
“Mas Arya, kita mau kemana?”, tanya Dinda pelan saat laju mobil tidak menuju ke arah yang biasanya.
‘Apa ke apartemen lagi? Tapi kan saat ini kami tidak memiliki masalah apapun. Kenapa harus ke apartemen.’, ucap Dinda dalam hati.
Kesannya, ke apartemen adalah saat dimana mereka memiliki masalah. Arya seperti menjadikan tempat itu sebagai tempat penyelesaiannya. Ya, mungkin Arya hanya tidak ingin ada orang di luar mereka termasuk papa mama. Jika permasalahan itu masih bisa mereka selesaikan berdua, maka mereka harus menyelesaikannya berdua terlebih dahulu.
“Mas Arya, kenapa tidak dijawab? Kita mau kemana?”, Dinda bertanya lagi setelah tak ada suara sama sekali dari suaminya.
“Bertemu dengan Dika dan istrinya. Mereka ingin meminta maaf atas kejadian tempo hari.”, ujar Arya pelan.
“Oh? Kenapa harus sampai bertemu segala. Tidak apa - apa, kok. Aku sudah memaafkannya. Lagipula mereka juga tidak sepenuhnya salah. Mereka kan tidak tahu status kita. Karena itu, istrinya jadi salah sangka padaku.”, Dinda langsung menolak keras.
“Tuhkan, kalau aku cerita, kamu pasti menolaknya. Makanya, dari tadi aku hanya diam saja.”, balas Arya sambil terus fokus menyetir.
Tempat janjian mereka melewati jalanan yang tidak terlampau macet. Mobil yang berlalu lalang di sisi kiri dan kanan melaju dengan kencang.
“Tapi aku merasa aneh kalau harus bertemu.”, ucap Dinda masih tidak setuju dengan ide ini.
“Tidak ada yang aneh. Kamu hanya datang, bertemu, dan menerima permintaan maafnya.”, ujar Arya.
‘Dan aku akan perlihatkan siapa pria di sisi Dinda yang sebenarnya. Sah dan akan menjadi ayah dari calon bayinya. Meskipun wanita itu salah menilai Dinda yang selingkuh, tetapi aku tidak pernah salah menilai Dika yang memang sedang mencoba memainkan sesuatu pada istriku. Pria seperti itu, aku lebih mengenalnya.’, kata Arya dalam hati.
Sesampainya di Restoran.
“Silahkan duduk. Aku harap ini adalah tempat yang cocok untuk kalian. Aku memilihnya tanpa bertanya lebih dulu.”, Dika menyambut dengan ramah.
“Tidak masalah. Tempat yang bagus.”, jawab Arya dingin sambil menarik kursi untuk istrinya.
‘Apa - apaan pria satu ini. Auranya dingin sekali. Perkataannya lebih dingin. Aku kira tidak ada yang lebih dingin daripada saat Dika berbicara padaku. Bagaimana wanita mungil ini bisa bertahan dengan pria sedingin itu.’, Rianti tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Silahkan pesan makanan terlebih dahulu.”, ujar Dika menyodorkan menu makanan itu pada Dinda.
__ADS_1
Dinda terkejut dan seolah memberikan ekspresi bertanya pada Dika. Apakah dia sudah memesan makanannya?.
“Tenang saja, kami sudah memesan makanan terlebih dahulu begitu sampai disini.”, jawab Dika.
Meski dia tidak mendengarkan langsung pertanyaan dari Dinda, tetapi dia bisa mengetahui apa maksud dari tatapan gadis itu.
Hanya interaksi sekecil ini, Arya sudah mulai panas. Dia menatap Dika dengan tatapan yang tajam penuh arti. Dika merasakannya dan melayangkan pandangannya pada waitress yang sedang berjalan hilir mudik membawa minuman. Seolah, minuman itu memang dibawa untuknya.
Makanan sudah terhidang dan tersantap dengan tenang. Setelahnya, Rianti meminta maaf pada Dinda. Dia tak berani menatap Arya. Ia memang menatapnya namun hanya sesekali dan sekilas saja.
“Saya berharap dengan permohonan maaf dari istri saya, laporan yang sudah Pak Arya masukkan ke kepolisian bisa dicabut. Hingga hari ini saya cek, laporan tersebut masih terus berjalan.”, ucap Diki dengan ekspresi yang serius.
Sejujurnya, ini bukanlah pertemuan yang dia inginkan. Bagaimana mungkin, Dika meminta maaf pada Arya atas kelakuan istrinya. Dimana, jelas - jelas, Arya tahu kalau Dika pernah berhubungan dengan mantan istrinya. Bahkan itu belum lagi setahun yang lalu setelah mereka bercerai.
Tidak hanya Dika, Arya juga menemukan situasi ini sangat aneh. Ia terus menatap Dika dengan tatapan penuh arti. Dika bisa merasakannya, tetapi dia hanya berharap Arya tak mencampuri urusannya tentang hal yang satu itu. Toh, istri Arya yang sekarang adalah Dinda, bukan Sarah.
