Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 71 Dinner Berdua


__ADS_3

“Din, seru kan filmnya?”, kata Ibas setengah berteriak karena volume musik di menit - menit terakhir film masih terdengar keras.


“Seru dari mana, serem tahu?”, balas Dinda. Dia tahu ini film horor, tetapi dia tidak menyangka akan semenyeramkan ini. Sepanjang film, dia hanya mampu menutup wajahnya, menutup telinganya dengan tangan, dan berharap film ini segera usai.


“Kamu harus ajak mas Arya nonton film serem kaya gini.”, usul Dimas.


“Mas Arya takut hantu?”, tanya Dinda berharap memang seperti itu. Dia berpikir, lucu sekali kalau bisa melihat seorang Arya Pradana yang menyeramkan bisa takut juga.


“Muka dia kalo nonton film horor datar. Saking ga relate sama dia. Aku pernah ngajak dia nonton horor. Setelahnya aku menyesal. Dia mah ga ada seru - serunya diajak nonton.”, kata Ibas.


“Terus, kenapa kamu minta aku ngajak dia nonton horor?”


“Ya.. biar kamu bisa ngerasain sensasi ngajak dia. Kali aja kalo kamu yang ngajak bisa beda.”, ujar Ibas.


“Kalau ngajak mas Arya harus film yang romantis, lah.”, kata Dinda spontan.


Dia benar - benar tidak sadar apa yang sudah dia katakan. Dia baru sadar setelah Ibas menunjukkan ekspresi kagetnya.


“Wah, Din? Kamu ternyata gak sepolos itu ya?”, ujar Ibas.


“Engga… maksud aku.. Emm.. bukan.. Kamu salah mengerti.”, Dinda akhirnya lelah berusaha mengklarifikasi pernyataannya tadi.


Dinda jadi teringat tentang ajakan Arya untuk nonton film bersama. Dia jadi bingung memikirkan film jenis apa sebenarnya yang Arya suka. Kemarin dia bilang action.


‘Apa aku harus cari drakor yang action, ya? Tapi apa ya?’, kata Dinda dalam hati.


“Kita beli minum dulu sambil tunggu mas Arya, ya.”, ajak Ibas.


“Mas Arya? Memang dia mau kesini?”


“Ya ampun, aku lupa bilang ya? Mas Arya mau ngajakin kamu makan malam. Katanya dia akan jemput setelah kita selesai nonton.”, kata Ibas.


“Mas Arya gak bilang apa - apa tadi.”


“Ya.. kan ini aku bilang.”, kata Ibas menarik tangan Dinda untuk menuruni tangga bioskop. Mereka mengambil bangku paling atas dan tengah, agar bisa menyaksikan film dengan puas.


Tiba - tiba seseorang berhenti di depan Ibas. Sebenarnya orang tersebut sudah melihat Ibas dari kejauhan di tangga bangku baris ke-empat dari bawah. Namun, karena lampu masih remang - remang, dia hanya bisa mengira - ngira sebelum akhirnya bisa memastikan bahwa yang ia lihat adalah benar ibas.


“Ibas, baru sebulan kita putus, kamu sudah punya gandengan baru saja.”, ungkap seorang gadis yang sepertinya juga masih seumuran Dinda dan Ibas. Pakaiannya lumayan terbuka. Dia hanya mengenakan tanktop yang memperlihatkan perutnya, sebuah celana jeans pendek, dan outer kemeja.


Ibas terkejut. Tak disangka dunia yang begitu luas ini malah mempertemukan mereka di bioskop yang kecil ini.


Alih - alih meladeni, Ibas langsung menarik Dinda untuk meninggalkan gadis itu.


“Ibas, gapapa itu cewenya ditinggal gitu aja?”, ujar Dinda.


“Udah putus, sudah bukan pacar aku lagi. Yuk, kita keluar.”, Dinda melihat ada raut marah dari wajah Ibas. Dinda mungkin tidak menyadari, tapi disebelah gadis itu tadi, ada seorang pria yang berdiri.


