Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 190 Treat dari Kepala Divisi DD


__ADS_3

Matahari sudah hampir tenggelam. Sebagian karyawan sudah bersiap - siap untuk menyelesaikan harinya di kantor. Sementara sebagian lagi masih bertarung untuk bisa menyelesaikan deadline mereka agar bisa segera pulang.


Delina sudah menepuk bahu Dinda untuk memberitahunya bahwa dia mau pulang. Suci sudah tidak terlihat sejak sore karena dia ada meeting di luar. Dia mungkin tidak akan kembali ke kantor dan langsung pulang.


Erick dan Rini masih berdiskusi di ruangan Dika sejak siang tadi setelah CEO Town Hall selesai. Mereka mendapatkan banyak PR hasil meeting bersama dengan CEO. Meski Arya juga turut mendampingi, tetapi banyak sekali poin yang harus mereka selesaikan.


Pekerjaan Dinda juga sudah selesai. Beberapa kali dia melihat ponselnya, tetapi belum ada balasan dari Arya. Sepertinya dia masih sibuk.


“Din, belum pulang?”, tiba - tiba Bryan menghampirinya.


“Sebentar lagi. Kamu sudah mau pulang ya? Kalau begitu sampai besok.”, ujar Dinda.


“Kamu masih berhubungan dengan Pak Arya?”, tanya Bryan.


“Bryan! Bisa gak sih kamu tidak membahas itu.”, Dinda menoleh ke kiri dan ke kanan.


Belakangan ini dia merasa lebih santai dan tidak terlalu khawatir tentang dirinya dan Arya. Tapi, sejak Kepala Divisi sebelah melabraknya, Dinda kembali sadar diri. Meski itu bukan kesalahannya, tetapi yang terjadi sesuai dengan prediksinya.


Tanpa mereka tahu hubungannya dengan Arya, Kepala Divisi itu menyebutkan tentang backing-an dan apakah Dinda masuk ke perusahaan dengan menggunakan orang dalam. Apalagi jika mereka tahu hubungan Dinda dan Arya. Respon mereka bisa jadi kurang lebih sama atau bahkan lebih.


“Bukankah kamu sudah melihat sendiri kalau Pak Arya selingkuh?”, ucap Bryan merasa tidak percaya kenapa Dinda masih membela pria itu.


“Aku salah. Aku lupa kalau wanita yang ada di foto itu sebenarnya adalah aku sendiri.”, kata Dinda sambil menahan malu.


Dia harus mengatakannya, jika tidak Bryan yang entah sejak kapan terlalu mengkhawatirkannya akan mengatakan hal lain lagi. Dia tidak mau ada orang lain lagi yang mengetahui kalau Dinda dan Arya sudah menikah. Setidaknya sampai Dinda lulus masa intern.


“Hah? Maksud kamu?”, Bryan mengusap kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar pernyataan Dinda.


Saat itu, hampir semua orang di DD sudah pulang. Hanya tersisa beberapa orang yang duduknya jauh dari tempat Dinda dan Bryan berbicara.


“Iya, aku salah menyangka. Hah.. bisa - bisanya aku lupa bahwa itu adalah aku sendiri dan aku sudah bersikap cuek pada mas Arya. Aku bahkan tidur membelakanginya.”


“Hah? Din, pelan - pelan. Gimana?”, Bryan bingung dengan pernyataan Dinda barusan.


Setahu dia, Arya dan Dinda berpacaran. Bryan belum mengetahui sama sekali kalau mereka sudah menikah.


“Ah.. maksudku emoticon. Ha-ha.. Aku menggunakan emoticon itu padanya. Ha-ha.. Ya sudah kamu pulang duluan.”, kata Dinda panik dengan omongannya yang refleks.


Dinda sengaja mendorong Bryan untuk pulang lebih dulu karena dia tidak tahu kata apalagi yang bisa keceplosan dari mulutnya.


“Din? Kamu? Emoticon?  Bukan, bukan itu. Foto itu. Kamu?”


“Sudah, sana pulang. Besok harus ke kantor lagi, kan? Hari ini melelahkan habis Town Hall. Ha-ha.”, omongan Dinda semakin ngaco.


Bryan menarik lengan Dinda dan membawanya ke area lorong yang menghubungkan dengan area Divisi Business and Partners. Disana sudah tidak ada orang yang berlalu larang.


“Bryan, kamu apa - apaan sih? Lepasin.”, Dinda berusaha melepaskan pegangan Bryan yang begitu kuat.


“Apa? Emoticon? Alasan macam apa itu? Din, kalau yang di foto itu adalah kamu. Kamu sadar gak sih itu foto seperti apa? Arya ciuman dengan seorang wanita dan kamu bilang itu kamu?”, kata Bryan bingung, penasaran, dan tidak sabar mengetahui jawaban dari Dinda.


