Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 126 Penjelasan tentang Rumor


__ADS_3

Semilir angin malam sangat terasa terutama dari balkon hotel yang terbuka. Kamar hotel Arya terletak di lantai dan bagian bangunan yang berbeda dengan yang lainnya. Kamar hotel yang ditempati Dinda dan Delina tidak memiliki balkon.


Setelah menikmati makan malam, Dinda berjalan menuju balkon, tempat yang paling dia sukai. Arya mengikutinya dan memeluknya dari belakang.


“Mas Arya..”, panggil Dinda pelan karena orang tersebut sudah ada tepat di belakangnya.


“Hm?”


“Sewaktu mas Arya di Bangkok, selain insiden dengan para demonstran, apakah ada yang belum mas Arya ceritakan?”, tanya Dinda tiba - tiba kembali menanyakan tentang perjalanan bisnis Arya di Bangkok.


“Ada.”, jawaban Arya membuat Dinda terkejut dan berbalik badan.


Dia menatap pria itu, memegang wajahnya dan menanti terusan dari jawaban Arya.


“Aku gak mau kamu khawatir dan berpikir yang tidak - tidak, karena itu aku tidak mengatakannya. Tapi, kemarin di kantor ada yang membicarakannya dan aku merasa bersalah tidak menceritakannya lebih cepat ke kamu.”, jelas Arya.


“Din, Sarah sudah bukan siapa - siapa lagi di hidup aku dan aku ingin kamu percaya itu.”, lanjut Arya.


Arya menatap wajah Dinda lurus, lembut, dan penuh perhatian.


“Kamu, mau balikan sama istrimu?”, tanya Ranti pada Arya saat mengantarkan dokumen yang harus ditanda - tanganinya. 


Beliau sudah bekerja lebih dari 15 tahun di perusahaan ini. Sebelumnya, Arya adalah bawahannya yang merangkak naik melewati levelnya. Diantara semua ketua Tim, Ranti adalah orang yang paling dituakan. Arya menghormatinya, dan mungkin hanya dia yang berani berbicara tentang urusan pribadi dengan Arya. 


Mendengar pertanyaan Ranti, Arya menaikkan alisnya heran. 


“Aku mendengar rumor yang beredar jika kamu dan istrimu ada di project yang sama di Bangkok.” 


“Mantan istri. Ya, benar. Kami memang berada di project yang sama di Bangkok. Tapi bukan berarti aku kembali padanya. Hanya kebetulan.”, jawab Arya. 


“Rumornya jauh berbeda dari yang aku dengarkan. Seseorang bahkan melihatmu masuk ke kamar ‘mantan istrimu’. Kamu tidak sadar betapa liarnya rumor yang sudah beredar di kantor.” 


“Apa rumor itu sampai ke divisi yang lain juga?” 


“Kenapa? Kamu punya pacar di divisi lain?” 


“Jawab saja.” 


“Ya. hampir satu kantor. Kamu termasuk salah satu anak emas manajemen, mana mungkin ada yang sanggup melewatkan rumor tentang mu. Kalau kamu benar - benar punya seseorang di divisi lain, lebih baik kamu menjelaskan tentang ini.” 


“Apa maksud mas Arya ingin kembali pada Sarah?”, tanya Dinda ragu - ragu.


“Kembali? Siapa yang ingin kembali?”, Arya sekarang benar - benar heran.


“Mas Arya menghubungiku waktu masih di Bangkok. Mungkin mas Arya tidak sadar, tetapi sambungan teleponnya sudah masuk dan mas Arya malah berbicara dengan Sarah tentang kembali lagi bersama.”


Arya hanya bisa speechless.


“Bagaimana mungkin timingnya bisa seperti itu. Dan kamu tidak mendengarkan sampai akhir?”, tanya Arya memastikan.


Dinda menggeleng.


‘Apa karena itu dia tidak mau memberitahukan padamu tentang kehamilannya. ****. Bodoh sekali kamu Arya.’


“Sarah, aku ingin kembali lagi padamu. Baiklah, kita mulai lagi hubungan kita. Aku akan mengatur semuanya. Kamu hanya mendengar kalimat itu?”


Dinda mengangguk.


“Aku hanya mengatakan apa yang ingin dia dengar, lalu menegaskan kalau itu tidak akan pernah terjadi karena aku sudah punya kamu.”, jelas Arya.


Dinda menatap kembali Arya mencari - cari kebohongan di matanya tapi Dinda tak menemukannya.