Ibas tahu kalau pria itu adalah pria yang sama yang ia pergoki selingkuh dengan pacarnya saat dia sedang mengurus administrasi kelulusan kampus.


Dinda jadi merasa kasihan. Meskipun dia tidak pernah mengalaminya, karena Dinda tidak pernah berpacaran sebelumnya, tapi dia pernah berada di situasi yang serupa. Baru beberapa minggu ini saja.


Rasanya sakit melihat seseorang yang bersama kita ternyata memiliki hubungan dengan orang lain. Apalagi di situasi seperti Ibas, perempuan itu adalah mantan pacarnya.


“Ibas, kamu pasti akan bertemu perempuann yang lebih baik nanti.”, kata Dinda tiba - tiba saat Ibas sedang memesan minuman.


“Kenapa? Lo kasian sama gue?”, kata Ibas menoleh. Mereka sudah membayar minuman, tinggal menunggu minuman mereka selesai dikemas.


“Sedikit.”, kata Dinda sambil menunjukkannya dengan gestur tangannya dan tersenyum untuk mencairkan suasana.


“Hahaha… mas Arya sudah berbuat apa sih sampai bisa ketemu cewek sebaik, lo?”, kata Ibas.


“Hm? Kok malah arah bicaranya kesana?”, Dinda bingung mendengar penuturan Ibas.


“Papa sama mama sayang banget sama lo, Din. Kak Andin yang juteknya setengah mati aja bisa ramah sama lo. Tante Meri yang suka gosipin orang bisa royal banget sama kalian berdua. Dan gue juga nyaman ngobrol sama lo. Pokoknya, apapun angin yang datang, gue harus bikin mas Arya pertahanin lo. Meski gue harus berperang sekalipun.”, kata Ibas yang sudah menambahkan banyak sekali hiperbola di bagian akhir kalimatnya.


“Ihhh geli deh dengar lo ngomong begitu.”


“Andai mas Arya ketemunya sama lo duluan, bukan penyihir itu.”, lanjut Ibas.


“Hush, baik - baik ngomongnya. Gak boleh bilang begitu. ”


“Emang dia penyihir. Gak tahu ya, ramuan apa yang sudah dia kasih ke mas Arya. Tapi tenang, sekarang sudah ada peri Dinda yang siap menawar racun - racun di tubuh mas Arya.”


“Ih.. makin lama makin geli bicara dengan kamu. Lagian aku kan bukan tipenya mas Arya.”, balas Dinda.


"Siapa yang bilang?", tanya Ibas.


Dinda tidak menjawab.

__ADS_1


"Mas Arya, yang bilang?", tanya Ibas lagi.


"Engga, temannya. Waktu itu sempat bertemu di Maldives."


"Ya udah. Kalo bukan mas Arya yang ngomong, berarti itu gak benar.", jawab Ibas lugas.


“By the way, kamu udah pernah belum sih, bertemu dengan mantan istrinya, mas Arya?”, tanya Ibas datar.


Dinda hanya menggeleng dan menjawab, “Tidak dan tidak pernah mau bertemu.”


Dinda memang belum pernah sama sekali bertemu Sarah. Dia baru melihatnya dari foto. Sebelumnya, ia pernah melihat seseorang mirip foto itu di parkiran apartemen Arya, tapi entahlah dia tidak yakin apakah yang dia lihat itu benar Sarah, atau bukan.


“Lebih baik jangan. Dia itu orangnya manipulatif. Mas Arya aja bisa melawan papa dan mama karena dia.”, kata Ibas seolah memberikan peringatan pada Dinda.


“Udah ah. Ga usah membicarakan orang yang tidak ada disini.”, Dinda tak ingin lagi membicarakan wanita itu karena hanya akan membuatnya mengingat pengalaman tidak menyenangkan beberapa pekan lalu.


