
“Heh? Dia suruh aku apa? Dia suruh aku minta maaf? Untuk apa? Tingkah keduanya membuat orang lain curiga. Setiap bertemu pasti mereka sedang bersama. Mana aku tahu kalau dia sudah menikah. Tapi apa benar pria itu adalah suaminya?”, Rianti bertanya - tanya pada dirinya sendiri di depan meja rias kamarnya.
Dia sudah beberapa hari tidak ke kantor dan mendelegasikan pekerjaannya pada sekretarisnya. Entah bagaimana beberapa karyawan di kantornya mengetahui insiden pelabrakan yang dia lakukan. Jika saja dia melabrak orang yang benar, mungkin dia tidak akan malu.
Tetapi karyawannya tahu kalau dia salah sasaran. Terakhir dia ke kantor, mereka membicarakan dirinya di belakangnya. Dia sangat malu tetapi tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan balik.
Andai saja dia bisa memecat karyawan sesukanya. Tapi semua tetap harus melewati approval papanya. Meski dia tahu siapa yang membicarakannya, dia tidak bisa dengan mudah memberikan mereka pelajaran.
Tok tok tok tok
“Mama…”, suara kecil memanggilnya dari luar kamar.
“Iya sayang..”, jawab Rianti.
Puteranya sudah berada di depan pintu permisi untuk masuk ke kamarnya.
“Kenapa sayang? Bukannya kamu masih ada libur satu hari lagi? Kenapa sudah bangun. Kamu bisa tidur lagi. Ini masih pagi.”, tutur Rianti yang menangkap dan mengangkat anaknya duduk di pangkuannya.
“Papa kemana? Kenapa selama aku liburan papa tidak ada di rumah?”, tanya Putera dengan wajah super polosnya.
“Oh.. papa sedang banyak pekerjaan di kantor. Jadi dia lembur. Dia juga melakukan perjalanan dinas selama beberapa hari.”, jawab Rianti berbohong.
“Hm.. aku kira papa tidak mau di rumah karena dia tidak menyukaiku.”, ujar Putera menundukkan kepalanya.
“Hah? Kenapa kamu bilang begitu. Bukannya kamu akrab sekali dengan papa. Justru mama yang bingung, apa kamu tidak sayang sama mama sampai nempel terus dengan papa kamu.”, ujar Rianti.
“Ada yang bilang padaku kalau papa bukan papaku.”, bak disambar petir, Rianti terkejut mendengar penuturan anaknya.
“Siapa yang bilang begitu? Siapa yang bilang ke kamu kalau kamu bukan anak papa? Kamu kenal orangnya? Siapa yang bilang begitu? Orang di rumah? Siapa, bilang Putera, siapa yang bilang begitu?”, Rianti langsung menurunkan anaknya dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
Rianti bahkan tanpa sadar sudah mencengkeram bahu anaknya.
“Mama… sakit… ma.. Mama membuatku takut.”, teriak Putera kemudian menangis.
Dia terkejut dengan perubahan sikap yang terjadi pada mamanya, begitu dia mengatakan kalimat tadi. Bocah 10 tahun ini tidak menyangka kalau ceritanya membuat mamanya histeris.
“Maaf… maafkan mama.. Mama hanya… kamu ingat siapa yang mengatakannya padamu? Bibi? Siapa yang bilang ke kamu?”, tanya Rianti tetap tidak sabar menunggu jawaban dari puteranya.
“Aku tidak kenal. Orang itu datang ke sekolah dan menemuiku lalu bilang kalau papa bukan papaku. Aku tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengannya.”, Putera menjelaskan sambil terus mengamati mamanya. Ada sedikit perasaan takut dalam dirinya.
‘Apa aku juga bukan anak mama? Kenapa mama bersikap seperti ini padaku.’, pikir Putera dalam hati. Namun dia tidak memperlihatkannya.
“Apa lagi yang dia katakan selain itu?”, tanya Rianti mencoba untuk tenang namun tidak bisa.
Seseorang sedang bermain - main dengannya.
“Dia hanya mengatakan itu dan pergi. Dia membelikanku permen tapi aku membuangnya. Papa bilang tidak boleh menerima barang apapun dari orang yang tidak dikenal.”, ujar Putera melanjutkan.
