
“Ahh.. mereka lama sekali.”, kata Bianca mengeluh. Setidaknya dia sudah mengatakan ini berkali - kali sejak tadi.
Kebalikan dari Dinda, Bianca memang orang yang sangat tidak sabaran. Karena itu, tak jarang orang di luar lingkar pertemanannya mengatakan dia sangat jutek. Padahal, sejatinya Bianca sangat baik.
Green Cafe lebih ramai dari biasanya. Dinda sudah mengambil tempat dan memesan untuk 4 orang terlebih dahulu sebelum yang lain datang. Untung saja Dinda berangkat lebih dulu, jika tidak, mungkin mereka tidak bisa mendapatkan tempat.
Tak sampai lima menit, Bianca muncul dan mereka menunggu kehadiran Rara dan Sekar berdua. Bianca berencana memesan kopi, namun Dinda menawarkan menu lain yang lebih enak. Bianca dengan santai menerimanya.
Sudah hampir 30 menit mereka menunggu, tetapi Sekar dan Dian belum juga muncul. Bianca bahkan sudah memesan minuman yang kedua karena mereka lama sekali dari waktu yang dijanjikan. Tentu saja, lagi - lagi Dinda menyarankan Bianca untuk tidak minum kopi.
Kali ini, diet menjadi senjata Dinda untuk menghindari Bianca minum kopi. Berhubung berat badan Bianca sedikit bertambah, dia melakukan diet yang intens menjelang pernikahan. Dinda menyarankan untuk tidak minum kopi karena itu bisa membuatnya tidak tidur dan berat badan jadi bertambah karena begadang. Make sense menurut Bianca, sehingga dia mengikuti saran gadis itu.
Dinda sudah kesulitan menahan aroma kopi dari Cafe, tapi dia masih bisa menahannya. Tapi, kalau aroma itu semakin dekat, dia khawatir tidak bisa menahan mualnya. Dinda tak ingin membuat yang lain khawatir.
“Hai - hai..Maaf telat. Ban mobilku bocor dan harus tambal dulu, jadilah aku kesini naik ojek online.”, ujar Sekar segera menyadari kesalahannya dan langsung minta maaf.
“Oh.. waduh.. Bocor dimana Sekar?”, tanya Dinda sambil memberikan kertas menu pada Sekar.
“Tinggal 15 menit lagi dari sini. Sepertinya kena paku - paku ranjau di jalan. Ah.. untung saja di sekitar situ ada bengkel yang dekat jadi aku tidak perlu susah menghubungi pihak bengkel.”
“Nih buat kamu.”, kata Bianca sambil menyerahkan satu tas berisi seragam bridesmaid untuk Sekar.
“Wahh bagus sekali. Acaranya minggu depan, kan?”, tanya Sekar.
“Iya… jangan lupa ya… kamu gak boleh datang terlambat. Kalau perlu dari awal.”
“Baiklah.. Akan aku usahakan. Semoga aja periode menstruasi aku sudah selesai. Aku datangnya telat nih. Mana sakit perutnya juga luar biasa lagi. Fuhhh..”, curhat Sekar.
“Kamu telat datang bulan?”, tanya Bianca.
“Hampir.. Tapi akhirnya baru banget datang pagi ini. Semoga lancar jadi sewaktu acara pernikahan kamu, aku ga kerepotan. Soalnya aku modelan yang menstruasi bisa sakit di awal dan di akhir periode, Bi. Kamu kan tahu sendiri. Mood juga lumayan swing - swing kalo lagi dapet. Tapi tenang, hari ini enggak karena aku ketemu kalian. ”, ujar Sekar dengan nada yang sangat excited.
Dia lebih sering menghabiskan waktu di studio cakenya dan jarang bertemu dengan yang lain karena banyaknya pesanan. Sekar tak menyangka bisnis kuenya banyak diminati. Dia sedang mempertimbangkan untuk mengambil pekerja tapi masih belum bisa dia pastikan. Dia takut kalau ini hanya bersifat musiman saja.
“Kamu udah dapet belum Din? Tempo hari kan kita barengan datangnya. Yah.. udah beberapa bulan lalu sih.. Tapi biasanya kan kalo sudah barengan, kemungkinan akan barengan terus datang bulannya.”, tanya Bianca.