“Iya.. iya.. Lebih bagus ngomongin tentang aku aja ya? Yang baik hati, supel, ramah…”, cerocos Ibas tanpa berhenti.


“Lebay kamu.”, pungkas Dinda.


“Hm… tapi bikin nyaman, kan? Hati - hati lo… nanti malah lebih nyaman sama gue dibanding mas Arya.”


“Gak mungkin lah.”, jawab Dinda yang sontak membuat Ibas memicingkan matanya bersiap menggoda Dinda lagi.


“Ohhh jadi mas Arya sudah bikin lo lebih nyaman sekarang. Udah diapain aja, sama mas Arya? Unboxing udah dong, pastinya.”, kata Ibas yang langsung mendapat pukulan dari Dinda.


“Apa - apaan sih kamu. Udah anak kecil dilarang membicarakan hal dewasa.”


“Ih.. kita seumuran kali… bedanya kamu udah lulus, aku belom.”


“Nah itu, kalo belom lulus, belum boleh membicarakan hal yang bersifat dewasa.”, kata Dinda.


Kring kring kring. Ponsel Dinda berbunyi. Telepon dari ‘Abang Ojol (Arya)’.


“Abang ojol telpon tuuuh..”, goda Ibas lagi.


“Halo mas Arya.”, jawab Dinda.


“Sudah selesai nontonnya? Sekarang dimana?”, kata suara bariton Arya dari seberang sana.


“Iya udah mas, lagi minum boba dulu di lantai 4.”


“I-iya sih. Tapi kita mau kemana?”


“Sudah turun dulu aja. Tinggalin aja si Ibas disana.”,


“Mas Arya… mas?”, tanpa ba bi bu, Arya sudah menutup ponselnya.


“Mas Arya beneran ngajak aku dinner?”, tanya Dinda pada Ibas.


Ibas hanya membalas dengan menggerakkan bahunya pertanda tidak tahu.


“Tadi sih dia bilang begitu. Gak tahu kali abis itu diajak ke hotel. Cieee.”, kata Ibas. Godaannya masih belum berhenti. Bocah satu ini sepertinya harus dikasih pelajaran, pikir Dinda.


“10 menit lagi katanya mas Arya sampai lobi. Kamu gapapa aku tinggal disini?”, tanya Dinda.


“Yaelah, gue juga bukan anak kecil, kali. Gapapa. Turun aja. Udah ga sabar kan mau… hmmm… sama mas Arya.”, godaan Ibas semakin menjadi - jadi saja.


“Kamu apa - apaan sih. Yaudah, hati - hati pulangnya, ya. Thanks, Ibas. Ketemu di rumah.”, kata Dinda segera beranjak dari duduknya menuju lift untuk turun ke lobi bawah mall.


*****


“Kamu udah di lobi? Saya udah mau sampai lobi.”, kata Arya melalui panggilan teleponnya.


“Udah mas.”


“Oke, saya udah lihat kamu, mobil ketiga ya, lihat platnya dulu, jangan asal masuk.”


“Iya.”, jawab Dinda kemudian berjalan menuju mobil ketiga yang ia lihat. Kebetulan saat itu warna dan tipe mobil terlihat sama saja. Dinda memperhatikan platnya dan menemukan mobil Arya.


Arya juga sudah menurunkan kaca mobilnya agar Dinda bisa melihatnya. Dinda langsung berjalan menuju mobil Arya, membuka pintu, dan masuk.


“Pake seatbeltnya.”, perintah Arya.


Arya langsung melajukan mobilnya begitu Dinda selesai memasang seatbelt. Ia keluar menuju jalan raya dan ke arah jalan yang semakin menjauhi arah rumah mereka.


“Kita mau kemana, mas?”, tanya Dinda penasaran.