“Ya.. kamu pintar, kamu anak yang cerdas. Selain tidak boleh menerima barang dari orang yang tidak dikenal, seharusnya kamu juga tidak boleh mempercayai mereka. Siapa bilang papa kamu bukan papa kamu. Tentu saja mereka bohong. Papa hanya sedang sibuk sehingga tak bisa menemui kamu. Selama ini papa kan sayang sekali dengan kamu. Jadi kamu tidak boleh percaya pada kata - katanya.”, Rianti memberikan pengertian pada puteranya. Dia sudah bisa lebih tenang sekarang.
“Iya ma. Aku mengerti.”, ujar Putera hendak pergi keluar dari kamar mamanya.
“Tunggu sayang. Kamu masih ingat bagaimana ciri - cirinya? Apa dia laki - laki?”, tanya Rianti.
Ada satu ketakutan yang muncul padanya saat ini. Dia takut pria itu justru memilih menemui puteranya.
‘Tidak. Tidak mungkin. Dia tidak mungkin tahu kalau anakku adalah puteranya. Dia bahkan tidak mengetahui kalau aku hamil akibat ulahnya. Dia tidak boleh tahu. Bukan, pasti bukan dia.’, Rianti berusaha meyakinkan dirinya.
“Tidak ma. Dia bukan laki - laki tetapi perempuan. Aku sudah lupa bagaimana wajahnya. Dia memiliki rambut panjang. Karena dia terlalu tinggi untukku, aku tidak bisa melihat jelas. Apa dia orang jahat?”, tanya Putera berbalik melihat mamanya.
‘Syukurlah, berarti bukan pria itu.’, Rianti langsung bergumam dalam hati.
“Ma, apa dia orang jahat?”, tanya Putera lagi karena tak mendapatkan balasan dari mamanya.
“Iya, sudah pasti dia orang jahat. Kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Dia tidak tahu apa - apa. Mama akan menghubungi papa dan menanyakan kapan dia pulang supaya kamu bisa bermain dengannya.”, kata Rianti menghibur puteranya.
“Baik, ma.”
“Ya sudah, kamu main sama Bibi dulu, ya.”
Putera mengangguk dan keluar dari kamar dengan wajah lesu. Meski Rianti sudah menenangkan dan mengatakan papanya akan pulang, Putera tetap tidak bersemangat. Bukan sekali dua kali mamanya menjanjikan seperti itu tapi hasilnya tetap saja papanya tidak pulang.
************
Untuk pertama kalinya sejak masuk kantor, Ibas makan di luar bersama rekan - rekannya. Biasanya, dia tidak pernah makan di luar. Bekal yang disiapkan Bi Rumi atas instruksi mamanya tidak boleh dibawa dalam keadaan masih utuh pulang. Ya, meski sudah sebesar ini, Inggit selalu melihatnya sebagai anak kecil.
Berbeda dengan Dinda dan Arya. Dinda tidak segan membawa bekalnya saat rekan kantornya memutuskan untuk makan di luar. Dimana hal itu memang sering terjadi. Dinda biasanya akan memesan menu ala carte sebagai ekstra atau minuman tertentu yang dia suka.
Sedangkan Arya, tak satu dua kali dia overtime untuk meeting karena dia menangani 10 tim yang jadwalnya berbeda - beda. Dia terbiasa makan di ruangannya. Jika dia harus makan di luar, biasanya Arya akan menyerahkan makanannya pada Dinda untuk dimakan di mobil sebelum pulang.
Dan Arya juga sudah terbiasa dimarahi oleh mamanya. Dia sudah peka. Justru Inggit yang merasa bosan.
Pagi ini, Ibas tidak membawa bekal. Mamanya berangkat pagi sekali karena ada acara dengan tante Indah. Entah acara apalagi harus berangkat pagi - pagi.
“Mau makan di mana nih? Ada beberapa yang recommended dan biasa kita makan di mall ini. Kamu suka yang mana?”, tanya rekan Ibas padanya.
