Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 248 Hanya Bisa Heran


__ADS_3

“Silahkan duduk.”, kata Dika mempersilahkan Dinda.


Begitu masuk, Dinda tidak langsung duduk. Dia hanyalah intern. Meski mayoritas orang disini sudah tahu dia adalah istri Arya. Dia tetaplah seorang intern. Dia berdiri menunggu Dika mempersilahkannya untuk duduk, baru kemudian dia duduk.


“Saya tidak akan berputar - putar. Saya yakin kamu tahu kenapa saya mengajak kamu bertemu. Saya minta maaf atas kejadian yang terjadi hampir sepekan yang lalu. Saya benar - benar tidak tahu kalau rumor tidak benar itu bisa sampai ke telinga istri saja dan dia sampai datang ke kantor untuk menyerang kamu.”, berbeda dengan Dinda yang ragu - ragu, Dika berbicara dengan lugas.


Perbedaan ketara yang memang dihasilkan dari pengalaman. Mungkin 3 - 4 tahun ke depan, Dinda juga bisa berbicara dengan penuh percaya diri seperti itu.


“Iya Pak. Alhamdulillah saya tidak apa - apa dan saya juga yakin Pak Dika tidak bermaksud demikian.”, ujar Dinda menjawab.


“Saya juga meminta maaf atas nama istri saya. Saya minta maaf kalau dia belum bisa datang untuk menyampaikan maafnya secara pribadi. Saya tahu Arya sudah melaporkan hal ini ke polisi dan berkas nya sudah saya terima. Untuk saat ini proses masih dalam tahap mediasi.”, lanjut Dika.


“Istri saya bukanlah orang yang bisa meminta maaf dengan mudah. Saya mengatakan ini bukan berarti saya ingin kamu memahami. Sama sekali tidak. Dan bukan berarti lantas dia boleh lepas begitu saja. Saya akan membawa istri saya secepatnya untuk meminta maaf pada kamu. Dan saya berharap dengan begitu, kita bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan.”, Dika menambahkan lagi.


Dinda diam sejenak. Dia bingung bagaimana harus meresponnya. Dinda tidak tahu sama sekali kalau ternyata Arya melaporkan hal ini ke polisi. Terakhir, Arya memang mengatakannya, namun Dinda meminta untuk tidak memperpanjang hal tersebut. Lagipula, dia baik - baik saja.


Permintaan maaf. Hanya itu yang Dinda inginkan karena wanita itu sudah menyerangnya dan menuduhnya yang bukan - bukan.


“Saya sadar kalau saya meminta banyak. Tapi saya berharap kamu bisa mempertimbangkannya. Saya sudah mencoba berbicara dengan Pak Arya, tetapi beliau tidak menghiraukan saya sama sekali. Saya tahu dia pasti sangat marah. Ditambah dengan apa yang sudah pernah terjadi di antara kami.”, kata Dika.


Dinda melihat ke arah Dika sebentar. Kepalanya masih berpikir. Apa kira - kira jawaban terbaik yang bisa dia berikan saat ini untuk kebaikannya dan juga suaminya.


‘Disaat seperti ini, kira - kira Pak Arya akan menjawab apa ya?’, pikir Dinda dalam hati.


“Maaf kalau saya lancang Pak Dika. Saya penasaran, bagaimana rumor seperti itu bisa sampai ke istri Pak Dika? Sementara saya yakin tidak ada yang menyangka demikian di kantor sebelum insiden itu terjadi. Setidaknya tidak ada yang saya dengar.”, kata Dinda mencoba untuk menjawab rasa penasarannya selama ini.


“Saya masih belum mendapatkan informasi itu dari istri saya.”, jawab Dika.


“Kalau boleh jujur, saya juga merasa dirugikan dengan kejadian ini. Saya belum berencana untuk mengungkapkan hubungan saya dengan Pak Arya karena saya ingin menyelesaikan masa intern saya disini dengan tenang. Tapi, berkat kejadian itu, mungkin sebentar lagi saya tidak bisa bekerja sebagai intern lagi disini.”, ujar Dinda mengatakan yang sejujurnya.


