Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 79 Seorang Arya bisa Nervous juga?


__ADS_3

‘Kenapa dia menangis?’


‘Apa yang sudah aku lakukan?’


‘Tidak. Tapi aku tidak melakukan hal yang berlebihan.’


‘Fuh. Lagian, ada apa sih denganku? Kenapa tiap lihat Dinda bawaannya…’


‘Perasaan lihat yang lebih di klub, aku biasa aja.’


‘Hm.. calm down, Arya. Calm down. Lebih baik sekarang kamu kerja.’


Arya hanya bisa mondar - mandir di ruang kerjanya. Dia bingung kenapa Dinda menangis, tetapi dia juga tak ingin bertanya lebih dalam. Dia merasa tidak melakukan sesuatu yang berlebihan.


Arya sudah mondar - mandir lebih dari 15 menit. Dia memutuskan untuk duduk di kursi ruang kerjanya, menghidupkan laptopnya, dan memeriksa email yang masuk.


Di luar ruang kerja, tepatnya di atas kasur, Dinda mencoba untuk kembali menguasai dirinya. Ia menyeka tangis yang sudah berhenti. Dinda mencoba menarik dan menurunkan nafasnya perlahan.


‘Apa yang sudah aku lakukan?’


‘Kenapa bisa tiba - tiba nangis sih din?’


‘Mas Arya pasti kecewa banget.’


‘Aku harus bagaimana?’


‘Aku juga bingung kenapa bisa tiba - tiba merasa takut seperti tadi.’


‘Apa aku hampiri saja, minta maaf?’


‘Hm.. nanti kalau dia benar - benar marah, bagaimana?’


‘Ekspresinya saja tadi sudah begitu.’


Dinda tenggelam dalam pikiran - pikirannya. Dia mencoba bangun beranjak dari kasur, mengatupkan kembali dua buah kancing kemeja yang terbuka dan berjalan perlahan ke ruang kerja Arya.


Dinda mengetuk pelan pintu ruang kerja Arya.


“Mas Arya, aku boleh masuk?”, ujar Dinda dengan nada yang pelan dan hati - hati.


“Iya, masuk aja.”, jawab Arya dengan nada dan gaya sok cool-nya..


Dinda membuka pintunya pelan. Ia melihat Arya duduk rapi di meja ruang kerjanya sambil melihat ke arah laptop.


“Mas Arya marah?”, Dinda belum berani masuk, dia hanya membuka pintu sedikit dan memperlihatkan kepalanya saja.


“Enggak. Kenapa?”, jawab Arya lagi. Tidak lupa dia memberikan ekspresi sok cool, seolah - olah sedang sibuk bekerja, padahal aplikasi email yang dia buka dari tadi hanya loading saja dan belum terbuka sempurna.


“Aku boleh masuk?”


“Dari tadi kan saya sudah bolehin kamu masuk?”


“Tuhkan, mas Arya marah.”, kata Dinda. Dia masih sedikit sesegukan karena efek tangisan yang tadi, padahal ekspresinya jauh lebih baik sekarang.

__ADS_1


“Enggak. Buat apa saya marah?”


“Hm.. karena sikap aku tadi ke mas Arya.”


“Memang kamu kenapa?”


“Hm.. tadi..aku.. aku…menolak mas Arya. Maaf..mas. Aku benar - benar ga ada maksud. Aku ga sengaja.”, Dinda berbicara sangat pelan.


Dinda malu, bingung, dan juga merasa bersalah.


“Sudah, tidur sana. Udah malam. Besok harus kerja.”


“Mas Arya masih marah?”


“Enggak. Sana tidur, sebelum saya berubah pikiran.”


“Mas Arya? Gak tidur?”


‘Mana bisa aku tidur dalam keadaan seperti ini disamping kamu, Dinda.’, ujar Arya frustasi di dalam hati.


“Belum. Masih ada email yang harus dicek. Kamu tidur duluan saja.”, ujar Arya.


Dinda belum mengangguk. Dia masih menatap Arya yang tetap duduk dibangkunya. Bahkan melirik pun tidak.


“Kenapa?”, ujar Arya akhirnya bertanya sambil menolehkan wajahnya pada Dinda.


‘Fuhhhh… gimana caranya mengendalikan diriku sementara dia membuat pose seperti itu. Dinda.. Plis.. bisa tidur duluan aja ga?’, ujar Arya.


Dari luar wajah dan perawakan Arya memang terlihat sangat sangat tenang. Stay cool. Padahal, di dalam hatinya bergejolak. Jika dia mengikuti ego dan keinginannya saat ini, dia sudah pasti melahap Dinda. Tapi, Arya berusaha keras agar tidak membuat gadis ini menangis lagi.


“Sini.”, ujar Arya pelan. Arya bangun dari kursinya dan berdiri di samping meja. Dinda mendekat saat dipanggil.


Arya mencium kening Dinda ringan, hangat, dan lembut.


“Kamu tidur duluan ya. Nanti aku nyusul.”, ujar Arya pada Dinda.


Dinda menatap Arya sebentar sebelum memberikan anggukan padanya. Dinda berjalan keluar dan menutup pintu. Ia mengambil tempat di kasur, mematikan lampu, dan bersiap tidur.


Sementara itu di ruang kerja.


‘Fuhhhhh Fuhh tarik nafas dalam. Aryaaa! You need to stay calm. Calm.. calm.. Kamu bisa… oke kerja.. kerja.. Sepertinya aku harus tidur disini malam ini.’, Arya mondar - mandir di ruang kerjanya sebelum akhirnya duduk kembali untuk membuka aplikasi email yang dari tadi tidak kunjung terbuka.