Mereka tahu ini kali pertama Ibas berhasil makan di luar di area perkantoran mereka. Tapi kali ini, mereka berusaha menepi sedikit ke mall di daerah situ yang juga berdekatan dengan area perkantoran Dinda dan Arya.
“Oh sorry - sorry… maaf saya lagi lihat ke belakang. Sekali lagi maaf.”
__ADS_1
Ibas lunch di luar bersama kelima rekan kantornya. Mereka berjalan beriringan dua dua orang. Ibas berada di tengah. Saat dirinya sedang seru bercerita pekerjaan kantor, tiba - tiba teman yang di depannya menabrak seseorang.
Kalau dilihat, keduanya sama - sama salah. Rekan Ibas sedang melihat ke belakang, sementara wanita yang dia tabrak sedang melihat ke samping dan bercerita. Keduanya sama - sama tidak menyadari keberadaan masing - masing.
“Delina?”, panggil Ibas pada wanita yang ditabrak oleh temannya.
Ibas dengan penuh percaya diri menyebut namanya. Padahal Dinda belum sempat memperkenalkan keduanya. Ibas mengenal Delina karena dia yang inisiatif minta berkenalan lebih dulu. Tapi tidak dengan Delina. Dia memasang wajah penuh keheranan karena ada pria yang tidak dia kenal memanggil namanya.
“Hm?”, respon Delina sudah bisa ditebak, tentu saja dia bingung.
“Kamu kenal, bas?”, rekannya lantas langsung bertanya - tanya apa dia mengenal wanita itu.
Delina saat itu sedang berbicara dengan Fas dan Suci. Mereka berangkat belakangan untuk makan siang sementara Andra dan Bryan sudah memesan terlebih dahulu dan menunggu di resto.
“Ah..”, Ibas langsung kebingungan, ternyata bukan percaya diri. Dia lupa kalau Dinda belum memperkenalkan Delina padanya sama sekali.
Ibas terlampau bersemangat karena bisa bertemu dengan Delina di tempat ini secara kebetulan. Bayangan di antara semua tempat, diantara semua jam, mereka bisa saling bertemu di titik ini. Siapa yang tidak antusias. Begitu kira - kira yang ada di pikiran Ibas.
“Aku mengenalmu? Maaf aku benar - benar tidak ingat.”, ujar Delina.
Saat Delina datang ke rumah sakit menjenguk Dinda, Ibas juga sedang menemani papanya dan menjalankan tugas untuk memesan makanan di luar. Jangankan bertemu, melihat dari jauh saja, Ibas tak sempat. Terima kasih untuk kakaknya dan Dinda yang tidak peka sama sekali.
Okay, lupakan Arya. Dia belum tahu kalau Ibas tertarik pada rekan kantor Dinda.
“Aku kakak iparnya Dinda. Kamu pasti kenal.”, ujar Ibas.
Daripada ‘Adik Ipar’, Ibas memilih untuk memperkenalkan dirinya sebagai kakak ipar. Kalau adik ipar, kesannya dia masih anak SD. Kalau kayak ipar, mungkin ada kesan lebih dewasa dalam dirinya yang dilihat oleh Delina. Itu bisa menjadi selling point dirinya. Hm.. kenapa jadi ke business begini, ya?
“Ah..Delina? Kayak Ipar? Berarti kamu…”
“Adiknya Pak Arya?”, belum lagi Delina menyelesaikan kalimatnya, Fas sudah menyambar entah dari mana.
Entah sejak kapan dia jadi bersemangat setiap membicarakan Pak Arya. Mungkin Kepala Divisi Business and Partners itu sudah menjadi Role Model terbarunya. Fas memang suka bergonta - ganti role model. Bukan sebagai seorang pria? Bukan ke arah hubungan pria dan wanita. Tapi role model dimana Fas senang meniru kebiasaannya dan menjadi seperti dia. Seperti kesuksesannya, karirnya, dan popularitas nya.
Sepertinya belakangan ini dia sudah berganti dari Manager di bagian Risk yang berangkat dari MA menjadi Pak Arya.
“Iya benar, adik Pak Arya.”, jawab Ibas.
