
Hari itu waktu berlalu sangat cepat. Mungkin karena semua orang sibuk berpindah dari urusan yang satu dengan yang lainnya. Meski begitu, pesta belum usai. Setelah akad nikah, semua pria menunaikan shalat Jum’at di masjid terdekat.
Ada sekitar 30 orang lebih. Semua beragam mulai dari yang dewasa, remaja, hingga anak - anak. Paling banyak berasal dari keluarga Inggit yang memang memiliki banyak saudara. Mereka masing - masing sudah berkeluarga. Ada yang punya anak 2, 3, dan paling banyak 4 orang dari anak paling tengah.
Meskipun banyak anggota keluarga dari sisi Inggit, namun yang paling dekat dengan keluarga Arya mayoritas adalah dari sisi ayahnya, Kuswan. Hal ini karena mereka tinggal di kota yang sama. Misalnya saja tante Meri dan tante Indah.
Selesai shalat Jum’at semuanya mengisi perut sebelum akhirnya berjibaku lagi dalam obrolan masing - masing. Arya? Dia belum masuk ke kamar lagi sejak pulang dari Masjid. Dia ikut nimbrung dalam obrolan Edo, Dito, dan saudara laki - laki lain yang hampir sebayanya.
Mereka membicarakan karir, sekolah, dan kehidupan pribadi. Tak jarang obrolan mereka diselingi dengan sedikit lelucon nakal.
“Mas Arya, disini mulu dari tadi. Nggak nyamperin istri mas tuh?”, sela Dito saat semua seperti sudah kehabisan bahan omongan. Sebelum dia ditanya masalah pribadinya, Dito berinisiatif untuk melemparkan bola panas duluan ke forum.
“Ngapain sih buru - buru. Masih ada nanti malam.”, sahut Arya santai sambil meneguk sebuah minuman dingin yang merupakan campuran sirup, buah, dan selasih itu.
“Mantan kamu apa kabar Dit? Katanya nyalon jadi Miss Indonesia ya. Nyesel gak tuh?”, kata Arya membalas serangan Dito yang menurutnya tidak ada apa - apanya.
‘Sial’, pungkas Dito dalam hati. Dahi Dito berkenyit, meskipun kesal tidak bisa meledek sepupunya itu, Dito tetap tersenyum. Walau pahit. Dito ingin menimpali lagi, sebelum akhirnya Inggit memanggil Arya untuk masuk.
Tak terasa sudah hampir berjam - jam mereka bercengkrama. Mulai dari selepas shalat Jum’at tadi, mereka lanjut menyantap makan siang yang sudah disediakan. Alih - alih menyantap makanan yang sudah disiapkan di kamarnya, Arya malah ikut nimbrung bersama.
Waktu berlalu begitu cepat. Resepsi yang rencananya akan dilaksanakan selepas Isya akan segera dimulai. Inggit meminta Arya untuk segera bergegas.
Kerabat yang lain juga diminta untuk berkumpul di taman. Acara malam akan mereka habiskan dengan melihat cuplikan foto - foto masa kecil Arya dan Dinda, kemudian dilanjutkan dengan sedikit prosesi pemotongan kue dan saling menyuapi, lalu karaoke bareng keluarga.
Untuk acara terakhir adalah acara wajib yang selalu dilakukan saat arisan keluarga. Jadi, untuk acara resepsi pun mereka tak rela ketinggalan momen satu ini. Sudah banyak yang masuk dalam antrian. Sepertinya karaoke akan berlangsung sampai Subuh jika Inggit tidak segera membatasi jumlah penyumbang suara.
Arya memasuki kamarnya setelah diberi tahu bahwa pakaian yang akan ia kenakan di resepsi sudah disiapkan disana. Inggit sudah meminta Fams mengambil tetapi anak itu tidak mau karena sedang asik bersiap dan latihan untuk karaoke nanti.
Sebelum pintu terbuka penuh, Arya kembali menutupnya dengan cepat. Ternyata di dalam sedang ada Dinda bersama tim make-up dan outfit yang sedang membantunya untuk mengenakan korset. Alhasil Arya sedikit terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya dan dengan cepat berbalik.
Arya merutuki dirinya sendiri. Bukan karena ia melihat pemandangan yang membuat Dinda malu, tetapi menyesal karena Arya secara refleks memperlihatkan keterkejutannya.
