Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 127 Tim Building Bagian 2


__ADS_3

“Hai, Ci. Jam berapa sampai sini?”, tanya Delina pada Suci yang sudah masuk ke kamar hotelnya.


“Sekitar 30 menit yang lalu. Kamu sudah mandi? Andra dan Bryan langsung mau ngajak makan. Sampai malam, acara bebas kan? Besok baru mulai Tim Building.”, ajak Suci.


“Iya. Lucu, ya. Biasanya acara bebas di hari terakhir.”


“Kayanya karena kita sampai di waktu yang berbeda. Sayang waktunya terbuang. Dinda mana?”


“Dia sudah kabur duluan. Katanya sih ketemu temannya yang tinggal di Lombok. Jadi tadi di sudah pergi. Aneh deh, dia ga bawa apa - apa. Kaya buru - buru gitu.”, jelas Delina.


“Hm.. ya sudahlah. Kamu enak sekamar sama Dinda. Aku sekamar sama Mba Rina.”, Suci menunjukkan wajah kecewanya.


“Aah.. apa dia seburuk itu?”


“Hm. Tadinya aku kira hanya rumor saja. Tapi dia benar - benar jorok. Masa kaus kaki main di gantung - gantung aja di kamar mandi. Trus masih hari pertama, barangnya sudah berantakan. Ya ampun, aku bisa gila. Di luar sih penampilannya oke, normal. Tapi di dalam kamar hotel, aku sudah tidak bisa membedakan mana tong sampah mana kasur. Aku bisa stress.”, ujar Suci berkeluh kesah.


“Ya sudah, kamu tidur disini aja. Kasurnya kan muat buat bertiga.”, kata Delina menawarkan.


“Hah.. memang boleh?”, Suci tampak antusias.


“Iya.. gapapa, kok.”


“Wah.. thanks banget ya.. Del. Kamu memang terbaik. Yuk, kamu sudah siap, kan? Yang lain mengajak untuk bakar - bakaran di resto terkenal disini.”, ajak Suci.


******


“Erick, kamu tahu kabar tentang Gilbert. Dia sudah seminggu tidak masuk, eh apa dua minggu ya. Sejak pengumuman pak Arya naik jabatan.”, tutur Eko, salah satu Tim Leader di divisi Business and Partners.


“Seharusnya, kamu tanyakan pada pak Arya langsung, atau Tim Leader yang lain. Masa tanya padaku. Memikirkan divisi Digital and Development saja sudah membuatku pusing, apalagi urusan dapur kalian yang ekslusif dan besar itu.”, jawab Erick sambil memasukkan daging kepiting yang berhasil ia ambil ke dalam mulutnya.


“Kalau kami bisa bertanya pada Pak Arya, sudah kami tanyakan sejak tadi. Oiya, apa menurutmu dia benar - benar kembali pada mantan istrinya?”, sahut seorang lagi bernama James.


“Aku meragukannya.”, kata Ranti.


“Bukankah Bu Ranti yang paling getol membicarakannya tempo hari.”, tanya Eko.


Erick mulai tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Dia tidak punya orang lain yang bisa dia ajak keluar. Tadinya dia berharap bisa makan di luar dengan Arya. Ternyata pria itu malah menyimpan istrinya di dalam kamarnya.


“Aku sudah bertanya padanya, dan dia jawab tidak. Apa ada sumber lain yang bisa dipercaya selain orangnya?”, jawab Ranti.


“Yah.. bisa saja Pak Arya mengelak dulu.”


“Inilah bahayanya rumor. Orang yang mendengarkan dan membicarakannya tanpa bertanya pada sumber yang tepat sudah terlanjur mempercayai mentah - mentah rumor tersebut. Sehingga, meski orang bersangkutan mengatakan sebaliknya, kalian juga tidak percaya.”, kata Ranti menegaskan.


Suasana sedikit hening karena statement yang diberikan Ranti berbeda dari biasanya. Dia kira, ibu - ibu satu ini justru semakin bersemangat membicarakannya jika mereka memancingnya seperti itu. Ternyata malah sebaliknya.