‘Hahaha ember, dia memang Bapak - bapak. Sudah pantas dipanggil ‘Pak’, ujar Ibas merasa bahagia dalam hati karena kakaknya terkesan sudah tua.
“Ah.. kalau begitu, selamat melanjutkan makan siangnya.”, kata Delina yang bingung harus memberikan respon apa lagi.
Disamping itu, dia juga sudah sangat lapar. Namun, ekspresi wajah Ibas sedikit kecewa karena interaksi mereka terbilang singkat.
‘Kalau mas Arya di kondisi begini dia bagaimana, ya? Tidak mungkin kan aku ajak dia makan bersama? Ibas.. payah sekali kamu.’, kritik Ibas pada dirinya sendiri.
“Hm.. selamat makan siang.”, akhirnya Ibas hanya bisa mengucapkan hal itu saja.
Delina nampak hanya tersenyum saja dan sudah tidak mempermasalahkan hal itu.
Respon di teman - teman Delina
“Dia adiknya Pak Arya?”, tanya Fas langsung meledak - ledak begitu mereka sudah berada di jarak aman.
“Hm.. aku pernah sekilas bertemu dengannya saat dia mengantar Dinda ke kantor.”, jawab Delina.
“Wah.. ketampanan mereka genetik atau bagaimana. Adiknya Pak Arya boleh juga tuh, Del.”, kata Fas langsung berkomentar.
“Apaan sih kamu. Kalau suka ke cowok itu satu - satu. Yang sana iya, yang sini iya.”, kata Delina menasehati.
“Hah? Gak kebalik tuh yang ngomong. Harusnya aku yang ngomong seperti itu. Biasanya kamu yang sana oke sini oke.”, kata Fas tidak mau kalah.
“Bisa gak sih makan siang itu tenang dan damai. Kenapa harus berantem.”, protes Suci yang sedari tadi sudah tidak tahan dengan keduanya.
Kepalanya masih kesal kalau harus mendengar semua hal yang berhubungan dengan Pak Arya.
“Hello.. Kalau mau tenang dan damai mah di hutan aja. Sepi, ga ada orang.”, timpal Fas dan Delina bersamaan.
Kalimat ini sudah menjadi template mereka karena Suci sudah sering mengeluarkan komentar seperti itu.
“Hai Bryan. Sudah lama nunggunya?”, kata Fas yang langsung mengambil langkah dua kali lebih cepat sehingga bisa mengambil tempat duduk di samping Bryan.
“Tuh, See? Siapa yang kiri oke kanan oke? Dia.”, kata Delina mengarahkan omongannya pada Suci.
“Sudah pada pesan?”, tanya Suci tidak menghiraukan kata - kata Delina.
Gadis itu juga langsung duduk disamping Andra, karena hanya itu bangku yang kosong.
“Wah..ramai juga. Untung saja kalian berdua sudah mengambil tempat, kalau tidak kita tidak akan kebagian.”, komentar Suci langsung melihat sekeliling.
Seorang pramusaji mendatangi meja mereka dan meletakkan 3 buah menu lagi atas request dari Bryan. Bryan dan Andra sudah memilih menu dan tinggal menunggu pesanan datang.
“Hm.. makan apa ya? Kamu makan apa Bry?”, tanya Fas.
Namun, orang yang ditanya tidak bergeming.
“Bry, kamu makan apa?”, Fas sampai harus menyikutnya dengan bahu agar pria itu tidak melamun dan menjawab pertanyaanya.
“Hah? Iya kenapa?”, tanya Bryan nampak kebingungan.
__ADS_1
“Kamu ngelamunin apa sih? Fas sudah nanya daritadi. Kamu pesan menu apa?”, tanya Delina membantu.
Disaat - saat seperti ini dia tampak akur dengan Fas dan bersinergi saling membantu.
‘Bryan pasti melamunkan Dinda. Aku tahu, meski dia tidak pernah menunjukkannya, tapi kalau lihat dari sorot matanya ke Dinda, itu jelas berbeda.’, ujar Fas dalam hati.
“Oh, aku pesan menu yang ini. Sama beberapa ala carte untuk kita makan bareng - bareng.”, jawab Bryan menunjuk pesannya di menu yang sedang dilihat oleh Fas.
