Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 236 Apa Istimewanya Dia?


__ADS_3

Dinda masih berusaha menenangkan jantungnya yang deg - deg-an karena malu di dalam toilet. Tanpa ada aba - aba atau informasi sebelumnya, Arya mengajak rekan tim nya dan juga Siska untuk meeting di kamar rumah sakit.


Wajah Dinda sudah semerah tomat sekarang karena dia bingung bagaimana dia harus bersikap. Okelah untuk Siska. Sebelumnya, Dinda sudah beberapa kali bertemu dengannya dalam keadaan sedang bersama Arya. Siska juga sudah beberapa waktu ini tahu hubungan mereka, sehingga Dinda mulai terbiasa.


Namun, bagaimana dengan Susan? Jangankan sebagai istri Arya, sebagai intern saja, dia belum pernah bersitatap, mengobrol, berkenalan, atau apalah itu dengan Susan. Belum lagi Bu Susan usianya mirip - mirip dengan Arya. Dinda bingung bagaimana dia harus menginjakkan kakinya keluar dari kamar mandi ini.


‘Mas Arya iseng banget. Sudah begitu, tadi kenapa lagi dia pakai bilang ‘sayang’, sudah tahu masih ada orang. Mas Arya gak bilang lagi. Bagaimana sekarang? Aku harus taruh muka dimana? Malu sekali rasanya. Terus aku harus ngomong apa?’, Dinda berusaha melihat wajah tersipu nya di dalam cermin. Persis seperti kepiting rebus.


“Halo Bu Susan, perkenalkan saya Dinda, Intern di… Arghh masa memperkenalkan diri sebagai intern?”


“Halo Bu Susan, kenalkan saya istri mas Arya…arghhh ini juga aneh? Atau aku tidak usah memperkenalkan diri dan hanya tersenyum saja? Tapi malah lebih aneh.”


“Selamat Siang.. Maaf sudah mengambil waktu Pak Arya … apanya yang mengambil waktu Pak Arya, dia kan suamiku. Ah.. apapun yang aku katakan sekarang sepertinya tidak ada yang benar. Aku harus mengatakan apa, ya?”


Dinda bertarung dengan dirinya sendiri yang ada di dalam pantulan cermin. Bagaimana dia harus menyapa orang di luar menjadi masalah terbesar dalam hidupnya saat ini. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.


“Kira - kira sampai jam berapa ya mereka meeting disini? Masa aku lanjut tidur lagi? Atau aku tutup gordennya dan lanjut main puzzle?”, Dinda tidak bisa memikirkan apa - apa karena gugupnya.


Akhirnya setelah 15 menit lebih dia berjibaku di dalam, Dinda kembali mengenakan hijabnya dengan rapi. Dengan masih mengenakan baju pasien, Dinda melangkah keluar.


“Bismillah”, ujar Dinda pelan.


Kamar mandi di dalam kamar itu kebetulan terletak tepat di samping pintu masuk. Saat Dinda keluar dari kamar mandi, dia belum langsung berhadapan dengan dua orang bawahan Arya yang berada di sofa. Sehingga, dia memiliki waktu untuk sekedar menarik nafasnya dalam.


Dinda kemudian melangkah maju dan berbelok ke kiri lalu langsung memasang wajah tersenyum.


“Selamat siang.”, akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Dinda.


“Duduk - duduk. Jangan berdiri disitu. Kamu kan sedang hamil.”, ujar Siska langsung mengarahkan tangannya agar Dinda duduk.


Dinda kemudian celingak - celinguk karena tidak bisa menemukan Arya disana.


“Dia sedang keluar menerima telepon sebentar.”, menyadari kebingungan Dinda yang mencari Arya, Susan berinisiatif untuk memberikan jawaban.


“Ah…”, Dinda mengangguk paham.


“Gimana keadaan kamu Din? Sudah baikan?”, tanya Siska membuka topik pembicaraan.

__ADS_1


“Alhamdulillah sudah. Seharusnya sudah sehat. Tapi Dokter menyarankan untuk bedrest di rumah sakit selama beberapa hari agar dokter juga bisa memantau.”, jelas Dinda.


Dinda masih sangat sungkan untuk berbicara panjang karena ada Bu Susan yang dia tidak kenal sebelumnya. Meski dia sering bertemu di meeting misalnya, tapi tidak pernah sekalipun bersitatap karena levelnya memang sudah lebih tinggi dan tidak di divisi yang sama.


“Sudah berapa bulan?”, tanya Bu Susan.


Tadinya Dinda sedikit takut karena Bu Susan tidak banyak berbicara. Namun, akhirnya keluar juga satu kalimat lagi darinya.


“Alhamdulillah sudah 4 bulan, Bu. Dua minggu lagi sudah harus cek untuk masuk usia 5 bulan.”, jawab Dinda dengan kalimat yang rapi dan memberikan sedikit senyuman.


“Hm.. maaf kalau saya bertanya sedikit personal. Kalian berdua menikah kapan?”, tanya Susan.