‘Come on. I have been through this and this is not the first time I got married.’
Sebelum Arya kembali membuka pintu, tim make-up yang ada di dalam sudah lebih dulu mempersilahkan Arya masuk. Sehingga, sudah terlambat baginya untuk menunjukkan muka cool-nya.
“Silahkan mas Arya, bajunya ada di sofa, tinggal dipakai saja, nanti kita bantu rias sedikit supaya penampilannya lebih segar, ya.”, tutur seorang perias wanita yang mengarahkan Arya untuk masuk dan bergerak ke arah sofa mengambil baju yang akan ia kenakan.
Sementara itu, Dinda diam dan patuh dirias oleh para penata rias. Malam ini, Dinda akan mengenakan kebaya simple yang sebenarnya lebih cocok disebut dress. Riasannya juga lebih natural dan soft dibandingkan dengan yang tadi. Dari jauh, Arya sedikit melirik ke arah Dinda yang sepertinya terlihat lelah karena beberapa kali ia nampak tertidur saat dirias.
__ADS_1
Inggit meminta proses rias dilakukan di kamar Arya karena kamar - kamar yang dibawah akan digunakan oleh para sepupu yang menidurkan balita - balita mereka.
Tak butuh waktu lama, Arya selesai dengan riasannya. Hanya sedikit pelembab dan spray yang membuat wajahnya lebih glowing dan segar. Ia bergerak ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Melihat Arya yang segera bergerak ke kamar mandi membuat Dinda tersentak kaget. Ia ingin berteriak memanggil mas Arya tetapi bibirnya tercekat. Kecanggungan mengalahkan rasa malunya.
*‘Bagaimana ini, tadi sewaktu ganti baju, aku lupa taruh baju kotornya. Abisnya bingung mau taruh dimana.’ *
Disisi lain, Arya yang sudah berada di dalam kamar mandi tak kuasa membendung kekesalannya. Dia bisa melihat setumpukan baju di atas wastafel.
"Apa yang dia lakukan dengan kamar mandiku?", kata Arya geram.
"Ini apa lagi, baju pake ditumpuk disini.", Arya yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, langsung mengambil tumpukan baju dan memasukkannya ke dalam tempat baju kotor.
Tempat baju kotor itu ternyata ada di lemari di bawah kloset. Tanpa sengaja, sehelai underwear yang sudah Dinda guling rapi di dalamnya terjatuh.
"Aduhh ini apa lagi?", Arya mengutipnya dengan malas dan memasukkannya ke dalam tempat baju kotor.
Tak lama setelah mengganti pakaiannya, Arya ke luar dari kamar mandi. Dia menunjukkan wajah cool dan tenang.
Kemudian, Arya meninggalkan kamar tanpa berkata sepatah katapun. Beberapa orang perias nampak saling pandang.
Mata mereka seperti sudah bergosip. Sementara itu, Dinda hanya bisa diam karena dia juga tidak mengharapkan apapun dari Arya. Termasuk sikap ramah tamahnya.
Waktu pada malam itu kembali berlalu dengan cepat. Arya dan Dinda mengambil banyak potret foto dengan outfit kedua mereka.
Dinda kembali terkejut dengan sikap Arya selama pengambilan foto. Ia sama sekali tidak terlihat canggung. Semua instruksi Dito ia kerjakan dengan telaten.
Lagi - lagi tindakan Arya yang mencium bibirnya secara tiba - tiba membuat Dinda terkejut. Berbeda dari sebelumnya, ciuman ini lebih lama. Dito tampak sangat bersemangat mengambil foto.
Tidak hanya melakukannya sekali, tetapi beberapa kali. Setelah mencium, dia akan bertanya pada Dito apakah hasilnya bagus.
‘Apa dia tidak menganggapku sama sekali.’, Bathin Dinda marah menyaksikan sikap Arya yang seolah - olah tidak menganggapnya. Arya menciumnya seolah - olah itu hal biasa.
*‘Apa karena dia sudah pernah melakukan ini sebelumnya?’. *
'Atau dia sebenarnya adalah laki - laki seperti ini?'
'Dia pernah menyebut klub malam. Apa dia memang rutin pergi kesana dan bermesraan dengan wanita mana saja?'
