
Malam sudah semakin larut. Arya tiba sekitar 10 menit karena harus mengambil jalan memutar. Tiba - tiba ada perbaikan jalan di malam hari. Padahal saat keluar tadi belum ada plang atau papan pengumuman apapun.
Beberapa mobil terlihat sudah keluar dari kediaman Kuswan dan Inggit. Pak Cecep terlihat standby di dekat pagar rumah yang sudah dibuka lebar kalau - kalau ada tamu majikannya yang membutuhkan bantuan.
Pak Cecep rupanya menyadari kedatangan Arya menggunakan motor di seberang depan. Ia tampak memanggil Pak Cecep untuk meminjam uang cash, karena saat keluar, Arya tak membawa dompetnya sama sekali. Setelah transaksi pembayaran dengan tukang ojek selesai, mereka berdua kembali masuk ke dalam.
Beberapa tamu yang menyadari kehadiran Arya mulai menyapa satu per satu. Ada yang menyapa dari mobil, ada juga yang menyapa dari luar karena masih menunggu giliran mobilnya untuk keluar. Beberapa ada juga yang terlihat berjalan keluar karena mobil mereka diparkir tak jauh dari sana.
“Terima kasih, Bu.”, sapa Arya sekedarnya saat beberapa ibu - ibu nampak bersalaman dengannya.
Arya memasang wajah senyum meski di dalam dia tampak lelah. Lelah dengan semua drama yang dua orang itu buat.
Keramaian di rumah Inggit perlahan - lahan menghilang seiring dengan satu persatu tamunya yang mulai pamit pulang. Arya baru melihat Inggit yang sibuk meladeni teman - teman arisannya yang mulai berpamitan pulang.
“Sudah diambil, Bu makanannya. Monggo jangan malu - malu.”, Inggit menawarkan dengan ramah.
“Sudah. Tenang saja. Saya tidak akan pernah ketinggalan membawa pulang makanan dari kediaman rumah Ibu Inggit.”, ucapnya sambil mengangkat satu goodie bag dengan senang.
“Hati - hati pulangnya. Sampai bertemu lagi. Sering - sering main kesini walau bukan arisan.”, ujar Inggit tersenyum lebar.
“Baik…”, jawabnya sambil berlalu menuju mobil. Di bangku kemudi terlihat pria seumuran Ibas yang mungkin dia tugaskan sebagai supirnya hari ini.
“Sudah pulang semua, ma?”, tanya Arya begitu sampai di teras rumah.
“Sudah. Sepertinya ibu tadi yang terakhir. Kamu dari mana saja? Dari tadi sudah dua jam-an kamu tidak terlihat. Dinda juga terlihat khawatir mencari - cari kamu.”, ujar Inggit.
Padahal, Dinda tak mengatakannya sama sekali pada Inggit kalau dia se-khawatir itu. Namun, mimik wajah Dinda yang terus melihat ke arah pintu dan sekitar sudah bisa membuat Inggit paham.
“Ada urusan sebentar, ma. Tadi Dinda sudah telpon juga sekitar 20 menit yang lalu.”, jawab Arya sebelum akhirnya melangkah masuk.
“Papa kamu mau bicara. Sebelum ke atas, masuk ke kamar mama dulu. Papa sudah menunggu disana.”, ujar Inggit.
Kali ini nadanya serius, tidak seperti ramah tamahnya saat bersama tamunya tadi.
“Papa sudah pulang? Sejak kapan?”, tanya Arya yang menyadari sepertinya suasana terlihat berbeda.
“Hn. Sejak beberapa jam yang lalu.”, jawab Inggit.
“Papa mau bicara apa, ma? Sampai harus di kamar mama segala. Tidak bisa besok saja?”, tanya Arya.
“Mama tidak tahu. Tapi papa kamu tampak lebih serius dari biasanya.”, balas Inggit.
“Baiklah.”, ujar Arya melangkah menuju kamar orang tuanya.
“Arya…mama mohon, jangan berdebat dengan papa, ya.”, tiba - tiba Inggit nampak khawatir.
Jujur dia juga tidak tahu apa yang ingin Kuswan sampaikan. Begitu tiba di rumah, dia langsung membisikkan ke Inggit untuk meminta Arya menemuinya saat pria itu sudah pulang. Kuswan bahkan hanya menyapa para tamu sekedarnya dan tidak tinggal untuk duduk barang sebentar saja.
Inggit menerka - nerka, apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Kenapa harus memanggil Arya untuk berbicara dengan nada se-serius itu. Sepertinya tidak ada yang terjadi dengan putera keduanya itu belakangan ini. Semua tampak biasa - biasa saja.
