Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 271 Farewell Dinda di Kantor Bagian 4


__ADS_3

“Tenang saja. Penjelasan untuk yang tadi bisa lanjut di rumah, kan?”, ucap Arya tak berapa saat setelahnya.


“Uuuuuwuuuuuwuuwuuwuuu.”, teriak mereka secara bersamaan.


“Hah…”, Bryan nampak menggerak - gerakkan kemeja bagian atasnya seolah dia sedang kegerahan.


Padahal, mereka sedang berada di ruang meeting yang penuh dengan AC. Bahkan, meskipun sudah ada banyak orang di dalam, AC ruangan ini masih saja terasa dinginnya. Sampai - sampai, yang tidak terbiasa dengan AC harus membawa serta jaket atau sweater mereka.


“Kenapa Bry? Gerah?”, sentil Delina dari belakang. Dia bahkan tak segan - segan menepuk bahu Bryan sambil tersenyum jahil.


Kebetulan, mereka berdua tidak kebagian tempat untuk duduk karena semua tempat sudah di duduki oleh para karyawan dengan level Manager keatas.


“Harus banget ngomong seperti itu di sini? Kirain es batu dari kutub, ternyata cowok juga.”, Andra juga ikut mendengus kesal di belakang. Ternyata tidak hanya Bryan yang sedang merasa kegerahan disini. Andra juga sepertinya kempang - kempis mendengar kata - kata dari Pak Arya.


Meskipun begitu, dia menjaga volume suaranya agar hanya bisa terdengar oleh orang - orang di sebelahnya. Andra masih belum sebegitu punya nyali untuk berhadapan dengan Arya.


“Suci mana?”, tanya Bryan pada Delina.


“Dia sedang ada urusan. Nanti mungkin sekitar 10 menit lagi dia akan datang.”, jawab Delina pelan.


Dia masih saja tersenyum melihat tingkah kedua temannya yang patah hati. Delina sudah tahu sejak lama kalau Andra menyukai Dinda. Perasaan belum lama ini dia membuat suasana tidak menyenangkan terjadi antara dirinya dan Dinda. Dia tidak menyangka teman di sebelahnya itu tidak lagi ke kantor per minggu depan.


Melihat Andra seperti ini, Delina tidak menaruh simpati sedikitpun. Pria itu juga sudah pasti menyukai Dinda hanya karena parasnya saja. Beda dengan Bryan. Meski kerap menyembunyikan ketertarikannya, Bryan terlihat jelas menyukai Dinda dengan tulus. Jika saja orang - orang di sekitar mereka peka, perasan Bryan pasti langsung ketara.


Tapi, satu lagi yang membuat dia sebenarnya kurang nyaman adalah, Fas sepertinya menyukai Bryan. Tapi, Bryan tidak menyadarinya. Dan Fas juga kurang ulet untuk mengetahui kalau Bryan secara terang - terangan menyukai Dinda.


Yah.. meski sempat terlihat seperti benang kusut, tidak semuanya cinta berakhir memiliki. Kalau dipikir - pikir, sebenarnya siapa yang beruntung sekarang? Dinda memiliki Pak Arya atau Pak Arya memiliki Dinda.


‘Kalau dipikir - pikir, benar juga kata Bryan. Pak Arya tidak perlu menunjukkan sebegitunya. Dia terlihat seperti sedang memberikan pengumuman penting ‘Ini istriku. Jangan berani ganggu. Cuma aku. Aku yang memiliki dia.’ ‘, pikir Delina dalam hati.


“Ayo dilanjut, Din.”, ucap Rini pada Dinda yang mematung sementara. Berkat perkataan dan sorakan barusan, dia langsung lupa apa yang harus dia katakan.


“Ah.. iya.. Terima kasih untuk Pak Erick, Bu Rini, dan juga teman - teman yang sudah menjadikan saya bagian dari tim. Bryan, mba Delina, mba Suci, Andra, dan juga teman - teman lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Makasih Pak Erick yang selalu membantu saya. Yang fokus pada masalah dan tidak langsung menyalahkan. Walaupun kadang saya juga sering membuat masalah sampai harus mendatangkan kepala divisi sebelah.”, Dinda sebegitu jujurnya, sampai - sampai dia tidak sadar kalau saat ini dia sedang TMI (Too Much Information).