Berpegang pada informasi yang diberikan Dika padanya bahwa Sarah meminta dirinya mendekati Dinda, Arya mencoba untuk mempercayai pria itu.
“Mas Arya lapor polisi?”, tanya Dinda terkejut.
Rianti juga kaget karena Dinda tidak tahu sama sekali dan malah balik bertanya. Sebaliknya, Arya masih dalam keadaan tenang.
“Aku akan mencabut laporannya besok. Aku berharap kejadian seperti itu tidak pernah terjadi lagi. Sepertinya aku sudah selesai disini. Ingat, ini adalah persoalan pribadi. Tidak ada hubungannya dengan persoalan kantor.”, selesai mengatakan kalimat itu, Arya berdiri dan menarik Dinda untuk pergi.
“Terima kasih atas jamuannya. Aku berharap ini yang terakhir.”, ujar Arya tak kalah tegas.
Arya dan Dinda terlihat semakin menjauh meninggalkan area restoran menuju parkiran mobil.
“Hah… apa - apaan pria itu. Dia tidak tahu siapa aku?”, kata Rianti langsung mengeluarkan emosi yang sudah dia tahan - tahan semenjak tadi.
“Kalau dia tidak tahu, dia tidak mungkin memasukkan laporanmu ke polisi.”, ujar Dika meneguk sisa minumannya yang masih terletak di atas meja.
__ADS_1
“Aku tidak pernah bertemu orang se-mengerikan itu. Kamu bilang, itu istri keduanya kan? Heh, tidak heran. Istri pertamanya pasti tidak tahan dan mencari pria lain.”, ujar Rianti.
‘Uhuk.’, perkataan Rianti barusan sukses membuat Dika tersedak.
************
Beberapa hari kemudian.
Arya sedang dalam perjalanannya menuju sebuah lokasi meeting di hotel yang jaraknya lumayan jauh dari kantor mereka. Arya berangkat dari jam 10 pagi. Dia harus terlebih dahulu datang ke kantor karena ada satu meeting pagi yang harus dia hadiri bersama dengan petinggi - petinggi lainnya. Selesai meeting, baru dia berangkat menuju lokasi berikutnya.
Jadwal meeting diperkirakan akan dimulai pada pukul 1 siang. Menurut Arya, waktunya sudah pas jika dia berangkat dari kantor pada pukul segitu. Siska juga mengikutinya pada meeting kali ini. Wanita itu duduk di sampingnya.
Siska sempat bingung, ini kali pertama dia berangkat meeting lagi dengan Arya. Biasanya saat meeting, dirinya pasti juga diikuti dengan beberapa anggota tim lainnya.
‘Duduk dibelakang, nanti Pak Arya malah kelihatan jadi supir. Duduk di depan, kalau aku ingat Dinda, aku jadi merasa tidak enak. Kenapa aku jadi kolot seperti ini?’, Siska sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.
“Oiya, apa yang akan Pak Arya lakukan tentang pembicaraan dari Pak Teddy kemarin?”, tanya Siska mulai mengeluarkan topik serius.
“Saya sedang memikirkannya.”, jawab Arya.
Siska langsung bergidik ngeri mendengar jawaban Arya. Padahal dia tidak terlibat dalam hal ini. Bagaimana dengan mereka? Kenapa mereka bisa sebegitu bencinya pada Pak Arya. Padahal mereka tidak berkaca pada diri sendiri.
‘Sebenarnya, apa motif mereka?’, tanya Siska dalam hati.
Kemarin, Arya mendengar keterangan dari Teddy sendiri. Pria paruh baya itu juga meminta maaf pada kelancangannya. Hal ini murni didasari pada sikap tidak profesionalnya terhadap pekerjaan. Dia juga siap mengundurkan diri karena hal ini.
Teddy kira, Arya mungkin akan menahannya karena dia sudah mengakui kesalahannya. Tapi salah, bukan Arya namanya jika tidak langsung tegas. Meskipun Teddy sudah menyadari kesalahannya, tetapi mereka tetap memiliki keinginan untuk mencelakainya. Arya menerima pengunduran diri Teddy. Bahkan, saat itu juga.
Sekarang, dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan terhadap Gilbert dan juga satu orang karyawan lainnya yang bekerja sama dengan mereka. Satu hal yang pasti akan dia lakukan tanpa berpikir panjang adalah memasukkan laporan kejadian ini kepada pihak kepolisian berdasarkan keterangan yang sudah diberikan oleh Teddy.
“Kamu siapkan saja laporannya ke kepolisian. Saya tidak akan menunda - nunda permasalahan ini lagi.”, jawab Arya kemudian.
__ADS_1
“Baik Pak.”, jawab Siska sambil deg-degan.
Suara Arya terdengar mencekam untuknya. Saat ini, emosi pria itu pasti sudah di ubun - ubun. Dia juga merasa menyesal telah membuka topik pembicaraan ini.