‘Ah iya. Aku lupa kalau itu foto…ah bagaimana ini.’, Dinda tidak berani menatap Bryan karena sudah jelas dia sedang panik sekarang.


“Jangan - jangan kamu melakukan seperti yang Suci katakan? Iya, Din? Aku kira Suci hanya..”, Bryan tidak sanggup meneruskannya.


Bryan memang tidak terkejut karena beberapa orang temannya juga pernah pacaran melewati batas. Tetapi, Bryan tidak menyangka Dinda juga gadis seperti itu.


“Din? Kamu sadar ga sih? Arya itu pria dewasa. Kamu? Kamu mau - mau aja. Wah… brengsek si Pak Arya. Dijanjiin apa kamu sampai mau tidur sama dia? Heh?”, kata Bryan yang masih speechless.


“Bryan!”


“Kenapa? Kamu mau tidur sama dia karena dijanjikan slot karyawan tetap? Iya Din?”


“Pak Arya itu suami aku.”, Dinda tidak bisa terus mendengar kata - kata Bryan lagi.


Dinda ingin sekali menamparnya tetapi Bryan juga tidak salah. Siapapun juga akan berpikiran demikian kalau tahu mereka hanya berpacaran.


Mata Bryan membulat. Dinda menyuguhi banyak kejutan padanya saat itu.


“What?”, respon Bryan tidak percaya.


“Iya, Pak Arya adalah suami aku. Kita sudah menikah.”, jawab Dinda pasrah.


“Kamu hamil?”, tanya Bryan tambah syok.


“Oh? Kamu tahu darimana?”


“Wha… Gila si Arya.”, Bryan menutup mulutnya tidak percaya.


“Dia hamilin kamu?”, tanya Bryan lagi saat sudah bisa mengumpulkan nyawanya.


“Eh? I-iya sih dia kan suami a-aku.”, Dinda ingin mengiyakan pertanyaan Bryan tapi seperti ada yang salah dengan pertanyaan itu.

__ADS_1


“Trus, kamu percaya begitu aja? Dia sudah menghamili kamu terus tanggung jawab dengan menikahi kamu, kamu pikir ‘udah’? Gak ada yang salah?”


“Wait … wait.. Bryan. Calm down..”


“Gimana bisa calm down. Kamu pacaran sampe, kamu, Din? Kamu?”, Bryan kesulitan mengendalikan dirinya.


“Bryan… Bryan.. Oke.. lihat aku. Aku jelasin, okay? Aku sama Pak Arya sudah menikah, okay? Saat menikah, aku belum hamil. Pak Arya juga belum pernah ngapa - ngapain aku sebelum kita menikah. Kita juga tidak pernah pacaran. Aku juga gak kenal sama Pak Arya sama sekali sampai ada wacana ‘Pernikahan’.”, kata Dinda menjelaskan.


‘Hah.. aku harus menjelaskan sampai mana? Apa aku harus menjelaskan juga tentang perjodohan? Ah.. kalau tidak imajinasinya akan semakin aneh. Bisa - bisanya dia berpikir aku hamil duluan.’, Dinda merasa frustasi sendiri.


“Kamu gak pacaran?”, tanya Bryan beberapa saat setelah dia mulai mencerna penjelasan Dinda.


“Hm..”


Saat itu, beberapa orang lewat di lorong sehingga Dinda tidak bisa melanjutkan omongannya.


“Kita bicara nanti, boleh? Aku akan jelaskan semua. Tapi bukan disini. Dan kamu janji tidak memberitahu yang lain. Plis.”


“Fuh.. Baik. Lagipula aku rasa aku tidak sanggup mencerna lebih banyak informasi lagi. Perkataanmu barusan sudah meledakkan bom sendiri di kepalaku. Kalau begitu sampai besok, Din.”, kata Bryan menutup pembicaraan dan pergi dengan langkah gontai.


*********


Saat itu Erick dan Rini keluar dari ruangan Dika. Dika juga ikut keluar ruangan. Dinda tidak terlalu memperhatikannya karena mungkin Dika masih ada yang ingin dibicarakan dengan Erick. Tapi, ternyata Dika justru menghampirinya.


“Din, kamu punya waktu sebentar? Cafe di bawah masih buka ga Erick, jam segini?”, tanya Dika pada Erick.


Erick merasa bingung tapi dia tidak terlalu berpikir keras tentang itu.


“Hm.. Sepertinya masih Pak.”


“Kamu ga masalah kan kalau saya ajak kamu ngobrol di Cafe bawah sebentar?”, Dika bisa melihat Dinda sudah menyiapkan tasnya untuk pulang, tetapi dia tidak begitu mempedulikannya.


