Cewek Intern Dan Duda Keren

Cewek Intern Dan Duda Keren
Bab 123 Flashback Pernikahan Bianca


__ADS_3

Riasan Bianca sudah hampir selesai. Rara, Sekar, dan Dinda akan mengantarkan Bianca nanti menuju pelaminan bersama dengan sepupu lainnya. Begitu juga dengan Reza. Namun, Sekar tak lagi bisa menunggu karena perutnya sudah lapar. 


“Guys, aku keluar sebentar, ya. Perutku lapar. Hah.. aku menyesal telah menahan lapar dan menorah sarapan tadi sebelum akad. Sekarang aku lemas. Bisa - bisa aku pingsan nanti.”, kata Sekar. 


“Ya sudah, sana - sana. Kamu kan punya Maag. Nanti malah drama lagi saat mengantar Bianca ke pelaminan.”, ujar Rara. 


“Din, kamu mau ikutan ga? Yuk.” 


“Engga, aku tadi sudah sarapan. Aku juga harus samperin hmmm” 


“Samperin mas Arya? Kamu masih kaku aja.. Kan kita semua sudah tahu kamu udah menikah. Santai aja. Ya.. meski baru tahu 10 menit yang lalu.”, kata Rara. 


Dito sudah selesai memotret. Dia hanya mengambil beberapa gambar dan segera keluar untuk mengambil gambar Reza. 


“Iya.. nanti mau samperin mas Arya dulu.”, balas Dinda. 


“Sekarang aja. Kenapa?”, tanya Bianca. 


“Gak tahu dia dimana. Lagi WA, belum di bales.”


Meski acara resepsi belum dimulai, tetapi selain keluarga besar yang memang jumlahnya banyak, juga ada kolega - kolega bisnis dari tante Indah dan suaminya. Belum lagi rekan Reza yang datang lebih awal. Sehingga, tidak mudah menemukan Arya. 


******


“Eh maaf - maaf. Gak sengaja.”, ujar Sekar. 


Gadis itu sudah keluar dari kamar rias Bianca untuk mencari makanan yang dihidang khusus untuk keluarga di luar. Saat ingin mengambil makanan, Sekar seperti melihat orang yang dia kenal. 


Karena tidak fokus, Sekar malah menabrak punggung seseorang. Berbeda dengan Dinda dan Rara yang cenderung lebih pendek, Sekar memiliki kaki jenjang yang tinggi layaknya model. Dia sudah pernah mencoba untuk menjadi model tetapi dunia tata boga sepertinya menjadi jalan untukknya. 


“Argh…”, pria itu meringis pelan. 


‘Lebay banget. Kayanya aku tidak menabrak terlalu kencang. Lagian ini kenapa ada kabel disini, sih.’, ucap Sekar kesal di dalam hati. Saat mengatakan itu, dia belum bersitatap dengan pria yang ia tabrak. 


‘Wah.. ganteng banget. Tamu, temen, atau sepupunya ini? Gak mungkin sepupu Bianca. Aku pasti sudah tahu lebih dulu kalau ada pria setampan ini di keluarga Bianca. Dia kan kebanyakan sepupu perempuan. Apa dia sepupunya Reza, calonnya Bianca. Asli ganteng. Duh… dari badannya juga kayanya proporsional. Single gak ya?’, pikir Sekar dalam hati sampai melamun saking terpananya. 


Saat dia tersadar, pria itu sudah pergi meninggalkannya dan kembali berkumpul bersama segerombol pria lain. Pria itu juga tampak berbicara dengan Dito, sepupu dari keluarga Reza yang tadi masuk ke kamar. 


‘Wah.. apa aku tanya ke cowo itu aja ya.’, kata Sekar sudah berniat untuk menanyakan siapa pria tadi pada Dito. 


*****


“Mas Arya…”, setelah mencari - cari dari sekian banyak keluarga besar yang berkumpul, Dinda akhirnya bisa menemukan suaminya. 


Pria itu berada di kerumunan sepupu laki - laki yang sedang mengobrol ringan. Mungkin. Karena Dinda tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Setelah menyunggingkan senyum tipis pada mereka, Dinda menarik lengan baju Arya agar dia bisa berbisik. 


“Mas Arya kenapa manggil aku? Tadi Dito bilang mas cariin aku.”, kata Dinda. 


“Luka yang di belakang bisa kamu perbanin sebentar ga Din? Nempel - nempel terus ke baju batiknya. Perih.”, kata Arya sambil berbisik di telinga Dinda. Dia harus menunduk sedikit agar bisa menyamai tinggi istrinya. 

