Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 198 Ketegangan di Pagi Hari


__ADS_3

Keluarga Kuswan tengah menikmati hidangan sarapan pagi seperti biasanya di meja makan yang terletak tidak jauh dari ruang tengah.


Tidak ada penyekat dinding di antara keduanya, hanya sebuah lemari setinggi satu meter dengan beberapa vas bunga di atasnya.


Semua berkumpul kecuali Arya yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Suasana sedikit lebih sepi dibandingkan dengan sebelumnya. Meski sebenarnya Arya juga tidak banyak berbicara saat makan.


Dia lebih banyak menjawab pertanyaan atau beberapa minggu belakangan sibuk dengan istrinya.


Inggit terlihat sibuk meminta Bi Rumi untuk menyiapkan apa yang dia minta. Terutama untuk makanan Kuswan yang memerlukan perhatian khusus.


Inggit sudah jarang terlibat langsung dalam proses masak - memasak di dapur, tetapi dia tetap menjadi seksi tersibuk.


Hilir mudik hilir mudik, sampai kadang Kuswan memintanya untuk duduk.


"Sudah ma. Nanti juga Bi Rumi akan membawa semua makanannya kemari. Jangan bolak - balik terus seperti setrikaan.", ujar Kuswan memanggil istrinya.


Mba Andin juga membawa dua krucil nya yang sudah bangun untuk menyapa kakek dan nenek mereka.


Setelah itu, Rafa dan Samawa juga duduk rapi bersama Andin yang berada di tengah - tengah keduanya.


Sejak kemarin Rafa dan Samawa tidak akur setelah berkelahi memperebutkan sebuah mainan. Ada dua buah mainan berbeda yang dibeli. Andin sudah mengatakan agar kedua mainan itu boleh dibeli asalkan di pakai bergantian.


Dia sudah meminta keduanya memilih namun tidak mendapatkan keputusan. Dia juga tidak boleh memanjakan mereka dengan menuruti semua permintaan mereka terutama soal mainan.


Akhirnya Andin membeli kedua mainan yang berbeda itu dan keduanya sudah setuju untuk memakainya bergantian.


Entah bagaimana keduanya malah bertengkar dan saling melemparkan mainan itu. Alhasil keduanya menangis.


Rafa sampai harus diungsikan ke kamar Dinda untuk sementara waktu tadi malam. Padahal, keduanya tidak pernah saling lempar meskipun tak ditampik bahwa mereka sering berselisih.


Kemarin adalah perselisihan keduanya yang paling intens dan paling lama. Bahkan keduanya masih belum mau berdekatan. Buktinya, pagi ini Andin harus duduk di tengah - tengah mereka.


Selain itu, ada hal yang tidak biasa lainnya muncul dari Ibas. Tidak biasanya Ibas sudah duduk rapi di meja makan.


Tidak hanya Dinda, tetapi mama papa juga dibuat agak terkejut pagi ini. Bahkan, Ibas menjadi yang paling pertama duduk di meja makan dengan pakaian yang rapi meski bukan formal tetapi lebih ke casual.


“Arya kapan pulang, Din?”, tanya Kuswan sambil menikmati sepotong roti canai di piringnya.


Hari ini, tema sarapan dari Bi Rumi adalah sarapan khas Malaysia dengan roti canai dan sambal terong.


Sarapan yang sangat unik untuk menikmati pagi yang cerah. Tentu saja, menu biasa seperti roti, sandwich, dan omelet juga tersedia mengikuti selera masing - masing.


Dinda sudah pasti mengambil sandwich. Ibas sudah pasti mengambil semuanya. Dan sereal untuk si kecil Rafa dan Samawa.


Mereka sibuk makan tetapi sesekali tetap mengobrol satu sama lain dengan suara pelan.


Jarak tempat duduk Dinda dan Kuswan jauh, sehingga pertanyaan dari Kuswan sedikit memecah keheningan pagi itu.


“Kalau mengikuti target sebenarnya masih minggu depan, Pa. Mas Arya bilang alasan nya karena butuh waktu tujuh sampai sepuluh hari di sana sampai fase awal proyek selesai. Tapi Mas Arya sedang berusaha agar meeting nya bisa lebih efisien. Mungkin mas Arya akan mengurangi meeting - meeting yang tidak perlu supaya bisa pulang lebih cepat, pa.”,  jawab Dinda menghentikan aktivitas makannya terlebih dahulu dan menjawab pertanyaan Kuswan.


“Maafin ya, Arya memang rutinitasnya seperti itu. Kamu pasti kesepian.”, kata Inggit memberikan perhatian.