Erick tertawa mendengarnya. Pria itu tahu betul siapa Kepala Divisi yang dimaksud. Tenang saja, bukan Arya kok.


“Hm…”, setelah menyebutkan nama banyak orang disana, Dinda terlihat ragu - ragu menyebutkan nama satu orang terakhir yang sebenarnya juga sangat dia kagumi dan perlu disebutkan di awal.


Ya, Arya Pradana. Di luar sebagai suaminya, Arya menjadi role model terbaiknya di kantor. Mungkin seandainya saat ini dia tidak berakhir dalam hubungan pernikahan bersama pria itu, Dinda sudah menjadi salah satu fans Arya.


Eits, tunggu dulu. Bukan fans yang melihat dari rupawannya saja. Dinda sebegitu salutnya dengan dedikasi, profesionalitas, kecerdasan, pembawaan, wibawa, dan aura pria itu. Benar - benar panutan. Tidak heran jika dia menjadi aset paling penting perusahaan. Kalau ada Ajang Penghargaan khusus untuk pekerja kantoran, Arya mungkin sudah menyabet banyak piala.


Tak lupa, Arya memang selalu menyabet penghargaan dari perusahaan di beberapa tahun terakhir untuk kategori kepemimpinan di divisinya.


Erick memberikan kode pada Dinda sambil melirik - lirik ke arah sampingnya dimana Arya duduk disana. Arya, pria itu hanya melihat ke langit - langit, lalu ke bawah. Terkadang merapikan pulpen yang sebenarnya tidak perlu dia rapikan di meja karena dia tidak menggunakannnya.


Dia sudah sangat cemburu karena nama Erick, Bryan, Andra dipanggil lebih dulu. Pria itu sudah mengancang - ancang hukuman apa yang harus dia berikan pada istrinya ini di rumah. Dia juga cemburu karena sudah pada poin ke sekian, tetapi Dinda juga masih belum menyebutkan namanya.


Tapi, saat dia mulai merasa namanya sebentar lagi akan dipanggil, ada rasa deg-deg-an luar biasa yang dia rasa di dalam dadanya. Jantungnya berdegup kencang.


Hellooo… ini Pak Arya Pradana loh yang berhasil memenangkan banyak project, meng-handle meeting luar dan dalam negeri. Bertemu para CEO. Kepala Divisi elit dengan percepatan kenaikan jabatan tercepat. Dan dia gugup hanya karena mungkin Dinda sebentar lagi akan menyebutkan namanya.


“Hm… Ehehm..", Dinda tampak menyegarkan tenggorokannya dulu karena terlaku gugup.


"Terima kasih juga untuk Pak Arya, atas segala bimbingannya selama di kantor. Terima kasih untuk dukungan dan kepercayaannya selama project Smart Report. Terlepas dari… hm… beliau adalah panutan saya. Terima kasih..”, Dinda tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.


Perasaan haru, malu, dan juga gugup berkumpul jadi satu. Tangannya sudah basah dengan keringat.


“Lengkapnya bisa di rumah kok, Din. Tenang aja.”, goda Rini dari samping.


Mata Dinda lantas membulat dan pipinya lagi - lagi memerah.


“Thanks, Dinda. Selanjutnya mungkin bisa kita dengar dari Pak Dika? Mau duluan?”, tanya Rini.


Meskipun masa jabatan Dika masih singkat di kantor, namun berhubung pemimpin divisi Digital and Development sekarang adalah Dika, maka dia perlu di dahulukan.


“Oke. Terima kasih.”, ucap Dika kemudian berdiri dari duduknya.


Kebetulan, Dika dipersilahkan duduk tepat di seberang Arya.


“Din, kamu duduk aja dulu disini.”, Rini menawarkan kursinya.


“Gapapa mba. Saya berdiri saja.”, ucap Dinda.


“Jangan, kamu kan lagi hamil. Gapapa, kok.”, kata Rini.


“Oke, saya mulai, ya.”, kata Dika yang sempat terhenti akibat adegan tawar menawar kursi dari Rini dan Dinda.


“Iya silahkan, Pak.”, ujar keduanya tersenyum.


‘O-oh… apa - apaan. Kenapa dia tersenyum pada si Dika itu. Hah… awas saja nanti. Tenang Arya… tenang..’, Arya menampilkan ekspresi datarnya namun di dalam hati, dia sudah berkecamuk.