“Tidak hanya itu, karena kejadian itu, saya hampir kehilangan bayi saya.”, ungkap Dinda.


“Saya mengerti. Saya akan berusaha menyelesaikan ini secepatnya. Terima kasih kamu sudah mau speak-up tentang ini.”, ujar Dika.


Saat mengatakannya, Dinda hanya bisa merapatkan tangannya erat untuk menyalurkan keberanian dalam dirinya.


Dia tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti itu dan meskipun dia hanya seorang intern, dia harus berani speak-up mengenai apa yang dia rasakan. Ditambah berbagai rumor yang memang sudah tidak terbendung lagi komposisinya beredar di kalangan karyawan. Tidak cukup dengan rumor mengenai pernikahannya tetapi juga isu perselingkuhan yang sama sekali tidak berdasar.


***********


“Arya, gimana? Kamu sudah daftar belum?”, tanya Inggit pada Arya.


Keluarga Pradana sedang makan malam di ruang tengah. Formasi mereka lengkap hari ini. Ibas pulang lebih awal dan Andin juga telah menyelesaikan urusannya dengan apartemen yang lama.


Inggit menyanduk sepotong ayam dan meletakkannya di piring kedua cucunya, Safa dan Samawa. Mereka juga secara kebetulan mau untuk diajak makan malam. Biasanya keduanya sibuk di dalam kamar dan makan saat sudah kelaparan, tetap di dalam kamar.


“Daftar apa ma?”, tanpa keterangan yang jelas, Inggit bertanya pada Arya seolah anaknya sudah tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


“Itu, senam hamil yang kemarin mama sebutkan. Dinda kan sudah 4 bulan, sebentar lagi dia perlu melakukan senam hamil. Kalau kita memilih tempat dan instruktur yang tepat, senam hamil itu bisa memperlancar persalinan, membantu bayi lahir dengan sehat, dan juga bagus untuk istri kamu agar setelah melahirkan, badannya tetap ideal.”, Inggit seolah sudah hafal dengan isi brosur yang dia terima dari teman arisannya.


“Hn. Nanti Arya daftar.”, ujar Arya singkat.


Dinda melihat ke arah samping.


‘Mas Arya kok kelihatan gak excited begitu.’, pikir Dinda dalam hati.


“Harus dari sekarang, kelas instruktur yang mama perkenalkan itu cepat penuh, loh.”, Inggit masih terus berusaha. Tapi untuk hal yang satu ini memang benar.


“Kemarin, mama iseng telepon, katanya tinggal 5 slot lagi.”, kata Inggit.


“Iya ma. Besok Arya akan daftar.”, ujar Arya menyeruput minumannya.


“Jangan besok. Besok kan libur. Malam ini saja. Dia bisa online kok. Kamu belum lihat brosur mama, ya? Jangan - jangan kamu buang lagi.”


“Ada kok, ma. Dinda simpan di nakas kamar.”, ujar Dinda menjawab dengan cepat.


“Oh.. bagus. Pokoknya, nanti malam kamu pantau suami kamu, ya Din. Pokoknya dia harus daftar malam ini juga. Nanti slotnya abis, kita bingung cari instruktur senam lain yang bagus. Oke?”, kata Inggit bersemangat.


“Iya. Makasih ya, ma sudah repot - repot cari instruktur senam segala. “, balas Dinda.


***********


Dinda baru masuk ke kamarnya. Dia masuk belakangan karena Inggit ingin memberikan beberapa wejangan - wejangan seputar kehamilan. Bahkan dia juga menyertakan Andin dalam pembicaraan itu. Beruntung Safa dan Samawa masih anteng melanjutkan snack malamnya bersama Bi Rumi.


Arya sudah kembali langsung selepas makan malam ke kamar. Begitu masuk, mata Dinda langsung menelisik ke arah kasur, area balkon, sofa dan kloset, tetapi hening dan kosong. Tidak ada Arya disana.


‘Apa di dalam ruang kerja, ya?’, ujar Dinda yang melihat pintu ruang kerja Arya yang tertutup.


Dia kemudian melihat jam yang tergantung di salah satu dinding kamar.


