
Akhirnya hari yang dinanti itu tiba. Ya, ada dua keluarga yang begitu menanti hari ini. Yang jelas, bukan pengantinnya.
Dinda berharap hari ini tidak pernah ada. Arya juga sama. Menurutnya, hari ini akan menjadi hari terkonyol dalam hidupnya. Kuliah di Amerika, sudah kepala tiga, seorang kepala divisi, dan dia tetap tidak bisa lepas dari ide gila jaman jadul seperti perjodohan ini.
Berbeda dengan pernikahan pada umumnya, memang hanya keluarga yang menantikan hari ini datang. Arya dan Dinda berharap waktu berhenti sehingga mereka sama sekali tidak bergerak maju dengan rencana ini.
Tetapi waktu justru berjalan lebih cepat seperti tak sabar ingin mengikat keduanya dalam hubungan serius. Lebih kurang 7 bulan yang lalu, Arya dan Dinda hanyalah dua orang yang tidak saling mengenal. Dinda melihat Arya sebagai sosok bos yang menyeramkan. Arya bahkan tidak ingat dengan keberadaan Dinda sebagai salah satu bawahannya.
Kalau saja dia tidak menjadi pengganti sementara Kepala Divisi Digital tempat Dinda bernaung, dan Dinda tidak membuat masalah, Arya tidak akan pernah tahu ada gadis ini di kantornya.
Hubungan itu perlahan akan digantikan dengan status pernikahan. Dinda yang senang setiap akhir pekan datang mungkin tak bisa lagi merasakan hal yang sama. Jika pernikahan ini berjalan lancar, dia akan melihat Arya setiap hari.
“Selanjutnya, ibu dari calon pengantin pria memasangkan cincin ke jari manis calon pengantin wanita. Oke.. tahan sebentar. Kamera. Oke.”, seorang MC yang juga kerabat dekat Arya sedang mengarahkan satu persatu rangkaian acara malam itu.
Acara lamaran digelar pada hari Sabtu pukul 7 malam di kediaman Arya. Kerabat dekat dari keluarga Kuswan dan Inggit berdatangan. Beberapa kerabat dari Ratna juga hadir namun keluarga Kuswan dan Inggit lebih mendominasi.
Lebih kurang ada sekitar 30-an orang yang hadir di rumah itu. Beberapa diantaranya berasal dari luar kota dan menginap di hotel terdekat sekalian jalan - jalan.
Malam itu, Dinda nampak cantik dengan balutan kebaya yang ia pesan bersama Inggit beberapa waktu lalu. Dinda yang memang mengenakan hijab nampak anggun. Berbeda dengan kesehariannya di kantor, malam ini dia tampak lebih kalem dari biasanya.
“Oke, Dinda boleh geser sedikit ya, lebih merapat. Mas Arya, boleh dirangkul ya pinggang Dinda, agak rapat lagi sedikit supaya bagus.”, ujar Dito yang sedari tadi sibuk mengarahkan gaya untuk foto lamaran Dinda dan Arya.
Dinda terlihat kaku, ragu - ragu, dan kaget setiap mendengar arahan dari Dito. Sebaliknya, Arya dengan tenang mengikuti semua pose dan gaya yang diinginkan Dito. Jika disuruh merapat, dia merapat. Saat disuruh merangkul, dia juga tak segan merangkul Dinda dengan rapat.
“Selanjutnya, foto bareng - bareng ya. Semua ambil posisi. Om Kuswan, Tante Inggit dan Tante Ratna ambil posisi sebelah - sebelah, ya. Lanjut kemudian mba Andin, Ibas, sama Arga menyesuaikan.”, Dito sangat handal dalam urusan foto. Dia mengarahkan dengan sabar, menunggu, dan memastikan setiap orang berada di posisi yang tepat. Perfeksionis.
Saat ini Dito bekerja freelance di sebuah jasa wedding organizer ternama. Dia juga seorang karyawan perusahaan startup gaming bagian desain grafis. Jadi, tak heran jika dia bisa dengan luwes mengambil foto - foto lamaran hari ini.
Inggit berusaha mempergunakan semua sumber daya yang ada di keluarganya untuk pernikahan ini. Berbeda dengan pernikahan Arya yang sebelumnya. Saat itu Inggit sama sekali tidak ada campur tangan. Semua diatur oleh mantan istri Arya, Sarah. Keluarga dan kerabat juga hanya hadir dan pulang layaknya tamu pada umumnya.
