinda.”, jawab Dinda singkat sambil tersenyum.


“Kalian baru banget menikah, ya? Minggu lalu?”, tanya Angel blak - blakan. Menurut dia ini adalah pertanyaan standar.


“Baru, tapi sudah jalan 3 bulan mba.”, jawab Dinda tersenyum.


“Aaa.. bulan madu kesekian?”


“Engga, baru pertama.”, jawab Dinda terlalu jujur.


“Ooh.. kenapa lama sekali?”


“Pak… maksudnya mas Arya sibuk, jadi bulan madunya ditunda.”


“Hmm ternyata sama aja ya, waktu sama Sarah juga dia sepertinya sibuk.”, Dinda terkejut mendengar Angel menyebut nama Sarah dengan santainya. Angel menyadari keterkejutan Dinda.


“Oh sorry, gue gak maksud. Jadi, Sarah itu dulu dekat sama Anton, jadi gue beberapa kali sempat ketemu dan ngobrol. Karena kedekatan merekalah gue jadi tahu Arya.”


Dinda mengangguk paham. Namun, hatinya tidak bisa berbohong bahwa dia merasa tidak nyaman.


“Sorry ya.. keceplosan. Tapi, lo belum pernah dikenalkan dengan Sarah?”


"Oh?", Dinda masih meraba - raba arah pertanyaan Angel.


"Arya ga ngenalin lo ke Sarah?", ucap Angel mengulangi pertanyaannya.


“Hm..Aneh ga sih mba.. kalo saya kenalan sama mba Sarah. Pertama, dia adalah mantan isteri mas Arya. Kedua, mereka ga punya anak. Jadi, menurut saya aneh kalau mas Arya justru memperkenalkan mba Sarah ke saya.”, Dinda menjawab dengan nada yang sedikit tajam.


Dia mulai mengerti gestur wanita ini. Sepertinya dia tidak memiliki maksud yang baik. Buktinya, dia seperti menyudutkan Dinda dengan pertanyaan itu.


Seolah, Sarah adalah bagian paling penting dalam hidup Arya yang ga boleh absen. Sementara Dinda hanya pelengkap.


Entah terbawa suasana atau karena nama ‘Sarah’ sudah beberapa kali ia dengar, saat ini dia sudah merasa bosan untuk membahas wanita itu lagi.


“Maaf mba, saya mau kesana dulu, kayanya mereka sudah selesai.”, Dinda meninggalkan Angel sendiri dan berjalan mendekati Arya yang sepertinya sudah siap. Mereka terlihat mendengarkan pengarahan dari petugas dan memilih perlengkapan menyelam.


“Sayang, nanti kita naik kapal ini, trus berhenti setelah melewati 2-3 km. Disana katanya ada terumbu karang yang bagus.”, Arya menangkap keberadaan Dinda dan segera memanggilnya.


Dinda bergidik dan merasa kebingungan dengan panggilan sayang yang dilontarkan Arya. Satu jam yang lalu, pria ini masih jadi lemari es hanya gara - gara Dinda menyinggungnya tentang Sarah. Tapi, sekarang dia kembali romantis.


“Uhm… Mas, saya gak bisa berenang. Memang bisa menyelam?”, tanya Dinda.


Dia belum mendapatkan jawabannya tadi.

__ADS_1


“Kalau kamu menyelam tanpa peralatan, itu wajib bisa berenang. Tapi kalo scuba diving dengan peralatan lengkap kaya gini, gak bisa berenang juga boleh asalkan tetap terpantau. Nanti kamu aku pegang dan aku liatin kok.”, jelas Arya sambil membantu Dinda memasangkan alat scuba divingnya.


Petugas sudah menawarkan untuk membantu memasangkan alat scuba untuk Dinda, tetapi Arya menolak dan ingin memasangkannya sendiri. Arya sudah sering scuba dan juga ahli berenang. Dia hanya perlu penjelasan dari petugas tentang area yang boleh dilalui dan apa yang harus dihindari.


‘Aku? Sejak kapan Pak Arya pake aku-kamu? Biasanya juga saya.’, Dinda secara refleks menaruh telapak tangannya pada kepala Arya yang masih sibuk memasang alat pada Dinda.


“Suhu badan normal. Gak panas”, celetuk Dinda sambil menunjukkan wajah bingungnya.


“Ngapain kamu? Saya sehat, kok.”, komentar Arya.


Jawaban Arya barusan hanya dibalas dengan anggukan oleh Dinda.


Mereka memutuskan untuk naik di kapal yang berbeda. Arya dan Dinda akan menyusuri laut sebelah kanan, sedangkan Anton dan Angel akan menyusuri laut sebelah kiri.


“Saya kira kita akan sama - sama menyelam di tempat yang sama.”, kata Dinda saat dia dan Arya sudah menaiki boat dan bersiap menuju tempat untuk scuba-diving.


“Ini bulan madu kita. Ngapain bawa pengikut.”, kata Arya dengan tatapan yang lurus ke hamparan laut lepas.


“Eh lihat deh tuh.”, kata Arya sambil menunjuk ke arah di belakang Dinda.


“Aaaaaa….”, teriak Dinda.


Ternyata Arya hanya mengerjainya saja. Saat Dinda menoleh mengikuti arah telunjuk Arya, lelaki itu malah menggoyangkan badan Dinda seolah dia akan terjatuh.


“Oke, dua ciuman.”, balas Arya.


“Ya ampun, masih saja dihitung.”, ujar Dinda sambil geleng - geleng kepala.


Mereka sudah sampai di titik scuba diving. Arya turun dari boat duluan, baru setelah itu Dinda. Sebelum turun, Arya sudah lebih dulu menjelaskan tentang teknik - teknik penting untuk scuba.