‘Sudah jam 10, mas Arya memangnya masih ada pekerjaan?’, kata Dinda.


Dinda tidak berani masuk karena hari ini dia sudah berjanji tidak mengganggu Arya selama seminggu saat berada di ruang kerjanya. Sebagai ganti satu scoop es krim.


‘Tunggu. Bukankah aku terlalu pemurah? Kenapa aku mengorbankan banyak hal hanya untuk satu scoop es krim. Seharusnya aku minta 1-3 scoop sehari selama seminggu. Bayangkan, aku tidak mengganggunya di ruang kerja, aku memperbolehkan dia menciumku sepuasnya, dan masih banyak lagi. Ah.. bodoh sekali aku.’, ujar Dinda dalam hati.


Dinda bergerak ke arah kamar mandi. Kalau Arya sampai menutup ruang kerjanya, kemungkinan dia masih lama berada di dalam. Lebih baik Dinda mencuci muka, menggosok gigi dan bersiap untuk tidur.


Malam ini, Dinda mengenakan gaun malam berwarna putih. Gaun ini sangat cantik. Mama Inggit membelikannya dari kenalan yang biasa promosi di ruang lingkup arisan. Sayangnya, Inggit lupa tinggi badan menantunya sendiri dan tak sengaja memesan ukuran yang lebih panjang.


Tapi, Dinda tetap suka. Gadis itu berjalan ke dalam kamar mandi. Dia sengaja tidak menutupnya karena dia hanya ingin mencuci muka dan menggosok gigi. Dinda mengisi gelas dengan air dan meletakkannya di samping wastafel.


Dia kemudian mengambil gosok gigi dan odol.


‘Ah, sudah habis.’, ujar Dinda yang melihat odol itu sudah tipis.


Dia membuangnya ke tempat sampah yang terletak di bawah wastafel. Dinda kemudian membuka lemari di belakang cermin untuk mengambil stok odol. Semua stok peralatan kamar mandi di letakkan di dalam sini. Mulai dari tisu, sabun, handuk, dan shampoo. Sementara untuk perkakas ritual wajib Dinda atau skincare diletakkan di dalam rak yang ditaruh di samping kiri wastafel. Tidak ada stok untuk itu.


‘Ah.. tinggi sekali.’, ujar Dinda saat melihat stok odol ada di rak paling atas.

__ADS_1


Dia mengambil kursi kayu kecil dan berdiri di atasnya. Tetap tidak bisa. Dinda berjinjit mengambil odol namun tetap kesulitan. Akhirnya bagian ujung jarinya berhasil menggeser odol paling bawah.


‘Oh?’


Dinda bukan lagi berhasil mengambil satu odol tetapi menjatuhkan seluruh kotaknya. Odol itu berjatuhan dan membuatnya terkejut lantas tanpa sengaja menggeser gelas yang tadi dia taruh di samping wastafel.


‘Ah…’, respon Dinda refleks saat berbagai bunyi langsung timbul secara bersamaan mulai dari odol yang berjatuhan, gelas yang jatuh dan pecah di bawah, hingga beberapa botol skincare yang terguling karena terkena beberapa benda lain yang berjatuhan dari lemari.


“Din?”, secepat kilat Arya langsung muncul di depan pintu kamar mandi.


Suara dari dalam kamar mandi bisa terdengar dari ruang kerjanya karena dulu dia hanya tinggal disana sendiri, jadi hanya dia yang menggunakannya. Begitu mendengar suara dentingan benda berjatuhan dan gelas yang pecah, Arya langsung terkejut dan khawatir kalau istrinya jatuh di kamar mandi.


“Kamu ga papa?”, tanya Arya langsung saat mendapati Dinda yang terdiam kaget di atas kursi kayu kecil.


Dinda mengangguk pelan. Wajahnya antara malu dan bersalah.


“Hah… kamu bikin saya kaget saja. Saya kira kamu kenapa - kenapa.”


“Maaf mas Arya, tadi mau ambil odol ketinggian.”, ungkap Dinda.


“Kenapa tidak minta bantuan. Kalau kamu jatuh bagaimana?”, Arya langsung menghujani Dinda dengan segala omelannya.


