Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 121 Sikap Romantis Arya Pradana


__ADS_3

“Kamu ngapain disini sendirian?”, tanya Arya.


Dia baru saja masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya sedang berdiri di balkon kamar. Sepertinya itu menjadi tempat favorit Dinda belakangan ini. Arya membuka pintu perlahan dan gadis itu tidak menyadarinya.


Arya datang memeluknya dari belakang dan mencium aroma tubuh Dinda dari bagian lehernya. Rambutnya yang halus tergerai membuat Arya semakin candu menyesap dan menciumnya tipis - tipis.


Dinda juga tampak sudah terbiasa dengan skinship dari Arya dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang dia inginkan.


“Mas Arya..”, kata Dinda terputus.


“Oiya… kamu belum kasih laporan proyeksi karir kamu ke saya loh. Minggu ini adalah deadlinenya. Bukankah minggu depan sudah masuk acara tim Building ke Bali?”, kata Arya tiba - tiba.


Suara Dinda yang begitu kecil membuat Arya tak mendengarnya. Sebelum Dinda mampu menyelesaikan kalimatnya, Arya sudah mengambil start terlebih dahulu.


“Hm?”, respon Dinda sambil menoleh ke belakang.


Arya yang mendapati wajah imut dan cantik istrinya langsung membalikkan tubuh gadis itu sepenuhnya menghadap ke arahnya.


Muach.. Kecup Arya pelan tepat di bibir Dinda.


Dinda mengernyitkan dahinya bingung. Pria ini tadi menyinggung soal laporan proyeksi karirnya, namun sekarang pandangan matanya seolah ingin melahap Dinda. Tatapan mata Arya lembut ke arah mata Dinda kemudian turun menuju hidung dan selanjutnya memandang bibir gadis itu.


Saat Arya sudah ingin melayangkan ciumannya yang Dinda yakin tidak akan berhenti sampai disitu, Dinda menahan bibir Arya dengan tangannya. Mata Arya jelas membulat mendapati tindakan dari Dinda tersebut.


“Hmph?”, kata Arya seolah bertanya apa maksud tindakan Dinda itu.


Arya melepaskan telapak tangan Dinda di mulutnya dan mencoba kembali melancarkan aksinya. Namun tentu saja Dinda kembali menahannya.


“Kamu? Kalau kamu terus menahan seperti itu, aku gak akan bolehin kamu datang dari pagi di acara Bianca.”


“Oh-oh? Sudah mulai menyalahgunakan kekuasaan mas Arya? Aku kan sudah minta izin tadi dan mas Arya sudah menyetujuinya. Kenapa sekarang diubah? Ga berlaku, dong.”, respon Dinda.


“Aku jawab apa tadi. Tergantung tindakan kamu malam ini, kan?”


“Engga. Mas Arya jelas - jelas bilang iya.”, protes Dinda.


“Hm.. sudah mulai pikun rupanya. Aku bilang iya untuk kamu hadir di acara pernikahan Bianca lebih dulu. Bukan berarti dari pagi.”


“Ih.. mas Arya. Sebel.”


“Iya.. iya.. Aku izinin, tapi ciumannya? Kenapa ditahan - tahan terus? Bayangin loh Din, aku di Bangkok 5 hari, ciumannya sama bantal. Sekarang ada kamu di hadapan aku, kamu mau aku ciuman sama bantal lagi?”, kali ini Arya yang protes.


“Ya kalau mas Arya cuma cium doang, aku ga akan blokade, tapi setelah itu pasti mas Arya akan melakukan yang lain.”


“Hm? Berarti cium, boleh dong! Kenapa ga pas itu kamu hentikan? Kenapa harus saat aku mencoba mencium kamu.?”, tanya Arya penasaran.


“Hayo.. kenapa?”, Arya terus mendesak Dinda untuk menjawab.


“Em.. karena… karena kalau mas Arya sudah menciumku, aku sudah tidak akan bisa menolak tindakan selanjutnya.”, jawaban Dinda sukses membuat Arya tertawa lepas.