“Oh? Hm..”, Dinda mencoba mengingat - ingat kapan terakhir kali dia datang bulan.
“Bulan lalu aku tanggal 4, sepertinya bulan ini sekitar tanggal 30. Kamu bulan lalu kapan?”, tanya Bianca langsung ke Dinda.
“Oh.. iya iya sama..”, ujar Dinda langsung menjawab dengan asal. Padahal dia masih belum bisa mengingat kapan terakhir dia datang bulan dan sepertinya sudah lama sejak terakhir kali periode itu datang.
Daripada Bianca bertanya terus, Dinda menjawabnya saja dulu.
“Hai… maaf - maaf. Aku ketiduran.”, tak lama Rara datang membawa beberapa macaron untuk menebus keterlambatannya. Dia langsung membagi - bagikan macaron yang baru saja dia beli pada yang lain.
“Din, kamu mau yang rasa kopi?”, tanya Rara.
“Eh enggak - enggak. Aku yang ini aja, boleh kan?”, ujar Dinda langsung tanpa jeda. Belakangan ini dia kesulitan mencium aroma kopi. Kali ini pun dia beruntung karena berhasil membuat yang lain untuk tidak memesan kopi meskipun sedang berada di Cafe.
“Mau pindah ga? Sepertinya disini terlalu ramai. Sekalian pesan snack yang sedikit berat.”, usul Bianca.
Usulan Bianca membuat Dinda lega. Dia sudah tidak kuat berada lebih lama di tempat ini. Bau kopi semakin menyengat seiring dengan banyaknya orang yang datang.
‘Kenapa aku belakangan lemah sekali dengan aroma kopi, ya’, pikir Dinda dalam hati.
“Ga masalah, kan kamu yang traktir, kita mah ikut aja.”, jawab Rara yang baru saja tiba tapi sudah harus pindah tempat. Dia tidak keberatan karena toh bukan dia yang bayar.
“Okee.. kita pindah ke snack and bar yang di lantai 4 ya.. Disana banyak snack yang enak - enak. Ada roti juga kesukaannya Sekar.”, tutur Bianca.
__ADS_1
Mereka segera beres - beres. Bianca membayar tagihan di cafe meski Dinda dan Sekar bersikeras untuk membayar sendiri.
“Yah.. tahu ditraktir, aku akan memesan dulu baru kita pindah.”, keluh Rara yang tidak sempat memesan apa - apa di Green Cafe tadi.
“Kamu selesai shift jam berapa, Ra?”, tanya Sekar pada Rara.
“Jam 5 pagi. Trus aku langsung hajar tidur di rumah sakit. Jam 11 lewat baru bangun. Makanya telat. Ga mungkin dong aku mandi di RS dan pake baju kemarin kesini.”, keduanya terlibat obrolan yang terus berlanjut sampai ke resto di lantai 4 yang dimaksud Bianca.
Bianca mengambil lead di bagian depan karena hanya dia yang tahu dimana tempatnya. Sementara Dinda sedikit tertinggal di belakang. Dia masih memikirkan masa datang bulannya.
Dinda baru sadar kalau sudah hampir 2 bulan dia tidak datang bulan. Dia membuka kalendar menstruasinya di aplikasi handphone, dan dia sadar kalau belum menandai bulan lalu dan bulan ini padahal sudah tanggal segini.
“Dinda jauh banget di belakang, dia ngapain sih liatin hape terus?”, tany Sekar saat menyadari Dinda masih tertinggal di belakang.
“Din..Dinda…Din..”, panggil Sekar saat orang sudah mulai sepi di belakang mereka.
“Oh.. iya iya..”, jawab Dinda segera berjalan dengan cepat mendekati yang lain.
Bianca sedang berbicara ke pramusaji untuk mencarikan mereka tempat. Sementara yang lainnya menunggu.
“Kamu ngapain sih, bengong aja dari tadi. Ada yang ketinggalan?”, tanya Sekar dan Rara bergantian.
“Haha.. engga.. Cuma lihat jadwal drama korea aja, kok.”, kata Dinda berbohong sambil memperlihatkan jendela yang lain di aplikasi ponselnya.