“Silahkan dinikmati ya hidangannya. Ini tante pesan langsung dari kenalan arisan tante. Jadi, sudah terbukti enak. Bima, Radit, kamu makan yang banyak, ya biar cepat besar.”, kata Inggit sambil menggiring dua bocah sepupu Arya dari adik perempuan Inggit yang paling kecil.
Berbeda dengan Inggit, Kinarsih yang saat ini sudah berusia 40 tahun, baru menikah sekitar 10 tahun yang lalu. Dia juga baru dikaruniai anak setelah 3 tahun menikah. Jadi, anaknya masih kecil - kecil.
“Andin, kamu ajak anak kamu makan, ya. Jangan langsung ke atas main game.”, kata Inggit lagi saat melihat Andin yang terlihat ingin menggiring dua anaknya ke atas.
Andin adalah kakak Arya, anak pertama Inggit. Dia menikah di usia muda dan tinggal di Amerika. Khusus untuk acara lamaran dan pernikahan Arya, Andin kembali bersama dua anak laki - lakinya dan menetap di Indonesia sampai Arya menikah. Dia sedang mengurus perceraiannya dengan suami keduanya dan bersiap pindah untuk menetap kembali di Indonesia.
Andin mengeluh saat dia ingin buru - buru menggiring kedua putranya ke atas. Andin malas berlama - lama di bawah karena para tante dari pihak bundanya suka menggosip. Kondisi pernikahannya yang dari awal tidak terlalu baik pasti akan menjadi cerita hangat di keluarga mereka.
Namun, Andin hanya bisa mengalah di depan Inggit. Dia mencoba mengikuti kemauan mamanya. Setidaknya sampai Inggit sudah tidak memperhatikannya lagi.
Saat ini, Inggit sibuk sekali hilir mudik menyuruh para saudara untuk menyantap hidangan. Ia juga sesekali membawa Ratna agar bisa berkenalan dengan keluarga besarnya dan Kuswan. Berbeda dengan Inggit yang membawa satu RT keluarganya, Ratna hanya mengajak dua orang kerabat dekatnya saja.
Sejak Ratna ditinggal kabur oleh suaminya, keluarga dari pihak suaminya juga tidak pernah lagi berhubungan dengan Ratna. Sehingga, ia hanya mengajak kedua kakak perempuannya saja.
“Halo, salam kenal mba Dinda. Aku Fams, sepupunya kak Arya”, ujar Fams, sepupu perempuan yang paling dekat dengan Arya selain Dito menghampiri Dinda secara tiba - tiba.
__ADS_1
Sudah 10 menit yang lalu Arya meninggalkan Dinda di meja makan bersama keluarga yang lain karena ada telepon masuk.
“Oh halo… maaf ya aku belum sempat menyapa, karena ternyata banyak sekali keluarga tante Inggit.”, jawab Dinda tersenyum.
Lebih tepatnya Dinda bingung bagaimana harus menyapa mereka. Inggit masih sibuk memanggil satu per satu saudara untuk makan dan sedikit berbasa - basi. Ia belum sempat mengenalkan Dinda secara resmi, kecuali jika ada yang bertanya langsung.
Arya juga tidak mengambil inisiatif sedikitpun untuk memperkenalkan Dinda pada para sepupunya. Dinda sangat bingung dengan sikap Arya. Dia tahu dengan jelas lelaki itu tidak menyukai perjodohan ini. Dinda semakin paham setelah tempo lalu Arya mempertegas posisinya.
Namun, laki - laki itu tetap mengikuti flow perjodohan ini bahkan lebih sempurna dibandingkan dengan Dinda. Dinda terlihat sangat ragu - ragu, wajahnya bingung, dia juga sering terlihat melamun sepanjang prosesi karena pikirannya kosong.
Sebaliknya, Arya terlihat sangat tenang. Dia tersenyum setiap ada keluarga yang datang. Wajahnya memang serius karena itu adalah trademark dirinya. Tapi saat berfoto pun, Arya tidak ragu - ragu sama sekali. Tanpa bertanya, dia merangkul pinggang Dinda, tersenyum, bahkan sesekali melontarkan beberapa ide pose foto kepada Dito. Tentu saja Dito menyambut dengan senang. Bahkan ada gelak tawa diantara mereka.