“Sudahlah, sudah. Bukan urusan kita. Lebih baik kita membicarakan acara besok. Katanya banyak permainan seru. Susan, bukannya kamu satu tim dengan Pak Arya ya?”, kata Pak Susanto mencairkan suasana yang terlanjur tegang.


“Ya.. Sepertinya kami bisa menang karena Pak Arya ada di tim kami. Beliau dikenal sangat ahli untuk urusan laut. Kalian tahu tidak kalau pak Arya punya lisense melayarkan kapal kecil, loh. Dia juga punya lisensi menyelam. Untuk urusan besok, kami menyerahkan semuanya pada pak Arya. Kami juga sudah buat grupnya.”, kata Susan antusias.


Susan adalah salah satu Tim Leader di divisi Business and Partners. Dia pernah punya pengalaman satu tim bersama Arya saat awal - awal bekerja selama sekitar 6 bulan. Dia sangat cerdas dan visioner serta ambisius. Jadi, dia sangat nyaman satu tim dengan Arya tanpa pressure.


“Wah.. betapa senangnya yang lain karena kamu yang satu tim dengan Pak Arya. Yang lain pasti sudah tidak nyaman dengan dia.”


“Susan kan sejenis dengan Pak Arya. Sama - sama ambis.”, kata Eko.


“Kalau aku memang ambis. Tapi kalau Pak Arya, selama aku bekerja dengannya. Sepertinya dia belum pernah seambis diriku.”, terang Susan sambil mengeluarkan ekspresi seperti orang yang sedang berpikir.


“Tidak ambis saja dia bisa naik jabatan tiap tahun. Bagaimana jika dia ambis.”


“Asal kalian tahu, Arya sangat menjunjung tinggi yang namanya ‘Work-Life-Balance’.”, terang Susan lagi.


“Tapi dia pernah mengirimkan pesan padaku shubuh - shubuh.”, protes James.


“Itu pasti karena kamu mengirimkan dokumen yang harus dia tanda - tangani malam hari.”


“Benar juga sih.”

__ADS_1


“Huuuuuuu”, yang lain menyoraki James.


“Eh, Ci.. Andra.. Kalian makan disini juga?”, sapaan Erick mengalihkan sedikit perhatian para Tim Leader divisi Business and Partners pada rombongan Suci, Andra, Delina, dan Bryan.


“Malam Pak. Malam Bu”, Suci menyapa beberapa Tim Leader yang dia kenal.


Selama kurang lebih 6 bulan lamanya, Suci pernah menjalankan beberapa project di divisi Business and Partners. Sehingga, dia sudah tidak asing dengan para Tim Leader yang ada disana.


‘Eh.. kok ga ada Pak Arya? Dia tidak turun? Padahal aku sudah sengaja mengajukan tempat ini pada Andra dan Bryan karena aku yakin pak Arya akan memilih restoran ini.’, tanya Suci dalam hati.


“Mau gabung sekalian?”, ajak Erick pada yang lain.


Erick memang sangat ramah, dia bisa dengan mudah mengajak bawahannya untuk makan bersama. Sebaliknya, beberapa wajah para Tim Leader merasa kurang nyaman karena Erick mengajak mereka. Menyadari hal itu, Suci dan yang lain langsung menolaknya.


“Enggak, makasih Pak. Nanti kami mengganggu. Kebetulan kami sudah pesan seat juga. Kalau begitu kami duluan ya Pak.


“Oke kalau begitu. Enjoy, ya.. Sampai ketemu besok.”, balas Erick lagi.


“Suci bukannya kelompok kamu juga, Susan?”, tanya Eko.


“Wah.. kelompok kamu isinya agent semua. Suci, Pak Arya, kamu. Pantas kamu yakin menang.”


Mendengar penuturan itu, Susan langsung menunjukkan ekspresi sombongnya.


******


“Gilaaa… Pak Erick mainannya sekarang Tim Leader Business and Partners.”, Andra langsung mengeluarkan komentarnya begitu dudul di tempat yang sudah mereka pesan.


“Tatapan mereka tadi, seperti kita ini remah - remah roti saja.”, balas Bryan dengan nada kesal.


“Wuhh.. sang sultan tak ingin diremehkan, ya.”, ujar Delina sambil menepuk bahu Bryan.