“Gapapa kok, ma. Mas Arya telpon Dinda setiap pagi dan malam. Menurut Dinda, mas Arya sudah memberikan usaha yang luar biasa untuk bisa menghubungi Dinda rutin seperti itu.”, jawab Dinda tersenyum.


"Lagipula ini adalah perjalanan bisnis yang tidak terduga, pa. Tiba - tiba saja team leader yang menjadi penanggung jawab proyek ini diserang oleh orang tidak dikenal di parkiran, sehingga mas Arya mau tidak mau harus menggantikan, Pa, Ma.", kata Dinda menjelaskan.


"Alhamdulillah, sekarang Dinda sudah mulai terbiasa dengan rutinitas mas Arya di kantor yang super sibuk. Meski belum terbiasa ditinggalnya, tapi Dinda mengerti kok, pa, ma. Mungkin karena Dinda juga bekerja di Perusahaan yang sama. Jadi, Dinda tahu betul sesibuk apa mas Arya.", lanjut Dinda lagi.


Dulu, Dinda tidak pernah se terbuka ini kalau berbicara dengan papa dan mama alias mertuanya. Tapi, seiring berjalannya waktu, ditambah Inggit dan Kuswan yang memang membuatnya merasa nyaman, Dinda sudah tidak segan mengobrol panjang.


Dinda juga bersyukur karena mas Arya memberikan perhatian - perhatian padanya. Meski terlihat kecil, tetapi Dinda tahu itu butuh usaha besar.

__ADS_1


Rutin menghubunginya, menyediakan waktu untuk mengobrol, dan seiring dengan waktu, komunikasi mempererat hubungan mereka.


Ya, Arya hampir tidak pernah melakukan ini pada Sarah sebelumnya. Karena mereka berdua memiliki pemikiran yang sama.


Meski sebenarnya, Sarah menginginkan sebaliknya. Dia ingin Arya menghubunginya, tapi dia merasa itu tidak pro dan mengurungkannya. Akhirnya, rasa ingin itu menumpuk dan meledak di hatinya.


“Oooo.. jarang - jarang loh, mas Arya pegang HP pribadinya rutin. Bahkan mama saja dulu seabad sekali baru ditelpon.”, sahut Ibas yang semakin hari melihat perubahan yang semakin signifikan dari Arya.


‘Apakah pria bisa berubah seperti itu?’, kadang Ibas juga kerap berpikir begitu.


Diam - diam, sejak dulu Ibas menjadikan Arya sebagai role modelnya. Tentu saja, dia tidak rela memberitahukan kakak laki - laki nya itu.


Dia menjadi penggemar dalam diam kecuali untuk urusan cinta, dulu. Meski mas Arya hampir perfect di segala hal, tetapi tidak untuk cinta.


Sekarang, sepertinya Ibas perlahan mengubah pendapatnya. Dia menilai, Arya semakin baik. Bayangkan, untuk pria seperti Arya, bagaimana bisa dia menikah dengan perempuan yang tidak dia kenal sama sekali. Perempuan yang jauh lebih muda darinya.


'Hm.. apa ini yang namanya disebut feeling seorang Ibu? Mama bisa memilihkan istri yang memang mas Arya butuhkan.', pikir Ibas dalam hati.


"Oh, Arya pernah sebutkan ke papa kemarin. Jadi, bagaimana itu bisa terjadi? bukannya pengawasan di area kantor seharusnya lebih ketat, ya?", lanjut Kuswan bertanya karena penasaran.


Sembari menunggu jawaban dari Dinda, dia lanjut menyeruput smoothie spesialnya pagi ini.


"Masih belum tahu, Pa. Siapa pelakunya dan kenapa bisa di sana. Kalau mendengar perkembangan yang diceritakan oleh mas Arya, kemungkinan besar pelakunya hanya satu orang.", kata Dinda.


"Mas Arya menduga, pelakunya sebenarnya masih orang di kantor juga. Namun belum tahu siapa, pa. Karena seperti yang papa sebutkan tadi, area kantor memiliki penjagaan yang ketat dari satpam. Jadi, tidak mungkin ada orang luar yang masuk lalu melakukan hal seperti itu dan bisa keluar lagi dengan mudah.", tambah Dinda.


"Betul juga. Tapi, ada baiknya juga mereka memeriksa semua pengunjung yang masuk di rentang jam segitu. Orang yang bukan berasal dari kantor itu dan tidak memiliki urusan yang jelas, patut untuk dicurigai. Ini bukan perkara sepele. Sampai masuk rumah sakit kan orangnya?", balas Kuswan.