“Ehm.. “


“Sebentar saja. Sebenarnya saya mau ajak kamu makan di luar, tapi sepertinya akan memakan waktu di perjalanan karena macet. Gapapa, kan di Cafe bawah sebentar?”, tanya Dika.


Dinda ingin menolak, tetapi dia bingung alasannya. Kalau yang mengajak adalah Bryan, dia mungkin bisa menolaknya dengan mudah, tapi ini adalah Dika, Kepala Divisinya. Tidak sopan jika dia menolak ajakannya. Mungkin pria itu memiliki sesuatu yang ingin didiskusikan tentang pekerjaan.


‘Tapi apa yang mau didiskusikan dengan intern sepertiku?’, tanya Dinda bingung.


“Baik, Pak.”, kata Dinda menjawab pelan.


Dinda memeriksa ponselnya kembali untuk memeriksa apakah sudah ada pesan dari Arya.


Nihil. Sepertinya setelah Town Hall, Arya punya banyak hal yang perlu di diskusikan. Dia masih belum membalas pesannya.


To: Mas ‘A’


Mas Arya, aku di Cafe bawah ya.


“Yuk Din.”, sahut Dika setelah dia siap dengan tas-nya.


Dinda masih ingin mengetik beberapa pesan lagi tetapi Dika sudah memanggil.


“Erick, besok pagi langsung ke ruangan saya, ya. Sebelum meeting lagi di atas, kita re-check lagi.”, kata Dika sebelum keluar dari area kantor menuju lift.


Dinda mengintil di belakang mengikuti bosnya itu. Sejujurnya dia sangat - sangat canggung dan tidak nyaman. Pertama karena hanya ada mereka berdua. Kedua, karena Dika adalah Kepala Divisi yang levelnya jauh sekali di atasnya. Ketiga, Dinda masih belum tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Dika.


“Rick, Pak Dika tumben mengajak Intern untuk bertemu di Cafe? Ada ide kenapa?”, tanya Rini.


Rini agak kecewa karena Dika tidak menanyakan pendapatnya sebelum mengajak Dinda untuk berbicara berdua. Padahal, Rini tercatat secara sistem sebagai supervisor Dinda. Seharusnya, jika Dika ingin membicarakan sesuatu, dia juga memberitahu Rini.


“Kenapa tanya padaku? Seharusnya kamu pasti lebih tahu.”, ujar Erick.


“Hah! Dia tidak memberitahuku sama sekali. Aneh sekali, apa di kantornya yang lama, kulturnya memang begitu. Sudah tidak masuk dua hari, membuat orang panik, dan sekarang main sosor - sosor saja tanpa ada info.”, ini kali pertama Rini menyampaikan protesnya.


“Meski Pak Arya galak dan sulit berada di dekatnya. Tapi menurutku dia lebih baik. Aku dengar Pak Arya mendapat tawaran untuk memegang dua divisi sekaligus. Kenapa dia tidak menerimanya?”, lanjut Rini sambil mengemasi barang - barangnya yang masih berserakan di atas meja.


Erick hanya mengangkat bahu. Sebenarnya, Erick punya dugaan kenapa Arya tidak mau menerima penawaran itu. Mungkin saja karena dia tidak mau Dinda berada di bawah kepemimpinannya dan menimbulkan isu ke depannya.


‘Jika bukan karena Dinda, mungkin Arya sudah menerima tawaran itu.’, ujar Erick dalam hati.


“Ya sudah, aku duluan.”, kata Erick berjalan menuju lift.


“Tunggu aku. Dua menit, plis. Parkiran mendadak jadi seram kalau sudah terlalu malam.”, ujar Rini.


“Sekarang kan masih jam 7 Malam. Apanya yang seram. Kita juga pernah pulang jam 10 malam dan biasa saja.”, ujar Erick menekan tombol lift ke bawah.


“Kamu tidak tahu? Kata Andra, ada desas desus kalau belakangan ini ada penguntit di parkiran. Sudah ada beberapa korban, namun pihak gedung menutupi. Katanya takut tenantnya pada kabur.”, ujar Rini melangkah masuk ke dalam lift saat pintu terbuka.


“Ah.. si Andra lagi. Kamu benar - benar percaya pada apa yang dikatakannya.”

__ADS_1


“Kadang - kadang dia benar juga tahu. Apa salahnya kan hati - hati.”


“Kamu sedang tidak modus padaku, kan?”, goda Erick.


“Enak saja. Aku punya pacar tahu.”, Rini memukul bahu Erick karena tidak percaya dengan omongannya barusan.


*********


“Roy, kamu sudah siapkan daftar belanjaan bulan ini?”, tanya Dimas yang baru saja selesai dari urusannya di luar.


Pria itu melipat lengan bajunya ke atas karena dia ingin membantu mengangkat beberapa barang ke dalam gudang. Beberapa hari ini, salah satu karyawannya cuti karena sakit. Jadi, hanya ada dua orang karyawan yang standby di Cafe.