__ADS_1


“Kenapa baru bilang sekarang? Kebiasaan nahan sakit deh mas Arya. Terus mau pasang dimana?”


“Di kamar Fam aja. Tadi aku udah bilang dan minta dia untuk cariin perbannya.” 


“Ada - ada aja deh mas Arya.”, balas Dinda. 


“Eh, mau kemana Ar? Baru juga aku datang, sudah pergi lagi.”, ternyata itu adalah suara Edo yang baru tiba. 


Tadi dia tidak ada bersama sepupu laki - laki yang lain. Edo tersenyum pada Dinda dan gadis itu merasakan makna lain dibalik senyuman itu. 


Arya hanya menoleh sebentar dan melanjutkan langkahnya sambil menarik Dinda. 


“Haaaak… Kok masih belum kering ya, sebagian. Padahal sudah diberi obat. Mas Arya si, bandel. Sudah tahu punggungnya luka. Kenapa masih nge-gym. Kan jadi keringatan, mas.”, Dinda dengan segala omelannya sudah menyemprot Arya sambil membalut beberapa luka kecil di punggung pria itu. 


“Kamu bawa - bawa obat itu?”, Arya terkejut saat Dinda mengeluarkan sebotol obat yang diresepkan dokternya pada Arya dari dalam tas. 


“Aku tahu mas Arya pasti bandel dan akan butuh ini. Sudah dibilang lukanya ga akan sembuh kalau mas Arya pake kaos ketat terus. Apalagi saat nge-gym.” 


“Jadi, kamu mau aku topless aja? Biar cepat kering lukanya?”, kata Arya menggoda. 


Plak.


Dinda menempelkan perban lalu memukulnya halus saat mendengarkan godaan usil Arya.


“Sshhh…pelan - pelan dong. Kamu mau bunuh aku?”, kata Arya. 


Dinda hanya bisa menghela nafas. Dia tidak menyangka interaksinya bisa seintim ini sekarang dengan Arya. Padahal sebelumnya, jauh sekedar memanggil nama. Kalau diingat - ingat kembali pertemuan mereka, Dinda merasa terpana dengan perkembangan hubungan mereka saat ini. 


Dinda tidak menyadarinya. Saat dia mengambil obat Arya tadi, dia juga menjatuhkan sebuah vitamin yang diresepkan dr. Rima padanya untuk meredakan morning sicknessnya. Obat itu terjatuh di atas kain seprei yang menjuntai dibawah sehingga tidak mengeluarkan bunyi dan Dinda juga tak sadar. 


“Oh?”, Dinda terkejut melihat obat itu ternyata ikut terjatuh. 


Arya seperti membaca nama obat itu, tapi dia tidak tahu itu obat untuk apa. 


“Ah… ini hanya obat untuk meredakan datang bulan. Hahaha.. “, kata Dinda mengambil obat itu kembali. 


Sampai detik ini pun Dinda belum memberitahukan kehamilannya pada orang lain. Dinda merasa sulit untuk memberitahukan kehamilan itu. Entah kenapa ada rasa dimana dia takut jika Arya tahu dia hamil. 


Dinda takut Arya tidak menginginkan di hamil saat ini. Arya tak pernah membahas itu. Setiap kali Kuswan atau Inggit bertanya, Arya selalu mengalihkan pembicarakan atau bersikap offensive seolah tak ingin ditanya tentang itu. 


Terlebih Dinda menjadi lebih sensitif. Dan dengan kepribadiannya yang cenderung suka memendam sendiri, tak ada yang tahu jika sampai detik ini kepergian ayahnya ditambah dengan penjelasan bundanya dulu memberikan luka di batinnya. 


Dia jadi berpikir, jika Arya tahu kehamilannya, pria itu mungkin akan meninggalkannya seperti ayahnya dulu meninggalkan mereka. Orang normal mungkin akan berpikir bahwa itu adalah cerita yang berbeda, tapi tidak dengan Dinda. Dia masih berperang dengan luka masa lalunya yang mempengaruhi hidupnya saat ini secara tidak langsung. 


“Ooh.. wanita kalau datang bulan minum obat juga? Memangnya sesakit itu? Tapi sepertinya selama kita menikah, kamu hanya sekali datang bulan? Apa aku salah?” 


“Hehe.. mas Arya apa - apaan sih.. Aku aja udah lupa, loh. Ya.. mungkin waktu mas Arya keluar kota. Udah ah.. Sepertinya acaranya akan segera dimulai.” 


“Ya.. aku inget aja. Waktu pertama kali kamu datang bulan itu ga lama setelah kita menikah dan hebohnya luar biasa.” 