“Mereka memang terkenal begitu. Jadi, maklumi saja. Tapi tadi tumben Pak Arya gak ada. Dia jalan sama siapa dong, ya. Apa dia stay di kamarnya? Kalian ada yang lihat ga?”


“Yaelah, Ci. Kalian kan satu tim. Besok waktu acara Tim Building dimulai, kalian juga bareng.”, kata Andra menanggapi.


“Sudah tobat mungkin orangnya.”, jawab Andra sekenanya.


“Atau mungkin dia sedang bersenang - senang dengan seorang wanita di kamarnya.”, kali ini Bryan memberikan tanggapan yang tentu saja menarik perhatian yang lain.


“Aah.. bisa jadi. Kabarnya, kamar Pak Arya itu beda dari yang lain. Tim Leader yang lain saja, kamarnya masih satu bangunan loh dengan kita, hanya beda lantai dan jenis ruangan saja. Tapi Pak Arya mengambil kamar yang berbeda bangunan.”, ujar Delina.


“Tahu darimana kamu?”, tanya Suci.


“Tadi aku gak sengaja mendengar omongan Siska ke Pak Arya saat memberikan kunci kamarnya.”


“Harusnya kita juga ajak Siska. Dia kemana sekarang? Kok, gak kelihatan juga?”, tanya Suci.


“Siska sedang berkumpul dengan panitia yang lain untuk mempersiapkan acara besok. Termasuk mas Azis.”, jawab Delina lagi.


“Kamu ga lihat atau dengar kamar mas Arya nomor berapa?”, tanya Suci.


“Hm.. berapa ya. Tadi sempat lihat di tag kuncinya. Aduh.. sebentar aku coba ingat - ingat dulu.”, kata Delina mencoba untuk mengingat - ingat berapa nomornya.


“Ayoo.. coba ingat - ingat!”, kata Suci menggebu - gebu. Dia bahkan tidak menghiraukan beberapa makanan yang baru datang.


Andra mengambil kesempatan emas dengan lebih dulu mencicipi makanan - makanan itu. Di sisi lain, Bryan bersikap seolah tidak tertarik dengan pembicaraan Delina dan Suci namun diam - diam memperhatikan.


“7? Iya.. sepertinya aku lihat angka 7 di depannya. Tapi angka di belakangnya aku lupa.”, tadinya Delina ingin terus berpikir, tetapi melihat makanan yang ada di depannya sudah terhidang, dia menyerah.


‘Angka di depan kan biasanya lantai, berarti lantai 7 ya? Hotel ini kan ada dua bangunan, berarti aku tinggal ke bangunan sebelah dan mencari lantai 7.’, kata Suci dalam hati seperti orang yang sedang menganalisa.


“Kenapa? Kamu mau menghampiri kamarnya?”, tanya Andra.


“Engga. Aku hanya iseng bertanya. Ya sudah, lanjut makan. Oiya, di sekitar sini ada Bar yang bagus, ga? Bagaimana kalau kita kesana setelah makan malam? Sekarang belum jam 8 malam. Kita kesana sebentar, ya? Ya? Aku traktir.”, ajak Suci pada yang lain.


Sebenarnya mereka sudah lelah dan ingin tidur. Tapi ajakan Suci menarik juga.

__ADS_1


******


“Uhm… Uhm…”, Dinda mengerjap - ngerjapkan matanya.


Gadis itu melihat ke sekeliling dan tersadar kalau dia masih di kamar Arya. Dinda juga merasakan pelukan pria itu melingkar di pinggangnya. Dinda menoleh ke arah nakas untuk mengambil ponsel dan melihat jam disana.


‘Sudah pukul 11 malam, sebaiknya aku kembali ke kamar sebelum yang lain mencariku.’, pikir Dinda.


Dinda berusaha memindahkan tangan Arya agar dia bisa bangun. Namun, pria itu justru terbangun karena tindakannya. Tadinya Dinda berniat untuk keluar kamar tanpa membangunkan Arya.


“Kamu mau kemana?”, tanya Arya dengan suara yang serak dan mata yang masih mengantuk.


“Mas, aku harus kembali ke kamar, nanti yang lain mencariku.”