“Hahahahaha… Dinda.. Awas ya… kalau kamu se-polos ini sama orang lain. Kamu cuma boleh polos begini di sini, di depan aku.”


Dinda lagi - lagi mengernyitkan dahinya dan memajukan bibirnya.


“Jadi gitu? Ga sanggup ya, kalau skinshipnya sudah terlalu jauh? Iya?”, Arya tak kuasa menahan tawanya. Dia tahu Dinda sudah kesal, tapi meski dia sudah menutup rapat bibirnya, Arya masih tak bisa menahan tawanya. Alhasil dia harus tertawa dalam keadaan mulut tertutup.


“Perban mas Arya belum diganti, kan? Ya sudah, kita ganti dulu.”, kata Dinda mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dan berlalu dari Arya, namun mana mungkin Arya rela melepaskan mangsanya begitu saja.


Arya menarik lengan Dinda dan mendekatkannya dalam jangkauannya. Iya menaruk kedua tangannya masing - masing di pipi kiri dan kanan Dinda. Lalu menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.


Tindakan itu berlangsung sangat cepat hingga Dinda tak mampu mengelak. Beberapa detik setelahnya, sesuai dengan yang dia katakan, Dinda sudah terhipnotis dan terbuai pada sentuhan lembut bibir Arya.


Tangan kanan Arya mulai turun ke bagian pinggannya untuk menggamit gadis itu lebih rapat.


“Haak…”, desah nafas Dinda semakin berat karena rasa kagetnya.


Arya tak menyia - nyiakan kesempatan itu, dan memasuki bibir Dinda lebih dalam. Tak hanya bagian atas yang aktif, kaki Arya juga aktif berjalan menggiring Dinda mendekati ranjang dan membaringkannya disana. Tentu saja, ciuman itu masih berlangsung. Arya sudah sangat ahli dalam melakukan multi-tasking.


Tangan Arya mulai mencoba menyibak gaun malam Dinda, namun tangan gadis itu menahannya.


‘Bagaimana ini, aku belum mendiskusikan hal ini sama sekali dengan dr. Rima. Bagaimana jika mas Arya menginginkannya? Aku belum mengatakan tentang kehamilanku. Bagaimana jika ternyata belum boleh melakukannya?’, Dinda tenggelam dalam kekhawatirannya tapi disaat yang bersamaan dia juga sulit untuk menolak perlakuan Arya padanya.


Arya tersenyum di sela - sela ciumannya karena tindakan Dinda membuatnya lebih bersemangat untuk menggoda gadis itu lagi.


Tok tok tok


‘Shit.. siapa sih, orang lagi begini juga adaaa aja yang ngetuk. Ah.. cuekin aja.’, pikir Arya dalam hati.


“Mm…mmmphhh as… mas Arya… ada orang…”, Dinda kesulitan untuk memberitahu Arya agar membuka pintu terlebih dahulu dan melihat siapa yang ada disana.


“Mmphhh..”, Dinda mencoba untuk mengelak, namun Arya tetap saja melanjutkan aktivitasnya. Dia sudah mengangkat beberapa rambut Dinda ke atas karena dia bersiap untuk mencium bagian leher gadis itu.


“Udah biarin aja…”, kata Arya sebentar lalu melanjutkan lagi serangannya.


“Mas… aku ijin masuk ya…”, kata suara seseorang dari luar pintu.


‘Shit.. pintunya lupa di kunci lagi.’, mengingat hal itu, Arya langsung segera bangun dari ranjang dan berdiri.


Ia memegang pelipisnya dan menghela nafas berat karena kesal ada yang menganggunya.


Ibas, orang yang mengetuk pintu dan meminta ijin untuk membukanya karena tak kunjung mendapatkan respon membuka pintu hampir di saat yang bersamaan. Ia menemukan pemandangan lain yang membuatnya merasa terkejut dan bersalah telah membuka pintu.