Saat dia meletakkan menu kembali ke meja kasir, dia melihat Dika dan Dinda berjalan ke arah Cafenya dari kejauhan. Dimas tidak melepaskan pandangannya dari mereka bahkan hingga Dika dan Dinda masuk ke dalam cafe.


Pandangan Dimas mengarah pada Dinda. Pria itu seperti bertanya dengan matanya.


“Mau duduk dimana?”, tanya Dika santai.


“Dimana saja, Pak.”, jawab Dinda.


“Oke, kita pesan dulu, terus kita duduk di sebelah sana saja, ya. Tutup jam berapa?”, tanya Dika pada Dimas yang sedari tadi memang sudah berdiri di dekat meja kasir.


“Jam 8.”, jawab Dimas datar.


“Oke, setidaknya masih ada sekitar 1 jam lagi. Kamu mau pesan apa?”, tanya Dika kali ini mengarahkan pandangannya pada Dinda.


“Avocado Smoothies saja, Pak.”, jawab Dinda singkat.


“Kentang, burger? Onion ring?”, tanya DIka menawarkan.


“Makasih, Pak. Itu saja.”, jawab Dinda.


“Kalau begitu saya pesan, Americano satu, Avocado Smoothies, kentang goreng, dan  ehm… kroket kentang nya deh ya, yang porsi jumbo.”, kata Dika pada pelayan yang berdiri di area pemesanan.


Sudah tidak banyak orang di cafe. Hanya beberapa pekerja yang tidak mereka kenal karena berasal dari perusahaan lain.


“Silahkan duduk.”, jawab Dika setelah menemukan tempat yang cocok.


“Agak canggung ya, sama saya?”, tanya Dika terang - terangan pada Dinda.


“He-he.. “, Dinda hanya tersenyum.


Tentu saja dia merasa canggung. Bahkan yang selevel Andra, Bryan, dan Delina saja mungkin juga bisa canggung jika harus duduk berdua dengan Dika yang notabene adalah Kepala Divisi. Apalagi Dinda yang hanya seorang intern.


Mungkin di circle mereka hanya Suci, mba Rini, dan Pak Erick yang tidak akan terlalu canggung jika berhadapan dengan Dika.


“Sorry, saya jadi membuat jam pulang kamu sedikit mundur. Saya hanya mau treat kamu karena kejadian tempo hari.”, kata Dika.


Kebetulan, pelayan datang memberikan Ice Americano miliknya. Dika mengucapkan terima kasih pada pelayan tersebut. Sementara itu, Dimas sesekali melirik ke arah tempat duduk mereka.


Dinda masih bingung, kejadian yang mana yang dimaksud oleh Dika.


“Karena saya absen dua hari, saya jadi terlambat menandatangani laporan yang kamu serahkan. Akibatnya, Kepala Divisi sebelah sampai datang dan ribut ke meja kamu.”, jelas Dika lagi sambil menyeruput Ice Americano miliknya.


“Ohiya, sorry, saya minum duluan ya.”, kata Dika saat menyadari kalau dia sudah terlanjur menyeruput minumannya lebih dulu.


“Iya gapapa Pak.”, jawab Dinda.


“Gara - gara saya kamu jadi dipermalukan di depan orang banyak. Saya sudah mengatakan padanya dan seharusnya permasalahannya sudah clear. Saya harap, pekerjaan kamu tidak terganggu karena hal itu.”, ujar Dika.


“Ah iya Pak. Tidak apa - apa. Sudah pernah mengalami hal yang serupa dengan orang yang sama. Jadi, saya sedikit terbiasa.”


“Eh? Pernah ada kejadian serupa sebelumnya?”, tanya Dika nampak tertarik.


“Iya, Pak.. tapi yang sebelumnya memang saya salah karena melewatkan laporannya.”, jawab Dinda.


“Saat itu, masih Arya yang memegang divisi DD?”, tanya Dika.


“Em.. Iya Pak.”


“Saat itu, apa yang dia lakukan?”


“Eh?”


“Saat itu, bagaimana dia meng-handlenya?”, tanya Dika penasaran.


“Ah.. waktu itu Pak Arya baru saja ditunjuk untuk menggantikan Kepala Divisi DD sementara, jadi tidak banyak yang beliau lakukan. Pak Erick meminta saya segera menyelesaikan laporannya dan saya meminta tanda tangan Pak Arya.”, jelas Dinda.


“Apa waktu itu, Arya sudah menjadi suami kamu?”, kata Dika blak - blakan sambil menyeruput kembali kopinya dan melirik ke arah Dinda.


Disaat yang bersamaan, Dimas juga datang memberikan pesanan mereka yang lain.

__ADS_1


__ADS_2