“Walaupun kebersamaan saya dengan Dinda dan divisi ini masih terbilang singkat…tapi saya ingin mengucapkan….”, Dika terus memberikan kata - kata yang positif.


‘Hah? Kebersamaan? Si brengsek ini ngomong apa. Apa dia tidak bisa mencari kata - kata yang lain? Enak saja bilang kebersamaan. Memang seharusnya aku tidak pernah menerimanya hanya karena alasan profesionalitas. Arya……’, lagi - lagi, tak ada satupun kalimat Dika yang dia dengar melainkan kata - kata yang menurutnya tidak tepat.


Dinda melirik sedikit ke arah Arya.


‘Pak Arya tenang banget. Seperti yang kuduga, dia pasti profesional kalau di kantor.’, pikir Dinda dalam hati.


Selanjutnya, Erick, Rini, dan juga beberapa perwakilan rekan yang lain ikut memberikan kata - kata mereka. Kesan dan pesan pada Dinda.


“Din, thanks banget untuk supportnya di tim kami. Kamu berbakat. Kamu pasti bisa bersinar di journey kamu selanjutnya.”, ucap Erick, singkat, padat, dan jelas.


“Din, thanks ya. Sudah jadi one of the best intern yang pernah under saya. Kamu the best lah.”, puji Rini.


“Ohiya, sorry kalau saya langsung mengajak kamu ke ruang meeting town hall di hari pertama kamu kerja.”, lanjut Rini menggoda.


Melihat Arya, Rini tak berani untuk frontal menyebutkan. Kalau Arya masih menjadi Kepala Divisi di Digital and Development, dia mungkin tidak akan berani mengatakan ini.


“Selanjutnya, mungkin guest star kita hari ini, Pak Arya.”, ucap Rini mencoba mencairkan suasana.


Arya langsung berdiri dan membuat suasana ruangan yang tadi hangat dengan berbagai lontaran candaan ringan, langsung membeku begitu dia bangun dari kursinya.


“Jangan tegang - tegang.”, ujar Arya sedikit memberikan gurauan karena dia bisa merasakan ketegangan pada mereka di ruang meeting itu.


“Guys, Pak Arya gak lagi tanya laporan kalian, kok. Jadi, santai aja.”, ucap Erick tertawa.

__ADS_1


Yang lain juga ikut mengeluarkan tawa meski simpul.


“Tapi gak tahu ya, kalau ternyata selama ini ada yang coba mendekati istrinya.”, gurauan Erick ternyata tak berakhir sampai disana.


“Ehem… ehem…”, Arya berdehem dan itu sukses membuat Andra langsung berkeringat.


“First of all, Let’s divide between personal and office matters. That’s what I did the whole time. Termasuk selama berkolaborasi dengan Dinda sebagai intern di Divisi Business and Development.”, ucap Arya langsung masuk ke pokok pembicaraan.


“Saya yakin banyak yang berpikir ‘Dinda pasti mendapatkan perlakuan spesial karena dia adalah istri saya’. Totally wrong. Saya menegur dia sama dengan saya menegur siapapun yang melakukan kesalahan. Alasan kenapa saya menyembunyikan status pernikahan kami adalah murni urusan pribadi and I want to keep it alone bersama HR tentunya.”, ucap Arya sedikit mengeluarkan senyum.


“Dinda is not the best intern but She’s one of the dependable ones. Itu yang saya tangkap dari Rini, Erick, dan juga Dika. Saya tidak bisa menilai dia karena dengan role saya, sedikit kemungkinan saya berinteraksi terkait urusan pekerjaan dengannya. Jadi, penilaian dari mereka adalah penilaian saya.”, lanjut Arya lagi.


“Last but not least, good luck for your next journey, Dinda. See you at home. There’s a lot I need to talk about but can’t do here.”, ucap Arya dengan senyuman penuh arti darinya.


“Oooooo…”, yang lain hanya bisa ber -O- dimana mereka memastikan untuk bisa mengontrol itu dengan baik.


Mereka memang mengakui kalau Arya sudah di ‘ANOTHER LEVEL’ yang sulit untuk dijangkau. Pesonanya, auranya, perawakannya, pembawaannya. Tidak terbantahkan.