__ADS_1


“Udah yuk yuk…”, Dinda tak ingin membahas momen lucu itu lagi dan menarik lengan Arya agar segera keluar dari kamar. 


“Bentar, aku kancing dulu kemeja batiknya. Kamu mau aku keluar begini”, lagi - lagi pria ini tak henti menggodanya. 


Dinda hanya bsia memberikan sorot tajam padanya. 


******


“Eh? Itu siapa? Ngapain bareng Dinda?”, tanya Sekar. 


“Siapa sih?”, Rara justru bertanya balik.  


Mereka sedang berada di booth Ice Cream setelah lelah menjalani prosesi mengantar Bianca ke pelaminan. Setelah mengambil banyak sekali foto akhirnya mereka bisa mendapatkan waktu bebas mereka seiring dengan tamu yang juga sudah mulai berkurang. 


“Itu… loh - loh makin mendekat loh mereka.”, balas Sekar. 


Dinda membawa seorang pria bersamanya dan berjalan menuju tempat Sekar dan Rara berdiri. Tadi mereka bersama disana, namun Dinda tiba - tiba menghilang tanpa mengatakan apapun. Ternyata balik - balik dia membawa seorang pria. 


“Guys, kenalin ini mas Arya, suami aku.”, kata Dinda sambil sedikit terbata - bata. 


Arya tersenyum pada kedua wanita dihadapannya yang sebelumnya diperkenalkan Dinda. Dinda pergi menghampiri Arya dan bertanya apakah pria itu mau diajak berkenalan dengn sahabatnya. Mereka adalah sahabat paling akrab dan terbaik menurut Dinda yang pernah dia punya. Berkat mereka, kehidupan kuliah Dinda jauh lebih baik ketimbang masa - masa SMA. 


‘Hakkkk.. Jadi pria tampan yang tadi itu suaminya Dinda? Aku tidak boleh mengatakan ini tapi kenapa dia selalu mendapatkan yang terbaik, sih.’, batin Sekar dalam hati. 


Tiba - tiba perasaan cemburu merasuki Sekar. Setidaknya ini adalah yang ke sekian kali. Sekar sering dibuat cemburu karena setiap ada pria yang dia sukai, pasti beberapa diantaranya menyukai Dinda lebih dulu. Bahkan tak jarang dari mereka di kampus yang mendekatinya hanya karena ingin berkenalan dengan Dinda. 


Sekar muak dengan itu semua tapi dia tak pernah mengatakannya pada siapapun. Dia menganggap Dinda sebagai sahabat, namun untuk beberapa hal terkadang dia tak bisa mengontrol rasa cemburunya, seperti saat ini. Meski ekspresinya manis tetapi di dalam di merasa kesal.


“Hai… salam kenal. Saya Arya Pradana, suaminya Dinda. Maaf ya, jika saya tidak bisa memperkenalkan diri lebih awal karena sesuatu yang saya percaya Dinda sudah cerita. Teman kampus, ya berarti?”, tanya Arya sedikit basa - basi. 


Keduanya menangguk. Sekar mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sontak Rara kaget. 


‘Ngapain nih anak harus mengulurkan tangan? Yang berkenalan saja tidak.’, kata Rara dalam hati. 


Dia berpikir orang yang mengulurkan tangan lebih dulu tentu adalah orang yang memperkenalkan diri. Tapi melihat Arya tidak mengulurkan tangan, berarti dia tidak mau dan hanya ingin berkenalan melalui ucapan saja. 


Namun, Arya tetap membalas jabat tangan itu. 


“Maaf, tadi saya menabrak mas Arya, saya tidak sengaja.”, ujar Sekar mengingatkan pada kejadian tadi. 


“Hm? Kamu? Hm.. saya sudah tidak ingat.”, kata Arya sambil tersenyum. 


“Hah.. disini rupanya. Mas Arya, Mba Dinda, dipanggil tuh di depan sama tante Indah dan tante Meri. Diminta foto keluarga.”, Fam menghentikan acara perkenalan mereka. 


“Oke Fam. Thanks.” 


“Yuk, sayang.”, kata Arya sambil menarik tangan Dinda. 


“Wah romantis banget.”, puji Rara. 

__ADS_1


‘Heh.. apa dia sengaja melakukan itu untuk menolakku?’, kata Sekar dalam hati. 


Padahal, Arya tak berpikir sampai kesitu. Dia benar - benar tidak ingat karena dia hanya mengingat hal - hal yang penting - penting saja. Jika menurutnya pertemuan antara dirinya dan Sekar tadi tidak penting, sudah pasti dia tidak akan mengingatnya. 


__ADS_2