__ADS_1


Meski tidak seperti pemandangan sebelumnya yang dia lihat. Begitu Ibas membuka pintu, Arya sudah berdiri di depan ranjang dan Dinda sudah menghadap ke arah balkon sambil menurunkan kembali bagian bawah gaun malam yang sempat sedikit tersibak oleh Arya.


Ibas tahu benar apa kesalahan yang sudah dia lakukan. Namun, dia ingin terlihat cool dan merasa baik - baik saja.


“Maaf mas, aku cuma mau kasih kunci mobil yang tadi aku pinjam. Aku taruh disini, ya. Thanks mas Arya, mba Dinda. Selamat malam.”, kata Ibas kembali menutup pintu.


Dia bahkan memanggil Dinda dengan sebutan ‘mba’. Antara saking deg - degannya tapi berusaha cool, atau dia memang ingin sarkas.


Begitu Ibas berhasil menutup pintunya, kakinya langsung melemas karena dia takut diomeli lagi oleh Arya.


“Wah.. kenapa aku selalu harus mencari timing yang buruk seperti ini. Lihat saja tadi muka kesal mas Arya. Bisa - bisa dia tidak mau lagi meminjamkan mobilnya padaku.”, ujar Ibas segera berdiri dan kabur kembali ke kamarnya.


Sementara itu di kamar Arya dan Dinda.


“Kayanya pintu harus di setup ulang. Lama - lama aku ingin memasang pengaturan seperti pintu apartemen yang langsung bisa terkunci otomatis dan hanya bisa dibuka dengan password. Kenapa bocah itu selaluuu saja datang di waktu yang tidak tepat. Bikin orang kesal saja.”, Arya memejamkan matanya, menghela nafasnya, memijit pelipisnya karena emosinya meluap.


Dinda hanya tersenyum simpul. Dia bangun dan menatap wajah Arya yang masih merah padam.


“Kita ganti perbannya ya, mas.”, kata Dinda dengan wajah yang lembut.


“Udah.. ganti perbannya besok aja.”, jawab Arya setengah memohon.


Dinda benar - benar ingin tertawa, tapi dia sadar itu akan membuat Arya malah lebih menginginkannya.


“Nanti infeksi, malah makin susah sembuhnya. Sebentar aku ambil perban dan obatnya dulu, ya. Mas Arya duduk dulu.”


Dinda menarik lengan Arya dan menyuruhnya duduk di pinggir ranjang sementara dia mengambil kotak obat di kotak P3K di dalam lemari.


“Aku buka ya, perbannya.”, kata Dinda begitu dia kembali dan mengambil duduk di samping Arya.


“Abis ini…”, Arya bahkan terlalu malu untuk mengatakannya karena vibenya sudah dilenyapkan oleh Ibas.


“Abis ini, aku presentasi proyeksi karir?”


“Ha? Kenapa itu? Udah itu bisa kapan aja.”, kata Arya membuat Dinda heran.


“Bukannya itu syarat aku bisa ikut tim Building?”


“Udah.. udah.. Kamu saya jamin ikut. Saya tidak akan bisa menikmati tim building kalau kamu gak ada. Lagian saya ga mau ya, cium bantal seperti saat di Bangkok.”


“Loh.. kan kita juga nanti di kamar terpisah.”


“Enggak, kamu nanti harus ke kamar aku. Tidur sama aku.”


“Hm? Nanti kalo ada orang kantor lihat, bagaimana?”


“Ga mungkin, kamar aku nanti di lantai yang berbeda dan cuma ada aku disana. Kamu bisa keluar dari kamar kamu dan masuk ke kamar aku. Paginya, kamu bisa kembali ke kamar kamu.”


“Gampang, bilang aja kamu lagi telponan. Udah.. nanti aku yang atur kamu tenang aja.”


“Hmm.. mana bisa begitu.”


“Ahh.. Aw aw..”


“Masih sakit ya?”, tanya Dinda.


Arya mengangguk.


“Makanya, jangan males ganti perban. Lama kan sembuhnya.”


“Besok mas Arya berarti datangnya jam berapa?”


“Kemana?”


“Nikahan Bianca.”