“Iya gapapa. Keluarga kita memang rame, mba. Ini juga belum semua yang kumpul. Gak kebayang deh kalo bukan private wedding. Waktu pernikahan kak Arya yang pertama, ya ampunnn rameeeee banget, mba.”, Fams tidak sadar telah membuka kotak pandora yang membuat beberapa orang yang mendengar perkataannya menoleh.
“Fams, kamu ini ya. Pernikahan pertama jangan dibahas - bahas dong.”, ucap tante Meri lantang tapi dengan nada menyindir. Tante Meri punya kepribadian yang tidak menyenangkan.
Dia senang bergosip tetapi hanya di ruang lingkup keluarga. Dia tipikal yang loyal tetapi mulutnya selalu pedas saat berbicara.
Tante Meri termasuk yang paling gencar membicarakan masalah pernikahan Andin. Tante Meri juga sangat tidak suka dengan pernikahan Arya yang pertama. Sifat tante Meri yang paling tidak disukai keluarga lainnya adalah dia suka ikut campur urusan orang lain. Meskipun niatnya baik, tetapi dia sering melewati batas.
“Iya iya, maaf tante. Gak sengaja”, Jawab Fams manyun. Dia sudah tahu betul sifat tantenya ini. Tante Meri adalah adik om Kuswan. Fams adalah anak dari Indah, adik Meri dan Kuswan.
“Din, mana Arya?”, tanya tante Meri setelah memarahi Fams yang tiba - tiba membahas mengenai mantan istri Arya.
“Keluar sebentar tante, ada telpon.”, kata Dinda menjawab sambil tersenyum.
Pak Arya dari tadi belum kembali. Entah telepon apa yang sedang dia angkat.
“Din, kamu katanya satu kantor sama Arya, ya? Dulu pernah punya pacar?”, kata tante Meri bertanya sambil menuang es dawet ke gelasnya. Entah sudah gelas ke berapa.
“Iya tante, aku satu kantor sama pak Arya. Ehm..aku belum pernah pacaran tante.”, Dinda menjawab sedikit malu - malu. Ini pertama kali ada keluarga pak Arya yang bertanya. Padahal tante Inggit juga tidak pernah menanyakan hal ini kepada Dinda sebelumnya.
Wajah tante meri berubah seketika. Dia terlihat sangat bersemangat setelah mendengar jawaban Dinda.
“Kamu belum pernah pacaran? Wah menang banyak ya Arya, dapet yang fresh.”, ternyata tidak hanya tante Meri yang tiba - tiba bersemangat.
Beberapa anggota keluarga lain yang tadinya hanya mendengar sepintas, langsung fokus ke obrolan mereka. Obrolan tante Meri lebih tepatnya.
Dito yang baru saja datang dengan maksud mengambil 2 gelas es dawet pun akhirnya ikut duduk. Fams yang tadinya ingin segera pergi karena kesal diomeli tante Meri, malah kembali duduk.
“Beneran mba, belum pernah pacaran?”, kata Fams merasa tidak percaya.
Dia saja yang tidak tinggal di ibukota sudah 5 kali gonta - ganti pacar sejak SMP. Apalagi, menurut Fams, Dinda itu juga cantik. Bahkan sangat cantik. Meskipun bukan seperti tipikal mantan istri Arya, tapi masa sih ga pernah pacaran sama sekali.
Apalagi Fams tomboy. Dinda berhijab dan kalem.
‘Masa sih mba Dinda belum pernah pacaran. Apa dia bohong?’, Fams masih belum percaya.
__ADS_1
Dinda hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. Dia menggigit bibirnya melihat banyak mata yang tertuju padanya.
“Satu lagi, hampir tante kelewat. Kamu masih manggil Arya dengan Pak? Kan dia udah jadi calon suami kamu. Masa manggilnya Bapak.”, Tante Meri masih bersemangat melanjutkan.
Satu persatu topik yang sudah bisa dia kembangkan di kepala menyeruak. Dia tidak pernah sebahagia ini dalam pertemuan keluarga.
“Sudah - sudah jangan diganggu terus. Din, ikut tante yuk. Kayanya kamu udah kenalan sama yang disini. Sekarang giliran tante kenalin sama sodara yang lain, ya.”, kata Inggit tiba - tiba hadir menyelamatkan.