Kalimat Arya barusan jika ditelisik lebih dalam. Scary but sweet. Menakutkan tapi sebenarnya sangat manis.


Bagaimana dengan Dinda? Gadis itu tidak bisa mengendalikan ekspresinya. Gugup, Terkejut, Senang, Tersanjung, Lega, Takut. Hampir semua rasa bersatu dalam momen yang sama.


**********


“Thanks ya Din.”


“Thanks Dinda, selamat makan.”


“Makasih ya Din, sukses di journey selanjutnya.”


“Makasih Din, tiati sampai rumah. Kabarin kalau butuh pertolongan.”


“Ha-ha.. Dinda hanya bisa tersenyum dan tertawa simpul saat rekan - rekan satu divisinya mengucapkan terima kasih sambil terus melontarkan candaan ringan dengan maksud menggoda.


“Sayang.. Punya aku mana?”, tanya Arya yang menghampiri Dinda.


Bukan sembarang menghampiri, pria itu bahkan lagi - lagi menggamit pinggangnya.


“Pak Arya… apaan sih.. Itu disana, ngantri dulu. Jangan ‘sayang - sayangan’ deh disini. Diliatin yang lain.”, Dinda berusaha melepaskan pegangan Arya di pinggangnya sambil tersenyum kikuk.


Dia memperhatikan sekitar yang terlihat sibuk menikmati bakso, minuman, dan kudapan lain yang disiapkan Dinda.


“Kenapa? Kamu bukan anak intern lagi sekarang. Masih istri saya.”, ucap Arya hampir mau mendekati Dinda lebih.


“Mas… “, Dinda memberikan sorotan penuh arti pada pria itu.


“Tuh.. kamu aja panggilnya ‘Mas’”, protes Arya.


“Pak Arya… plis.. Aku bisa pingsan loh, kalo Pak Arya bersikap begini terus.”, Dinda tak punya pilihan selain mengancamnya.


“Okee… tapi di rumah..”, bibir Arya masih akan melanjutkan beberapa kata lagi.


“Iyaa.. iyaa.. Terserah deh Pak Arya mau ngapain aku di rumah.”, ucap Dinda menyerah namun tetap memastikan hanya Arya yang mendengar suaranya.


Arya dengan patuh melepaskan pegangannya dan menghampiri Erick yang sedang berbicara dengan Rini.


“Hah… aku penasaran siapa orang - orang yang bisa saja dapat bocoran seperti itu.”, ucap Arya belum menjawab pertanyaan dari Erick.


“Jadi, berita itu benar?”, tanya Erick.


“Hn.”, Arya menjawab ringan sambil meneguk kopi yang dia ambil beberapa saat yang lalu.


“Lalu, Dinda?”, tanya Erick.


Rini sepertinya terjebak dalam pembicaraan para bos - bos.


‘Kenapa aku disini? Mau minggir bingung. Ga minggir, roaming.’, pikir Rini dalam hati.


“Eh.. Din, sini.. Kamu jangan sibuk - sibuk. Kan sudah ada yang standby. Ada mba - mba Office Boy juga yang bantu.”, melihat Dinda dari kejauhan, Rini akhirnya menariknya untuk ikut duduk disana.


Dinda melihat ke arah Arya.


‘Kenapa mba Rini malah memanggilku ke meja itu. Walaupun Pak Arya itu suami aku. Tapi, kalau di kantor, tetap saja dia Pak Arya.’, Dinda terpaksa harus duduk disana.


“Dinda akan ikut melanjutkan S2 disana. Ya kan Din?”, tembak Arya langsung begitu Dinda sudah duduk sempurna di kursinya.


“Eh?”, Dinda langsung bingung.


“Wah.. semua kalkulasi sepertinya sudah berada di kepala Pak Arya.”, ucap Erick kagum dengan rencana yang terdengar sempurna.


Betapa tidak, Arya bisa mendapatkan program bergengsi dari perusahaan. Sekembalinya dari sana, Erick tidak yakin Arya akan tetap menjadi Kepala Divisi Business and Partners, dia pasti akan naik jabatan setidaknya 1-2 level di atas yang sekarang.


“Dinda sudah memasuki usia kehamilan 5 bulan. Aku tidak mungkin meninggalkannya disini sendirian.”, ucap Arya dengan nada yang hangat.