__ADS_1
'Gak mungkin, tante Inggit orang baik. Gak mungkin dia menjodohkanku jika dia tahu anaknya pria brengsek.'
Dinda tenggelam dengan berbagai asumsinya.
Sesi foto - foto pasangan pengantin sudah selesai. Para tamu undangan dipanggil untuk melakukan potret bersama. Kali ini lebih heboh dari sebelumnya.
Banyak yang ingin foto privat dengan pengantin. Misalnya keluarga A, B, C, dan seterusnya. Mereka ingin berfoto sendiri untuk kenang - kenangan.
Pesta resepsi malam itu usai pukul 11 malam. Sebenarnya bisa lebih lama, tetapi beberapa antrian karaoke tidak bisa dilanjutkan lagi karena gerimis malam sudah mulai mengguyur. Semua bergegas masuk ke dalam rumah.
Beberapa dari mereka ada yang berpamitan untuk kembali ke hotel. Meski Inggit sudah wanti - wanti untuk tidur di rumah saja, tetapi mereka beralasan nanti terlalu banyak yang menginap jadi tumpah - tumpah dan tidak nyaman.
Sebagian kecil saudara akhirnya kembali ke hotel mereka. Sebagian besar memilih menginap sambil lanjut mengobrol entah mau sampai kapan.
Ratna dan Arga sudah disediakan ruangan untuk bermalam. Meski sempat menolak tetapi akhirnya Ratna mengiyakan. Ada 4 kamar tamu yang bisa digunakan. Para sepupu juga ikut menginap di kamar Ibas dan kamar Inggit yang juga luas. Sisanya mengemper di ruang tengah dan ruang tamu. Setelah beberapa kursi di keluarkan, ruangan langsung terasa sangat luas.
***Kamar Arya dan Dinda…. ***
Arya sudah lebih dulu memasuki kamar. Ia bahkan sudah selesai mandi sejak 30 menit yang lalu. Dia sekarang sedang berada di ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa email penting sambil memindahkannya ke dalam folder to do list untuk ia kerjakan besok.
Keberadaan Dinda masih belum terlihat sejak semua perias melepas riasan dan membantu mereka berganti pakaian. Ia sempat meminta ijin untuk ke bawah bertemu ibunya. Sejak itu, Dinda belum lagi kembali.
Tak lama bunyi pintu terbuka sedikit mengalihkan perhatian Arya dari aktivitasnya membaca email.
Meski ia sedang berada di ruang kerjanya, tetapi suara pintu terbuka tetap terdengar jelas.
Lampu di kamar memang sudah dimatikan. Hanya tersisa lampu yang berada tepat di atas tempat tidur. Itupun redup.
Dinda dengan hati - hati menutup kembali pintu dan memeriksa sekeliling. Arya nampaknya belum terlihat.
Ia bergegas ke dalam kamar mandi dan merapikan semua bajunya. Ia membawanya keluar dan memasukkan ke keranjang warna putih sesuai instruksi Bi Rumi tadi. Dengan begitu, Bi Rumi bisa dengan mudah mengambilnya saat mereka tidak ada di kamar.
Dinda melepaskan ikatan rambutnya dan berniat mengikatnya ulang. Di waktu bersamaan, Arya membuka pintu ruang kerjanya.
Ceklek…
Dinda sontak langsung menoleh ke arah ruang kerja dengan wajah yang sangat terkejut. Saking kagetnya, dia hanya bisa mematung bisu.
Arya berjalan terus melewatinya dan langsung merebahkan badannya di atas kasur tanpa sepatah kata. Ia menaruh ponselnya di atas nakas, mengambil remote AC, menyetelnya ke angka 17 derajat dan menarik selimut.
__ADS_1
Dinda menelan ludahnya. Tidak sekalipun dalam hidupnya, berpikir untuk tidur seranjang dengan laki - laki ini. Saat pertama kali bertemu dengannya di ruang meeting itu, menyaksikan presentasinya, kata - kata tajamnya, dan pesonanya sebagai seorang bos, tidak terlintas satu pikiranpun di kepala Dinda untuk pernah berurusan dengannya di luar kantor.
Sekarang dia sudah resmi menjadi istri seorang Arya Pradana. Tidur di sampingnya setiap hari. Memenuhi semua kebutuhannya. Dan …. sampai detik ini pun belum ada rencana ke depan yang bisa terpikirkan oleh Dinda.