“Mbak yu, aku pinjam Dinda dulu, ya. Sodara yang di ruang tengah belum pada kenalan.”, kata Inggit segera menggiring Dinda pergi dari meja makan.
Tak lama berselang, Arya datang karena Dito tak kunjung kembali membawa es dawet yang diperintahkannya.
“Ngapain sih kamu, lama banget.”, kata Arya menepuk bahu Dito.
“Mas Arya tahu kalo Dinda belum pernah pacaran?”, kata Dito polos segera setelah Arya menghampirinya.
“Ngomong apa sih kamu? Sini es dawet nya.”, kata Arya mengambil satu gelas es dawet yang memang sudah diambil Dito dari tadi tapi hanya dia taruh di atas meja.
“Wah.. beruntung banget ya. Nikah kedua kalinya, sama perawan ting ting yang belum disentuh cowo sama sekali.”, kata Dito saat mereka sudah berjalan menjauhi meja makan.
“Eh.. anak kecil gak usah banyak bicara. Udah minum aja tu es dawetnya. Kalo ga transferan freelance kamu hari ini gak saya bayar loh, sisanya.”, kata Arya mengancam.
Meskipun Inggit menggunakan jasa beberapa keluarganya untuk persiapan lamaran dan pernikahan, tetapi mereka tetap dibayar sesuai dengan tarif biasanya. Bahkan diberikan lebih, termasuk Dito.
“Mas, jangan gitu dong. Buat bayar cicilan kartu kredit ini.”, kata Dito sambil mendudukkan pantatnya di bangku taman.
Hari kembali berlalu begitu cepat. Semua keluarga sukses berkenalan di acara lamaran itu. Meski acara kecil dan hanya dihadiri oleh keluarga, tetapi suasana ramainya sangat terasa. Ratna membawa dua kakak perempuannya, Inggit mengundang 7 saudaranya.
Kuswan juga mengundang semua adik - adiknya. Masing - masing dari mereka sudah memiliki anak. Beberapa mobil bahkan harus rela parkir di sebuah lapangan basket dekat kompleks dan masjid dekat rumah.
Dinda mulai mempelajari dan mengenali satu persatu keluarga besar Arya. Dia tidak pernah menghadiri acara keluarga sebesar ini. Kakak perempuan Ratna tidak terlalu dekat dengannya. Mereka juga tinggal jauh di luar kota, jadi jarang bertemu.
Arya lumayan terhibur dengan kedatangan keluarga besarnya. Dia sudah lama tidak merasakan keakraban keluarga seperti ini. Dia juga mulai menyadari betapa berbedanya pernikahannya dulu dengan mantan istrinya, Sarah.
Dulu, Sarah sendiri yang mengatur semua acara. Acara lamaran hanya dihadiri keluarga dekat di resort mewah di kawasan Bali.
Para kerabat baru hadir di acara resepsi pernikahan. Itu juga bersama dengan tamu undangan yang lain. Jadi, hampir tidak ada waktu untuk berbicara seakrab ini.
Dinda juga terlihat cantik dan menawan hari ini. Meskipun Arya tidak mengatakannya, tapi dia sedikit tergoda dengan penampilan Dinda.
Apalagi, saat prosesi pertama Dinda keluar dari kamar rias tadi. Jika tidak segera memperbaiki mimik wajahnya, semua orang akan menyadari jika Arya terpana dengan penampilan calon istrinya hari itu.
Meski tak ingin, tapi tanpa sadar Arya membandingkan suasana lamarannya saat bersama Sarah dengan Dinda. Saat bersama Sarah, semua terasa biasa saja. Seperti alur yang seharusnya, tidak ada perasaan apa - apa. Mereka sudah kenal lama dan lamaran tentu saja hanya bagian dari perjalanan cinta mereka.
Berbeda dengan saat dia melakukan prosesi lamaran bersama Dinda tadi. Semua seperti baru. Dinda jelas sekali tampak bingung hingga beberapa kali Arya harus mengarahkannya.
Terutama saat berfoto tadi. Arya tak segan menggaet pinggang Dinda untuk lebih rapat dengannya. Arya jelas sudah tergoda dengan Dinda tetapi dia belum menyadarinya.
__ADS_1