“Lihat aja, nanti kamu juga tahu. Yang jelas kita pergi makan, tapi tempatnya sedikit jauh. Kamu bisa tidur dulu kalau kamu lelah.”, kata Arya.

__ADS_1


“Hm? Berapa lama sampainya?”, tanya Dinda lagi. Dia ingin tahu karena sepertinya dia memang mengantuk.


“1 jam sampai 1 setengah jam. Kamu tidur dulu saja. Pasti capek meladeni Ibas seharian. Dia memang tipe yang melelahkan.”, ujar Arya membicarakan adik laki - lakinya.


Dinda tersenyum.


“Kalian nonton film apa?”, tanya Arya. Dia mempersilahkan Dinda untuk tidur, tetapi malah terus bertanya.


“Film horor Indonesia.”


“Hm, sudah saya duga. Dia memang maniak film horor. Padahal aslinya penakut.”, kata Arya sambil fokus ke depan jalan.


“Saya juga baru tahu kalau Ibas suka film horor.”, kata Dinda.


“Kamu bukan tipe yang parno setelah nonton film horor kan?”, kata Arya sambil mengalihkan pandangannya sebentar pada Dinda.


“Oh? Hm..”, dugaan yang tepat sekali dari seorang Arya Pradana.


Dinda memang tipikal yang bisa parno berlebihan setelah menonton film hantu. Makanya, dia tidak pernah menonton film itu. Tapi, Ibas sudah mengajaknya dan bahkan mendapatkan kursi di premier yang pasti sulit. Dia tidak enak menolaknya.


“Ahh… bener ya? Jangan bilang kamu jadi takut ke kamar mandi cuma karena nonton film horor?”, kata Arya lagi.


“Hm.. eng-engga kok.. Siapa bilang? Engga.”, Dinda merasa malu untuk mengakuinya. Lagipula kamar mandi kan ada di dalam kamar mereka, jadi Dinda berpikir dia tidak akan mudah parno dan takut.


“Tuh, kamu jadi gagap gitu.”


“Engga, kok. Saya mau tidur aja. Tiba - tiba mengantuk.”, kata Dinda berusaha melarikan diri dari situasi.


‘Bodo ah. Perkara takut, nanti saja lah dipikirkan.’, batin Dinda dalam hati.


Satu setengah jam kemudian, mereka berhasil sampai ke tempat tujuan yang dimaksud Arya. Ternyata Arya membawa Dinda ke restoran pinggir laut dimana semua seafood yang disajikan sudah pasti segar karena baru ditangkap dari laut.


Dinda tidak menyangka kalau ada tempat seperti ini di kota yang dia tinggali. Meski jaraknya lumayan, tapi semua terbayar saat melihat deretan tempat makan seafood.


“Sebenarnya, tempat langganan papa memang enak. Tapi, yang disini lebih enak lagi. Kita juga bisa punya private room untuk makan. Kamu bisa pilih dengan cara melihat langsung seafood yang kamu inginkan. Jadi, kamu bisa tahu dia benar - benar masih fresh atau tidak.”, kata Arya menjelaskan sambil menunjuk - nunjuk beberapa tempat.


“Disini resto menawarkan paket atau ala carte. Biasanya saya memesan yang paket karena lebih puas dan bisa memilih. Kamu mau paket yang ini?”, Arya menunjuk paket seafood seharga 800.000 dimana di dalamnya sudah termasuk beberapa pilihan kepiting, kerang, cumi, dan udang serta ikan. Ada juga beberapa sayuran yang ditambahkan dan 3 pilihan saus berbeda.”


“Wah.. mas Arya yakin bisa menghabiskan ini semua?”, tanya Dinda. Wajahnya sangat antusias begitu masuk ke restoran ini karena tata letaknya yang lebih rapi, susunan seafood segar yang menggugah selera serta format pemesanan. Bahkan ada paket grilling juga seperti yang ditunjukkan Arya barusan.


Arya hanya tersenyum.