"Iya, pa.", Dinda mengangguk - angguk mendengar pandangan dari Kuswan.


Dia bahkan belum menyanduk lagi bubur kacang ijo nya karena menunggu Kuswan selesai berbicara.


Setelah membicarakan topik tersebut, suasana meja makan hening sebentar. Semua sibuk makan.


Kadang, Dinda merasa tidak enak karena dia ingin sekali ikut membantu keriwehan itu, tetapi, Inggit selalu melarangnya.


Bahkan, sebelum hamil saja, Inggit sudah melarangnya. Dinda hanya boleh ikut membantu saat sedang cuti, libur nasional, atau akhir pekan. Sisanya tidak boleh.


Apalagi, sekarang dia sedang hamil. Inggit benar - benar melarangnya ke dapur, kecuali jika dia ingin membuat susu hamilnya.


Untuk itupun, Inggit sudah memberikan pesan pada Arya, setiap dia punya waktu, dia harus membuatkannya untuk Dinda.


'Hamil itu berdua. Hanya karena bayinya ada di perut Dinda, bukan berarti Arya tidak wajib berkontribusi. Justru dia yang harusnya lebih sibuk. Tidak hanya dalam bentuk fisik, tapi juga perhatian.'


“Oiya ma. Mulai hari ini aku tidak bekerja freelance lagi. Aku dapat penawaran dari sebuah perusahaan start-up. Alamatnya masih searah dengan perusahaan mas Arya dan Dinda.”, kata Ibas meletakkan sendok dan garpunya sebelum memberikan pengumuman pada semua orang.


Suara Ibas barusan, sukses memecah keheningan yang baru berlangsung beberapa menit saja.


“Good.. perusahaan apa itu, bas?”, tanya Kuswan antusias mendengar pengumuman dari puteranya yang paling bontot.


“Start-up, Pa. Mereka bergerak di bidang gaming online. Salah satu perusahaan terbesar di Asia, Pa. Disini, Ibas menjadi karyawan full time. Bukan freelance lagi. Kantornya juga hanya berjarak 1 km saja dari kantor mas Arya.”, Jawab Ibas.


“Kamu tidak mau bekerja di tempat yang memiliki masa depan cemerlang? Kenapa malah memilih bekerja di perusahaan gaming yang tidak jelas ujungnya? Kalau begitu, apa bedanya kamu freelance dengan bekerja di perusahaan gaming?”, kata Kuswan dengan nada tegas.


Kuswan bahkan menaruh sendoknya di atas meja dan menyebabkan suara gaduh. Hal itu tentu saja mengejutkan Dinda, Rafa dan Samawa.


Sebuah respon yang benar - benar tidak diprediksi oleh semua orang yang duduk di kursi itu.


Termasuk mba Andin yang juga terkejut meski Kuswan adalah papanya. Dinda apalagi.


Ini adalah kali pertama dia melihat Kuswan mengeluarkan emosi di depannya. Meski bukan terhadap Dinda.

__ADS_1


Setelah Kuswan meletakkan garpu dan sendok di atas meja, dia kemudian berdiri dari kursinya.


“Pa, perusahaan gaming juga punya masa depan yang cerah. Dulu dan sekarang itu beda. Banyak perusahaan dengan core business baru yang muncul seiring dengan perkembangan teknologi. Gak harus melulu di perusahaan seperti mas Arya.”, kata Ibas yang juga mengejutkan semua orang di sana.


Biasanya dia lebih memilih untuk tidak menggubris apa yang dikatakan papanya atau membalikkannya dengan candaan. Tapi, kali ini dia merespon dengan lantang.


“Lebih baik kamu meneruskan kuliah kedokteran kamu dibandingkan dengan berkarir tidak jelas seperti ini. Memangnya sampai kapan perusahaan seperti itu bisa bertahan.”, kata Kuswan sebelum meneruskan langkahnya menuju kamar.


“Papa selalu saja lebih pro ke mas Arya, apapun yang dia lakukan. Meski saat dia melanjutkan kuliahnya di tempat yang tidak papa suka. Tapi papa masih terus membelanya. Kenapa tidak mas Arya saja yang papa kuliahkan di kedokteran. Kenapa papa melampiaskannya padaku?”, Ibas seolah melupakan siapapun yang ada di sana dan mengeluarkan uneg - uneg nya.


Sarapan pagi yang tadinya sangat hangat berubah menjadi ketegangan.