Beruntung, dia tidak terjatuh dan hanya mematung disana karena dia sudah mengacaukan isi kamar mandi. Harusnya dia bisa meminta bantuan tapi malah terus berusaha mengambilnya sendiri.


“Tetap disana, aku panggil Bi Rumi dulu.”, kata Arya saat Dinda akan bergerak turun dari kursi kayunya.


Berbeda dengan Arya yang terbiasa mengenakan sandal di dalam rumah, Dinda tidak. Di rumahnya, dia tidak pernah harus menggunakan sandal rumah. Jadi, sekarang pun dia tanpa alas kaki berdiri di atas kursi kayu itu.


“Bi Rumi pasti sudah tidur. Sapunya ada di lemari di samping kamar kita, mas. Dekat ruang TV.”, ujar Dinda pada Arya.


“Terus? Aku yang sapu?”, tanya Arya bingung.


“Hm? Mas Arya ga bisa nyapu?”, tanya Dinda lebih heran lagi.


Kenapa dia bertanya begitu? Berarti kemungkinannya hanya ada dua. Dia tidak mau melakukannya atau dia tidak bisa melakukannya.


Dinda lantas mengambil kemungkinan kedua. Arya tidak bisa melakukannya.


Arya menggeleng.


Dinda langsung membulatkan matanya?


“Mas Arya ga bisa nyapu?”, tanya Dinda langsung heran tingkat kuadrat.


Maksudnya, siapa di dunia ini yang tidak bisa menyapu? Kamu hanya perlu menggoyangkan tangkai sapu dan memasukkannya ke dalam sekop.


Dinda merentangkan tangannya meminta Arya menggendongnya turun.


“Kalau begitu, mas Arya gendong aku. Aku akan mengambil sandal dan sapu, kemudian membereskan ini.”, ujar Dinda.


“Lebih cepat kalau aku mengambilkan kamu sendal.”, ujar Arya.


“Jangan salah paham, tapi berat badan kamu kan sudah nambah.”, ujar Arya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


“Hm-m?”, Dinda tidak menyangka Arya begitu mudah mengatakannya.


“Ya sudah sini.”, ujar Arya kemudian sadar kalau ucapannya membuat Dinda kesal.


RULE 1: Jangan bicara masalah berat badan pada wanita yang baru pertama kali hamil.


Dinda tak lagi merenggangkan tangannya. Hatinya sakit karena Arya mengungkit masalah berat badannya. Pengaruh hormon kadang membuat wanita hamil seperti Dinda bisa berpikir melebihi pemikiran wanita pada biasanya.


Dia dengan cepat bisa mengaitkan kelebihan berat badan dengan hal - hal lain. Seperti Dinda saat ini.


Hanya karena Arya mengatakan berat badannya bertambah, Dinda langsung mengaitkannya dengan sikap Arya.


‘Dia bilang aku gemukan. Dia gak mau gendong aku. Mungkin dia pikir aku sudah tidak proporsional lagi. Mungkin dia pikir aku tidak cantik lagi. Di meja makan aja mas Arya ngomongnya irit. Disuruh daftar senam hamil, dia belum daftar. Jangan - jangan dia sekarang sadar kalau aku hamil, aku sudah tidak menggoda lagi.’, dan seterusnya dan seterusnya.


“Jangan overthinking. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi semua itu tidak benar. Ingat, Din. semua hanya karena hormon. Gemukan itu wajar karena kamu sedang hamil. Tidak hamil dan gemuk pun, kamu tetap cantik. I love you. Not only your body but the whole you.”, beruntung Arya membaca buku - buku seputar kehamilan, sehingga dia bisa tahu bagaimana mengatasi situasi - situasi seperti ini.


Bahkan jawaban barusan pun dia dapatkan dari buku yang dia baca. Bukan berarti Arya tidak benar - benar serius dengan kata - katanya. Tapi kadang, penyampaian sayang dan cinta juga harus dengan kalimat yang tepat agar wanita mengerti.


Dinda kemudian kembali merentangkan tangannya ke depan. Arya dengan cepat berjalan maju dan hati - hati agar tidak terkena pecahan beling, kemudian mengangkat istrinya ke tempat yang lebih aman.