“Mba, kita mau di ruang yang privat, ya.”, ujar Arya setelah membayar paketnya di meja kasir.


“Baik, boleh ikuti saya ya Pak. Mari, mba.”, balas pramusaji yang satunya mengarahkan Arya dan Dinda.


Mereka sampai di sebuah bilik di ujung restoran. Didalamnya terdapat satu buah meja panjang lengkap dengan alat grill dan rebus kemudian 4 buah kursi. Dinda mengambil duduk di sebelah kanan pintu dan Arya di hadapannya.


Tak berapa lama beberapa pramusaji yang lain datang membawa pesanan mereka. Dinda tak henti - hentinya membuka mulutnya karena terpukau dengan apa yang dia lihat saat ini. Dinda mengambil ponselnya.


Dia memberikan sinyal pada Arya seolah bertanya apakah dia boleh memotret apa yang ada di hadapannya sekarang dan Arya mengangguk. Dinda tak hanya memotret tetapi juga membuat beberapa video.


“Kamu juga bisa post di sosial media jika kamu mau.”, kata Arya begitu semua pramusaji selesai mengantarkan pesanan mereka.


“Tidak. Nanti banyak yang tanya. Saya hanya akan beritahu pada sahabat saya kalau kami kebetulan liburan atau bertemu lagi.”, jawab Dinda menggeleng.


Di hadapannya, ada 4 buah kepiting, beberapa buah cumi dan segepok udang serta kerang. Ada dua jenis ikan yang siap dibakar. Setengahnya seafood akan mereka rebus ke dalam kuali yang sudah tersedia dengan pilihan saus pedas. Sedangkan sisanya, Arya sudah meletakkannya di atas tempat grilling.


“Wahh..suara gemericiknya.”, Dinda tak henti - hentinya antusias dengan apa yang dia lihat saat ini.


Arya tersenyum karena merasa berhasil mempromosikan restoran rekomendasinya. Selanjutnya, mereka makan dengan tenang sambil sesekali tertawa karena bagian cumi yang dibakar ada yang gosong.


“Mas Arya benar, kalau sudah lihat seafood sebanyak ini, bawaannya jadi lapar terus.”, ungkap Dinda.


Dia sedang memegangi perutnya yang kekenyangan. Mulutnya juga menahan pedas karena ternyata bumbu sambal yang mereka pilih full cabe merah.


“Mas Arya tahu darimana ada tempat seperti ini?”, tanya Dinda.


“Dulu sering kesini bareng Ibas dan Fam.”


“Ooh. hidden gem.”, pungkas Dinda.


Komunikasi mereka mulai membaik berkat Pillow Talk yang mereka lakukan sebelum tidur. Meskipun tidak terlalu istimewa, beberapa obrolan kecil bisa membuat suasana menjadi mencari. Dinda juga tidak terlihat terpaksa saat bersamanya.


Arya melajukan mobilnya pulang. Jalanan lancar dan hanya butuh waktu 1 jam lebih sedikit untuk sampai kembali ke rumah. Ia melihat ke samping dan mendapati Dinda sudah tertidur pulas.


Tak lama, Bi Rumi terlihat muncul membukakan pintu. Arya yang sudah menghubunginya sekitar 15 menit yang lalu. Tak ada tanda - tanda Dinda akan bangun dari tidurnya. Sepertinya dia sangat lelah.


Arya kemudian berinisiatif untuk mengangkatnya. Menariknya, Dinda benar - benar tidak sadar. Dia masih nyaman di alam mimpinya bahkan sampai Arya sudah menurunkannya di kasur. Arya membuka hijab dan sepatu Dinda agar gadis itu merasa lebih nyaman.

__ADS_1


Setelah memastikan Dinda mendapatkan selimutnya, Arya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Malam semakin larut saat dia memeriksa beberapa email di laptopnya. Kantuk yang mulai menyerang, membuat Arya memutuskan untuk tidur.


__ADS_2