
“Ada apa? Seingat saya, kita tidak ada janji meeting hari ini. Lagi pula, sepertinya kamu sudah sepenuhnya di divisi Digital dan Development, kan?” - suara Arya.
*
“Saya ingin bertanya tentang poin penilaian saya, Pak. Kenapa untuk analisis hanya diberikan 70 poin? Menurut saya, selama di divisi Business and Partners saya memberikan yang terbaik.” - suara Suci.
“Apa karena saya secara terang - terangan terhadap perasaan saya ke Pak Arya?”- suara Suci.*
Deg.
Dinda masih berdiri di depan pintu ruangan Arya. Arya dengan cepat membuka pembicaraannya dengan Suci bahkan saat Dinda belum selesai menutup pintu ruangan Arya. Tanpa sengaja, Dinda mendengar pembicaraan mereka. Setidaknya sampai pintu benar - benar tertutup.
“Ngapain kamu? Dipanggil Arya?”, Erick dari kejauhan bertanya dengan menggunakan bahasa tubuh dan gerakan mulutnya.
“Iya Pak. Em.. Pak Arya mau memastikan tentang Smart Report. Sekarang lagi sama mba Suci.”, Dinda memilih berjalan mendekati Erick untuk menjawab pertanyaannya.
“Hm. Rini mencari kamu. Ada satu project yang harus kamu kerjakan bareng yang lain.”, jelas Erick.
“Oh iya baik Pak. Kalau begitu saya permisi ya pak.”, ujar Dinda pada Erick.
Erick mengangguk dan berjalan menuju pantry. Dinda mengira Erick mau ke ruangan Arya.
‘Apa itu tadi? Apa benar mba Suci suka sama Pak Arya? Aku kira dia hanya nge-fans biasa. Lagipula sepertinya beberapa bulan yang lalu aku pernah melihat dia bersama laki - laki di lobi hotel. Apa itu bukan pacarnya?’
‘Ah.. sudahlah. Kenapa aku harus memikirkan urusan orang lain. Urusan aku saja belum beres.’, ujar Dinda dalam hati.
“Oh…”, saking pikirannya tenggelam dalam lamunan, Dinda tanpa sengaja menabrak seseorang. Dia begitu kaget karena orang yang dia tabrak adalah Andra.
Dinda langsung bingung dia harus bagaimana. Akhirnya gadis itu memilih untuk melanjutkan langkahnya. Namun, Andra menghadangnya. Refleks Dinda mengambil langkah mundur.
“Gue minta maaf. Gue sudah keterlaluan kemarin. Semakin gue pikir, gue sadar kalo gue sudah keterlaluan. Maafin gue ya, Din.”, ujar Andra lugas. Saat itu mereka sedang ada di lorong. Sehingga tidak ada orang lain selain mereka.
“Hm.. Iya. Aku juga minta maaf karena tidak bisa ikut makan - makan bersama. Aku mohon, kedepannya, kalau kamu memang ingin ke klub, plis jangan ajak aku.”, kata Dinda tak kalah lugas.
Dia menerima permintaan maaf dari Andra, tetapi Dinda juga ingin kembali mengingatkan bahwa dirinya bukanlah orang yang tepat untuk diajak ke klub.
Andra mengangguk dan menurunkan tangannya yang sempat ia gunakan untuk menghalangi Dinda berjalan.
“Kalau begitu, aku duluan.”, ujar Dinda sambil meninggalkan Andra. Sepertinya pria itu hendak mencari pak Erick.
*****
Tanpa terasa, jam makan siang sudah datang. Semua orang sibuk beranjak dari kursi mereka menuju lift. Termasuk Rini, Erick, dan para staf lainnya. Mereka sudah berkubu - kubu berjalan sambil membicarakan menu apa yang akan mereka makan nanti.
“Din, kamu bawa bekal, ya?”, tanya Delina pada Dinda yang sudah meletakkan bekalnya di atas meja.
“Iya, mba. Mau makan di luar, ya?”, tanya Dinda.
“Hm. Tadi sudah janjian sama Suci. Tapi dia mana, ya. Kok gak balik - balik.”, Delina bingung karena sudah dari tadi tidak kembali ke bangkunya.
Dinda juga heran, ‘Apa dia lanjut meeting?’
“Coba gue telpon, deh.”, kata Delina.
“Halo, Ci. Lo dimana? Katanya tadi mau makan bareng di luar?”
“Lo nangis? Kenapa? Lo dimana sekarang?”, tanya Delina.
“Ya udah, kalo begitu gue duluan ya, sama Andra. Nanti kita whatsapp tempatnya. Buruan nyusul, ya.”, Delina menutup ponselnya dan mengambil dompetnya di atas meja.
Dinda melihat ke arah Delina seperti ingin bertanya.