“Ya sama kamulah.”


“Hm? Bukannya mas Arya bilang ada meeting weekend?”


“Sudah dibatalkan. Enak aja mau dateng kesana sendirian. Ada Edo, aku ga nyaman.”


‘Ah.. iya mas Edo.. tempo hari waktu acara lamaran Bianca, dia bersikap tidak pantas. Aku takut dia melakukan hal lain lagi kali ini.’, kata Dinda dalam hati.


Dia belum mengatakan tentang sikap dan omongan Edo tempo hari pada Arya. Dinda takut mereka akan berkelahi jika Dinda mengatakannya. Untuk saat ini, mas Edo belum bertindak keterlaluan, jadi cukup Dinda saja yang tahu. Begitu pikirnya.


Dinda mengangguk. Perban sudah selesai dia ganti. Tak lupa Dinda juga mencium tangan Arya yang diperban itu.


“Biar cepat sembuh.”, katanya setelah memberikan kecupan.


“Sekarang buka bajunya.”, ujar Dinda.


Arya sontak pura - pura terkejut dan menyilangkan tangannya di dadanya.


“Mau apa kamu? Tadi diajakin ga mau. Sekarang suruh buka baju.”


“Bukannya mas Arya bilang di lengan dan punggungnya juga ada luka gores. Sini aku lihat dulu. Harus di kasih salep apa engga, apa sudah kering atau belum?”, kata Dinda menjelaskan.


Dia hanya bisa geleng - geleng kepala dengan sikap Arya yang terus saja menggodanya.


“Iya.. iya… buka sendiri coba.”, Arya kembali menggodanya.

__ADS_1


Dinda tidak ingin berpanjang lebar lagi dengan pria itu dan membuka kancing baju piyama Arya satu persatu.”


“Jangan diliatin kaya gitu, mas Arya.”, kata Dinda


“Haaak…”, Dinda kaget melihat bagian lengan Arya yang penuh dengan luka gores dan ada sedikit memar pada bagian punggung.


“Gimana kejadiannya sih mas? Sampai bisa baret seperti ini? Terus punggung masa Arya juga masih ada luka yang basah. Mas Arya yakin sudah ke rumah sakit?”, tanya Dinda saat melihat luka baretan itu tidak seperti yang Arya ceritakan.


Dinda pikir hanya goresan biasa, tapi ini lebih dari goresan saat dulu Arya terhempas karena hampir tertabrak di parkiran.


“Mas Arya masih melanjutkan meeting dengan kondisi luka seperti ini? Kenapa tidak dibatalkan saja?”


“Masih gapapa kok. Berkat itu, mereka akan menandatangai project dengan 10 upcoming branch mereka di beberapa negara. Kita dapat bonus besar tentunya berkat project ini.”


“Mas!”, Dinda meninggikan suaranya karena ucapan Arya tidak masuk akal menurut pandangannya.


“Kalau kejadian waktu itu justru lebih membahayakan mas Arya gimana? Mas Arya ga sayang sama aku apa?”, lagi - lagi hormon Dinda membuat moodnya kembali swing dan saat ini air matanya sudah keluar.


“Eh eh… gapapa, Din. Kamu ngapaian pake nangis? Gapapa, ini juga semingguan sembuh kok. Jangan nangis, ya..”, kata Arya menghapus air mata Dinda.


“Udah fokus sama salepnya, harus dipasang ga?”, kata Arya.


Dinda melayangkan tatapan tajam pada pria itu.


“Iya .. iya.. Next aku janji tidak akan menyepelekan hal ini lagi. Janji.”, kata Arya bahkan menunjukkan jarinya yang seolah memberikan kode janji.


Dinda mengambil salep dan membalurkannya pelan ke bagian - bagian tubuh Arya yang luka.


“Aw.. aw… ssss.. Ahhh… pelan - pelan.”, kata Arya meringis kesakitan.


“Lagian tuh ya, mas Arya aneh. Udah tahu pungguhnya ada luka begini, masih aja mau mencoba … ah sudahlah.”