Secara teori, Dinda sudah paham. Tetapi, masuk ke dalam hamparan air laut, tetap saja membuatnya takut.


“Gapapa, ada saya kok. Kamu tenang aja. Bapak - bapak itu juga akan menyertai kita selama scuba agar tetap aman. Mereka juga akan menunjukkan spot terumbu dan pemandangan bawah laut. Nanti mereka juga ambil foto kita.”, kata Arya menjelaskan.


Arya bisa merasakan getaran dari tangan Dinda, pertanda gadis itu masih parno dan khawatir. Arya perlahan membawanya menjauhi boat dan mulai menyelam. Masih sambil berpegangan karena Arya khawatir Dinda panik saat di dalam.


Mereka mengitari berbagai spot - spot bawah laut. Ikan, terumbu karang, dan makhluk hidup lainnya sukses membuat Dinda sedikit lebih tenang. Karena sedang berada di dalam laut, Arya dan Dinda memakai bahasa isyarat untuk kata - kata ‘Bagus’, ‘Tidak’, dan ‘Takut’. Dinda beberapa kali memberikan isyarat bahwa pemandangan yang saat ini mereka lihat sangat bagus


Tak lama, saat berada di spot terbaik, petugas menyarankan mereka untuk foto. Arya menarik Dinda untuk lebih rapat dengannya, dan berfoto. Mereka mengambil beberapa buah foto dan video selama di bawah air.


Setelah kurang lebih 30 menit, mereka kembali ke permukaan dan membuka penutup mulutnya.


“Hahaha… bagus banget Pak Arya pemandangannya. Tapi.. dingin banget.”, kata Dinda sambil tersenyum bahagia.


Gestur dari mulut dan matanya sudah jelas menampakkan bahwa gadis itu merasa kedinginan.

__ADS_1


Cup


Arya tersenyum untuk kemudian mengecup Dinda lamaa sekali. Bahkan, para petugas harus membuang muka karena malu dengan adegan yang saat ini mereka lihat. Meski mereka pastinya sudah biasa dengan hal itu, tapi tetap saja.


Petugas yang memegang kamera lantas tidak ingin membuang kesempatan dan mengabadikan momen tersebut. Tidak hanya dalam bentuk foto tetapi juga video.


Dinda terengah - engah begitu Arya melepaskan ciumannya.


“Saya sudah pakai 1. Masih sisa 2 lagi.”, ucap Arya menyeka air di matanya.


“Hah? Kok dua lagi?”


“Barusan, kamu panggil saya Pak, loh.”


“Pak Ar… Mas Arya salah dengar kali,”


“Tiga slot ciuman. Sepertinya kalau kamu ceroboh begini saya bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk mencium kamu.”


Dinda memukul pelan bahu Arya.


Mereka diajak untuk menaiki boat karena ternyata cuaca sudah mulai mendung.


Tadinya, Arya juga akan menikmati wreck diving tetapi sepertinya hari ini bukan hari yang tepat. Untuk wreck-diving, mereka harus maju beberapa kilometer lagi dan itu bukanlah ide bagus hari ini.


Dan benar saja. Begitu sampai di pinggir pantai, tempat mereka tadi pertama menaiki boat, hujan sudah turun. Arya dengan cepat membantu Dinda untuk melepas peralatan dan mereka bersiap untuk kembali ke hotel.


Yang terjadi antara Arya dan Anton saat Dinda dan Angel masih mengobrol jauh dari mereka.


“Jujur, gue kaget lo bareng cewe selain Sarah. Asli, sampai sekarang pun gue masih gak percaya.”, kata Anton. Saat itu, mereka masih menunggu para petugas mempersiapkan boat dan perlengkapan.


“Gue sama Sarah sudah lama bercerai dan meski lo di overseas, I guess you know it, right?”, Arya tidak berkomentar.


“Ya.. ya.. Gue tahu meski gak dari Sarah langsung. Kapan lo nikah? Kok gak ngundang - ngundang?”, tanya Anton.


“Sudah sekitar 3 bulanan. It's a private wedding.”


“Kenal dimana? Gue tahu banget tipe cewe lo, Ar dan dia jelas - jelas bukan tipe lo. Cewe itu jauhhh banget dari Sarah. Sarah itu tinggi, sexy, berkarisma, well sampe sekarang gue masih terpesona sama Sarah. Ya,, walaupun gue akuin istri lo sekarang juga cantik banget. Tapi, it’s not your type, you know. Berhijab lagi…”, tutur Anton sambil sesekali terkekeh.


“Apa yang lo tahu soal tipe cewek gue? Lo gak tahu apa - apa soal gue. Lo terpesona sama Sarah? Ngapain lo jalan sama Angel kalo lo terpesona sama Sarah? She’s free now. Lo bisa kejar dia. Dan lo tahu kenapa lo gak pernah bisa berkomitmen soal pernikahan? Karena otak lo soal cewe, cuma R-A-N-J-A-N-G.”, jawab Arya dengan penuh emosi.


Semilir angin yang kencang membuat pertengkaran mereka tidak terdengar oleh orang disekitarnya, termasuk Sarah dan Angel yang melihat mereka biasa saja dari kejauhan.


“Lebih baik kita jalan di boat berbeda. Gue gak bisa mendengar omong kosong lo lagi. Sorry, Anton.”, tegas Arya.


Saat itu, terlihat dari kejauhan Dinda berjalan ke arah Arya. Arya tersenyum dan memegang gadis itu saat dia sudah dekat. Arya dengan sigap langsung menyapa dan memakaikan peralatan scuba padanya.

__ADS_1


__ADS_2