__ADS_1
“Aku juga gak tahu ada apa dengan Suci. Tidak bisanya dia menangis seperti itu. Dia di toilet lantai atas tempat finance. Nanti kamu pura - pura gak tahu aja ya, kalau dia nangis. Nanti dia marah.”, ujar Delina yang sudah mengenal sifat Suci.
Dinda mengangguk pelan.
“Apakah tadi pak Arya memarahinya di ruangan? Pak Arya kalau sudah masuk ke mode serius memang menyeramkan sih. Dia seperti punya kepribadian ganda. Dinda jadi bergidik sendiri. Jangan sampai aku diomelin di kantor.”, ujar Dinda pelan.
*****
“Lo kenapa sih?”, tanya Delina pada Suci yang sudah ikut bergabung bersama Andra dan juga Fas di sebuah restoran ramen. Bryan hari ini tidak ikutan karena dia masih terjebak meeting sampai jam 2.
“Pak Arya, ya? Gue aja cowok ngeri tahu dekat dengan dia. Apalagi kamu.”, Andra ikut menimpali.
“Melihatnya saat town hall saja yang notabene bareng - bareng dengan tim lain bisa membuat aku bergidik, bagaimana dengan orang - orang yang rutin dimarahi olehnya setiap hari, ya.”, lanjut Andra lagi.
“Kalau ada orang yang tahan sama dia, itu berarti dia robot. Sudah Suci. Waktu masih di bawah dia, kenapa lo gak pernah nangis. Sekarang malah nangis.”, ujar Delina.
“Gue sudah menghancurkan image gue sendiri di hadapannya.”, Suci akhirnya berbicara.
“Hah? Jadi dari tadi yang lo tangisin adalah image lo? Ya ampun, Ci. Gue kira, lo masih shock setelah diomelin sama Pak Arya.”, Andra, dan Delina terheran - heran melihat pengakuan Suci.
“Itu juga. Padahal sebelumnya dia tidak segalak itu ke gue. Kenapa sekarang malah dingin banget.”, kata Suci.
“Mungkin gara - gara lo secara terang - terangan menyatakan perasaan lo ke dia. Lagian udah punya pacar, masih aja mau nyosor sana sini.”, ujar Andra terlampau jujur.
“Tapi dia dengan sok coolnya, bilang enggak. Gue harus gimana dong.”
“Udah lupain dia aja. Lagian cowok keren masih banyak kok di luar sana.”, ujar Delina.
“Ga ada yang sekeren pak Arya. Termasuk cowok - cowok yang gue kencani. Semua brengsek.”
“Ada. Pemilik Cafe di kantor kita. Bukannya lo bilang dia keren?”, kata Delina tiba - tiba.
“Gimana gak berliku-liku dan mewek terus, sukanya sama pria sulit macam Pak Arya, sih.”
Delina dan Andra sudah kehabisan ide untuk menenangkan Suci.
“Eh.. lo apa kabar? Tadi gue ketemu Dinda di ruangan pak Arya. Lo udah ketemu sama Dinda?”, tiba - tiba Suci mengungkit masalah kemarin.
“Tadi gue udah minta maaf.”, ujar Andra.
“Terus, lo gak jadi nembak dia?”, kata Suci.
“Mungkin ga sekarang. Tapi, Ci. Setelah gue pikir - pikir lagi, sepertinya lo salah lihat deh, yang waktu di hotel itu.”
“Salah lihat gimana? Jelas - jelas itu Dinda kok. Cowoknya aja yang ketutupan sama petugas hotel. Awas ya, kalo lihat lagi, gue akan fotoin supaya kalian percaya.”, ujar Suci.
*****
Hilir mudik orang di restoran dekat kantor pada jam - jam setelah makan siang sudah mulai berkurang. Biasanya, berbagai sisi restoran penuh karena memang ada banyak gedung perkantoran di sekitar sini.
“Untuk apa lo memanggil Dinda tadi?”, tanya Erick sambil menyeruput es lemon tea yang ia pesan. Beberapa hari ini dia lebih sering makan bersama Arya karena mereka sedang ada project bersama.
Selain itu, Arya memang sangat sibuk tetapi untuk makan siang, biasanya di sebisa mungkin melewatkannya sendirian. Dia tidak ingin membicarakan bisnis sementara perutnya sedang istirahat dan siap menyantap makanan enak.
“Bertanya tentang smart report. Kenapa?”, Arya bertanya balik.
“Belakangan ini lo terlihat sering memanggil dia untuk urusan remeh yang biasanya tidak pernah ditanyakan sebelumnya.”
“Heh.. masih punya waktu memikirkan hal trivia seperti itu? Gue memanggil, ya karena ada urusan. Untuk apa memanggil intern jika tidak ada urusan penting. Lo pasti tahu jadwal meeting gue dalam sehari ada berapa.”, ujar Arya blak - blakan.