__ADS_1
Arya nampak menghela nafas.
“Baik, ma.”, jawab Arya dan kembali melangkah menuju kamar orang tuanya.
Tok tok tok tok
Arya mengetuk pintu sebentar. Dia mengintip sedikit karena tak mendengar jawaban apapun dari papanya. Dari pintu terlihat Kuswan sedang duduk di pinggir kasurnya, mengenakan kacamata dan membaca sebuah buku.
Sementara itu, Inggit berjalan ke depan rumah menghampiri Pak Cecep untuk memastikan semua tamunya sudah pulang dan tidak ada yang terlewat atau tertinggal. Bi Rumi juga tampak sibuk merapikan ruang tamu di dapur meski Inggit sudah mengatakan untuk mengerjakannya besok saja.
Disaat yang bersamaan, Dinda turun ke bawah untuk mengambil secular air karena di kamarnya sudah kosong.
“Bi Rumi, aku bantu ya.”, ujar Dinda saat melihat Bi Rumi sedang memasukkan sampah ke dalam trash bag yang dibawanya.
“Gak usah, non. Tadi Ibuk sudah bilang diselesaikan besok saja. Ini bibi cuma ambil sampah yang khawatir dikerubungi semut aja. Sudah tinggal sedikit lagi kok.”, jawab Bi Rumi langsung menolak dengan lantang.
“Benar, Bi.”, tanya Dinda memastikan.
“Iya.. non. Tinggal yang ini saja.”, ujar Bi Rumi.
“Kenapa non?”, lanjut Bi Rumi bertanya karena Dinda nampak mengedarkan pandangannya seolah mencari seseorang.
“Bibi sudah lihat mas Arya? Sudah pulang belum ya?”, tanya Dinda.
“Oh sudah non. Tadi bibi lihat masuk ke kamar Bapak. Saya ke depan dulu ya, non.”, ujar Bi Rumi yang membawa trash bag tadi ke depan untuk meminta Pak Cecep langsung meletakkannya di tong sampah depan.
Dinda yang ditinggal sendiri penasaran kenapa Arya ke kamar Papa. Dinda pun berniat memeriksa kesana. Ada sebuah lorong kecil yang harus dia lewati sebelum masuk ke kamar itu. Lamat - lamat Dinda mendengar suara kecil dari kamar itu karena Arya ternyata tidak menutupnya kembali saat masuk.
“Papa mau bicara apa?”, tanya Arya setelah lama dia menunggu namun Kuswan tampak tak memulai satu patah kata pun.
Kuswan mulai bangun dari duduknya dan meletakkan buku yang tadi dia baca di atas nakas samping ranjang miliknya. Perawakannya masih tenang namun jika dilihat lebih teliti, terdapat ketegangan pada wajahnya. Seperti seseorang yang sedang menahan emosi.
Kuswan berjalan perlahan ke arah Arya dengan memberikan tatapan yang tajam. Arya berdiri dengan sikap sempurna. Meski dia sangat ahli dalam memprediksi pergerakan bisnis di market, tetapi kali ini dia tak mampu untuk memahami pergerakan papanya.
Plak.
Sebuah tamparan keras. Keras sekali mendarat di pipi Arya. Matanya langsung membulat kaget. Tangannya otomatis memegang pipinya dan berbalik menghadap papanya. Dia tidak mengerti. Dipikir berapa kali pun dia tidak mengerti. Apa maksud papanya.
Ekspresi wajah Arya seolah bertanya. Dia ingin segera mendengar jawabannya. Apa maksud papanya.
Di luar kamar yang pintunya sedikit terbuka, Dinda menutup mulutnya. Dia tidak menyangka papa mertuanya menampar mas Arya. Tanpa dia sadari, dia sudah ada disana. Dinda menahan deru nafasnya yang cepat karena terkejut.
“Masih punya hubungan apa kamu sama si Sarah itu, Arya?”, tanya Kuswan dengan nada bergetar.
Arya bingung dengan pertanyaan papanya.
“Maksud papa? Aku tidak punya hubungan apa - apa dengan Sarah.”, ekspresi Arya penuh tanya.
“Lalu, kenapa papa lihat kamu masuk ke dalam mobil wanita itu di depan rumah? Heh.. wanita itu sepertinya tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya. Apa yang kamu lakukan? Papa kira kamu sudah berubah sepenuhnya dan memutus semua hubungan kamu dengan wanita itu.”, ujar Kuswan tak bisa mengendalikan amarahnya.