Rini yang berada di sana bahkan merinding mendengarnya. Bukan karena tidak romantis, tapi masalahnya, kata - kata itu keluar dari mulut Arya.


‘Padahal di rumah dia bilang akan meninggalkan aku kalau tidak lulus. Sekarang langsung sesumbar mengatakan tidak akan meninggalkanku.’, pikir Dinda dalam hati.


“Oh?”, Dinda terkejut tatkala Arya ternyata menarik kursinya mendekat ke arahnya.


Pria itu dengan santai menarik pegangan kursi agar Dinda yang duduk sedikit terpisah dengannya mendekat rapat.


Sementara itu banyak sekali pasang mata yang melihat mereka sambil menikmati hidangan. Termasuk Bryan dan Andra.


“Hah… waktu mendengar dan mengetahui berita tentang mereka, aku sama sekali tidak bisa mempercayainya sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.”, ucap Bryan sambil memasukkan satu buah bakso ke dalam mulutnya.


“Sekarang setelah kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri?”, tanya Delina.


“Sakit. Sampai kapanpun, aku tidak akan bisa mengalahkan pesona Pak Aryaaaa…”, Andra merengek sambil memasukkan satu lagi bakso ke dalam mulutnya.


‘Pria itu memang benar - benar mencintainya.’, gumam Bryan dalam hati.


***********


Di kamar Arya dan Dinda.


“Heh… bagaimana mungkin kamu menyebut namaku terakhir.”, kata Arya yang protes seperti anak kecil.

__ADS_1


Dinda saat itu tengah mengenakan lotion pada seluruh tubuhnya. Rutinitas yang sudah biasa dia lakukan setiap malam.


“Mas Arya… ini kan konteksnya Digital and Development.”, Dinda membalasnya dengan suara yang lembut.


“Nama Dika si brengsek itu yang pertama. Padahal, aku sudah menjabat jadi Kepala Divisi sementara Digital and Development, lebih lama. Trus apa pentingnya menyebutkan cecunguk dua itu. Bryan dan Andra, Hah… si sok paling dewasa dan si yang paling kemana - mana mulutnya.”, Arya masih bersikukuh.


Dinda menghela nafas. Dia mengambil lipbalm berwarna merah jambu. Tertulis ‘Strawberry’ di labelnya. Dinda lantas mengoleskan lip balm itu ke bibirnya. Kemudian perlahan beringsut ke atas ranjang dimana suaminya sudah duduk disana. Tentunya dengan sikap protes.


Dinda sengaja merangkak pelan ke atas kasur kemudian mendorong tubuh suaminya ke belakang. Dinda mengambil tempat di atasnya.


Cupp. Pertemuan antara bibirnya dan Arya menimbulkan bunyi tipis yang hanya bisa di dengar keduanya. Heningnya malam membuat suara itu terdengar lebih jelas.


“Mau itu Pak Dika, mau itu Bryan, atau pun Andra yang aku sebut duluan, sekarang yang ada di atas ranjang sama mas Arya siapa?”, ucap Dinda memegang bibir suaminya. Seolah menyeka noda lipbalm yang ikut menempel disana.


Entah keberanian dari mana. Dinda bersikap sangat berani malam itu. Tidak, belakangan memang dia bisa lebih berani kalau itu konteksnya hanya ada mereka berdua.


“Kamu kenapa?”, tanya Arya agak kaget. Masih berusaha tenang dan cool.


“Mas Arya masih mau terus protes. Atau mau aku lanjut?”, ucap Dinda dengan tatapan sayu miliknya. Helaian sebagian rambutnya yang jatuh di bahu membuat Arya meneguk ludahnya.


“Ehem…Fuuh…”, Arya berusaha membersihkan tenggorokannya dengan berdehem. Padahal tidak ada yang salah disana.


“Hm?”, Dinda bertanya lagi.


“Ya.. sudah..”, Dinda baru akan bangun dari posisinya sekarang untuk pindah ke sisi kanan.


“Aaa… tidak.. tidak… lanjut-kan.”, kata Arya dengan terbata - bata.


Dinda melirik mata suaminya intens.


“Telat.”, kata Dinda memilih untuk bangun dan berpindah ke kanan.


“Eh? Kok telat? Baru juga berapa detik.”, protes Arya.


Dinda menggeleng.