“Oh.. drama siapa lagi yang mau tayang Din? Aduhh aku sudah beberapa bulan belum nonton drama korea lagi. Hiks… aku lelah dengan koas ini.”, lagi - lagi Rara curhat dadakan.
“Kenapa banyak sekali yang melahirkan selama dua bulan ini? Apa tahun ini tahun kehamilan?”, lanjut Rara lagi dengan wajah lesu.
Kehamilan dan kelahiran adalah kabar yang membahagiakan untuk para ibu di luar sana. Tetapi, ironinya, Rara harus rela mendapatkan jadwal padat dari professornya.
“Kamu masih di rumah sakit yang sama, Ra?”, tanya Sekar.
“Masih, tapi kabarnya bulan depan aku mau di rotasi ke rumah sakit lain karena sumber paperku ada di rumah sakit yang lain. Dan aku masih menunggu keputusan kampus. Semoga saja tidak di luar kota.”, jawab Rara.
“Ah sama saja. Dia juga sangat sibuk di UGD, jadi kami jarang bertemu. Bahkan untuk makan bersama saja jarang. Kemungkinan bertemu hanya kalau pasien UGD ada yang harus mendapat penanganan obgyn. Selebihnya aku sangat sulit melihat wajahnya.”, jawab Rara lagi.
Bianca sudah memberikan kode untuk mereka mengikutinya karena pramusaji sudah mendapatkan tempat.
“Kamu diam aja Din. Kamu sakit?”, tanya Rara yang merasa Dinda hemat bicara sejak di bawah tadi.
“Hm? Kamu ga suka disini?”, tanya Bianca tiba - tiba menduga ke arah sana.
“Ahh.. engga kok. Aku hanya tidak ada bahan omongan saja. Aku memperhatikan kalian bicara, kok.”, jawab Dinda sambil tersenyum.
“Dasar introvert kamu kambuh lagi ya? Baiklah.. Kamu mau pesan apa?”, Bianca memberikan menu pada Dinda.
Dinda memasukkan ponselnya ke dalam tas. Meski dia masih memikirkan persoalan tadi, tapi Dinda memutuskan untuk melupakannya sejenak dan fokus untuk berbincang dengan teman - temannya.
Mereka memilih - milih makanan dan akhirnya berhasil menentukan pilihan. Mereka jadi tidak enak membuat pramusaji berdiri lama menunggu pesanan mereka.
“Jadi akadnya mulai jam berapa Bi?”, tanya Rara yang baru saja mengambil saos sambal untuk pizza yang mereka pesan.
“Pagi jam 9. Trus satu jam istirahat untuk foto - foto, lanjut resepsi sampai malam.”, jawab Bianca.
“Wah lama juga ya… kemaren lamarannya seru ga?”, tanya Sekar.
“Banget. Keluarga mas Reza itu rameee banget. Tempat yang dipilih juga bagus. Sepupu - sepupunya juga baik - baik.”, ujar Bianca sambil menyikut lengan Dinda.
Dinda langsung menoleh dengan ekspresi penuh arti pada Bianca. Bianca hanya tersenyum jahil pada Dinda.
__ADS_1
“Ada sepupunya yang bisa diperkenalkan dengan kita ga, Bi?”, tanya Rara yang saat ini sedang jomblo karena terlalu sibuk dengan koas nya.
“Hm.. ada ga ya? Ada ga, Din? Yang super hot, kaya mas….”, Bianca sengaja menggoda Dinda.
“Haha.. mana aku tahu.. Haha.”, Dinda hanya bisa mengeluarkan tawa dengan ekspresi canggung.
“Kamu sudah punya pacar Din?”, tanya Sekar.
“Hah? Yang benar Din? Ya ampun aku kira kamu bakal jomblo karena susah banget di deketin cowo. Sama siapa? Sama senior yang waktu itu nembak kamu bukan? Eh itu dia apa kabarnya? Ngintilin rumah kamu terus..”
Obrolan - obrolan mereka berlanjut hingga sore hari. Tadinya, Bianca ingin mentraktir semuanya makan malam, tetapi tiba - tiba orang rumah memanggilnya karena ada hal mendadak terkait persiapan pernikahan.