“Din, aku dan Sarah sudah lama berakhir. I’m sorry for not saying this earlier. But, I love you. Buat apa lagi aku harus kembali pada masa lalu kalau sudah ada kamu di depanku.”, Arya memejamkan matanya sebentar karena dia merasa sedikit malu mengatakan kalimat yang terakhir.

__ADS_1


Dinda masih menatap Arya memperhatikan satu per satu perkataannya. Saat mendengarkan kalimat yang terakhir, Dinda memberanikan diri untuk lebih dulu mencium bibir pria itu. Tentu saja dia harus menjinjit untuk melakukan.


“Hm? Kamu tahu konsekuensinya kalau menciumku lebih dulu?”, kata Arya.


“Gak boleh.”


“Kenapa?”


Dinda menarik nafasnya pelan. Dia melalukannya beberapa kali sebelum memutuskan mengambil lengan Arya dan meletakkan telapak tangan pria itu di perutnya.


Arya menatap Dinda seolah penuh tanya atas tindakannya.


“Hm.. sepertinya kamu makan banyak.”, komentar Arya menggoda Dinda karena dia memang memesan banyak makanan hari ini.


“Bukan..”, balas Dinda dengan senyuman.


“Lalu?”


“Disini.. “, Dinda masih bingung untuk memilih kata - kata yang akan dikeluarkannya.


“Disini?”


Kring Kring Kring Kring


Dinda baru ingin melanjutkan kalimatnya, namun ponsel Arya berbunyi.


“Jadi, kamu mau ngomong apa?”, Arya tak menghiraukan ponsel itu dan meminta Dinda untuk melanjutkan kalimatnya.


“Angkat dulu teleponnya, takutnya penting.”


“Ga usah diangkat. Ga ada yang lebih penting dari kamu sekarang.”, jawab Arya.


Ting Tong Ting Tong.


“Siapa sih ganggu malam - malam begini. Katanya bebas hari ini, kenapa masih ada saja yang datang. Kamu tunggu disini sebentar. Pintu kamarnya aku tutup, ya.”, kata Arya.


Beruntung, kamarnya ada dua ruangan sehingga mudah bagi Arya untuk mempersilahkan jikalau ada orang yang berkunjung ke kamarnya meski ada Dinda di dalam.


“Ngapain sih kamu pake kesini?”, kata Arya dengan nada kesal.


Ternyata orang yang ada di depan pintunya adalah Erick.


“Tadi aku meneleponmu. AKu kira kamu sudah tidur. Kenapa tidak mengangkatnya?”


“Sudah kuduga, itu adalah telepon tidak penting.”


“Biasanya kamu sudah di club dan mabuk sekarang. Kenapa malah jadi mama boy di kamar?”, protes Erick pada Arya karena dia masih stay di dalam kamar hotelnya.


“Kamu saja. Aku sudah tidak tertarik.”, jawab Arya.


“Eh? Tumben. Benar kamu tidak tertarik. Ada klub bagus di sekitar sini.”


“I’m pass. Sudah sana, jangan menggangguku.”, kata Arya mengusir Erick ke luar.


“Pak Arya, jangan - jangan kamu?”, Erick curiga karena pintu kamar Arya tertutup. Pintu ke tempat tidur menggunakan pintu geser yang biasanya tidak akan ditutup oleh penghuni hotel jika tidak ada seseorang di dalamnya.


Jarang sekali orang yang menutup pintu kamar jika tidak ada sesuatu di dalamnya karena akan membuat ruangan terlihat sempit. Apalagi untuk orang yang menginap disana sendiri.


“Hm.. yang kamu pikirkan benar. Jadi, lebih baik jangan mengganggu.”, kata Arya lagi sambil mendorong Erick keluar.


“Wah.. semakin berani saja pak Arya ini.”, goda Erick.


“Aku bukan tidak berani, tapi tidak bisa karena regulasi. Mohon pak Erick membedakan.”, jeals.

__ADS_1


“Ya.. kalau hal ini diketahui yang lain, aku tidak bisa menebak berapa orang yang akan pingsan mendengarnya. Rahasia Pak Arya ini mahal, seharusnya pak Arya tidak memperlakukanku begitu.”


“Ya .. ya.. Katakan saja sana kalau kamu berani dan mau bawahanmu jadi bulan - bulanan orang kantor.”


“Ah… dia tahu kelemahanku. Baiklah.. Enjoy malamnya dan jangan sampai ketahuan.”, kata Erick berlalu keluar.


“Huft.. dasar mengganggu saja. Dia sudah menghabiskan waktuku.”, gerutu Arya kesal.


Arya sudah bersemangat kembali ke kamar tidurnya untuk menghampiri Dinda yang ada di balkon. Namun, begitu membuka pintu, dia menemukan gadis itu sudah tertidur di ranjangnya. Arya hanya bisa menghela nafas.