“Oh **, ternyata LAN nya belum terpasang. Pantas aplikasi ini tidak mau terbuka.”, Arya benar - benar kehilangan akalnya.


*****


“Pagi ma. Ma, mama taruh baju - baju Dinda dimana, ma?”, tanya Dinda yang pagi - pagi buta sudah menghampiri Inggit di dapur.


“Hihihihi… “, Inggit tertawa kecil saat melihat Dinda sudah uring - uringan mencari baju - bajunya.


“Gimana Din? Arya ada pergerakan gak tadi malam?”, tanya Inggit penasaran.


“Pergerakan apa sih ma? Mama aneh - aneh aja deh. Ini green tea tadi malam, ada yang mama masukin juga kan?”

__ADS_1


“Eh.. Arya sudah bangun. Mama kira masih tidur.”, Inggit kaget karena Arya sudah muncul tiba - tiba entah dari mana.


“Baju kamu mama simpan di lemari bawahnya, tempat yang masih kosong itu. Kamu ga nyari sampai sana ya?”, ujar Inggit masih tertawa gemas melihat wajah panik Dinda.


“Ya ampun mama. Ternyata disitu.”, Dinda shock saat mengetahui ternyata baju - baju yang dia cari - cari justru berada di salah satu lemari ruang pakaian di kamar mereka. Saking kagetnya tadi malam, Dinda sama sekali tidak memeriksa ke tempat itu. Dia kira, Inggit akan menaruhnya di tempat yang jauh.


“Hm.. memangnya mama punya tenaga. Bi Rumi juga gak mau bantu.”, kata Inggit menahan tawanya.


“Jadi, Bi Rumi tahu? Dinda merasa dibohongi.”, ungkap Dinda dengan nada kesal tapi sebenarnya dia bercanda.


“Kamu sebenarnya tahu, tapi masih mau goda aku kan, Din?”, ujar Arya di telinga Dinda pelan agar Inggit dan Bi Rumi tidak mendengarnya.


Dinda hanya memberikan sorot mata tak percaya pada Arya.


“Ya sudah, mandi dulu sana. Nanti mama minta bantuan Bi Rumi untuk menata lagi baju - baju kamu di tempat semula, ya.”, ujar Inggit pada Dinda sambil tersenyum.


“Gimana Arya?”, ujar Inggit kemudian pada Arya setelah Dinda kembali ke atas.


“Apaan sih ma. Arya udah gede, ga perlu dibecandain kaya gitu.


“Mama kan mau cucu. Kamu itu selalu saja galak dan dingin. Dinda jadi takut, kan.”, ujar Inggit pada Arya.


“Mama lupa? Jangan berharap cucu ma.”, ucap Arya sendu dengan suara pelan.


“Kamu ga pernah periksa Arya. Sarah pasti bohong.”


“Sarah ga bohong. Dia pernah hamil, tapi bukan sama Arya.”, tiba - tiba pembicaraan santai berubah menjadi serius.


“Apa kamu bilang? Maksud kamu gimana?”, Inggit menarik Arya ke tempat yang lebih privat. Setidaknya menjauhi Bi Rumi.


“Mama gak perlu tahu detailnya. Yang jelas, Sarah pernah hamil tapi bukan sama Arya. Berarti selama ini salahnya di Arya. Arya yang gak bisa kasih keturunan.”


“Nggak. Kamu tahu sendiri, Sarah itu manipulatif. Kamu jangan percaya sama dia. Di keluarga kita, ga ada yang bermasalah. Waktu akan membuktikannya Arya. Yang terpenting, kamu kasih waktu buat Dinda. Jangan sibuk terus.”


“Gimana kalau seandainya terbukti Arya ga bisa kasih keturunan?”, kata Arya.


Beberapa waktu ini, dia melupakan masalah ini dalam dirinya. Salah satu pertimbangan yang membuatnya sulit menerima perjodohan waktu itu bersama Dinda. Selain memang dia sulit memberikan perasaannya saat itu, Arya juga tidak yakin bisa memberikan apa yang suatu saat Dinda inginkan. Seorang anak.


Mungkin sekarang dia masih tidak memikirkan itu karena dia masih muda. Tapi suatu saat dia pasti akan memikirkannya. Sekarang Arya sekali lagi merasa bodoh karena pria itu sudah meniduri Dinda tempo hari. Seharusnya dia tidak melakukannya.


“Jangan bilang kamu masih punya perasaan sama wanita itu?”, Inggit melanjutkan karena Arya sepertinya tidak menjawab.


“Bukan itu pertanyaan Arya.”


“Trus apa?”


“Arya cuma gak mau Dinda terluka.”


“Cintai dia. Dia ga akan pernah terluka kalau kamu memberikan seluruh hati kamu yang mama yakin sebagian atau bahkan lebih sudah kamu berikan.”


Arya menatap Inggit sebentar.


“Mama bisa merasakan. Kamu lebih peduli dengan Dinda sekarang. Interaksi kamu, jumlah kalimat yang kamu gunakan, semuanya bertambah. Mama yakin Arya, Dinda adalah pilihan yang terbaik. Yang perlu kamu lakukan, cuma lihat kesini.”, ujar Inggit sambil meletakkan telapak tangannya di dada Arya.

__ADS_1


Putra kecilnya yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Hatinya memang pernah dihancurkan oleh satu wanita. Tapi, Inggit yakin Dinda adalah penyembuh terbaik. Gadis itu seperti kertas putih. Masih sangat polos. Tidak tercemar oleh pergaulan mengerikan anak muda jaman sekarang.


__ADS_2