Bianca merasa tidak enak dengan yang lain tetapi tentu saja teman - temannya mengerti. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Rara kembali ke rumah sakit karena dia ada shift malam. Bianca langsung pulang ke rumah. Dia sudah menawarkan Dinda untuk pulang bersama. Supirnya akan mengantarkan Dinda pulang, namun Dinda menolak karena dia tahu rumah mereka sekarang berlawanan arah.
Sekar sudah naik ojek online untuk mengambil mobilnya di bengkel. Akhirnya, Dinda tinggal sendiri di Mall. Tadinya, Dinda sudah memesan ojek online dan menunggu. Namun saat semua sudah pulang, Dinda teringat kembali tentang pembahasan tadi. Dan memutuskan untuk membatalkan pesanan ojek onlinenya.
Kring kring kring
“Hai sayang? Kamu lagi dimana? Udah pulang?”, suara Arya mencerahkan hari Dinda karena seharian memang dia sangat merindukan pria ini.
“Mas Arya sudah di hotel?”, alih - alih menjawab pertanyaan, Dinda malah bertanya balik.
“Udah. Kita baru selesai tenis. Aku kembali ke kamar untuk siap - siap makan malam. Kamu sudah di rumah belum?”
“Ah.. iya mas ini sebentar lagi sudah mau pulang.”, jawab Dinda.
“Ya udah kalau gitu. Bye.”
“Bye.”, jawab Dinda.
Dinda ingin mengatakan hal itu pada Arya, tapi Arya terlihat sedang sibuk dan harus segera bersiap untuk dinner dengan client. Dinda juga belum bisa memastikan dan masih mengira - ngira. Mungkin nanti saja jika dia sudah mendapatkan jawaban yang pasti, baru dia memberitahu Arya.
Dinda membuka ponselnya dan mengetikkan beberapa kata kunci terkait telat datang bulan dan semua mengarahkan pada kehamilan. Dinda menarik nafasnya pelan dan mencoba mengikuti beberapa saran yang dia temukan di internet.
Gadis itu melangkah ke arah toko pharmacy dan membeli test pack. Ekspresinya menunjukkan dia sangat tegang dan grogi. Dinda mencoba membeli dua buah jenis test pack berbeda sesuai dengan tips yang dia peroleh dari internet.
“Huft… masa iya sih? Tapi aku belum pernah telat datang bulan sekalipun sebelumnya.”, Dinda terus bertanya - tanya dalam hati.
Kring Kring Kring
Lagi - lagi ponselnya berbunyi. Telepon dari Inggit.
“Assalamu’alaikum. Iya halo ma.”, jawab Dinda.
“Kamu dimana sayang? Kata Bi Rumi, kamu keluar sama teman - teman kamu ya? Pulang jam berapa?”, tanya Inggit.
“Ini sudah mau pulang kok, ma. Mama sudah selesai kondangannya?”, tanya Dinda berbasa - basi.
“Iya.. sudah dari tadi. Mama ke kamar kamu ga ada. Ternyata lagi keluar. Jangan malam - malam ya Din pulangnya. Arya lagi gak di rumah soalnya.”, ujar Inggit.
“Iya ma, ini udah mau pesan ojek buat pulang, kok. Mama sama papa ada mau nitip sesuatu? Nanti Dinda beliin.”, jawab Dinda lagi.
“Ga usah Din, mama sudah makan banyak tadi di kondangan. Di rumah, Bi Rumi juga sudah masak. Mama suruh pak Cecep jemput aja ya. Kamu dimana?”
“Gak usah ma. Dinda pesan ojek online aja.”
“Memangnya jauh? Gapapa pak Cecep aja. Biar mama gak khawatir, ya.”, kata Inggit memaksa.
“Ya sudah kalau begitu. Dinda ada di Mal ZY. Dinda tunggu pak Cecep di pintu selatan ya, ma.”
__ADS_1
“Oke. mama bilangin ke pak Cecep. Nanti kalau dia bingung, mama suruh langsung telepon kamu aja. Hati - hati ya, sayang.”, Inggit menutup teleponnya.
Dinda segera membayar testpack yang dia beli dan memasukkannya ke dalam tas. Dia bergerak ke tempat yang dijanjikan dan menunggu pak Cecep disana.