Suasana menjadi canggung tiba - tiba saat Kuswan meninggalkan meja makan dan berjalan ke kamarnya.


"Kakek sudah selesai makan?", pertanyaan dari Safa hanya satu - satunya yang bisa membuat situasi menjadi tidak canggung lagi.


"Ibas, sudah kamu berangkat saja. Nanti mama yang berbicara dengan papa. Perkataan papa barusan jangan terlalu dipikirkan. Kamu berangkat bareng Dinda kan pagi ini?", Inggit segera mengalihkan perhatian puteranya.


********


“Kamu tidak apa - apa?”, setelah beberapa menit dalam perjalanan, Dinda baru berani bertanya pada Ibas.


Sejak masuk ke keluarga mereka, sejak menginjakkan kaki di rumah itu dan menyandang status sebagai istri Arya, tidak sekalipun Dinda pernah melihat Ibas emosi. Bahkan saat hal - hal trivia seperti mobilnya disita oleh papanya karena ketahuan merokok, dia hanya membuatnya terdengar sepele dengan candaan.


Tapi, pagi ini, Dinda melihat sisi baru dari Ibas. Meski Dinda menyayangkan adanya ketegangan tadi pagi, tapi Dinda salut dengan pendirian Ibas yang bisa mempertahankan apa yang menjadi pilihannya.


‘Aku sama sekali tidak bisa menyuarakan apapun yang menjadi keinginanku di rumah. Tidak, aku tidak mau menyuarakannya karena takut Bunda kecewa dan khawatir. Beliau sudah memiliki banyak hal di kepalanya. Aku tidak bisa membuatnya lebih menderita dari itu.’, pikir Dinda dalam hati.


Ada hal yang dinamakan ‘Privilege’, dimana tidak semua orang bisa memilikinya. Ada pilihan yang harus diambil terlepas dari ada atau tidak ‘Privilege’ itu.


‘Kira - kira apa yang akan dilakukan Mas Arya kalau tadi dia berada disana, ya.’, pikir Dinda dalam hati.


“Kenapa? Menurut kamu aku terlihat bagaimana? Baik - baik saja atau tidak?”, bukannya menjawab, Ibas malah balik bertanya.


“Kenapa kamu malah bertanya balik.”, tanya Dinda bingung.


“Hm.. sepertinya kamu terlihat baik - baik saja.”, meski bingung, Dinda tetap menjawabnya.


“Haha.. begitu dong. I’m fine. It’s ok. Kamu kaget, ya?”, akhirnya Ibas yang dia kenal kembali.


Dari pertama masuk ke mobilnya, Dinda seperti mendapatkan Dejavu. Dia merasakan aura yang sama dengan Arya saat pertama kali bertemu atau saat pria itu sedang marah.


“Gapapa… ini bukan pertama kalinya kok, papa begitu. Aku sudah terbiasa. Hem.. mungkin pertama kalinya sejak kamu menikah dengan Mas Arya. Entah kenapa papa ingin aku mengambil kuliah kedokteran, tapi aku tidak mau dan tidak melanjutkannya.”, jelas Ibas.


“Kenapa kamu? Bagaimana dengan mas Arya?”, tanya Dinda tidak mengerti.


“Hem.. awalnya begitu. Tapi ketika Papa melihat potensi mas Arya yang lain, dia meminta mas Arya untuk kuliah di Amerika jurusan bisnis. Tapi, mas Arya juga rebel. Dia malah pindah ke kampus yang lain.”, kata Ibas mengeluarkan senyumnya.


“Karena mba Sarah, ya?”, tanya Dinda.


“Anyway, semua sudah menjadi masa lalu.”, Jawab Ibas.


“Hn. Aku sudah tidak terpengaruh dengan itu, kok.”, jawab Dinda dengan penuh percaya diri.


“Wooo… kamu sudah upgrade sekarang. Dulu masih sering galau di taman belakang memikirkan mantan mas Arya..”, tanya Ibas.


“Humm.. keraguan itu kadang masih ada. Tapi, aku berusaha untuk tetap mempercayai mas Arya.”, jawab Dinda dengan nada serius.


“Wooh.. serius sekali ekspresinya.”, goda Ibas.


“Aku tidak bermaksud untuk ikut campur. Tapi, kamu akan membicarakan lagi dengan papa?”, tanya Dinda ragu.

__ADS_1


“It’s okay. Hm.. tentu aku akan membicarakannya nanti, dengan bantuan mas Arya.”, jawab Ibas sambil tersenyum.


__ADS_2