Ekspresi Siska lumayan kaget. Dia menahan - nahan untuk tidak membuka topik yang begitu privat dan sensitif ini. Namun, Bu Susan malah membuka dan menanyakannya. Pandangan Siska yang tadinya melihat sekilas ke Susan langsung mengalihkan perhatiannya pada Dinda. Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Siska kalau - kalau Dinda merasa tidak nyaman dengan pertanyaan itu.


“Sekitar 7 bulanan yang lalu, Bu.”, Dinda tak bisa bohong bahwa dia kaget dengan pertanyaan ini.


Dia sudah tahu begitu orang mengetahui hubungan mereka, pasti ini menjadi hal pertama yang mereka tanyakan. Tapi, dia tidak mengira akan secepat ini.


“Wow.. cepat juga ya langsung hamil. Hanya selisih 3 bulan saja.”, balas Susan.


‘Mas Arya kemana sih.. Kok gak balik - balik? Lama banget. Kalau aku lihat dan cek - cek ke belakang pasti nanti kesannya tidak enak. Mau pura - pura balas pesan, HP lagi disita mas Arya. Mau berdiri ke kasur, gak enak juga.’, Dinda kembali bertarung di kepalanya.


“Ketemu dimana?”, Dorr… Susan memberikan pertanyaan yang tak kalah sensitif lagi seperti sebelumnya.


“Ah.. “, Dinda bingung menjawabnya.


Pertama, kalau bilang dijodohkan, apakah tidak akan menurunkan citra mas Arya. Seorang mas Arya menerima ‘Perjodohan’? Kalau tidak memberikan informasi yang tepat pada orang yang tepat, khawatirnya malah menimbulkan spekulasi lain.


Kedua, Dinda dan Arya tidak pernah benar - benar mendiskusikan ini sebelumnya. Dinda tidak ingin jawabannya justru bukan jawaban yang diinginkan oleh Arya.


“It’s a bit Cliche. But, my mom introduced her to me. Surprisingly, I love her at the first sight.”, entah dari mana, tiba - tiba Arya muncul dari pintu masuk dan langsung mengarahkan langkahnya mendekati Dinda.


Saat mengatakan itu, Arya memeluk sedikit bagian belakang tubuh Dinda yang sedang duduk, sebelum akhirnya duduk di sampingnya.


“What? Kamu tidak bercanda, kan?”, respon Susan.


Susan dan Arya memang sudah terbiasa untuk mengobrol santai. Mereka sudah bekerja sama dari lama dan menjadi rekan sekantor selama beberapa tahun bahkan sebelum Arya dan Sarah bercerai.

__ADS_1


Arya hanya menggeleng dan tersenyum ke arah Dinda.


“Kamu ga makan? Kamu makan aja dulu.”, ujar Arya teringat kalau sepertinya Dinda belum makan.


“Mas Arya dan yang lain?”, tanya Dinda.


“Tenang aja.. Kita juga sudah mau selesai, kok.”, ujar Siska.


“No no no.. aku sudah pesan makanan online. Sebentar lagi juga datang. It’s okay.. Makan dulu baru pulang. Kalian ada meeting lagi setelah ini?”, tanya Arya.


“Oh so sorry, Pak Arya. Saya ada meeting dengan klien sore ini. So, mungkin setelah diskusi terakhir saya harus pamit.”, ujar Susan menjawab pertanyaan Arya.


“Ah.. I see.. Sayang sekali. Saya sudah pesan porsi untuk kamu juga loh.”, ujar Arya.


“It’s okay. Mungkin Dinda bisa makan.”, ujar Susan.


“Tidak, dia belum boleh makan sembarangan dan hanya makanan dari rumah sakit saja.”, jawab Arya.


Dinda tadi sudah sangat senang karena bisa mencicipi makanan di luar rumah sakit. Dia tidak puas karena menurutnya rasanya tidak seenak makanan di luar atau di rumah.


Dinda langsung kecewa ketika Arya malah mengingatkannya kembali dengan aturan dari dokter.


Dinda mencubit pinggang Arya sedikit.


“Aww… memang iya, kan… kamu gak boleh makan - makanan dari luar.  Gak usah pakai cubit - cubit deh.”, ujar Arya menggeser lengan Dinda dan menggenggamnya.


Sorot mata Susan langsung mengarah pada keduanya. Dia tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Setidaknya pada dirinya sendiri. Jika ada yang mengetahui kalau Susan memiliki hati pada Arya, mungkin mereka baru akan sadar kalau saat ini dia sedang cemburu.


Sosok yang dia lihat di depannya ini seperti bukan Arya. Dia tidak pernah melihat ekspresi dan tingkahnya yang seperti ini sebelumnya. Bahkan saat dia masih bersama Sarah sekalipun.


Ekspresi wajahnya selalu serius, penuh wibawa, dan pelit senyum. Beberapa bulan yang lalu, Arya masih seperti itu. Dia terlihat di klub bersama wanita yang berbeda di setiap kesempatan. Auranya gelap.


Sekarang Susan seperti tidak mengenal orang yang sedang ada di depannya.


‘I see.. Aku kira hanya perasaanku saja. Tetapi mata itu memang selalu melirik ke arah Dinda. Apa istimewanya perempuan ini?’, tanya Susan dalam hati sambil sesekali melihat ke arah Dinda.


*********

__ADS_1


__ADS_2