“Kalau begitu, aku pesan ini saja. Untuk minumnya, saya minta ekstra es batu boleh gak, mba?”, kata Suci memperjelas kembali pesanannya.
“Saya mau yang ini mba, untuk minumnya saya mau Kiwi Squash ini, tapi kalau bisa jangan asem ya mba, trus sama, saya boleh minta extra es batu juga gak? Oiya mba, untuk sausnya saya boleh diambilkan terpisah, ya. Terima kasih.”, selanjutnya Delina juga sudah mengatakan pesanannya.
“Wah.. kamu memang ratu ribet ya.. Banyak banget tambahannya.”, komentar Fas.
“Mba, saya mau yang ini ya. Sama minumnya es teh tawar aja. Oiya yang ini itu oily atau ada kuahnya ya mba?”, tanya Fas.
“Itu bisa pilih mba.”, jawab Pramusaji tersebut.
“Oke, kalau gitu saya pesan yang itu juga tapi porsi small aja ya mba. Terima kasih.”, lanjut Fas mengembalikan menu makanan di tangannya.
“Berasa ada yang kurang.”, akhirnya Andra yang sedari tadi hanya memainkan gamenya ikut berkomentar.
“Iya iya.. Andra, tahu kok apa yang kurang. Sekali - sekali. Sudah hampir 7 bulan ya? Eh udah berapa bulan sih kemaren Dinda bilang nikah sama Pak Arya? 7 apa 8 sih? Ya pokoknya itulah, tapi doi ga pernah loh makan siang bareng suaminya. Aku sampai heran, Dinda betah ya nyembunyiin statusnya. Kalau itu aku, mungkin udah sebar pamflet kali biar Pak Arya ga dikira Duda keren atau single lagi.”, kata Delina mengeluarkan komentar tipikal Delina.
“Hahaha… meski kamu itu gimana - gimana. Kali ini aku setuju dengan pendapat kamu. Kalau suaminya macam Pak Arya mah, banner dan billboard juga rela kali aku sewa buat nginfoin tu Duda sudah menjadi milikkuh.. “, komentar Fas tak kalah bersemangatnya daripada Delina.
Bukannya semakin terhibur, Andra semakin stress mendengarkan komentar keduanya. Bryan tertawa pilu dan Suci hanya bisa berusaha menenangkan dirinya.
“Udah Ci, sampai kapan mau ngejar Pak Arya terus. Manager tim sebelah masih banyak loh yang kualitas kelas atas.”, kata Delina sambil bercanda.
“Kamu aja. Aku tidak tertarik.”, kata Suci jutek.
“Atau kamu sama Pak Dika aja. Lumayan buat uji nyali. Kalau istrinya nyamperin, aku yakin kamu sangat tangguh untuk menghadapinya.”, ujar Delina melanjutkan.
Fas kemudian langsung tertawa.
“Eh.. doi sudah masuk loh hari ini. Dia gak minta maaf apa ya ke Dinda. Secara kan, istrinya sudah menyerang orang yang tidak bersalah. Ya kali Dinda selingkuh dengan orang macam Pak Dika kalau di rumah sudah punya Pak Arya.”, komentar Fas.
“Tapi, situasi kemarin memang patut dicurigai tahu. Beruntung Pak Arya bilang kalau Dinda itu istrinya. Kalau dia tidak mengatakannya atau kita gak tahu Dinda sudah menikah, mungkin kita juga mengira Dinda itu simpanan Pak Dika.”, komentar Suci.
“Hush.. giliran yang negatif - negatif aja kamu paling bersemangat bisa sekian paragraf.”, kata Delina.
“Sudah.. Jangan ngomongin orang yang sedang tidak ada disini lagi.”, kata Bryan mengingatkan.
“Tahu nih. Mau sudah nikah mau belum, tetap saja ciwi - ciwi ini komentarnya pedas.”, ujar Andra yang ikut nimbrung.
“Ohiya, inget gak waktu Pak Arya bawa kopi dan sekantong roti? Wah.. jangan - jangan ditandain kamu Del sama Pak Arya.”, ujar Andra kembali menyerang setelah vakum akibat patah hati.