“Mas Arya kelamaan responnya. Sudah gak berlaku.”, kata Dinda.


“Memangnya tadi kamu mau ngapain?”, tanya Arya memastikan.


“Kok tanya. Kenapa ‘Mau lanjut’, kalau gak tahu aku mau ngapain.”, ujar Dinda.


“Memastikan. Lanjut sesuai dengan yang aku pikirkan atau..”, balas Arya.


“Memangnya mas Arya berpikir apa?”, Dinda menantang.


Muachhhh


Tanpa berpanjang lebar lagi. Arya memilih untuk langsung mengambil ciuman itu. Bertarung lidah dengan kata - kata melawan Dinda hanya akan membuatnya gila.


“Mas Arya…”, kali ini giliran Dinda yang protes. Tapi, ada senyuman simpul dibalik kalimat protesnya.


“Jangan pura - pura protes kalau kamu juga suka dicium tiba - tiba.”, ucap Arya kembali menarik istrinya masuk ke pelukannya dan menciumnya dalam.


“Curang.”, ucap Dinda setelah mereka menyelesaikan pagutannya.


“Tapi suka, kan?”, balas Arya.


"Mas Arya mulai ngacoo, deh.", Dinda tak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya.


Pria itu mengeratkan pegangannya. Dan menghujani istrinya dengan beberapa ciuman lagi. Kemudian, setelah puas dengan itu, Arya sedikit mundur untuk memeriksa kandungan Dinda.


"Check-upnya tiga hari lagi, kan?", tanya Arya.


"Hn. Sepulangnya mas Arya dari perjalanan bisnis.", jawab Dinda.


"Jangan lesu begitu. Aku jadi tidak nyaman berangkatnya.", ujar Arya.


"Sayang, besok papa titip mama sama kamu dulu yaa...", ucap Arya dan tak lupa memberikan kecupan kecil pada perut Dinda dan mengelusnya.


"Belakangan ini tidak ada keluhan?", tanya Arya menunjukkan perhatiannya.


Dinda menggeleng.


"Selain aku jadi pengen makan terus, tidak ada keluhan apa - apa.", balas Dinda.


"Aku sudah terima jadwal senam bumilnya. Kita bisa mulai minggu depan.", ujar Arya.


"Benarkah?", Dinda sangat senang mendengarnya.


Selain untuk kesehatan kandungannya, Dinda juga membaca senam hamil ini bisa menjadi komunikasi terbaik antara pasangan.


"Hn.", jawab Arya.


"Kita akan ke Amerika di usia kehamilan kamu 7 bulan. Kita bisa babymoon dulu, setelah itu baru berangkat.", ujar Arya menatap istrinya.


"Bukannya aku harus ikut kelas intensif dulu dan berhasil diterima baru kesana?", tanya Dinda polos.


"Ha-ha.. kamu serius mempercayainya? Mana mungkin aku meninggalkan kamu sendirian disini. Kita bisa memulai kelas intensifnya dari sana. Kamu bisa mulai ujian kapanpun kamu bisa. Jangan terlalu dipaksakan. Itu hanya opsi.", Arya akhirnya berkata jujur.


"Mas Arya sudah mengerjaiku.", kata Dinda memberikan tatapan tajam.


"Ha-ha.. maaf. Kamu benar - benar mengira aku akan meninggalkanmu?", tanya Arya.


"Aku sampai stress memikirkan bagaimana harus lulus kelas intensif itu.", Dinda akhirnya berkata jujur.


"Benarkah? Sayang... aku minta maaf. Tapi, kamu benar - benar bisa, kok. Aku sudah sempat lihat transkrip kamu. Hanya perlu tips dan trik sedikit, aku yakin kamu bisa lulus ujian. Aku merasa bersalah telah melepas mimpimu.", ucap Arya.


"Jangan berbicara begitu di depan anak kita, mas. Mas Arya sama sekali tidak melepaskan mimpiku, kok."


Meski Dinda berbicara begitu, tapi tetap saja, Arya merasa bersalah.


"Aku senang dan bersyukur hamil. Plus, bisa punya mimpi kuliah di luar negeri.", kata Dinda sumringah.


"Makasih ya sayang.", ucap Arya dengan nada lembut sambil mengecup kening istrinya.


-----SELESAI-----

__ADS_1


__ADS_2