‘Tadi kan Dinda sudah mau bilang dia hamil. Dasar si Erick, mengganggu momen terbaik, saja.’


Arya ikut berbaring di samping Dinda dan menaikkan selimut ke atas tubuh gadis itu agar dia tidak kedinginan. Arya memelukknya dari belakang sambil mengelus - elus perut Dinda yang masih rata.


‘Aku masih tidak percaya jika di dalam sini ada anakku. Makasih ya sayang.’, kata Arya sambil mengecup leher belakang Dinda dan terlelap bersamanya.


******


EPILOGUE 


Beberapa hari setelah Arya pulang dari Bangkok sebelum perjalanan tim Building ke Lombok.


Dinda sedang berada di dalam kamar mandi memegang dua buah test pack hasil testnya waktu itu. Dia sedang mempertimbangkan apakah harus memberitahu Arya atau tidak.


“Din, kamu di dalam? Aku mau menggunakan kamar mandi”, Arya masuk ke kamar mandi secara tiba - tiba dan membuat Dinda terkejut.  Gadis itu melemparkan dua testpack ke arah belakang dan meluncur ke balik bathtub.


“Kamu ngapain?”, tanya Arya bingung karena Dinda tiba - tiba berpose kaku seperti orang berbaris di depannya.


“Oh? Engga, cuma mau cuci muka aja. Udah selesai, kok.”, karena terkejut, Dinda jadi mengarang indah alasannya.


“Yakin? Kayanya muka kamu masih kering, ga ada bekas air - airnya.”, tanya Arya.


“Ah.. sudah dilap pakai handuk.”, jawab Dinda.


“Mana handuknya? Kamu lagi menyembunyikan sesuatu?”, Arya hafal betul dengan kebiasaan Dinda.


“Engga.. Aku baru ingat, lupa belum cuci muka. Ya udah mas Arya duluan saja. Aku mau ke bawah dulu, mau bikin jus.”, kata Dinda pada Arya dan kabur keluar kamar karena pusing dengan interogasi suaminya.


“Aku bakal lama loh di kamar mandi. Butuh mikir.”, teriak Arya agar Dinda yang sudah di pintu kamar mendengar.


“Ya.. pake aja..”, balas Dinda juga setengah berteriak.


Arya masuk ke kamar mandi dan menghidupkan keran bathtub untuk mengisi airnya. Dia juga menyentuh air untuk mengecek suhu apakah sudah sesuai dengan yang dia inginkan.


“Bola sabunnya ada dimana, ya? Perasaan disini ada. Apa jatuh lagi ke belakang?”, Arya memeriksa bagian belakang bathtub.


Alih - alih mendapatkan bola sabun yang dia cari. Arya malah menemukan dua alat testpack yang tadi dilempar Dinda (Arya tak melihat bagian ini).


“Apaan nih?”, tanya Arya heran.


Tidak ada tulisan di alat test pack yang dibeli Dinda. Tulisan dan petunjuk berada di bungkusnya dan sudah di buang oleh Dinda. Ini adalah pertama kali Arya melihat barang ini karena sebelumnya saat bersama Sarah, wanita itu tidak pernah mempergunakannya.


“Apa ini alat pengukur ph yang ada di pelajaran biologi dulu? Kenapa bisa ada disini? Ah sudahlah, aku mau mandi.”, Arya tidak menghiraukan alat itu dan menaruhnya di lemari.


“Ah.. ternyata disini bola sabunnya.”, akhirnya pria itu menemukan yang dia cari dan mulai berendam di dalam bathtub.


Sudah menjadi kebiasaan Arya saat dia banyak pikiran atau masalah di kantor, dia akan berenda di bathtub untuk memikirkan solusi yang tepat. Termasuk drama yang dibuat oleh pak Gilbert.


Pria itu menghilang begitu saja dan tidak pernah datang ke kantor sejak pengumuman Arya sebagai ketua Divisi untuk seluruh tim Business and Partners yang berjumlah 10 tim. Padahal, pria itu sedang menangani 3 proyek penting, dan semuanya malah diserahkan pada anggotanya yang belum berpengalaman.


Proyek di Bangkok adalah salah satunya namun itu adalah cerita lama. Gilbert tak bisa menangani proyek di Bangkok pada saat inisiasi. Mengingat nilai proyek yang sangat besar, manajemen meminta Arya untuk turun tangan langsung karena jika tidak proyek bisa molor.


‘Apa dia kesal karena itu?’, pikir Arya.

__ADS_1


__ADS_2