Arya tersenyum dengan topik yang diangkat oleh Dinda.


“Mencoba apa?”, tanya pria itu menoleh ke arah Dinda yang sedang fokus membalurkan sambil meniup luka Arya perlahan di bagian belakang.


“Ya itu tadi… kalau Ibas gak masuk, mas Arya mau ngapain dengan luka di punggung seperti ini?”


“Hm.. kayanya kamu deh yang ke-GR-an. Aku kan cuma mau cium doang.”


“Terus kenapa pake giring - giring aku ke ranjang kalau bukan mau…”


“Mau apa? Kamu sering bilang aku mesum. Tapi kayanya kamu deh yang mulai….”, Arya sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Dinda untuk menggoda istrinya itu.


Arya seperti menemukan hobi baru dengan menjahili Dinda. Dia benar - benar puas dengan respon gadis itu.


“Mas Arya tidurnya jangan punggung di bawah dulu, ya. Biar lukanya bisa cepat kering.”


“Kenapa? Kamu mau aku menghadap ke kamu terus, ya?”


“Udah.. ah.. Tidur.. Besok mau ke rumah Bianca pagi - pagi. Atau mas Arya gak usah aja deh. Istirahat total di rumah aja, ya.”


“Enak aja. Enggak. Kamu itu harus dijagain, kalo gak banyak kumbang beracun yang mau mengambil kesempatan.”


“Kaya sendirinya engga aja.”, balas Dinda.


‘Sepertinya Ibas benar. Tidak mungkin Arya bersikap semanis ini padanya, jika dalam hati nya masih ada niatan untuk kembali pada Sarah. Mungkin seharusnya waktu itu aku mendengarkan kalimatnya hingga akhir dan bukan langsung mematikan ponselnya.’


“Mas Arya?”, panggil Dinda yang sudah berbaring di tempat tidur sembari Arya sudah sibuk membalas beberapa email dengan ponselnya.


“Hn.”


“Waktu mas Arya telpon beberapa hari yang lalu, mungkin mas Arya lupa kalau sambungan telpon mas Arya sudah tersambung dan aku mendengar mas Arya mengatakan sesuatu.”


“Hn? Mengatakan apa?”


“Mm… “, Dinda masih ragu - ragu antara ingin menanyakannya atau tidak.


Disisi lain, Arya juga fokus pada ponselnya karena dia harus mengatur meeting di hari Senin dan menggeser beberapa meeting. Dia juga masih harus menjawab beberapa pertanyaan berkaitan dengan project di Bangkok.


Seolah tak ada hari libur, sebagai kepala divisi Business and Partners, Arya memang harus rela weekendnya terganggu oleh beberapa karyawan yang tidak disiplin. Arya sudah berkali - kali mengatakan bahwa dia mengedepankan work-life balance dan tidak menerima diskusi, request, permintaan approval apapun saat dia libur.


Tapi terkadang, masih banyak celah yang bolong yang membuat Arya tetap harus stay ON 24/7. Resiko memang. Tapi Arya berniat untuk menegaskan ini kembali di town hall yang akan datang.


Menurutnya ini tidak sehat. Dia bisa membayangkan jika dia saja bisa diganggu di akhir pekan, bagaimana dengan mereka yang jabatan atau levelnya lebih rendah.


“Iya, kenapa? Kamu mau ngomong apa tadi?”, tanya Arya saat dia menanti kalimat selanjutnya dari Dinda namun tak kunjung keluar.


“Hm.. waktu mas Arya…”


Kring Kring Kring


Ponsel Arya berbunyi. Arya menoleh ke arah Dinda.


“Gapapa angkat aja dulu.”


“Aku dengerin kamu ngomong dulu. Kamu mau ngomong apa?”


“Gapapa mas, angkat aja dulu. Siapa tahu penting.”


“Ya udah, aku ke ruang kerja dulu ya. Kamu tidur duluan aja.”, Arya mendekat ke arah Dinda dan mencium kening gadis itu sebelum beranjak dari ranjang menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2