‘Fuh… sepertinya naik 8 kg.’, ujar Arya dalam hati.


Dia bisa memperkirakannya karena dia terbiasa mengangkat barbel dan sejenisnya di tempat gym. Dan Arya juga tidak sekali dua kali menggendong Dinda, jadi dia mengetahui berapa berat badan istrinya itu sebelum hamil.


Dinda dengan telaten mengerjakan sesuai dengan yang tadi dia katakan. Sampah gelas dia masukkan ke dalam tempat sampah khusus yang biasa diberi tahu oleh Bi Rumi.


“Din, sini sebentar.”, kata Arya saat Dinda sudah membersihkan pecahan kaca itu.


“Hm?”


“Duduk disini.”, kata Arya mengarahkan Dinda untuk duduk diatas bangku kasur.


Arya kemudian berjalan ke kotak P3K dan mengambil beberapa obat disana.


“Kamu ga sadar ini kaki kamu kena pecahan beling?”, kata Arya dengan nada datar tapi ada sedikit kemarahan disana. Marah karena khawatir.


“Ah.. pantas rasanya tidak nyaman. Seperti ada yang menggigit.


“Beruntung tidak ada pecahan yang tertinggal, hanya luka gores tapi memberikan noda merah pada gaun malam Dinda.


Arya berjongkok dan meluruskan kaki kiri istrinya di pangkuannya. Meski mereka sudah sering begini, tapi Dinda tetap merasa gugup.


“Akk.. pelan - pelan.”, ujar Dinda saat Arya membersihkan lukanya.


‘Baru aja berasa romantis, langsung berubah adegannya.’, pikir Dinda dalam hati.

__ADS_1


Baru saja dia memandang wajah Arya yang menghembuskan angin ke lukanya agar tidak perih.


“Tadi ga berasa, sekarang cuma di sentuh sedikit saja langsung teriak.”, ujar Arya.


“Tadi kan ga sadar, kalau sekarang sudah sadar.”, ujar Dinda.


“Mau plester yang mana?”, kata Arya memberikan beberapa pilihan plester termasuk yang ada gambar tokoh kartunnya.


Dinda langsung speechless mendengar pertanyaan Arya.


“Mas Arya serius tanya begitu?”


Mendengar pertanyaan Dinda, Arya mengangguk.


“Mas Arya kira aku anak kecil?”, kata Dinda dengan nada kesal tapi masih lembut.


Arya hanya tersenyum tipis.


“Jadi, mau yang mana?”, tanya Arya sekali lagi. Pertanyaan kali ini jelas menunjukkan dia sedang menggoda Dinda.


“Mas Aryaaaa..”, teriak Dinda memukul bahu suaminya.


“Ya sudah, gambar tokoh kartun ini saja ya..”, ujar Arya.


“Engga, yang polos aja. Aku kan sudah besar, kenapa ditawari plester gambar kartun. Mas Arya usil.”, kata Dinda memarahi suaminya.


“Hn.”, respon Arya menempelkan plester itu di bagian luka yang sudah dia bersihkan sebelumnya.


“Mas Arya tadi lagi marah, kan?”, tanya Dinda tiba - tiba.


“Hm?”, respon Arya menatap Dinda dan meletakkan kakinya kembali ke lantai.


Arya membereskan kotak p3k dan hendak mengembalikannya ke tempatnya.


“Mas Arya tadi marah kan? Kenapa?”, tanya Dinda menahan lengan suaminya.


“Kamu sudah jadi cenayang, sekarang? Bisa menebak orang?”, tanya Arya meletakkan kotak p3k itu di bangku meja rias di sampingnya dan duduk membersamai dan mendengarkan apa yang akan dikatakan istrinya.


“Hm. Orang lain aku tidak tahu. Tapi, aku sudah cukup ahli menebak mas Arya. Kalau mas Arya lebih banyak diam dan bicaranya hanya satu dua kata, pasti mas Arya sedang marah.”, ujar Dinda mengalungkan lengannya di leher Arya.


“Kamu lagi apa?”, tanya Arya.