“Udah, besok pagi saja kembalinya. Gak akan ada yang nanyain, tadi kan kamu juga sudah bilang pergi dengan teman.”


“Mas Arya.. bangun.. Aku harus kembali. Nanti kalau di rumah juga kan tidurnya bareng.”, kata Dinda hampir menyerah dengan pria yang masih terus menempel ini.


“Iyaa iyaa…”, jawab Arya kesal.


Meski masih mengantuk dan berat hati, dia akhirnya bangun dan mengambil kunci di kantongnya. Dinda juga bersiap - siap dengan pakaiannya.


“Besok, banyak sekali aktivitas berat. Kamu gak usah ikut, ya. Lihat saja. Lagian, kamu juga gak bisa berenang, kan.”


“Iya..aku cuma jadi tim hore, kok. Lagian, intern seperti aku juga ga bakal dilirik.”, kata Dinda.


Tentunya dia tidak lupa kalau sekarang dia sedang hamil. Dinda hanya akan melihat - lihat dan ikut berpartisipasi hanya untuk aktivitas ringan seperti tebak - tebakkan.


‘Tumben mas Arya mengkhawatirkan hal seperti ini.’ , tanya Dinda heran.


Cuppp..


Arya mencium kening Dinda, lalu pindah ke leher, dan bibirnya, sebelum gadis itu berlalu dari kamar Arya.


“Yakin ga mau aku antar? Aku antar aja ya.”, kata Arya.


“Ga usah.. Gapapa, kok. Tempo hari kan hotelnya memang hotel yang jarang sekali digunakan untuk liburan jadi memang keamanannya kurang. Hotel disini pasti ketat, jadi gapapa. Lagian aku cuma perlu ke lantai yang ada jalan penghubung ke gedung sebelah. Jadi, lebih cepat ga harus ke lobi. Udah masuk sana.”, kata Dinda pada Arya.


“Kalau sudah sampai kamar, WhatsApp ya.”, kata Arya.


“Iya..”


Arya tersenyum dan Dinda membalasnya, sebelum akhirnya dia berjalan menuju lift.


Di sisi lain sekitar 20 menit yang lalu.


“Ci, kamu mau kemana? Katanya mau menginap di kamarku?”, kata Delina pada Suci yang tidak menaiki lift bersamanya.


“Sebentar, aku mau ambil pakaianku dulu. Kamu duluan saja.”, balas Suci.


“Loh, bukannya bisa ambil satu lift saja ya, nanti berhenti di lantai 4 kamar kamu.”


“Udah.. duluan saja.”, jawab Suci.


Akhirnya Delina naik ke atas duluan sedangkan Suci mengambil lift yang lain karena dia ingin ke lantai yang ada penghubung ke gedung sebelah.


“Hm.. dimana ya… ternyata ada banyak kamar juga disini.”, ujar Suci berkeliling di lorong seberang lorong kamar Arya.


“Oh? Itu bukannya pak Arya?”, kata Suci segera bersembunyi di balik lift. Dia melihat Arya yang berada sedikit di luar pintu kamarnya seperti sedang menunggu seseorang keluar.


Suci mencoba memberanikan diri untuk mengintip kembali. Saat itulah dia melihat seorang wanita berhijab berada di depan Arya di luar kamar.


‘Itukan seperti wanita yang dulu aku lihat di hotel?’


Suci mencoba mengintip kembali tipis - tipis agar tidak ketahuan. Saat itulah Suci melihat Arya mencium wanita itu. Saat wanita itu hendak menghadap ke depan, Suci kembali menyembunyikan kepalanya dan berlari ke arah lorong yang satunya. Wanita itu pasti menuju lift, entah kenapa Suci tak ingin terlihat sebelum bisa memastikan siapa wanita itu.


Saat dirasa wanita itu sudah di depan lift. Suci mencoba mengintip lagi dari balik area seberang lorong.

__ADS_1


‘Dinda?’, kata Suci saat mengenali wanita yang dia lihat tadi. Suci semakin yakin karena begitu wanita itu masuk ke dalam lift,  bagian depan wajahnya terlihat dengan jelas.


__ADS_2