“Enak aja.”
***********
“Mau dimana?”, tanya Arya pada Dinda begitu sampai di pintu masuk mall dari arah parkiran.
“Hm.. mas Arya kalau makan siang disini, biasanya prefer makan apa?”, Dinda malah bertanya kembali.
“Tadi kamu cari - cari sesuatu di dompet, bukannya cari - cari menu makanan?”, tanya Arya.
“Kok mas Arya bisa tahu?”, Dinda berhenti dan menoleh pada suaminya.
Bisa - bisanya dia tahu, padahal Dinda tidak mengatakannya sama sekali.
“Jadi, dimana restoran itu?”, Arya bertanya lagi.
Dinda langsung tersenyum lebar. Seolah keinginannya terkabul. Dinda menarik lengan Arya dan menuntunnya menuju restoran yang tadi dari kantor dia inginkan. Begitu sampai disana, Arya langsung diam dan berdiri di depan restoran itu lalu melirik ke arah istrinya.
“Jadi ini restoran yang kamu mau? Kamu mau makan siang, atau sebenarnya mau mengincar es krim?”, tanya Arya yang jelas - jelas melihat tempat es di depan restoran yang Dinda rekomendasikan.
“Hi-hi… mas Arya.. sudah dong restriction nya. Mas Arya tidak mengizinkan aku makan es krim sejak aku di rumah sakit. Mas Arya gak tahu kalau sebelum di rumah sakit, aku sudah lama tidak makan es krim.”, kata Dinda mengeluarkan ekspresi pamungkasnya untuk membujuk suaminya.
“Terakhir waktu di bandara, kan? Itu tidak lebih dari sebulan yang lalu Din. Belum lama.”, kata Arya si paling ingat.
“Hayoolah.. Hanya sedikit. Mas Arya masa tega, ini bukan aku aja loh yang minta tapi anaknya juga minta. Ya? Mas Arya tuh kalau baik tampannya luar biasa.”, entah apa yang dia katakan, Dinda tidak tahu lagi, yang penting dia bisa mendapatkan es krim.
“Yaa… mas Arya.. ya? Aku janji ga akan komplain soal AC. Hm.. aku janji gak akan komplain soal mas Arya tidak pakai atasan saat keluar dari kamar mandi. Trus aku juga ga ganggu mas Arya kalau lagi di ruang kerja. Hm.. satu lagi, aku juga akan submit proyeksi karir aku ke mas Arya. Aku atur jadwal presentasinya deh.”, Dinda tidak percaya dia membuka semua kartunya hanya demi es krim.
Entah mengapa dia inginnnn sekali es krim. Pokoknya sebisa mungkin harus dapat. Kemarin, dia sudah diam - diam mencari di kulkas. Biasanya mbak Andin menyimpan beberapa untuk Safa dan Samawa. Tapi malah langsung ketahuan mas Arya.
“Ah.. mas Arya pasti suka ini. Aku, gak akan komplain selama seminggu, kalau mas Arya cium. Terserah.. Hm? Ya? AKu sudah menjual diriku loh ke mas Arya kenapa masih belum dikabulkan?”, kata Dinda.
Meski dia mengatakannya dengan pelan, tapi pramusaji yang berada di dekat outlet es krim langsung melirik ke arahnya. Dinda persis seperti anak kecil yang merengek minta beli es krim.
“Fuh… kamu ngidam ya?”, bukannya mengizinkan, Arya malah masih terus bertanya.
“Arghhhh… bete sama mas Arya.”, kata Dinda masuk ke dalam restoran dan melewatkan outlet es krim tadi.
Dia sudah menyerahkan segalanya. Literally, segalanya. Tapi suaminya itu tidak juga memberikannya.
Arya hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang berjalan sambil menghentakkan kaki. Tidak kuat, tapi ketara menunjukkan kekesalannya.
__ADS_1
“Mba, rasa strawberry satu scoop ya. Di antar ke meja.”, ujar Arya pelan pada pramusaji penjaga outlet es krim yang masih satu usaha dengan resto tempat mereka akan makan siang.