“Berusaha berbicara dengan mas Arya. Katanya, kalau proses berbicara pasangan dibuat lebih kreatif, maka komunikasi keduanya bisa lebih lancar.”, ujar Dinda dengan gayanya seperti seorang pengajar.


Kerlingan mata beningnya bisa Arya lihat dengan jelas dari jarak sedekat itu.


“Dan ini kamu bilang kreatif?”, tanya Arya dengan wajah serius.


“Oh?”, wajah serius Arya membuat Dinda kehilangan kepercayaan dirinya.


Dia menurunkan lengannya pelan - pelan sambil menundukkan wajah.


‘Mas Arya benar - benar marah.’, ujar Dinda dalam hati.


Arya kemudian memindahkan lengan yang Dinda turunkan tadi ke pinggangnya.


“Kalau mau bicara yang lebih kreatif, seharusnya dimulai dengan ini.”, ujar Arya tersenyum penuh arti kemudian mencium bibir Dinda.


1 detik, 5 detik, 10 detik, 30 detik.


“Hah…hah…hah…”, Dinda terkejut.


Tentu saja, dia seperti sedang naik roller coaster.


30 detik yang lalu, pria itu masih sangat dingin. Lalu dia berubah romantis dan menghisap semua oksigen miliknya.


Dinda bahkan sampai harus mendorong sedikit dada Arya agar pria itu mau melepaskannya.


Ciuman itu tanpa persiapan. Dinda lupa apakah dia sudah menghirup udara yang cukup atau belum. Yang jelas, dia tersengal.


Setelah Dinda rasanya sudah mendapatkan cukup banyak oksigen, pria itu kembali menyerangnya.


Kali ini masih dengan durasi yang kurang lebih sama. Bedanya, Dinda sudah mempersiapkan diri. Seperti orang yang akan menyelam tanpa alat, dia sudah menghirup udara yang cukup.


“Hah… hah… hah.. “, Dinda kembali tersengal.


Kontras dengannya, Arya tampak baik - baik saja.


“Lain kali aku harus mengajari kamu berenang dan menyelam.”, ujar Arya menyapu sedikit pinggir bibirnya dengan jari.


“Apa hubungannya?”, tanya Dinda bingung. Dia bahkan mengernyitkan dahinya.


“Supaya kamu lebih terlatih saat melakukan hal yang tadi.”, ujar Arya.


“Mas Arya membuatku bingung.”, balas Dinda.


“Aku ingin kamu lebih percaya diri untuk menunjukkan presensimu di depan siapapun. Din, istri saya sekarang adalah kamu. Bukan orang lain. Mereka tidak berhak menilai kamu. Saya yang berhak karena saya suami kamu. I valued you more than anyone else in my life.”, ujar Arya meletakkan telapak tangannya yang dingin di pipi Dinda.


“Setelah papa dan mama tentunya.”, lanjut Arya tersenyum bercanda.


“Uuuuuuuu… kalo aku nomor berapa mas Arya?”, tanpa undangan, tanpa pemberitahuan, tiba - tiba Ibas muncul di pintu kamar mereka.


Seperti biasa, Ibas sedang mengambil minum dan beberapa snack untuk menemaninya main game. Berhubung besok libur nasional, dia berencana untuk menyalurkan hasrat nge-gamenya semalaman penuh.


Saat sudah naik ke atas, dia menyadari pintu kamar Arya dan Dinda terbuka. Dinda lupa menutupnya, setelah terburu - buru mengambil sapu dan sekop untuk membersihkan pecahan kaca.


Awalnya, dia tidak punya maksud untuk nyelonong ke kamar kakaknya. Ibas terheran, dia takut kalau - kalau ada maling di rumah. Berhubung, Arya tak pernah sekalipun membuka pintu kamarnya malam - malam.  Ditambah, lampu kamar Arya juga sudah meredup sebagian dan balkonnya juga masih terbuka.


Ibas perlahan masuk dan mendengar Arya berbicara. Dia lega dan bermaksud ingin kembali. Tapi perkataan yang dia dengar membuat jiwa ‘kepo’ nya meronta. Ibas memutuskan untuk diam sebentar dan menguping.

__ADS_1


__ADS_2