“That's the point. Lo bukan tipe yang memanggil intern hanya untuk menanyakan perihal smart report. Bukankah lo tidak menggunakannya? Lo tinggal terima beres kan?”, Erick berkata dengan tatapan yang dibuat seolah - olah mencurigai Arya.
__ADS_1
“Okay, katakan seperti itu. Lalu menurut lo, untuk apa gue memanggil Dinda?”
“Lo menyukainya? Aah.. tidak - tidak. Gue masih tidak yakin dengan pemikiran mustahil ini. Ah.. sudahlah.. Mana mungkin pria seperti lo menyukai Dinda. Mungkin lo sekarang sedang ingin bekerja secara mendetail, jadi tentang smart report pun, lo harus menanyakannya pada intern. Alasan itu jauh lebih masuk akal.”, Erick menanyakan sesuatu dan menjawabnya sendiri.
Pramusaji meletakkan pesanan mereka saat Erick berbicara.
“Hahahahaha…kenapa lo bisa berpikir seperti itu?”, tanya Arya sambil tertawa.
“Aah kamu juga pasti berpikir aku aneh. Tapi, entah kenapa setiap melihat interaksi kalian berdua aku mendapat firasat kalau kamu menyukainya.”, ungkap Erick.
“Apa yang membuat lo berpikir pria seperti gue tidak menyukai dia?”, Arya balik bertanya.
“Ah.. jangan - jangan lo benar - benar menyukainya? Arya?”, wajah Erick terlihat sangat shock.
“Gue hanya bertanya. Gue penasaran kenapa lo mengatakan hal seperti itu. Memangnya, menurut lo, wanita seperti apa yang gue sukai?”
“Ya.. kalau melihat ke belakang, di klub, lo sering menemui wanita - wanita seksi dengan size yang proporsional, menggoda, cerdas, ningrat,..”, kata Erick mencoba mendeskripsikan.
“Oh.. bentar - bentar. Memangnya gue ini putra raja, luar biasa sekali deskripsi wanita yang lo gambarkan. Satu lagi, mereka yang mendekati gue, bukan gue yang mendekati mereka.”
“Bukankah mantan lo adalah wanita seperti itu.”, balas Erick.
“Lanjutkan makannya. Kita harus meeting dengan finance satu jam lagi. Ini adalah meeting terakhir kan? Gue mau fokus ke Business and Partners.”
“Iya.. setidaknya untuk kuartal ini.”, jawab Erick.
‘Kenapa setiap disinggung mantannya, dia langsung berubah serius seperti itu. Sepertinya sudah lama mereka bercerai. Apa dia masih mencintainya? Apa aku memang salah menafsirkan interaksinya dengan Dinda?’, batin Erick.
‘Sebaiknya besok - besok aku tidak akan menyinggung topik itu lagi.’
“Sebenarnya kapan HRD bisa mendapatkan kepala divisi baru untuk Digital and Development. Kenapa lama sekali.”, Arya mendecak kesal.
“Entahlah. Sudah banyak kandidat yang diwawancarai, tetapi tidak ada yang lolos.”
“Mereka seharusnya bekerja lebih keras lagi untuk menemukannya.”
*****
“Din, kamu tadi ke ruangan pak Arya ngapain?”, tanya Suci pada Dinda di toilet wanita.
“Dipanggil, pak Arya bertanya tentang smart report.”, jawab Dinda singkat.
“Aku ke mushola dulu ya mba.”, kata Dinda berlalu dan berjalan menuju mushola.
Suci mengikutinya ke mushola. Dia beralasan ingin mencuci kakinya karena sepatu yang dia kenakan membuat kakinya berkeringat.
“Oh? Bercak merah di leher kamu sudah hilang.”, ucap Suci lugas pada Dinda.
Perkataan Suci sontak membuat Dinda kaget.
“Ber-cak me-rah?”, tanya Dinda pelan.
“Engga, hmm kapan ya, waktu kamu wudhu dua minggu lalu? Ah.. aku lupa. Aku sempat lihat leher kamu banyak sekali bercak merah.. Ehmm seperti kiss-mark.”, Suci bertanya dengan pelan namun nadanya seperti menuduh dan mengintimidasi.
“Oh? Kapan mba? Mungkin mba Suci salah lihat.”, ujar Dinda berusaha untuk tidak terlalu menggubris omongan Suci.
“Ga mungkin, kissmark kok kayanya. Masa digigit nyamuk tandanya bisa seperti itu. Ya sudahlah, itu urusan kamu. Aku pergi dulu ya.”, ujar Suci dengan nada riang ke luar dari mushola.
‘Kiss mark? Tidak mungkin! Jadi, arti dari ekspresinya waktu itu karena dia melihat kissmark di leherku?’, tanya Dinda dalam hati.
‘Bagaimana ini? Mba Suci tidak akan bergosip tentang itu kan?.’, Dinda menggigit bibir bawahnya panik.
__ADS_1