__ADS_1
Dia merasakan dadanya sedikit sakit dan menekannya dengan tangannya. Melihat itu, Arya langsung memastikannya, namun Kuswan menepis tangan puteranya.
“Pa, papa salah paham. Apapun yang papa lihat tidak seperti yang papa pikirkan. Aku cuma tidak ingin… Okay.. aku tidak tahu sama sekali kalau wanita itu datang ke rumah. Aku takut dia hanya akan membuat keributan. Aku mau tidak mau harus mengantarnya keluar perumahan karena dia sedang mabuk.”, jelas Arya.
Kuswan menelisik ekspresi dan mencoba mencerna penjelasan Arya. Dia memang tipikal yang keras kepala tetapi dia berusaha memberikan waktu bagi puteranya untuk menjelaskan agar dia bisa menganalisa dan memprosesnya.
“Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja di jalan dalam keadaan mabuk. Aku memanggil orang lain untuk mengantarnya pulang. Aku bersumpah tidak melakukan apapun, pa.”, kata Arya menjelaskan.
Ini pertama kalinya dia berusaha menjelaskan sesuatu pada papanya karena takut papanya salah paham. Biasanya dia lebih nyaman membiarkan itu karena tak punya waktu untuk menjelaskan. Tapi, semua ini berkaitan dengan keluarganya, dan Dinda, istrinya.
Kalau kesalahpahaman ini tidak dibenarkan, dia khawatir malah akan menjadikan masalah bertambah runyam. Papanya melihat mereka adalah diluar ekspektasinya. Dia justru membawa wanita itu pergi jauh secepat mungkin karena takut Kuswan akan melihatnya.
“Dinda? Kamu ngapain disini?”, Inggit yang baru saja ingin kembali ke kamarnya melihat Dinda berdiri mematung disana.
Suara Inggit yang meski tak terlampau keras, tetapi menggema di lorong jalan ke kamar utama. Hal ini membuat Arya dan Kuswan menoleh karena tersadar sepertinya ada orang lain diantara mereka.
“Din?”, Arya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Dinda disana.
Biasanya, dia pasti akan bersikap tenang untuk saat - saat seperti ini. Tapi sekarang beda. Bahkan dia tak ingin ada kesalahpahaman kecil sekalipun masuk ke pikiran istrinya.
“Dinda percaya sama mas Arya kok, pa.”, ucap Dinda terbata - bata di depan pintu.
Arya membuka lebar pintu itu bermaksud untuk membawa Dinda kembali ke kamarnya. Namun Dinda masih diam disitu menahan tangan Arya yang sudah ingin mengajaknya pergi.
“Dinda percaya sama mas Arya, pa. Mas Arya sudah benar - benar memutus hubungannya dengan mba Sarah. Walaupun mereka masih bertemu, itu karena mba Sarah yang belum merasa selesai dengan mas Arya. Jadi, Dinda mohon agar papa tidak menyalahkan mas Arya.”, ujar Dinda dengan nada lirih.
Di satu sisi, dia ingin mengambil posisi sebagai perisai Arya disana dimana hal itu hampir tidak pernah dia lakukan karena situasi yang memerlukan itu tidak pernah ada. Justru sebaliknya, Arya yang selalu pasang badan untuknya.
Di sisi lain, Dinda juga masih belum terbiasa dengan kerasnya Kuswan serta sikap tegasnya. Mengatakan hal ini pun menjadi suatu tantangan untuknya. Karena itu Dinda hanya bisa berujar pelan. Untungnya, masih bisa terdengar oleh Kuswan dan Inggit.
“Kita bicarakan lagi besok.”, kata Kuswan.
“Din, kita kembali ke kamar.”, ujar Arya.
“Tapi mas.”, lirih Dinda pelan.
“Gapapa.”, ujar Arya menenangkan.
Saat Dinda menoleh ke arah depan, Inggit juga menyarankan demikian. Lebih baik tidak memperumit kesalahpahaman ini dulu dan kembali. Besok semua bisa membicarakannya dengan kepala yang lebih dingin lagi.
“Dinda ke kamar ya ma, pa.”, ucap Dinda pamit.
Sedangkan Arya tak mengatakan apapun lagi.
Dikamar Arya dan Dinda.
“Pipinya mau aku kompres dulu, mas?”, tanya Dinda menahan lengan Arya.
Mendengar itu, Arya berbalik dan memeluk erat istrinya. Dinda tentu saja terkejut.
__ADS_1